Mengantar Indahan Tondi

0
477

Pagi-pagi sekali, Ujing (bibi dalam Bahasa Angkola) sudah sibuk di dapur. Berbagai peralatan masak terdengar berdenting-denting. Api dinyalakan dengan kayu bakar, dan di atasnya beberapa daun pisang segar dihangatkan. Daun pisang yang dilayukan mengeluarkan minyak, dan aromanya terasa sampai ke kamar tidur kami, sehingga pagi ini kami pun ikut bangun lebih dini.

Ya, Bibi dan Paman hari ini menginap di rumah kami untuk suatu ritual adat yang dinamakan “manaruhon indahan tondi” (mengantar nasi untuk jiwa). Mereka sehari-hari tinggal di Desa Sihopuk Baru, Kecamatan Halongonan, Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Putri sulung mereka—putri satu-satunya—yang tinggal di Medan dikabarkan telah memasuki usia kehamilan 7 bulan. Dalam adat Angkola, maka pada usia kritis ini keluarga akan datang berkunjung untuk memberikan indahan tondi tadi. Ini adalah semacam ungkapan penuh simbol tentang kebahagiaan, harapan, dan pesan-pesan orangtua kepada anaknya agar kehamilan hingga proses kelahirannya kelak lancar, sehat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk itu diperlukan makanan jiwa bagi putri mereka untuk memberinya kekuatan.

Bibi sedang menata indahan tondi dengan hati-hati.
Bibi sedang menata indahan tondi dengan hati-hati.

Selain itu, acara ini tentu didasari pula oleh kerinduan keluarga untuk bertemu dan berkumpul, karena pertemuan antara keluarga dengan menantu sudah dibatasi oleh jarak dan ketentuan adat. Nah, ini adalah salah satu celah adat yang penting dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan dalam konteks pernikahan ini dapat bertemu di rumah keluarga muda itu.

Bibi dan Paman tidak dapat ujug-ujug datang ke rumah putri mereka membawa indahan tondi tersebut. Bahkan dalam adat yang sesungguhnya, mereka tidak perlu ikut dalam rombongan pengantar. Orang tua cukup mempersiapkan segala kelengkapan indahan tondi di kampung, yang biasanya juga dibantu oleh kerabat. Seterusnya, kaum kerabatlah yang menyampaikannya ke tujuan, yaitu keluarga-keluarga dekat di kampung yang terikat dalam hubungan “dalihan na tolu” (artinya tungku yang tiga, sebuah istilah untuk menjelaskan pola hubungan kekerabatan di masyarakat Angkola dan etnik-etnik lain yang berasal dari Tapanuli).

Tapi masa telah berubah. Dunia berputar. Waktu berdetak kencang meninggalkan yang telah lalu. Beberapa penyesuaian sangat terpaksa untuk dilakukan. Meskipun demikian, seluruh syarat membuat indahan tondi tetap berusaha dipenuhi Bibi, meskipun sulit. Ikan-ikan sungai mulai langka karena kerusakan lingkungan. Ekologi masyarakat tinggal pengetahuan, tapi tidak fungsional lagi. Kini untuk mendapatkan syarat indahan tondi seperti ikan habaro, labosang, merah, dan udang gala, sudah bukan urusan yang sederhana lagi.

Bibi harus pergi ke pasar Gunung Tua, sekitar 50 km dari Desa Sihopuk Baru. Di sana ia menemui penjual ikan kering (ikan sale) yang berkeliling pekanan, lalu memesan keperluannya. Pesanan itu tidak dapat diperoleh seketika. Si penjual bilang, ia harus mencari dulu ikan-ikan itu ke Kota Pinang, ibukota Labuhan Batu Selatan. Di sana ada penggalan Sungai Barumun yang masih menyimpan “ikan-ikan generasi lama” yang sudah sangat langka. Bibi berjanji dengan si penjual ikan untuk bertemu sepekan kemudian. Pendek cerita, ikan-ikan itu kemudian sampai ke tangan Bibi dengan harga yang mulai membikin berdiri bulu roma. Bagaimana mungkin salah satu desa penghasil ikan sungai terbanyak di Halongonan ini sekarang membeli ikan dengan harga yang sangat mahal dari luar?

