Mengunjungi Bazaar Terbesar di Asia Tenggara

0
136

Hari kedua di Bangkok adalah kali pertama kami melihat matahari pagi di negeri ini. Acara sarapan di lantai 11 Restoran The Berkeley Hotel membuat semangat bangkit setelah tadi malam “gempor” menyusuri night market. Target berikutnya adalah Chatuchak.

Tapi sebelum mulai, ini adalah sedikit tentang Chatuchak…

Kita sedang berbicara tentang sebuah grand bazaar terbesar di Asia Tenggara. Sebagian informasi menyebutkan, pasar ini menampung 10.000 gerai dagang. Sebagian lain yang mencoba lebih realistis menyebut 8.000 gerai. Berapapun resminya, marilah membayangkan sebuah pasar seluas 1,15 km persegi yang hanya buka di akhir pekan (Jumat malam sampai Minggu) dengan pengunjung kurang lebih 250.000 orang per hari. Dengan itu, Chatuchak bagaikan mesin penyedot manusia.

web-chatuchakPasar ini menyediakan anekaragam produk budaya masyarakat Thailand yang paling lengkap. Ia mengandung berbagai kategori produk yang terbagi ke dalam 27 sektor. Untuk sektor galeri seni saja, terdapat ratusan gerai produk lokal yang berasaskan materi benang, bambu, rotan, bulu hewan, kayu, perak, perunggu, kaca, enceng gondok, tempurung kelapa, dan berbagai serat tumbuhan. Itu belum menghitung seni lukis, pahat dan buku-buku sastra.

Pada sektor lain, terdapat pedagang tanaman, barang-barang antik, hewan peliharaan, makanan- minuman, keramik, furniture, pakaian, dan buku. Secara keseluruhan, terdapat sembilan kategori barang dagangan yang membuat pasar ini dikenal sebagai one-stop shopping bagi mereka yang mencari berbagai keperluan yang berbeda.

web-pasar1web-pasar2web-pasar3web-pasar4web-pasar5web-teh tarikRibuan pedagang kecil berderet di antara lorong-lorong yang menyediakan kios seluas 1,5 x 2 meter per unit itu. Dengan variasi dagangan yang kebanyakan adalah kerajinan tangan (handcraft), maka pendatang selalu dibuat berduka karena tidak bisa memiliki semuanya. Kadang-kadang urusan memilih satu dari sekian barang yang bagus jauh lebih memusingkan daripada menemukan satu barang yang bagus, bukan?

Pada siang hari, galeri seni dan fashion terbaru mendominasi kawasan yang menjadi ikon belanja di Bangkok ini. Pada malam harinya, para pedagang digantikan oleh penjual barang dan pakaian bekas. Dikenal juga sebagai JJ Market—semacam Mall Tanah Abang—Pasar Chatuchak berlokasi di Kamphaeng Phet 2 Road, Chatuchak, Bangkok. Sebutan “Chatuchak” sendiri diambil dari pemberhentian lokomotif kereta api yang memang dekat dari lokasi tersebut. Telinga orang Thailand menangkap suara mesin kereta api dengan bunyi “tucak, tucak, tucak…”. Selanjutnya mereka menyebut dan menamainya demikian.

web-pasar tuguweb-copet alertweb-policeKekuatan budaya Thailand telah membuat pasar ini berbeda dari mall atau pusat perbelanjaan moderen yang cenderung seragam di seluruh dunia. Dengan pasar sebesar ini, dan dengan kekuatan daya saing produk lokalnya, Thailand kini merasa percaya diri untuk masuk ke pintu ASEAN Economic Society (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Demi menunjukkan maksud tersebut, Pemerintah Thailand yang mendirikan tugu jam setinggi kira-kira 35 meter di tengah-tengah Chatuchak telah menjadikannya semacam monumen ASEAN Economic Society agar disaksikan oleh para pengunjung seluruh dunia dan sekaligus menjadi peringatan dan penyemangat bagi para pedagang dan produsen lokalnya.

***

Boleh dikatakan, transportasi adalah perampok terbesar dalam perjalanan. Karena itu, kuasai dulu moda transportasi umum di suatu kota, baru memilih angkutan yang tepat dan murah, kecuali Anda telah menggunakan kenyamanan jasa tour operator yang Anda sukai.

Dari kawasan Pratunam dimana kami tinggal, angkutan yang paling mudah adalah taksi dan tuktuk karena mereka bisa ditemukan di mana-mana. Kami telah mendatangi sopir tuktuk, dan ia menawarkan 200 baht untuk sekali jalan. Kami langsung meninggalkannya karena ia tak mau lagi bergeser dari harga itu. Dia tahu kami turis, seharusnya tak sampai segitu tarifnya. Taksi juga bukanlah pilihan kami. Meskipun seluruh taksi di Bangkok wajib menggunakan meteran, namun biayanya tetap akan lebih mahal.

web-penunjuk arahweb-busweb-bus1web-Ibu Kondektur.web-bustiketweb-tuktukSebenarnya Chatuchak bisa dicapai dengan menumpang sky train (BTS) dengan tujuan Stasiun Mo Chit. Juga bisa menggunakan kereta subway (MRT) dengan tujuan Stasiun Chatuchak Park. Tapi ternyata nasib mempertemukan kami lebih dahulu dengan bus. Di sebuah halte yang tidak jauh dari hotel, seorang waria cantik berbaik hati menunjuk Bus Trayek 77 menuju Chatuchak. “Hanya 40 menit kalau tidak macet,” katanya dengan gemulai—setahuku Bahasa Thailand memang gemulai.

Bus Trayek 77 ini lumayan juga, ber-AC dan operatornya mengenakan seragam rapi. Kernetnya adalah seorang ibu rumah tangga yang memegang silinder sepanjang 30 cm, yang setiap kali hilir mudik di jalur tengah bus, ia selalu menggoyang silinder kaleng itu, sehingga terdengarlah suara koin gemerincing di dalamnya. Itu tandanya Anda harus mengeluarkan baht untuk membayar ongkos.

How much?” Tidak ada gunanya berbahasa Inggris.

“…baht” katanya sambil menyorongkan 10 jarinya ke depan.

Kami membayar 10 baht per orang. Murah sekali. Begitu ia menerima uangnya, maka dia mengeluarkan semacam karcis seukuran materai yang keluar dari lobang kecil kaleng itu. Kernet yang hebat. “Kap kum kaap”. Senang rasanya bepergian bersama para penduduk lokal dan melihat perilaku mereka.

Waria di halte bus.
Waria di halte bus.

Ternyata si waria itu cukup akurat. Kami sampai di Chatuchak dalam masa 40 menit saja. Seterusnya tidak sulit untuk mengetahui ke mana arah Pasar Chatuchak. Orang-orang akan mengalir memasuki gerbang-gerbang pasar, dan kita tinggal mengikutinya saja. Ada peringatan gambar di tembok agar berhati-hati pada jambret. Untuk soal yang satu ini, di mana pun sama saja. Polisi berjaga di sekeliling kawasan, dan mereka sangat menolong untuk memberikan informasi.

Kami menemukan jenis manusia dari seluruh dunia di pasar ini. Orang-orang Eropa dan Jepang yang terpesona dengan galeri seni, orang-orang Asia yang bolak-balik di kios-kios pakaian, dan orang-orang lokal yang sedang cuci mata menghabiskan akhir pekan. Kami mencoba menghayati setiap lorong dan sektor di pasar ini, tapi bagaimanapun juga itu tidak mungkin. Satu hari bukanlah waktu yang cukup untuk melihat semua dagangan di pasar ini. Rasanya, kalau hanya untuk membeli satu jenis barang, pasar ini terlalu besar untuk didatangi. Chatuchak bukan lagi tentang shopping semata. Tapi pasar ini telah menjelma sebagai atraksi wisata tersendiri, sebagai galeri raksasa, produk budaya, dan cermin kehidupan masyarakat Thailand.

Karena rumitnya pengelolaan pasar ini, ada berbagai aturan yang diterapkan kepada para pedagang dan pendatang. Ancaman kebakaran bisa muncul sewaktu-waktu. Karena itu otoritas pasar telah memberlakukan larangan merokok untuk seluruh kawasan pasar. Bagi yang ketahuan merokok, didenda sampai 2.000 baht. Peraturan yang ketat juga diberlakukan untuk menjaga kebersihan. Dengan tingkat kepatuhan pedagang Thailand yang tinggi, Chatuchak menjelma menjadi pasar yang sangat bersih dan bebas asap rokok.

Seperti kata pembual, Anda belum ke Turki kalau belum mengunjungi Grand Bazaar. Maka Anda juga belum ke Bangkok kalau belum mengunjungi Chatuchak. Siapkanlah baht di dompet Anda sebanyak yang diperlukan, karena kartu kredit tidak berguna di sini. Semua harus cash. “Tucak, tucak, tucak…priiiiiit!”

 

 

LEAVE A REPLY