Menikmati Seni Tradisi dan Kreatif di Taman Simalem Resort

0
115

seni-1Siapapun yang mengunjungi Taman Simalem Resort di Kecamatan Merek, Tanah Karo, biasanya akan tertegun dan terhibur oleh berbagai ornamen, suvenir dan karya-karya seni yang mencerminkan lokalitas yang khas Karo dan suku-suku lain di sekitar Danau Toba. Sebuah sanggar seni bahkan telah didirikan khusus untuk memproduksi berbagai pernak-pernik kesenian tradisional, baik sekadar hiasan resort maupun benda-benda fungsional yang masih digunakan secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dataran tinggi Karo.

Pak Suardi di sanggar kerjanya.
Pak Suardi di sanggar kerjanya.
Lewat berbagai produk kesenian ini, Pak Suardi, sang maestro yang memimpin dan mengelola sanggar itu, ingin merekonstruksi kembali pengetahuan kebudayaan Karo kepada siapa saja yang tertarik mempelajari atau sekadar menikmati cara hidup orang Karo. Uniknya, secara genealogis, Pak Suardi sendiri sebenarnya adalah seorang Jawa. Tapi secara kultural, ia memang dibesarkan 100% sebagai orang Karo. Neneknya yang Jawa telah diadopsi dan dibesarkan oleh orang Karo, dan sejak itu keluarga mereka secara turun temurun hidup dengan cara Karo. “Saya tidak tahu bagaimana berlaku sebagai orang Jawa,” katanya.

seni-2seni-3Karya-karya seni Suardi meliputi berbagai ukiran dan pahatan dari kekayaan alam Tanah Karo sendiri. Ia memanfaatkan berbagai jenis bambu dan kayu-kayu dataran tinggi yang tersedia di lingkungan resort. Bahkan untuk pelitur bahan, ia telah menyadap getah pohon pinus, untuk melengkapi bahan varnish yang dijual di toko bangunan.

Kemampuan Pak Suardi untuk mengolah kekayaaan mentah alam Karo menjadi ratusan benda seni tradisi dan seni kreatif tidak didapatkannya dari sekolah resmi. Dia malah cuma tamatan STM jurusan mesin. “Di sekolah, saya goblok sekali sehingga tidak mendapatkan apa-apa dari pelajaran mesin. Saya tidak mengerti kegunaan skrup yang ditunjukkan pada saya, tapi saya bisa melukis skrup itu dengan detil dan persis,” kenang Pak Suardi sambil tertawa.

Bakat memang tidak bisa dibohongi, dan ia selalu keluar menemukan jalannya sendiri. Suatu ketika, Pak Suardi bertemu dengan seorang maestro nasional asal Karo. Politik telah membuat sang seniman besar itu terpaksa pulang ke Sumatera Utara karena ia dituduh tergabung sebagai seniman Lekra. Bersama Ngajar (Eng) Bana Sembiring Milala, Pak Suardi ikut dalam berbagai proyek pembangunan tugu dan karya seni tiga dimensi lainnya. Salah satunya adalah Tugu Djaga Depari, pianis dan komposer legendaris Karo, di Medan.

seni-4Seniman Eng Bana Sembiring Milala yang eksentrik meninggal dalam kondisi sakit-sakitan. Pak Suardi mewarisi ilmunya, dan mempraktikkannya sebagai tuntutan kreativitas dan pengabdian hidupnya sampai kini. Di sanggarnya yang berupa bangunan tradisional Karo di lembah Pangambatan yang dingin, Pak Suardi yang lahir tahun 1950 pun merasa berkewajiban mewariskan ilmunya kepada para pemuda Karo yang berbakat dan berminat pada seni tradisi ini. “Saya telah meminjam ilmu ini dari orang Karo, dan di usia saya yang mulai senja ini, saya ingin mengembalikan ilmu ini kepada para pemiliknya, yaitu pemuda-pemuda Karo. Saya berharap, pengetahuan budaya, khususnya pada produk-produk budaya Karo yang nyaris hilang, akan tetap lestari nantinya lewat karya-karya mereka,” ujarnya.

Di sanggar yang berukuran kira-kira 5 x 10 meter ini, di sebuah areal terbuka, terdapat ruang display kebudayaan Karo, mulai dari miniatur bangunan, alat musik, perlengkapan rumah tangga tradisional, peralatan tenun, dan sebagainya. Seumpama museum, kita bisa belajar tentang orang Karo, cara hidup dan ekologinya di sini. Di bawah naungan pinus-pinus yang rindang, pengunjung juga dapat menyaksikan bagaimana seniman senior dan junior bekerja dengan jiwa kesenian mereka yang tidak padam.

LEAVE A REPLY