Siapapun tahu, Sungai Batang Galoga yang melintasi Sihopuk Baru dulunya memiliki lubuk-lubuk sungai yang fungsinya bagaikan lumbung protein tiada habis. Ikan-ikan halu sebesar manusia mudah saja ditemukan, demikian juga garing, labosang, lamase, habaro, lampam, hurare, baung sebesar kucing, udang gala, incor, mirik, piri-piri dan aneka jenis lainnya yang tidak lagi melekat dalam ingatan kami. Bila musim ikan bertelur tiba, maka kami akan menyaksikan tali-tali berbaris sepanjang sungai. Tali-tali adalah barisan anak berbagai jenis ikan sungai yang masih kecil-kecil sebesar lidi, menyusur pinggiran sungai, memanjang seperti tali temali. Jumlahnya tiada terkira, mungkin mencapai ratusan juta ekor per musim. Ikan-ikan ini akan menjadi pengisi lubuk berikutnya, dan penduduk tidak mengganggunya.

Hingga suatu hari sekitar 22 tahun silam, PT Tapian Nadenggan tiba di Sihopuk Baru. Dengan membawa uang entah dari mana, mereka lantas memborong tanah yang belum digarap penduduk di sekitar akosistem sungai itu. Lalu mereka menanaminya dengan kelapa sawit. Tiap kali mereka menabur pupuk, sungai akan menerima limpahan dan residu bahan-bahan kimia. Beberapa jenis ikan yang lebih sensitif langsung kritis jumlahnya. Debit sungai menyusut drastis, hingga beberapa bagian sungai sudah lebih mirip parit ketimbang “tapian” pada musim kemarau. Saya hampir tidak bisa mengenali lagi sungai yang menjadi salah satu bagian masa lalu saya itu.

Setiap kali berkunjung ke kampung Ibu saya ini, masih terang di kepala ketika paman-paman saya—adik dari Ibu saya yang berasal dari desa ini—membawa kami ke sungai untuk menjala dan “menembak” ikan menggunakan sebilah kawat dan karet ban sebagai sumber energinya. Mereka menyelam ke lubuk, dan ketika muncul lagi ke permukaan, satu dua ekor ikan segar sedang menggelepar di ujung kawat. Rasanya gembira bukan main, karena sayalah yang ditugaskan untuk mengumpulkan (manamburani) ikan itu. Lalu kami akan mencari delta sungai dimana pasir bersih terhampar luas untuk tempat duduk dan istirahat. Di sana, paman-paman saya akan mengumpulkan kayu kering dari sekitar hutan pinggiran sungai, kemudian menyalakan api, dan mereka mulai membakar ikan. Saya biasanya akan merengek minta seekor ikan yang paling saya sukai ditusuk pada sebilah kayu, agar saya bisa membakarnya sendiri. Tentu saja permintaan saya akan selalu dituruti.

Ikan segar segera berubah jadi ikan panggang. Minyaknya meleleh merusak iman. Salah seorang paman membuat gulai asam, rempahnya dipetikinya dari pinggir hutan. Kami makan “baranto” di atas pasir, dengan kobokan sungai yang mengalir bening hingga ke Selat Malaka. Usai makan, kami meciptakan sorga kami dengan mandi-mandi, mencebur ke sungai. Demikian seterusnya hingga petang merambang.

Sebagian ikan yang sudah kering akan kami bawa pulang. Besok pagi ompung kami yang cerewet dan terampil akan memasaknya bersama gulai daun ubi tumbuk. Aromanya…akh, saya kuatir tidak akan bisa melanjutkan kisah ini tanpa meneteskan air mata, sekaligus meneteskan ludah. Saya kesal dengan semua perubahan ini.

Di penghujung malapetaka lingkungan ini, kemunduran perilaku masyarakat desa menyempurnakan kerusakan sungai itu. Mereka telah mengenal alat-alat baru untuk menangkap ikan secara lebih mudah. Alat-alat itu pada awalnya mereka pelajari dari para imigran. Pertama-tama masih menggunakan setrum listrik dari baterai basah kecil, sekarang mereka tak puas lagi dengan alat itu, karena sudah ada genset yang bisa mereka gotong dengan sepeda motor atau mobil ke pinggir sungai. Hancurlah semua. Kini tak ada lagi istilah ikan kecil atau ikan besar. Semua ukuran ikan dilantak saja. Warga yang dulunya mahir menyelam, menahan napas  untuk memburu ikan, kini bahkan sudah enggan terkena air. Mereka menjadi manusia yang mudah tersengal-sengal karena kelebihan lemak. Berang-berang yang dulunya makmur di pinggir sungai, pun kini hidup merana. Sungai berubah, ekosistem berubah, budaya berubah.

Perusahaan perkebunan kelapa sawit telah berhasil mengubah segalanya. Raksasa uang ini membeli sebagian besar tanah di Sihopuk Baru dan sekitarnya. Sebagian warga melepas tanah-tanahnya untuk mendapatkan uang cepat. Apalagi mereka mulai diperkenalkan dengan berbagai mainan baru yang tidak mereka perlukan seperti play station, handphone, sepeda motor berbagai merek, mobil, TV, dan berhala-berhala moderenisme lainnya. Mereka demikian letih dan terseok-seok mengejar ekor suatu makhluk yang dinamakan “kemajuan”.

Banyak warga masyarakat akhirnya jatuh menjadi kelompok manusia tak bertanah, yang sebelumnya tidak ada. Mereka hidup dengan menggantungkan diri di langit, dan apabila gantungannya rubuh, mereka segera meluncur jatuh menjadi masyarakat miskin baru. Bila mau lebih parah lagi, sebagian di antaranya tergoda menjadi angkatan kriminal yang tak punya harapan dan masa depan. Kasus pembunuhan dan pencurian mulai tak asing lagi di masyarakat yang damai dan terkenal dulunya sebagai penjunjung adat yang keras ini. Sementara itu, di Jakarta, pemerintah yang telah memberi izin eksploitasi lahan desa, tak hentinya menyeru masyarakat untuk mengejar kemajuan, dan pembangunan akan dilaksanakan untuk kesejahteraan bangsa. Agar masyarakat condong kepada kemajuan ini, mereka diwajibkan masuk ke dalam pendidikan sembilan tahun yang disusun untuk kepentingan itu. Agar “berpikir maju”!

Para pengusaha perkebunan membawa serta pekerja-pekerja imigran, terutama dari Jawa, dan dengan berbekal modal pinjaman dari bank, perusahaan itu harus bekerja keras untuk mengeksploitasi alam desa demi menutupi bunga pinjaman dan pokoknya, serta membangun rumah mewah di kota-kota. Lalu dari layar televisi, para penduduk desa menonton sinetron dan siaran sepakbola yang mengajarkan kemewahan hidup dan kemenangan itu. Mereka tidak tertarik pada channel analisis bursa saham dimana hasil-hasil dari desa mereka telah diangkut menjadi angka-angka di papan informasi, dan para spekulan berpesta pora di atas penderitaan warga desa untuk jangka panjang. Tontonan mereka tidak matching dengan nasib mereka.

Saya sungguh kasihan melihat masyarakat. Membayangkan Bibi harus bolak-balik ke pekanan hanya untuk mendapatkan beberapa ekor ikan sebagai syarat adat. Ia pun harus merelakan ratusan ribu rupiah uang belanjanya hanya untuk syarat kecil itu. Semua ini karena kerusakan sungai mereka. Mereka akan menanggung derita ini sampai masa yang panjang, hingga ketika itu mungkin adat sudah tidak diperlukan lagi, dan ketika semua sudah diganti saja dengan uang-uang kertas yang dicetak seseorang entah dimana. Ikan diganti uang, indahan tondi diganti uang, dan ungkapan kasih sayang pun diganti saja dengan pemberian uang. Uang, uang, uang. Hilanglah ingatan kita pada masa lalu, karena kita kelak hanya akan ingat pada uang di dalam segala urusan. Kreativitas budaya pun luntur karena semua sudah diwakilkan pada daya tukar uang. Kuliner lokal yang terkait dengan alam dan kepercayaan terancam punah dan hanya tersisa di tangan segelintir orang yang sudah pun menua. Belakangan, makanan tradisional menjadi keahlian profesional seseorang yang untuk itu ia perlu dibayar pakai uang. “Hepeng do namangatur negara on!” kata mereka pada akhirnya. Dan sialnya, mereka sangat betul!

Ya, kasihan Bibi saya. Dia masih terus berjuang untuk menjalankan ajaran-ajaran orang tuanya, ompung kami yang telah meninggal dunia. Adat itu sangat dimuliakannya. Tidak ada cara lain yang lebih baik baginya untuk mengungkapkan rasa kasih sayang (holong ni roha) pada putri tunggalnya selain pelaksanaan acara adat ini. Ia harus mengantar indahan tondi ini, berapapun harganya.

