Money Talks behind The New Year Celebration

3
394

Kami para pelaku bisnis pada dasarnya sangat bergantung kepada konsumen. Tetapi kami tahu cara memutarbalikkan fakta sehingga membuat para konsumen merasa memerlukan kami dan bergantung kepada kami. Kami sangat tahu bagaimana menguras kantong para konsumen dan sesudahnya mereka mengucapkan terimakasih kepada kami.

Kini, setiap momen akhir tahun sudah menjadi kewajiban yang tidak tertulis agar semua orang merayakannya dengan berbagai cara. Mulai dari ngumpul keluarga, pesta taman, hingga pesta di hotel-hotel besar. Bahkan merayakannya dengan cara gila seperti naik gunung atau menyelam pada malam pergantian tahun.

Sebenarnya itu bukan kewajiban yang diperintahkan oleh agama manapun atau oleh hukum negara manapun. Perayaan itu sudah menjadi budaya yang sebenarnya dibangun dan dikuatkan oleh orang-orang seperti kami.

Kami sangat berkepentingan atas perayaan itu, karena perayaan itu adalah pintu rupiah bagi kami. Mulai dari makanan, sewa lokasi, peralatan pesta, salon, sound system, pakaian, sarana transportasi, hotel, hingga kembang api dan artis yang bernilai miliaran rupiah.

Karena nilai bisnis yang sangat besar ini, kami akan memulai perayaan Tahun Baru sejak akhir November dan akan memperpanjangnya hingga awal Januari. Kami menghias toko kami dengan hal-hal yang mewakili pesona Tahun Baru. Kami sangat tahu warna dan gambar yang bisa mempesona para konsumen dengan menggunakan media massa, mulai dari koran, radio, TV, majalah, berbagai sarana promosi dari brosur, poster, hingga baliho.

Tak cukup dengan media promosi, kami akan mengarahkan banyak tokoh publik untuk menjadi contoh dan menegaskan bahwa saran dan pesan kami adalah sebuah kebaikan. Kami tampilkan gambar-gambar mimpi kebanyakan orang. Kami atur fotografer hebat dan redaktur yang lihai mengatur kata-kata. Persekongkolan kami sudah mengglobal di semua kota dan Negara. Kami mengepung para konsumen.

Kami adalah pejuang pencari uang. Kami saling bersaing, tetapi kami bersekongkol dalam mengarahkan pikiran dan perasaan konsumen. Jika slogan Presiden Jokowi adalah “Kerja, Kerja, Kerja”, slogan kami adalah, “Ayo Belanja, Belanja dan Belanja”.

Setidaknya, bagi mereka yang tidak mengikuti saran kami, mereka akan merasa ketinggalan zaman, udik, nggak gaul dan (maaf) kampungan. Perasaan “bersalah” itu akan mereka bayar dengan menjadi pelanggan kami di kemudian hari ketika mereka sudah “sadar” dan memiliki uang untuk membayar produk atau layanan kami. Biasanya, pelunasan itu akan kami terima sangat banyak.

Kami jelas tidak mungkin memberikan diskon sepanjang tahun, karena konsumen tidak akan percaya. Tetapi, kami membuat alasan-alasan yang masuk akal, sehingga terkesan elegan.

Ketika diskon menggunakan alasan ulang tahun usaha kami atau alasan cuci gudang sudah tidak lagi mempan dalam hal mempengaruhi konsumen, maka kami akan menggunakan alasan meminjam momen-momen seperti Tahun Baru, Lebaran, Imlek, Natal, Valentine, kemerdekaan negara, hingga peringatan kelahiran pemimpin negara.

Di negara sub tropis, orang-orang seperti kami setidaknya memiliki 4 alasan untuk berjualan setiap tahunnya. Golongan kami di sana menjual produk yang kami isukan sebagai produk yang cocok untuk masing-masing musim. Semua itu saya ibaratkan dengan shampoo pembersih rambut. Isinya sebenarnya sama, tapi kami cerdas untuk menambah dan membuat variasi sehingga seolah-olah ada perbedaan yang sangat mencolok di antara shampoo untuk rambut keriting dan rambut lurus. Untuk yang laki-laki dan untuk yang perempuan, kami akan mati-matian meyakinkan para konsumen dengan menyadur pendapat para ahli sehingga penjelasan kami menjadi masuk akal dan logis.

Puncak alasan bisnis kami adalah pada malam pergantian Tahun Baru itu sendiri. Kami akan merayakannya dengan kantong tebal sementara kantong para konsumen jelas bukan urusan kami.

Kami yang mengais uang dari perayaan malam Tahun Baru itu, akan menjual tema-tema yang menarik, tata dekorasi yang menghipnotis, sajian panggung yang gemerlap serta pengisi acara yang membuat mata melotot hampir copot dari tempatnya. Mereka merayakan diri mereka yang pantas dianggap mengikuti trend, maju dan berkelas sosial lebih tinggi.

Para konsumen akan bergembira, bangga dengan pakaian yang dibeli dari kami, dengan kendaraan yang dibeli dari kami dan semua hal yang dibeli dari kami. Mereka akan bertepuk tangan, tertawa hingga mabuk kepayang, lalu akhirnya mereka akan berterimakasih kepada kami. Kami adalah pahlawan bagi mereka. Sejatinya kami hanyalah tukang bungkus, menjual kemasan saja.
Yang terakhir, benar bahwa serangan kami tidak akan mempan untuk semua orang. Ada 20% penduduk bumi ini yang sangat bijaksana dan mampu mengendalikan dirinya. Tapi kami tidak perduli, masih ada 80% lain yang mudah kami kendalikan. Itu bukan jumlah yang sedikit. Dan kami tidak perduli Anda termasuk golongan yang mana.