Nasi Ayam Kangkung Koko A Wi

1
940

5Ketika matahari nyaris tepat di atas kepala, Jalan Jenggala di Kampung Madras sudah mirip Pecinan. Tak sebatang pohon pun dapat dijadikan tempat berlindung. Pintu-pintu ruko yang rapat berdempetan terbuka lebar untuk melepas hawa panas. Tapi jalan kecil yang pendek ini justru didatangi ratusan orang setiap hari untuk  menemukan makan siang. Mereka bahkan rela antri untuk mendapatkan jatah sepiring nasi atau memesan beberapa bungkus  untuk disantap di suatu kantor di kawasan itu. Ada apa di Jalan Jenggala?

Nun di sebuah pintu ruko yang kecil dan sederhana, seorang lelaki dengan handuk putih kecil yang bertengger di lehernya, terlihat begitu sibuk dengan tangan yang berpindah dari satu wadah penggorengan ke wadah perebusan, lalu ke piring-piring yang harus diisi dengan porsi yang pas. Dengan dibantu istri dan beberapa staf, ia bekerja di belakang dapur terbuka yang terpadu dengan steling bahan-bahan makanan mentah. Di depannya berdiri beberapa orang dengan wajah tak sabar karena kepanasan. Pesanan harus mereka peroleh karena pada umumnya orang-orang ini adalah para profesional dan karyawan yang diburu-buru oleh jam istirahat mereka sendiri. Sedangkan kedelapan meja dengan bentuk yang berbeda–petak dan bundar—tampak sudah dipenuhi pelanggan lain.

1Di dinding ruko yang saling berhadapan, terlihat berbagai spanduk iklan produk dan merek. Kiranya para produsen dan marketing sudah mencium bahwa warung ini adalah medium yang sangat cocok untuk berpromosi. Di atas rak susunan minuman, terlihat pula dengan mencolok susunan minuman botol yang sudah cukup dikenal sejak lama, yaitu Minuman Tjap Badak yang kesohor dari Pematang Siantar. Dengan minuman sarsaparilla ini, para pelanggan menukar hawa ruko yang gerah dengan telaga soda bercampur es.

Lelaki berhanduk kecil itu bernama A Wi. Setelah memeluk Islam, dia mendapat nama baru, Syahrul Munawir. Istrinya , Umi, adalah seorang wanita keturunan Kalimantan yang bertindak sebagai assistant chef di dapur itu. Sebagai ekspresi  rasa cintanya pada istrinya, nama warung itu pun ia namai sesuai nama istrinya, Warung Umi Seafood.

2Keduanya memang terlihat kompak. Ketika puluhan pelanggan sudah merebut semua kursi yang mungkin untuk diduduki di ruko kecil berpintu satu itu, dan sejumlah orang berderet mengantri di dekat steling mereka, maka mereka terlihat bagai sepasang laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan tidak hanya sebagai suami istri, tapi juga sebuah tim dapur yang solid. Tanpa komunikasi yang terlalu banyak, keduanya seolah-olah bekerja secara otomatis dan saling mengisi.

Distrik perkantoran dan perdagangan di Simpang Jalan Diponegoro-Zainul Arifin menjadi sumber langganan bagi warung yang beralamat di Jalan Jenggala No. 16, Kampung Madras (samping Sun Plaza) ini. Warung ini sengaja buka sejak pukul 11.00 WIB untuk menyongsong jadwal makan siang. Namun, karena keunggulan rasa makanannya yang beredar dari mulut ke mulut, orang-orang luar pun mulai ikut “memperkeruh” keramaian warung yang sudah cukup sesak ini.

Syahrul Munawir mengambil silsilah makanannya dari Hong Kong. Ketika itu, tahun 1982, ia memulai karir sebagai pembantu chef di Hotel Polonia Medan. Hingga lima tahun lalu, ia masih bekerja dengan tekun di sana hingga ia memutuskan berhenti dan membuka usaha sendiri. Selama karir yang panjang itu, Syahrul secara tekun mempelajari resep dan cara memasak chinesse food dari chef mereka yang didatangkan dari Hong Kong. Bersama chef, ia mendapatkan rahasia-rahasia makanan China. Dan ketika ia memutuskan untuk membuka warung makan sendiri di Jalan Jenggala, maka ia pun memindahkan resep hotel berbintang itu ke warung sederhana. Tentu ada beberapa modifikasi yang ia lakukan, baik dari segi pemilihan bahan maupun adaptasi dengan lidah orang Medan. Selain itu, Syahrul Munawir alias A Wi juga menunjukkan atraksi memasaknya secara terbuka di depan warung dengan menyajikan tidak kurang dari 45-an menu setiap hari.

6Di antara menu-menu tersebut, dapat dikatakan bahwa yang paling favorit adalah nasi ayam kangkung. Dengan balutan tepung dan teknik deep fried yang khas, A Wi menyajikan ayam goreng yang sangat renyah (crispy) dipadu dengan sayur kangkung akar yang direbus dengan lembut. “Semua bahan yang kami gunakan dapat diperoleh dari pasar-pasar tradisional, tidak ada yang istimewa. Tapi untuk resep tepung ayam goreng, itu memang rahasia,” ungkap Umi yang menjadi asisten suaminya dalam memasak.

Kekhasan lain dari seporsi nasi ayam kangkung ini adalah, A Wi selalu memberikan dua potong ayam dalam setiap porsi menunya. Ini merupakan kebiasaan yang cukup aneh dan mungkin satu-satunya di Kota Medan. Tapi menurut, A Wi, tidak ada makna yang terlalu khusus dari hal ini. “Kami hanya mengajak para pelanggan untuk makan lebih banyak…ha…ha…ha….” ungkap A Wi yang terlihat selalu gembira di tengah kesibukan dapurnya sendiri.

Nasi ayam kangkung selalu klop dengan segelas minuman Badak untuk menetralisir hawa panas. Tapi begitupun tersedia juga berbagai jenis minuman lain, sama halnya dengan tersedianya berbagai menu Tionghoa yang halal mulai dari kategori seafood hingga aneka sajian mie. Warung ini akan buka hingga pukul 20.00 WIB ketika Jalan Jenggala mulai sepi dan digantikan oleh angin malam.

(Tikwan Raya Siregar, foto-foto: Akhmad Junaedi Siregar)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY