Mendukung Budaya Kewirausahawanan melalui Industri Media

0
173

Hari Keputeraan Raja Perlis Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail 17 Mei tahun 2017 dirayakan dengan seminar jurnalistik, kegiatan budaya dan hiburan rakyat, serta melibatkan unsur tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hari ini, 17 Mei 2017, genaplah Raja berusia 74 tahun.

 

Malam sebelumnya, 16 Mei 2017, wartawan tiga negara dikumpulkan di Ruang Perkuliahan Umum Universiti Teknologi Mara (UiTM) Cawangan Perlis untuk membicarakan perkembangan media dalam mendukung budaya kewirausahawanan di ketiga kawasan. Pertemuan tersebut dirancang dalam bentuk semi-seminar, talkshow dan tanya jawab bersama para mahasiswa komunikasi dari kampus milik Pemerintah Malaysia itu.

 

Pembicara dari Thailand, Cik Hapsah, mengungkapkan bahwa pemerintah mereka sedang menggalakkan program OTOP (one tambon one product) yang mendorong lahirnya kewirausahawanan baru di perkampungan dengan produk-produk yang berbasis bahan baku lokal. “Dengan program ini, kami selaku media turut melakukan sosialisasi dengan liputan profil produk secara rutin di tambon (kampung), sehingga masyarakat luas mengenalnya dengan baik,” katanya.

 

Rakyat Thailand di bagian selatan antara lain membuat inovasi dengan memanfaatkan buah durian menjadi “durian crispy”, mengolah buah nipah menjadi aneka produk makanan, dan berbagai produk kerajinan lain yang menonjolkan satu produk unggulan dari satu kampung.

 

Sedangkan di Malaysia dan Indonesia, pola hubungan antara media dan entrepreneur hampir sama. Fika Rahma dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, mengatakan, media memiliki keberpihakan kepada usaha-usaha skala kecil dan menengah (small-medium entreprises) melalui liputan-liputan yang mengetengahkan keunikan dengan mengerahkan berbagai angle dan kreatifitas reporter dalam melihat news value sebuah usaha kecil.

 

“Saat ini di Medan banyak sekali usaha kecil tumbuh dari dasar kreativitas dan inovasi kalangan anak muda. Sebutlah misalnya industri kafe yang cukup marak belakangan ini. Meskipun jarak dari satu kafe dengan kafe lain terkadang hanya terpaut satu meter saja, ini tidak lantas membuat mereka terlihat sama. Kita sebagai jurnalis berusaha mengapresiasi setiap ciri khas kafe yang mereka tunjukkan lewat cara meracik kopi, menyajikannya dan berinovasi pada dekorasi ruangan kafe mereka,” papar Fika.

 

Di Malaysia, Encik Syahril dari Kelab Media Perlis (KEMP’s), mengatakan, usaha-usaha kreatif dalam skala modal yang kecil memiliki banyak kesempatan untuk memanfaatkan ruang media dalam mempromosikan usaha dan produk mereka. “Apalagi saat ini new media sudah berkembang sangat maju. Anda tidak perlu terpaku pada media perdana saja, tapi juga harus mulai melirik media alternatif seperti website dan social media,” katanya.

 

Seminar dan talkshow tentang hubungan media dan kewirausahawanan ini juga menyoroti secara khusus tentang perkembangan industri media dan perubahan karakter yang dibawanya ke tengah masyarakat. Tikwan Raya Siregar, salah seorang ahli media yang diundang dari Medan menjelaskan bahwa media sebagai industri dan teknologi telah memberikan kemungkinan yang luas kepada setiap orang untuk menjalankan fungsi-fungsi sebagai pelaku informasi, citizen reporter atau kontributor yang aktif sebagai reporter sekaligus narasumber kepada media konvensional.

 

“Namun apa yang berkembang dalam industri media tidaklah bisa dipandang sebagai perkembangan yang sama dengan jurnalisme. Tidak semua media memiliki sumber daya jurnalistik. Media dan jurnalisme perlu dipisahkan untuk memberikan pengertian yang lebih tepat kepada publik bahwa jurnalisme masih tetap menduduki posisinya sebagai profesi yang terikat pada teknik dan etik. Disiplin verifikasi, keberimbangan dan kehati-hatian menjadi pembeda antara media yang berasas jurnalisme dan yang tidak, atau orang Medan menyebutnya sebagai media abal-abal,” katanya.

 

Raja Muda Perlis ketika memberikan sambutan pada seminar tentang wartawan dan kewirausahawanan di Kampus UiTM Perlis.
Raja Muda Perlis ketika memberikan sambutan pada seminar tentang wartawan dan kewirausahawanan di Kampus UiTM Perlis.

Seminar ini diresmikan langsung oleh Raja Muda Perlis, Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, dan dihadiri civitas akademika UiTM bersama sekitar 200-an mahasiswanya.

 

Seminar wartawan yang tergabung dalam forum kewartawanan IMT-GT sendiri dilakukan secara rutin setiap tahun, bergiliran di tiga kota, yaitu Medan, Perlis, dan Thailand. Forum yang digagas oleh Raja Muda Perlis ini bertujuan untuk mendekatkan jarak kultural di antara tiga wilayah dan membangun sinergi pada isu-isu bersama untuk mendukung perkembangan dan kerjasama ekonomi dalam kerangka IMT-GT. Forum ini menandatangani MoU-nya di Medan pada Januari 2013, dan melakukan seminar pertama pada bulan Mei tahun itu juga di Perlis bersamaan dengan Hari Keputeraan Raja Perlis ke-70.

LEAVE A REPLY