“Ompung” Dr Soritua Albert Ernst Nababan (SAE Nababan)

4
1239
SAE Nababan (foto:perisai.net)
SAE Nababan (foto:perisai.net)

“Saya tidak akan lupa ketika pertama sekali menyaksikan Presiden Sukarno berkunjung ke tanah kelahiran saya di Tarutung. Waktu itu, tahun 1948, dan saya masih siswa SD. Beliau turun dari pesawat di bandara Silangit, tersenyum ceria dan melambai ke semua orang yang sudah menantinya seperti semut di lapangan. Seorang pilot bule juga keluar dari kokpit, lalu menungguinya sambil merokok santai di atas sayap pesawat yang masih memakai baling-baling. Presiden menggetarkan jiwa saya ketika beliau menyuruh kami untuk tidak takut menggantungkan cita-cita setinggi bintang”.

Si Ompung—demikian beliau biasa dipanggil oleh masyarakat Tapanuli—menerawang beberapa detik. Matanya tajam. Lalu dia tersenyum menatap kami. “Saya selalu suka dengan semangat anak muda,” katanya dengan nada yang menenangkan. Dialah Pendeta Dr Soritua Albert Ernst Nababan (SAE Nababan), seorang tokoh dunia yang lahir di Tarutung, Tapanuli Utara. Dering telepon genggamnya yang sering memotong pembicaraan kami menandakan tingkat kesibukannya.

Kami punya kesempatan sejenak menduga-duga lelaki tua ini ketika ia sibuk berbicara dengan seseorang lewat Nokia bututnya. Ia berbicara tegas, tandas dan menyertakan makna pada setiap ucapannya. Sumber kami memberi tahu bahwa Ompung adalah seorang yang sangat disiplin pada waktu, didikan Jerman, tegas, dan punya prinsip yang sulit ditawar. Mendiang orang tuanya seorang guru dan penginjil yang dihormati di Siborong-borong. Karena tidak mau bermain dengan risiko, kami sudah siap siaga di depan rumahnya, Jalan Hang Kesturi Medan, setengah jam sebelum jadwal wawancara yang ditetapkan.

Benar saja, ia tidak tergelincir semenit pun. Lantas, mengapa kami mewawancarainya seperti orang yang kurang kerjaan? Ompung ternyata adalah sosok samar dalam dunia pariwisata di Sumatera Utara. Beliau punya andil besar dalam perjalanan Danau Toba menuju predikat kawasan wisata dunia. Ia memang tidak bertugas secara resmi dalam satu dinas atau lembaga yang mengurusi industri pariwisata, tapi pengabdiannya di lingkungan gereja HKBP telah memberikan efek samping yang luar biasa dalam proses pengenalan danau Toba ke mancanegara.

Alkisah, pada tahun 1950, terbentuklah Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI). Pembentukan dewan gereja ini mengikuti lahirnya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (World Council of Churches) pada tahun 1948. Saat itu, Ompung masih remaja dan sibuk sekolah. Pada periode yang sama, Sukarno sedang merajalela menyedot dunia dengan ide-ide revolusionernya. Hampir semua kalangan tersihir oleh pidato lelaki berpeci ini. Semangatnya menyala-nyala dan membakar dada setiap pemuda, termasuk remaja tanggung bernama SAE Nababan nun di Tapanuli Utara.

Tidak hanya di Indonesia yang baru lahir, Sukarnoisme juga rupanya merembes ke negara-negara jajahan di kawasan Asia dan Afrika. Puncaknya adalah Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 yang membuat peta kolonialisme Eropa rusak tercabik-cabik. Podium PBB goyah.

“Dewan Gereja di Indonesia ikut terpengaruh dengan semangat kesetaraan antar-bangsa yang ditularkan Sukarno. Sebelumnya, hubungan gereja Eropa dan Asia sangat timpang. Ada semacam pola paternalistik yang membuat gereja Asia berada di bawah pengaruh gereja Eropa dan Amerika. Ini bisa dipahami karena hampir semua gereja di Asia didirikan oleh orang Eropa,” papar SAE Nababan.

Dua tahun kemudian, yakni pada 1957, beberapa pendeta terkemuka di tanah air seperti Pendeta Marantika, T. Sihombing, Romambi dan Frans SH, bersama pendeta-pendeta lain di Asia dan Australia seperti Pendeta DT. Niles (Srilanka), E. Sobrepena (Filipina), dan Alan Brash (Australia), menggagas pembentukan persatuan gereja se-Asia, plus Australia. Kota kecil Parapat terpilih sebagai tempat sidang raya pertama. Perlu diketahui, ketika itu Danau Toba belum dikenal di kawasan Asia karena sarana transportasi yang masih sulit. Di Eropa sendiri, hanya segelintir orang Belanda yang pernah singgah di tepian danau terindah di dunia ini. Penyedia akomodasi pada saat itu baru Hotel Siantar di Pematang Siantar dan Hotel Parapat, di mana Soekarno dan Hatta pernah dibuang.

“Saya masih sekolah di Medan ketika ditunjuk sebagai ketua panitia penyambutan para delegasi dari Bandara Polonia hingga keberangkatan ke Parapat. Peristiwa penting ini sangat membekas di hati saya. Para delegasi bersidang di Parapat, dan di sinilah sejarah awal terbentuknya Dewan Gereja-gereja di Asia (CCA),” tuturnya.

Selain mengikuti sidang gereja, para delegasi juga diberikan kesempatan mengikuti post tour menikmati keindahan Danau Toba. “Semua utusan gereja dari Asia, termasuk peninjau dari Eropa dan Amerika terpesona dengan Danau Toba. Saya mendengar mereka memuji-muji dan membicarakannya satu sama lain. Setelah pulang pun, mereka masih menghubungi kita dan datang berkunjung lagi sebagai turis. Sejak itu, berbagai konferensi dan kegiatan gereja sering dilakukan di Parapat karena permintaan mereka juga,” kenangnya.

Sidang CCA pertama itu juga sangat istimewa karena Presiden Soekarno berkenan datang untuk memberikan pidatonya di Lapangan Simarito Siantar. “Bagaikan magnit, kedatangan Soekarno membuat Kota Pematang Siantar gempar. Ratusan ribu orang tak sabar menunggunya. Saya baru menyaksikan kerumunan sebanyak itu seumur hidup. Selama Bung Karno berpidato, tak ada orang yang beranjak. Malah kerumunan bertambah banyak terus dari berbagai daerah. Beliau memang luar biasa. Saya rasa belum ada presiden yang menandinginya,” katanya.

SAE Nababan adalah satu dari segelintir putera Sumatera yang tampil memimpin lembaga-lembaga internasional, khususnya di tengah gereja se-dunia. Beliau dilahirkan di Tarutung, 24 Mei 1933 silam. Ia menempuh pendidikannya di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan lulus pada tahun 1956 dengan gelar Sarjana Theologia. Ia mendapat beasiswa dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Heidelberg, Jerman, dan lulus dengan gelar Doktor Theologia pada tahun 1963. Pada periode 1987-1998, Ompung menjabat sebagai Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), sebuah gereja beraliran Lutheran di Indonesia. Jabatan-jabatan lain yang pernah dipegangnya di lingkup Indonesia antara lain Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada periode 1967-1984 dan kemudian ketua umum dari lembaga yang sama pada periode 1984-1987.

Di level internasional, Ompung terlibat dalam berbagai jabatan organisasi gereja se-dunia. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Pemuda Dewan Gereja-gereja Asia periode 1963-1967, dan belakangan menjadi presiden dari lembaga yang sama untuk periode 1990-1995. Ia juga dipercaya menjabat wakil ketua dari Komite Sentral Dewan Gereja-gereja se-Dunia pada periode 1983-1998, Wakil Presiden Federasi Lutheran se-Dunia dan anggota komite eksekutif dari lembaga yang sama.

Pendeta Dr. SAE Nababan juga menjabat sebagai ketua pertama dari Vereinte Evangelische Mission (United Evangelical Mission), sebuah lembaga misi internasional yang terdiri atas 34 gereja anggota yang tersebar di Afrika, Asia, dan Jerman. Yang terakhir, dalam Sidang Raya ke-9 Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC) di Porto Alegre, Brasil, pada tahun 2006, beliau terpilih menjadi salah seorang presiden dari lembaga Persekutuan Gereja-gereja Sedunia bersama 7 presiden terpilih lain yang mengemudikan organisasi gereja-gereja Protestan dan Ortodoks hingga hari ini.

Bersamaan dengan aktivitas gereja yang ditekuninya, Ompung secara tidak sengaja juga telah memperkenalkan keindahan Danau Toba ke berbagai tamu mancanegara yang ia jamu atau undang. Pada saat itu, cerita dari mulut ke mulut atau arena konvensi-konvensi sangat efektif untuk promosi wisata, karena sarana internet belum ada. Bahkan, di Sumatera, orang belum mengenal televisi.

“Umumnya, teman-teman saya dari berbagai negara sangat menyukai Danau Toba. Tapi ada juga beberapa orang yang mendapat pengalaman buruk. Mereka diperlakukan secara kasar oleh penduduk lokal. Teman baik saya dari Eropa kehilangan kamera di Tomok. Seseorang telah mencurinya, sehingga ia tidak bisa menikmati Danau Toba karena kadung kecewa dengan pengalaman buruk itu. Saya melihat pembangunan pariwisata di sini tidak dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan budaya. Padahal itu sangat penting untuk menjaga kenyamanan wisatawan. Rakyat seharusnya diposisikan sebagai pelaku, bukan objek industrialnya,” ungkap sosok yang menguasai tiga bahasa asing ini.

Sejak memilih lebih banyak tinggal di Jakarta, beliau kini tak punya cukup waktu lagi untuk berhubungan langsung dengan masyarakat Danau Toba. Aktivitasnya padat, dan SAE Nababan harus bolak-balik ke berbagai negara di dunia dalam rangka pelayanan. “Saya memandang masalah kesemrawutan dan ketidaknyamanan di Danau Toba sebagai tantangan. Semua pihak harus berani menghadapinya dengan nyata. Kita sendiri sudah mencoba membangun kesadaran warga untuk mengetahui potensi kemampuan dirinya menjadi lebih baik. Kita melakukannya lewat program-program PMK (Pelayanan Masyarakat Kota) di sekitar Danau Toba. Tapi upaya ini akan lebih laju bila semua lembaga atau stakeholder terlibat,” katanya.

Karena prinsipnya yang tegas dan konsisten, Ompung pernah menghadapi cobaan serius pada masa Orde Baru. Kepemimpinannya sebagai Ephorus diintervensi oleh pemerintah lewat Bakorstanasda, sehingga terciptalah kisruh lima tahun di tubuh HKBP. Ia konon ingin disingkirkan karena menjalin hubungan dengan PDI. Tapi Ompung yang sempat harus mengendap-endap dengan perahu kecil ke Samosir untuk menghindari gangguan aparat demi sebuah acara kebaktian, tetap mampu memimpin jiwa jemaatnya tanpa seruan kekerasan. Mereka datang berduyun-duyun dari berbagai penjuru sambil menyatakan “setia sampai akhir” (SSA) pada Ephorus. Aparat tidak berdaya ketika puluhan ribu jemaat memagar pemimpin gereja itu di tepian danau. Akhirnya, pada tahun 1997, pemerintah mengakui kepemimpinan SAE Nababan. Untuk menandakan rekonsiliasi besar itu, sebuah kebaktian yang paling bersejarah terjadi di lapangan Tapian Daya, persis di dekat Markas Kodam I/BB yang sebelumnya menjadi kantor Kepala Bakorstanasda sendiri.

Kini, apakah Ompung masih memiliki cita-cita setinggi bintang? Kalau ya, kita berharap sebagian dari energinya yang besar akan tercurah ke Danau Toba. Sebab, kawasan wisata itu membutuhkan satu jiwa yang kuat untuk mengembalikan pamornya ke kancah dunia.

 

(Tikwan Raya Siregar)

4 COMMENTS

  1. Beliau memang seorang tokoh yang sangat disegani,. belum kelihatan tanda-tanda generasi berikutnya khusnya dari HKBP untuk mengikuti se kaliber beliau.

  2. Beliau memang seorang tokoh yang sangat disegani,. belum kelihatan tanda-tanda generasi berikutnya khusus nya dari HKBP untuk mengikuti se kaliber beliau.

LEAVE A REPLY