Mengejar Senja di Casablanca

0
625
Abdelfatah, host kami di Casablanca, di dalam gerbong kereta api ONCF.
Abdelfatah, host kami di Casablanca, di dalam gerbong kereta api ONCF.

Penerbangan selama lima jam dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, menuju barat, saya puaskan dengan tidur. Laut Merah hanya saya perhatikan sekilas setelah pesawat Boeing 777 milik Saudi Arabia Airlines berhasil mengangkat badannya dari landasan. Laut itu begitu tenang, tapi ia menyimpan banyak sekali peristiwa besar di masa silam. Kapal-kapal di atasnya bergerak seumpama siput yang beringsut.

Fasilitas penerbangan jarak jauh  di kabin ekonomi tidak saya hiraukan, kecuali pada seksi makanannya. Di pesawat ini, kebanyakan penumpang menggunakan Bahasa Arab. Orang-orang Maroko juga kebanyakan berbahasa Arab, selebihnya Bahasa Perancis.

Satu jam menjelang pendaratan di Bandara Udara Internasional Mohammed V (CMN) Casablanca, Maroko, matahari mulai melembut di barat. Warnanya kemerahan seperti sepuhan logam dalam bara. Orang Arab selalu menyebut perjalanan dari Madinah ke Maroko sebagai perjalanan dari Yatsrib ke Maghrib. Yatsrib adalah nama lain dari Madinah Al-Munawwarah, dan Maghrib adalah sebutan orang Arab untuk Maroko.

Bagi saya dan istri saya, ini adalah perjalanan pertama ke benua Afrika.  Maroko berada di ujung paling utara benua hitam ini, dan hanya dipisahkan oleh Selat Gibraltar dengan ujung selatan Eropa. Dengan menaiki sebuah ferry cepat dari Pelabuhan Tangier, Anda akan sampai ke Spanyol tak sampai satu jam kemudian. Selat sempit yang terhubung dengan lautan Atlantik ini menjadi saksi sejarah terhadap pasang surut sejarah peradaban dunia di Andalusia (nama klasik Sanyol). Pertemuan peradaban Islam dari Asia Tengah dengan peradaban barat dari Eropa terjadi di kawasan ini. Selat Gibraltar dan Bosphorus seumpama garis pemisah sekaligus penghubung bagi kedua peradaban itu, tergantung dari kacamata mana kita memandangnya. Dari segi identitas dan politik, kedua selat itu menjadi pemisah. Tapi dari segi perdagangan dan kebudayaan, keduanya menjadi penghubung.

Cerek hias. Salah satu suvenir Maroko.
Cerek hias. Salah satu suvenir Maroko.

Ketika Islam melebarkan pengaruh dan kekuasaannya hingga Andalusia, Eropa masih sekadar Roma dan Yunani. Negeri-negeri lainnya, dari Perancis hingga Inggris, masih menjadi kawasan antah berantah di mana orang-orang masih membalut tubuhnya dengan kulit hewan dan makan dengan cara berburu. Peradaban Timur Tengah, Persia, India dan China mengajari mereka cara memakai sutera, wol, dan meninggikan adab. Demikian juga yang terjadi di jazirah Afrika.

Maroko menjadi  lebih unik lagi, karena di sini telah bertemu tiga peradaban besar sekaligus, yaitu Asia Tengah, Afrika dan Eropa. Hasilnya tentu sangat unik, dan itulah yang membuat kami memilih mengunjungi negeri ini sebagai pilihan pertama di Afrika. Figurasi peradaban itu dapat kita ziarahi di kota-kota utamanya seperti Casablanca yang mewakili Perancis, Marrakech dan Fez yang mewakili Islam dari Asia Tengah, dan Meknes yang menyimpan jejak Romawi.

Meskipun ada dua bandara internasional di Maroko, yaitu Bandara Udara Internasional Menara di Marrakech (kulit kambing yang halus) dan Bandara Udara Internasional Mohammed V di Casablanca, kami memilih mendarat di bandara yang kedua. Pilihan ini semata-mata karena pertimbangan tiket pesawat yang lebih murah dan keterhubungannya yang baik dengan kereta api negara (ONCF) ke berbagai kota utama di pesisir barat dan utara Maroko.

Casablanca sendiri berdiri di tepian laut Atlantik Utara. Kota pelabuhan ini dikembangkan sebagai pusat perdagangan di masa kekuasaan kolonialisme Perancis. Sehingga karakter Perancis dan aroma Paris sangat mudah tercium di sini, mulai dari arsitektur hingga gaya hidup masyarakatnya.

Kami mendarat pada senja yang dingin di landasan pacu Bandara Mohammed V. Entah bagaimana, informasi cuaca yang kami terima telah keliru. Istri saya menyesal karena tidak membawa stelan musim seminya, dan sayalah korbannya. Jaket saya berpindah ke tubuhnya.

Kabar baiknya, bagi orang Indonesia, urusan imigrasi di sini ternyata sangat mudah. Kita tidak membutuhkan visa selama 90 hari di Maroko. Terimakasih kepada Bung Karno. Beliaulah yang telah merintis hubungan sangat baik dengan Raja Mohammed V, penguasa Maroko pada masa lalu. Bila Anda penasaran mengapa terdapat nama Jalan Casablanca di Jakarta, itu adalah bentuk ikatan persaudaraan yang dilakukan di antara kedua pemimpin itu. Sebelumnya Kerajaan Maroko telah menetapkan salah satu jalan utama di Rabat, ibukota negara itu, dengan nama Rue Soukarno (Jalan Sukarno). Ketika diresmikan tahun 1960, nama jalan itu adalah Al Rais Ahmed Soekarno. Kemudian ada juga nama-nama jalan kecil di kota yang sama, seperti Rue Indonesia, Rue Bandoeng dan Rue Jakarta.

Penobatan nama Sukarno itu diberikan sebagai penghormatan atas jasanya menggalang kekuatan bangsa-bangsa Asia Afrika dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Maroko adalah salah satu negara yang sedang berjuang melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme Perancis kala itu. Ketika Kerajaan Maroko mengumumkan kemerdekaannya pada tanggal 2 Maret 1956, Presiden Sukarno tampil menjadi pemimpin pertama yang menyatakan pengakuannya. Pada tahun 1960, beliau bahkan melakukan kunjungan pertama ke Maroko, dan kunjungan itu tercatat sebagai kunjungan Presiden Indonesia pertama yang diterima oleh Pemerintah Kerajaan Maroko secara resmi. Pada saat itu pulalah nama jalan tersebut diresmikan.

Presiden Sukarno disambut dengan meriah oleh Raja dan rakyatnya. Dan ketika Raja Mohammed V menawarkan berbagai hadiah kepada Sukarno sebagai ungkapan terimakasih bangsanya, Sukarno telah menolaknya. Lalu, beliau berkata:

“Jikalau Yang Mulia Raja Mohammed ingin menyenangkan hati saya, maka saya meminta kesediaan Anda untuk memperbolehkan rakyat saya, rakyat Indonesia, masuk ke Maroko seperti masuk ke rumah sendiri”.

Permintaan itu demikian sederhana, dan langsung saja disanggupi oleh Sang Raja. Hingga hari ini, di hari kedatangan kami, buah pilihan Sukarno itu masih terasa manisnya. Dan sungguh sangat merugi apabila kita tidak memanfaatkan hubungan yang baik antara dua negara ini untuk saling mengunjungi.

***

Seorang tua menunggu kereta di Casa Voyageurs.
Seorang tua menunggu kereta di Casa Voyageurs.

Abdelfatah Mouttaqui berjanji menjemput kami di bandara. Seluruh informasi penerbangan telah kami berikan padanya lewat internet. Meski memperlihatkan wajah bahagia, tapi ia jelas tampak kelelahan karena sebelumnya ia harus menghadiri sebuah konferensi di Rabat. Dari ibukota negara itu, ia kembali mengejar penjemputan dengan kereta api yang langsung berhenti di terminal keberangkatan/kedatangan bandara.

Assalamualaikum, Sidi (saudara) Tikwan?” katanya, “Maaf, kuharap kalian belum menunggu terlalu lama”.

Berambut ikal, khas peranakan Arab, usia 30-an, dengan tinggi yang nyaris dua meter, ia berbicara dengan semangat, terutama bila berkaitan dengan situasi politik di Afrika. Bola matanya hitam mengkilat. Ia berbicara Bahasa Inggris sangat lancar bila mengingat bahasa kedua mereka adalah Bahasa Perancis. Dalam balutan stelan jas lengkap dengan dasi, ia mencerminkan dirinya sebagai pemain pialang atau penasihat investasi. Memang itulah karir profesionalnya sebelum kemudian ia meninggalkannya karena sebuah alasan yang sangat prinsipil. Abdelfatah kemudian mengikuti tariqah. Mengikuti gurunya, ia kini tinggal di Cape Town, Afrika Selatan, bersama istri dan anak-anaknya. Beberapa hari ini ia pulang ke Maroko untuk suatu urusan politik-ekonomi negara-negara Afrika yang sedang mereka kembangkan. Shaikh Mourtada Elboumashouli, pimpinan tariqah itu, telah memintanya untuk menjemput kami.

Abdelfatah mengundang kami untuk menginap di rumah ibunya malam ini. Kami tidak keberatan. Dari bandara menuju kota, kami naik kereta api selama kira-kira setengah jam. Sepanjang perjalanan dari bandara ke kota, lahan-lahan pertanian terhampar bagai permadani. Petani menanam zaitun, sayuran, jeruk, kaktus, rumput, dan berbagai jenis umbi-umbian sebagai bahan pembuatan roti. Bunga-bunga rumput liar berwarna kuning mulai mekar menyambut musim semi. Tapi cuaca masih tetap saja dingin, apalagi di bawah angin senja begini. Musim semi masih menyelimuti Maroko di bulan Mei.

Lanskap pertanian Maroko.
Lanskap pertanian Maroko.

Abdelfatah menambahi ongkos kami bertiga agar duduk di kelas bisnis. Bersama kami adalah penumpang-penumpang yang terpagut dalam jas-jas tebal dari wol, kulit dan sejenisnya. Ada orang tua yang bertumpu pada tongkatnya sambil bergumam-gumam tentang sesuatu, mungkin saja mengomentari cuaca. Mereka berbicara Bahasa Perancis, dan saya merasa letih mendengarnya. Entah bagaimana, mereka serasa memutar-mutar pangkal lidahnya sedemikian rupa, lalu menekuknya ke dalam tenggorokan bagian dalam, sehingga keluarlah bunyi-bunyi seperti “gho, ghu, ghi…” dan seterusnya. Sebagian orang menyebut bahasa ini seksi dan indah.

Gerbong-gerbong ONCF bersih dan canggih. Jalannya cepat menderu. Para pramugarinya rapi. Saya mulai merasakan denyut Maroko. Kereta api membawa kami ke Casa Voyageurs, stasiun kereta api utama di Casablanca. Dari sana diteruskan dengan naik la petit taxi (taksi kecil). Taksi berwarna merah ini bikinan Perancis. Ukurannya yang kecil membuatnya terlihat mirip dengan mobil-mobilan, dan ini adalah salah satu ciri khas Casablanca dibanding kota-kota lain. Kami serasa menciut di dalam taksi itu, dan Abdelfatah yang berbadan tinggi harus menekuk lehernya di jok depan. Ia tampak lucu dengan posisi itu.

La petit taxi.
La petit taxi.

Hari semakin tua jua. Senja akan segera menghilang. Kami tiba pada saat Maghrib di Negeri Magrib. Setelah melewati jalan-jalan kota dan jalan-jalan kecil, kami turun di depan sebuah rumah deret bertingkat. Salah satu rumah itu adalah tempat di mana ibunda Abdelfatah tinggal. Kisah Maroko kami mulai dari rumah ini.

 

BERSAMBUNG…

(Tikwan Raya Siregar)

 

 

LEAVE A REPLY