Menu Kwek Kwek dari Kudus

0
178

Mereka mencantumkan “Pecel Lele dan Soto Kudus” sebagai trade mark-nya di sebuah spanduk berdebu di depan warung tak berdinding itu. Tapi bidikan Pak Gatot dan Bu Sugiati ternyata salah sasaran, karena yang lebih diingat para pelanggannya justru bebek goreng khas mereka yang crispy dan wangi. Para pelanggan menyebutnya “Bebek Kudus”.

Warung ini terletak persis di salah satu sudut Simpang Kongsi, Mariendal Dalam. Dari Tritura (ring road), jaraknya sekitar 2,5 km, atau hanya beberapa puluh meter sebelum Kantor PTPN 2 Mariendal. Anda harus mengecek jadwal lebih dulu, karena Pak Gatot dan Bu Sugiati hanya berjualan sekitar 5-7 jam dalam sehari, yaitu mulai dari pukul 17.00 WIB.

Meskipun hanya buka 5 sampai 7 jam sehari, mereka berdua terhitung bekerja satu harian penuh jua. Pagi-pagi sekali, Bu Sugiati dan Pak Gatot sudah sibuk belanja bahan dan aneka bumbu di Pasar Simpang Limun. Mereka harus memastikan dapat daging bebek dari pemasok tertentu setiap hari karena mendapatkan daging bebek tidak semudah daging ayam.

Selain itu, pengolahan bebek tidak sederhana. “Cara membersihkannya lebih rumit, karena bulu bebek agak sulit lepas. Selain itu, pengolahan daging bebek memerlukan teknik khusus. Bebek dikenal memiliki aroma asli yang kurang disukai orang. Karena itu kami harus merendamnya dulu selama paling tidak dua jam dengan air kelapa. Setelah aromanya hilang dan daging berubah lebih lembut, kita tidak langsung menggorengnya. Daging bebek masih harus diungkep selama empat jam. Jadi, total waktu pengolahan sebelum digoreng itu enam jam. Makanya kami tidak bisa jualan sejak pagi,” kata Bu Sugiati.

Bersamaan dengan proses pengolahan daging bebek dan ayam, pembuatan bumbu juga dilakukan secara terpisah. Ada dua jenis bumbu yang dikerjakan Bu Sugiati, yaitu bumbu rempah yang terdiri dari lengkuas, serai, bawang putih, bawang merah, kunyit dan gula. Bumbunya kedua yang tak kalah pentingnya adalah kaldu bekas ungkepan ayam yang terlihat kecoklatan seperti minyak hewani. Ketika akan digoreng, daging bebek dicelupkan lebih dahulu ke dalam cairan itu, barulah kemudian digoreng dengan minyak bersuhu tinggi.

“Untuk menjaga tingkat kesegaran, kami hanya menggoreng bebek ketika ada pesanan. Namun ada juga pelanggan yang memesan dalam jumlah besar untuk kepentingan pesta atau acara lain. Untuk itu, mereka harus memanaskan lagi karena bisa jadi sesampai di tempat sudah dingin. Daging bebek kami sedikit berkurang citarasanya kalau disantap dalam keadaan dingin,” papar Bu Sugiati.

Satu porsi daging bebek di Warung Soto Kudus Pak Gatot cukup memuaskan dari segi ukuran. Seekor bebek dibagi empat porsi, ditambah lagi dengan sate jeroan bagi yang menyukainya. Dalam seporsi pesanan, daging bebek dilengkapi dengan sambal khas Kudus, lalapan, dan nasi lemak bertabur bawang goreng yang sangat gurih dan lembut.

Menurut pengakuan Bu Sugiati, ada beberapa pelanggan yang sudah cukup mereka kenal, seperti Ibu Kapolres, dan beberapa pejabat daerah yang datang berulang. Sebagian mereka memesan dalam jumlah banyak untuk kepentingan acara-acara tertentu. Namun lokasi warung yang tergolong terpencil dan memiliki jam buka yang sempit ini memang telah membuat Warung Pak Gatot belum mendapat perhatian luas sebagaimana warung-warung legendaris lain yang sudah lebih dulu berkibar namanya.

Lebih dari itu, kedua pasangan ini belum dapat digolongkan ke dalam keluarga yang bernaluri bisnis. Mereka bisa meliburkan diri kapan saja merasa capek. Dan kalau ada pesanan banyak dari seseorang, mereka juga bisa tutup begitu saja. “Pegel sih kadang-kadang, nggak sanggup kerja terus,” ungkap Bu Sugiati sekenanya. Saat ini mereka sudah dibantu seorang anak muda yang berasal dari desa yang sama di Kudus.

Eks Buruh Giling Rokok

Sebelum buka warung di Medan, Bu Sugiati adalah buruh giling (pelinting) rokok di antara ribuan buruh lainnya di Desa Papiringan, Kecamatan Kali Ungu, Kabupaten Kudus. Ketika masih muda dan lincah, pabrik rokok milik PT Djarum mengupahnya sekitar Rp 25.000 per hari untuk 5.000 batang rokok yang ia linting. Itu kalau ia bekerja dengan kecepatan tinggi. Bu Sugiati termasuk pelinting yang cepat karena banyak juga temannya yang hanya bisa menerima Rp 10.000-Rp 15.000 per hari, karena upah mereka tergantung pada berapa batang rokok yang berhasil mereka linting.

Semakin tua, para pelinting rokok yang terdiri dari kaum perempuan itu akan makin lambat gerakannya. Pabrik tidak menyukai pekerja yang lambat, sehingga mereka akan mem-PHK para pekerja harian yang lanjut usia. Bu Sugiati yang sudah mendekati usia 50-an pun termasuk jadi sasaran ancaman siklus generasi pelinting ini. Ketika sudah tiba saatnya ia digantikan tenaga-tenaga remaja perempuan berusia 17-an tahun yang lebih gesit, Bu Sugiati pun harus pamit dari pabrik. Pamit baik-baik berarti tidak dapat tunjangan apa-apa. Pabrik rokok tidak perlu pusing-pusing cari tenaga pelinting baru. Ribuan remaja dari keluarga miskin di Kudus siap jadi generasi pelinting baru. Setamat SMA, mereka langsung direkrut. Ketimbang nganggur, eloklah masuk pabrik. Masuk jam enam pagi, pulang jam 7 malam. Mau kuliah, orang tua pasti tak sanggup.

Pak Gatot sendiri hidup terpisah sehari-hari dengan istri dan keluarganya karena ia bekerja sebagai penjual es dawet dan bakso di Tanah Abang. Mereka akhirnya berkumpul kembali setelah Pak Gatot kehilangan pekerjaannya karena digusur Pemda DKI demi pembangunan. Suasana mereka benar-benar sulit sebagaimana umumnya keluarga para pelinting rokok di Kudus.

Suatu hari, seorang keponakan Bu Sugiati yang bertugas sebagai polisi di Medan mengajak Bu Sugiati mampir ke rumahnya. Waktu itu, tahun 2010, Bu Sugiati dengan senang hati bermaksud main-main saja. Namun kunjungan pertamanya ke Medan itu ternyata mengubah rencananya sekeluarga. Ponakan Bu Sugiati mengusulkan agar ia jualan usaha saja di Medan. Kebetulan ia punya tanah di Simpang Kongsi, dan si ponakan bersedia membantu permodalan awal untuk buka warung makan.

“Sebenarnya saya benar-benar nggak yakin buka warung. Saya itu nggak bisa masak. Saya itu, dari empat bersaudara perempuan, cuma saya yang nggak bisa masak. Tapi ponakan saya mendorong saya terus, ketimbang jadi buruh giling rokok lagi. Dia bilang, di pabrik itu nggak akan berkembang. Jadi saya coba-coba saja,” kata Bu Sugiati.

Akhirnya dia bersama suaminya memulai usaha warung di Simpang Kongsi. Bu Sugiati mengaku tidak punya sesuatu yang istimewa dengan masakannya. Saya hanya coba ingat-ingat memasak seperti biasanya di rumah. “Saya nggak tahu kalau masakan seperti ini bisa disukai orang di Medan,” aku Bu Sugiati dengan polos.

Ia juga heran mengapa orang-orang mulai memesan masakannya dalam jumlah banyak. Padahal dulu ia tak pernah sekalipun memasak untuk orang lain. Dia dikenal di rumah sebagai satu-satunya anak perempuan yang tak pandai memasak. Kakak-kakaknya memang jago masak, tapi dia tidak. Ia juga menjadi bingung ketika ada pelanggan yang memintanya menyediakan masakan dalam kotak, bahkan ada yang minta stempel segala untuk kepentingan administrasi. “Iku tempelan, opo jenenge… stempelan, nempane nandi yo?”

Itulah Bu Sugiati dan Pak Gatot dari Kudus. Bila Anda adalah petualang kuliner, warung ini bisa menjadi objek perburuan selanjutnya. Harga bebek goreng seporsi hanya Rp 17.000.

SHARE
Previous articleImlek di JW Marriott Medan
Next articleMadu Finish

LEAVE A REPLY