ODOJ Medan Sosialisasikan Dinar Dirham dan Muamalah

0
365

Sekumpulan anak muda yang menamakan dirinya dengan Komunitas One Day One Juz (ODOJ) melakukan sosialisasi pentingnya restorasi kembali pasar yang memenuhi rukun dan aturan muamalah serta alat tukar dinar dan dirham di dalam transaksinya, Sabtu, 13 Rabiul Awal, di pelataran Masjid Al Jihad, Medan.

Sosialisasi dilakukan melalui praktik pasar dan kajian singkat mengenai penegakan pilar zakat mal dan urgensi kembalinya dinar dan dirham dalam kehidupan kaum Muslimin dengan mengundang Wazir Tikwan Raya Siregar yang mewakili Amirat Indonesia di Medan.

Kepada para anggota komunitas ODOJ, Tikwan menyampaikan perintah Amirat Indonesia untuk mendasarkan usaha-usaha restorasi muamalah ke dalam kehidupan Muslimin sebagai perilaku ketundukan kepada Allah SWT dan meneladani rasul-Nya.

“Topik mengenai dinar dan dirham, sebagaimana usaha kita menegakkan kembali pasar yang memenuhi aturan muamalah yang disunnahkan Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam, bukanlah sebuah kajian mengenai keunggulan dinar dan dirham dari pendekatan ekonomi, karena pendekatan yang seperti itu sering membawa kita ke arah nafsu investasi, perdebatan, dan keluhan terhadap tantangan aplikatifnya. Paradigma ekonomi tidak bisa digunakan untuk memahami muamalah karena keduanya akan membawa kita pada dua kutub yang sama sekali berbeda,” kata Wazir Tikwan.

Untuk itu, ia mengajak komunitas ODOJ untuk meletakkan topik ini sebagai wujud taqwa pada perintah dan larangan Allah semata. Kepatuhan itu antara lain terkait dengan perintah penegakan rukun zakat mal yang nisab-nya adalah dalam dinar dan dirham, serta hasil bumi dan peternakan. Kemudian, aspek meninggalkan larangan Allah dapat dilihat melalui usaha menjauhi alat tukar dan turunannya yang mengandung riba dan kezaliman.

“Itulah urgensinya mengapa dinar dan dirham perlu dikembalikan ke tengah kaum Muslimin. Ini bukan semata gerakan sebuah alat tukar, ini adalah bagian dari usaha mengembalikan dienul Islam secara menyeluruh. Zakat dibayar dengan ayn (harta yang riil), dipungut oleh seorang pemimpin Islam, lalu didistribusikan kepada mustahiq. Agar itu dapat dilaksanakan, maka diperlukan pemimpin yang menarik dan mengumpulkannya, membaginya, diperlukan harta yang menjadi alat ukur nisabnya, dan diperlukan kegiatan muamalah yang mengedarkan dan menerima kembali dinar dan dirham agar masyarakat dapat menggunakan nuqud ini dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, terbentuklah siklus dan daulah, perputaran, dan kehidupan Islam kembali dapat dirasakan sebagaimana mestinya. Hanya dengan demikianlah kaum Muslimin bisa melepaskan  diri dari sub-ordinasi sistem yang menindas, dan kembali ke cara hidup yang diridhai Allah subhana wa ta’ala,” jelas Tikwan.

Wazir Tikwan menjual 3 batang sabun natural House of Al-Chemy kepada Gilang Pradifta seharga 1 dirham dan Rp 30.000 di sela-sela pasar muamalah di pelataran Masjid Al Jihad Medan.

Sejak pagi, sekitar 50 pedagang muslim melakukan praktik muamalah dengan menerima dinar dirham sebagai alat tukar jual beli. Para pedagang juga dibebaskan dari pungutan apapun. Bahkan mereka difasilitasi dengan sarana pasar seperti tenda dan meja jualan.

Pengurus ODOJ merencanakan, kegiatan pasar muamalah ini akan mereka lakukan secara rutin setiap bulan di bawah otoritas seorang muhtasib (penjaga pasar), serta usaha komunitas menyediakan fasilitas-fasilitas pasar dengan waqaf.

LEAVE A REPLY