Menyaksikan Musik Batak di Tangan 80 Musisi Orkestra Austria: Hermann Delago & Austrian TOBATAK Orchestra, Medan-Samosir, 20-23 Agustus 2014

4
1297

hermannTyrol adalah sebuah provinsi di negara Austria yang memiliki sejarah multinasional. Provinsi ini terletak di jantung pegunungan Alpen, antara Italia dan Jerman. Secara geografis Tyrol mempunyai kemiripan dengan Pulau Samosir yang bergunung-gunung dan merupakan salah satu pulau terindah di Indonesia. Pulau Samosir atau kini disebut Kabupaten Samosir, berada di tengah-tengah Danau Toba dan menjadi salah satu tujuan wisata terpopuler di Indonesia.

Nun di Provinsi Tyrol, tepatnya di Kota Zams, lahir seorang musisi bernama Hermann Delago. Siapapun tidak bisa menyangka kalau kelak lelaki inilah yang akan merajut suatu hubungan istimewa antara kedua tempat yang terpisah oleh dua benua ini. Hubungan itu dijahit dengan benang-benang musik.

Semenjak masa remajanya, Hermann telah menggeluti bidang musik. Ia bermain dengan beberapa grup band, hingga membentuk suatu grup band yang bisa membawa mereka populer di Austria dan Eropa, Clock Werk Orange, di tahun 1975.  Peran penting Hermann di dalam band ini adalah sebagai  lead vocal dan memainkan beberapa alat musik.

Talenta alami yang dimiliki oleh Hermann, baik dari segi olah vokal maupun permainan berbagai macam alat musik, mungkin juga merupakan warisan dari ayahnya sebagai musisi dan dirigen sebuah orkestra. Selain itu, ia memperdalam ilmunya lewat pendidikan dan lulus dari salah satu universitas musik di Austria. Di samping perkuliahan, band yang dibentuknya dijalankan dengan tekun, sembari mengikuti banyak konser, sehingga aksi panggungnya sudah merupakan bagian besar dari hidupnya mulai dari remaja hingga saat ini.

Melihat talenta, pengetahuan dan gaya musik Hermann, salah satu organisasi orkestra di Austria tergiur untuk memintanya sebagai pimpinan, dirigen, sekaligus arranger untuk orkestra itu. Hermann pun berhasil membawa nama orkestra ini menjadi sebauh grup yang sangat diminati banyak orang. Setiap konser yang mereka adakan selalu dipadati para penonton dan fans. Salah satu kunci keberhasilannya adalah karena bentuk gubahan musik orkestranya yang unik, baru, namun tidak melupakan akarnya. Di Austria, grup orkestra sangatlah banyak, namun sebagian besar di antaranya masih membawakan musik-musik klasik. Oleh karena itu, grup Hermann Delago ini menjadi cukup unik.

Pada tahun 1995, Herman Delago melakukan perjalanan ke Indonesia untuk pertama kalinya dan terpesona melihat berbagai budaya dan musiknya. Perjalanannya dimulai dari Bali. Tak lama setelah itu, dia tiba di Danau Toba, Kabupaten Samosir. Di Bali, dia mendengar sebuah lagu Batak, Butet, dinyanyikan di cafe-cafe. Dia sangat menyukai lagu itu dan langsung mempelajarinya di Bali. Setibanya di Kabupaten Samosir, dia sangat merasakan betapa indahnya daerah itu dan melihat pulau kecil itu memiliki kemiripan dengan kampung halamannya di Austria. Dia pun jatuh cinta terhadap daerah itu, hingga mendalami keunikan budaya dan musik yang dimiliki oleh penduduk lokalnya.

Salah satu tempat favoritnya adalah kedai tuak. Kedai tuak hampir setiap hari dia kunjungi dan mencoba mendengar dan mempelajari secara terus menerus lagu-lagu Batak. Tentu saja, selain mempelajari lagu, ia juga tak lupa meminum tuaknya. Bahkan ia sering menyanyikan lagu Batak dalam kehangatan tuak.

Setelah kembali ke Tyrol, dia pun sangat serius mempelajari lagu-lagu Batak, baik dalam menyanyikannya maupun memikirkan suatu gubahan orkestra yang cocok dengan lagu-lagu tersebut. Dia pun membuat partitur lagu-lagu Batak, dan membagikannya ke semua musisi orkestranya. Akhirnya lagu-lagu Batak pun menjadi bagian besar dari setiap play list yang dibawakan dalam setiap konser mereka hingga saat ini.

Perjalanannya ke Kabupaten Samosir pun dilakukan secara reguler, demi menambah wawasan terhadap lagu-lagu Batak. Sebelumnya dia pernah mendengar nama seorang musisi Batak muda yang sangat kreatif, Viky Sianipar. Beberapa album karya Viky didengar oleh Hermann dan sangat dia sukai. Ia lantas bertemu langsung dengan Viky Sianipar di studionya di Jakarta.

Pertemuan mereka yang singkat, namun berkesan, telah menghasilkan sebuah ide proyek, yaitu kolaborasi album Batak bernama TOBATAK, dan album ini telah didistribusikan secara worldwide. Proyek ini mendapat respon sangat positif dari berbagai pihak. Saat mengerjakan proyek ini, Hermann sendiri meminta kepada salah satu teman dekatnya, Henry Manik, untuk menjadi project manager.

Namun kesuksesan album ini sepertinya belum memuaskan Hermann dalam menunjukkan kecintaannya terhadap musik Batak dan Pulau Samosir. Henry Manik, pria kelahiran Garoga Samosir yang kini berkeluarga dan tinggal di Belanda, pun mendapat tawaran ide lagi dari Hermann, yaitu mengadakan tur konser ke Medan dan Samosir. Tidak tanggung-tanggung, tur music ini akan melibatkan 80 orang musisi dari Austria.

Bagi Henry Manik, tawaran ini sangat menantang karena akan melibatkan begitu banyak orang dari Eropa dan kesiapan panitia lokal. Ia menyadari bahwa proyek ini akan rumit dan butuh pendanaan operasional yang sangat besar. Namun dengan modal pengalamannya beberapa kali membawa musisi Batak tur konser di Eropa, seperti Marsada Band, ia berani untuk menjawab tantangan ini. Henry Manik yang juga adalah aktivis pariwisata di Samosir melihat adanya dampak ganda dari kegiatan ini, yaitu seni dan pariwisata.

Selama ini, Henry Manik sudah aktif mempromosikan berbagai aspek tanah kelahirannya di Eropa. Tidak jarang ia membawa langsung tamu-tamu dari Eropa dan memandu mereka ke tempat-tempat terbaik di Samosir. Informasi tentang Danau Toba ia sampaikan, baik lewat event maupun informasi online www.samosirtourism.com. Lewat wadah ini, dia beberapa kali bekerjasama dengan sekolah maupun universitas jurusan pariwisata dalam hal pengiriman pelajar ke Kabupten Samosir. Dia pun menyambut baik ide tur konser ini, dan memikirkan hal-hal yang dapat mendukung keberhasilannya.

Pengurusan pun dimulai dengan mencari dukungan keberbagai pihak di Indonesia, baik pemerintah maupun swasta. Henry Manik intensif membicarakan ide ini kepada para kenalannya yang berpotensi untuk bisa diajak tukar pikiran, kerjasama, dan bisa saling mengerti jalur tujuan rencana ini, sebagai proyek berbasis sosial dan sukarela. Gagasan besar ini disambut baik oleh beberapa temannya di Medan yang tergabung di Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), yang dipimpin Maruli Damanik.

Melihat konsep rencana yang mendatangkan banyak orang Eropa ke Sumatera, asosiasi pariwisata ini langsung tanggap karena hal yang sama adalah misi dari organisasi tersebut. Mereka pun bersedia meluangkan waktu, pikiran maupun dana sendiri agar proyek ini bisa terealisasi. Di bawah nama ASPPI, mereka membentuk suatu tim, mengurusi penyelenggaraan konser Hermann bersama orkestranya di Medan. Mereka juga menilai konser ini merupakan ide menantang buat mereka.

Di Samosir sendiri, rencana proyek ini mendapat sambutan dari Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Samosir. Mereka menyadari bahwa rencana ini adalah misi yang perlu didukung untuk menstimulasi kepariwisataan di Kabupaten Samosir. Konser ini juga akan melibatkan beberapa artis ternama Batak, seperti Viky Sianipar, Tongam Sirait dan seorang artis pendatang baru dan kreatif, Retta Sitorus. Mereka nantinya akan berkolaborasi dengan Hermann Delago dan grup orkestranya. Di samping suguhan orkestra ini, juga akan disajikan sebuah penampilan lagu-lagu Batak orisinal oleh Marsada Band. Band ini sudah cukup dikenal oleh pecinta lagu-lagu Batak dan telah sukses dua kali tur di Eropa.

Di samping semua grup ini, ada juga Jajabi Band, yaitu band lokal dari di Tuk-tuk Siadong, yang akan tampil mendampingi pagelaran. “Tur konser oleh Hermann Delago & Orkestra ini mempunyai tujuan memberikan apresiasi tinggi terhadap musik dan lagu Batak, serta menunjukkan bahwa lagu Batak sangat diterima di dunia internasional,” kata Henry Manik.

Konser akan diadakan di dua lokasi yakni, indoor di Tiara Hotel Convention Medan pada tanggal 20 Agustus 2014, dan konser outdoor di Open Stage Tuk-tuk Siadong, Kabupaten Samosir, pada tanggal 23 Agustus 2014.

“Kita mempunyai harapan besar, semoga semuanya akan berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari seluruh pihak. Kita juga berharap seluruh masyarakat menyempatkan waktu untuk bisa hadir dan menyaksikan acara yang unik ini. Karena konser ini merupakan proyek yang bisa dibanggakan, terutama karena berbasis sosial, misi budaya dan kolaborasi musik antara Propinsi Tyrol, Austria, dengan Sumatera Utara, Indonesia, yang didasari rasa kesukarelaan semua tim yang terlibat dan didukung oleh pemerintah kedua belah pihak,” kata Henry Manik.

(Tigor Munthe)

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY