Menonton Film Soekarno di Malaysia bersama Tun Mahathir “Little Sukarno” Mohamad

1
729

sukarnoIa dilahirkan ketika fajar menyingsing. Orang Jawa percaya anak yang dilahirkan waktu fajar punya keistimewaan tersendiri. Masa kecilnya sakit-sakitan. Kemiskinan yang melanda membuat ia harus pasrah pada keadaan. Mereka menempati rumah sewa murah. Lembab. Kalau sungai meluap, sampah terbawa hingga kerumah. Keadaan ini menyebabkannya terserang tipus. Dua bulan ia kritis terbaring. Ayahnya terus bertirakat. Tidur di bawah tempat tidur anak lelakinya setiap malam. Berharap pada Yang Kuasa agar penyakit anaknya berpindah padanya.

Semula anak kecil itu diberi nama Kusno. Karena selalu sakit-sakitan, menurut kepercayaan ayahnya nama itu tidak cocok untuknya. Ayahnya penggemar cerita Mahabharata. Dipilihnya nama Karna sebagai pengganti Kusno. Karna seorang pemberani dan kuat, juga pembela bagi kaumnya. Untuk menambah kebaikan, ditambah ‘Su’ di depannya. Orang Jawa selalu mengganti ‘A’ di belakang sebuah perkataan dengan ‘O’. Maka kini namanya berganti menjadi Sukarno.

Beranjak remaja ia tumbuh sebagai pemuda yang gagah. Seorang gadis Belanda telah tertawan hatinya melihat kepandaian Sukarno menguasai 7 bahasa. Begitu terangnya Sukarno memberi penjelasan pada gadis itu tentang Islam dan komunis. Gadis itu tak bisa ke lain hati. Tekad Sukarno pun sudah bulat. Ia ingin terang-terangan menghadap ayah si gadis. Kawannya mengingatkan agar berhati-hati dengan orang Belanda. Ia meyakinkan, “jangan sebut Sukarno kalau tidak bisa menaklukkan hati Belanda”.

Melalui kawannya dipinjamlah sebuah jas setelan lengkap dengan dasi kupu-kupunya, mengikuti cara berpakaian orang Belanda. Dengan penuh percaya diri ia datang dan duduk di teras rumah si gadis. Malang sekali, ayah si gadis keluar dengan rasa amarah yang sejadi-jadinya. Begitu murkanya hingga matanya membara seperti mata Fir’aun menatap Nabi Musa. Sukarno dianggap seperti anjing yang tak layak mendekati putrinya. Ia diusir paksa, digeret dua pekerja kebun.

Sejak kejadian itu, Sukarno bertambah sadar akan posisi pribumi di mata Belanda. Dadanya bergemuruh saat mengikuti Tjokroaminoto berpidato. Pidato yang berapi-api menarik perhatian massa tentang kesadaran perlunya berserikat dan bersatu. Teriakan massa Sarekat Islam membuat tangannya terkepal di lipatan kain batiknya. Malamnya ia praktikkan sendiri cara berpidato Tjokroaminoto di dalam kamar. Sendirian. Hanya ditemankan sebatang lilin. Orang-orang terbangun dan mengintipnya dari balik pintu. Menganggapnya sudah gila.

Setelah dewasa, Sukarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia. Kemana-mana ia selalu mengenakan peci hitam dan jas putih. Dalam rapat umum PNI, pidatonya yang berapi-api berhasil menarik simpati rakyat. Dengan gayanya yang khas, ia mengepalkan tangan menunjuk 1 jari ke atas dan dengan sorot mata yang tajam ia berkata, “Sodara-sodara. Kita adalah tuan bagi tanah kita sendiri. Sudah semestinya kekayaan alam yang kita miliki kita olah sendiri untuk kemakmuran bangsa kita. Apakah saudara rela Belanda terus mengeruk kekayaan kita?”

Massa menjawab: “Tidaaak!!”

Tentara Belanda yang berbaris di bawah podiumnya segera menyerbu menghentikan pidatonya. Tapi rakyat sudah terlanjur cinta. Mereka tak rela pemimpinnya ditahan. Sambil berusaha mempertahankan mikrofon, ia digeret paksa. Massa pun menyerbu ke atas podium. Terjadi tarik-tarikan Sukarno antara massa dan tentara Belanda. Ia ditahan.

Melalui pengadilan, diputuskan bahwa Sukarno dibuang ke Bengkulu. Bersama Inggit dan anak-anak angkatnya mereka berangkat. Di Bengkulu, Sukarno mengajar di sekolah Muhammadiyah. Bertemu dengan seorang murid perempuannya yang cukup kritis, Fatmawati, anak seorang tokoh Muhammadiyah di sana. Ternyata cinta telah bersemi di hati murid dan gurunya. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa yang terjadi setelah Jepang datang? Lalu kemana Inggit pergi? Maaf saudara. Saya tak mungkin melakukannya. Saya segan pada Hanung Bramantyo, sutradara film “Soekarno”. Cerita ini terlalu istimewa untuk dilewatkan begitu saja.

Hari Senin 29 September 2014 yang lalu, diputar secara perdana film Soekarno: Extended Version di Malaysia. Film ini merupakan film yang berdurasi lebih panjang 25 menit dari versi asalnya yang diluncurkan 11.12.13 yang lalu.

Sutradara muda yang penuh bakat, Hanung Bramantyo, datang di Gala Premier ini. Pemeran utama Soekarno, Ario Bayu dan pemeran Inggit istri Soekarno, Maudy Koesnaedy, juga pemeran Fatmawati, Tika Bravani, turut hadir. Duta besar mengundang khusus mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad. Tak kurang 20 duta besar negara-negara sahabat yang ada di Kuala Lumpur juga berbagai elemen masyarakat Indonesia di Malaysia pun turut hadir menyaksikannya. Pada tayangan perdana ini KBRI menempah 4 studio di sebuah pusat perbelanjaan ternama di ibukota. Tayangan untuk umum di Malaysia akan bermula pada 2 Oktober ini.

Bagi masyarakat Indonesia di Malaysia, kehadiran film ini dirasa sangat penting. Banyak anak-anak Indonesia yang telah lama bersekolah dan membesar di luar negeri bahkan tak pernah mendengar lagu Indonesia Raya. Apalagi lagu Syukur dan Padamu Negeri. Bagi TKI, setelah menontonnya baru tumbuh kesadaran pentingnya menjadi tuan di tanah air sendiri. Dan bagi orang asing, mereka berdecak kagum setelah mendapat gambaran lebih lengkap bahwa Indonesia pernah dipimpin seorang yang berjiwa besar, cinta tanah air, dicintai rakyatnya, menggugah banyak orang dan mengenalkan nama Indonesia kepada dunia. Setelah ia pergi, belum lagi dijumpai penggantinya hingga kini.

(Danil Junaidy Daulay)

SHARE
Previous articleDi Batas Negara
Next articleTerbuai di Sikuai

1 COMMENT

LEAVE A REPLY