Dengan penuh semangat dan penghayatan, Bibi menata tiga jenis nasi di atas daun pisang. Yang utama adalah nasi putih, lalu ada nasi merah, dan nasi kuning yang warnanya diambil dari perasan kunyit. Di atas nasi itu, diletakkan berbagai jenis ikan sungai yang telah disale. Ada ikan habaro, labosang, merah dan udang gala. Semua yang berkeliling melihat tatanan itu berdesir air liurnya. Di pinggiran nasi, dibuat berkeliling, diletakkan tujuh butir telur ayam. Tidak cukup dengan itu saja, Bibi masih melengkapi sajian ini dengan seekor ayam kampung utuh yang dipanggang kering sebagai pangupa (upah-upah atau alat pemberkatan). Lengkap dengan kuah anyang sebagai saus untuk menikmatinya. Bukan main repotnya Bibi!

habibi sangrai nasi-merahnasi-kuningSemua bagian dari sajian itu mengandung makna masing-masing. Orang zaman dulu tidak pernah mengatakan sesuatu secara langsung tanpa adanya perantaraan alam. Itulah kehalusan budi mereka, dan itulah rupanya garis yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, dan itu pula yang membuat mereka harus menyatukan diri dengan makhluk di alam ini agar terjadi hubungan yang harmonis dan saling terhubung. Makanya bagi mereka, bila seseorang dikatakan “tidak tahu adat”, berarti dia sudah sama derajatnya dengan binatang. Itu lebih rendah dari tuduhan “tidak tahu agama”, sebab bila tidak tahu agama, masih ada peluang bagi seseorang untuk mempelajarinya. Tapi kalau sudah tidak tahu adat, maka binatang tidak bisa belajar lagi, bukan?

ayam-gulaiayam-panggangDemikianlah mengapa Bibi dan Paman begitu kerasnya dengan perkara adat ini. Seperangkat makanan itu ia bungkus dengan daun pisang, lalu dibalut lagi dengan kain, kemudian disimpul dengan hiasan setangkai daun ara dan bunga ilalang raja. Dengan itu, kami berangkat menuju rumah sepupu kami, putri mereka, di Padang Bulan, Medan. Mereka sudah mengetahui kedatangan kami tentu, dan keluarga dari pihak besan pun sudah berkumpul di sana.

Setelah menyodorkan burangir  sahat-sahat (sirih) sebagai tanda menyerahkan apa yang kami bawa, saya didaulat untuk menyampaikan hata (kata-kata) adat. Kami mengenal suatu keterampilan yang sangat penting, yaitu marhata (maknanya adalah menyampaikan maksud dengan tata cara adat). Meskipun dengan gemetar karena merasa tidak mampu, saya harus melakukan kewajiban ini (bayangkan kalau saya dianggap tak tahu adat). Tidak ada orang lain yang bisa mewakili kedudukan saya di sana sebagai iboto (saudara laki-laki) dari putri mereka.

Di hadapan kami telah duduk sepasang suami istri muda dan keluarga dari pihak laki-laki (besan kami). Dan setelah memasrahkan diri, saya pun memulai marhata. Beginilah intinya:

“Assalamualaykum. Kepada iboto-ku, lae-ku, bou dan kerabat yang kami kunjungi di rumah ini. Sebagaimana telah kami serahkan tadi burangir sahat-sahat, maksud kedatangan kami ke sini tiada lain adalah karena suatu kabar yang kami terima di Sihopuk Baru beberapa waktu silam. Kabar gembira itu tidak bisa dilihat mata, tapi bisa dirasakan oleh hati. Oleh karena itu, mana tahu iboto kami sangat menginginkan sesuatu (marhagiot), maka inilah kami para kerabatmu dari Sihopuk Baru membawa indahan tondi, untuk memenuhi keinginanmu itu. Kami berharap, ini semua dapat memenuhi keinginanmu itu. Di sini ada…(lalu saya menyebut satu per satu bagian dari indahan tondi itu dan menyampaikan maknanya semampu saya, yang pada intinya bahwa semua orang bisa memberikan interpretasi masing-masing terhadap makna perangkat adat itu sesuai dengan konteks dan persepsinya tentang kedua suami istri yang di-upah-upah).

Dengan ini, kami semua di Sihopuk Baru, terutama Ayah dan Ibumu, mendoakan kalian agar selalu dalam keadaan sehat wal afiat, semoga tondi (jiwa) kalian semakin kuat. Pada saat ini, hanya inilah yang dapat kami bawa, tapi bila nanti ada kabar gembira lagi di rumah ini, kami sangat berharap agar kabar itu akan segera disampaikan kepada kami. Doakan juga agar rezeki kami bertambah, sehingga  pada saatnya nanti kami bisa mengunjungi kalian lagi dengan keadaan yang lebih baik lagi”.

Setelah semua selesai marhata, sepasang suami istri itu kemudian dipersilakan mencicipi dan menikmati indahan tondi. Semua kerabat yang hadir di rumah itu ikut makan bersama dengan lauk pauk yang telah disediakan. Sungguh lezat acara makan kami di siang hari itu.