Orang Jawa di Tanah Deli: Dulu dan Kini

4
4985

Suku Jawa menempati angka hampir 33 persen di Sumatera Utara. Jumlah ini jauh melampaui Suku Melayu dan Nias. Demikian data sensus Sumatera Utara tahun 2010. Dan sudah tentu mereka harus punya kisah khusus. Berikut ini salah satunya!

Foto: tembakaudeli.blogspots.com.
Foto: tembakaudeli.blogspots.com.

 

1863. Di legar istana Sultan Deli.

Patik mengangkat sepuluh jari, sembah ke bawah Duli Tuanku. Tamu kita telah tiba di istana.”

Pengawal itu duduk bersimpuh. Di belakangnya berdiri tegak seorang berkulit Eropa. Memakai setelan jas putih dan topi seperti helm putih di tangannya. Hatinya senang. Ia baru saja mendapatkan konsesi sewa tanah selama duapuluh tahun oleh Sultan Deli.

Jacobus Nienhuijs, dengan syarikatnya firma Van de Arends, telah lama melakukan penelitian. Ia berkesimpulan, tanah yang terbentang luas antara Sungai Wampu hingga Sungai Ular di Sumatera Timur sangat cocok ditanami tembakau. Nienhuijs mendatangkan pekerja dari Cina, India dan Malaysia sebagai buruh di kebunnya. Penduduk Melayu Sumatera Timur waktu itu masih sedikit. Sumatera Timur adalah sebuah negara di bawah kekuasaan sultan-sultan Melayu. Sekarang sebagian besar wilayahnya melebur menjadi Sumatera Utara.

Duapuluh tahun kemudian keadaan berubah. Pemerintah Cina dan kolonial Inggris mengetatkan peraturan penyaluran tenaga kerja di bawah negara jajahannya. Upah buruh menjadi semakin tinggi. Begitupun, calo-calo buruh kebun dari Pulau Pinang dan Singapura masih bisa bermain kucing-kucingan. Dengan alasan akan mempekerjakan buruh ke Johor, mereka salurkan tenaga kerja ke Sumatera Timur.

1880. Pulau Jawa mengalami ledakan penduduk. Keadaan ini jadi peluang bagi calo tenaga kerja. Orang-orang Jawa di pelosok diiming-imingi untuk merubah nasib di Tanah Deli. Mereka sebut Tanah Deli sebagai tempat daun yang ditanam menjadi duit, metafor dari tembakau. Mereka dijanjikan akan kaya bekerja sebagai buruh kontrak di kebun Belanda. Setelah itu muncullah istilah “Jakon” di Sumatera Timur, alias Jawa Kontrak.

1920. Dasar kolonial pintar, harapan untuk merubah nasib bagi orang-orang Jawa di Sumatera Timur tak kunjung wujud. Di zaman itu pergaduhan sesama buruh sering terjadi. Seks bebas dan alkohol merajalela. Kawin cerai menjadi hal yang lumrah. Cukong-cukong sengaja didatangkan ke barak-barak buruh pada awal bulan. Mereka menyajikan berbagai macam hiburan malam. Awal bulan, buruh baru terima gaji. Gaji sebulan bisa habis dalam semalam. Hingga mereka tersadar dari mabuknya, tak ada lagi uang yang tersimpan, dan esok harus bekerja lagi. Kondisi ini memang sengaja diciptakan agar mereka terus menerus bekerja di kebun-kebun Belanda.

Orang-orang Jawa terkenal ulet mengelola tanah. Tembakau deli menjadi masyhur namanya di pasaran tembakau dunia. Sayangnya nyaris tidak ada budaya dan kesenian yang mereka bawa untuk ditonjolkan waktu itu.

1946. Di awal kemerdekaan, jumlah orang Jawa di Sumatera Timur semakin banyak. Bahkan melebihi jumlah orang-orang Melayu tempatan. Sebab itu tidak susah bagi Sumatera Timur menerima perubahan Indonesia menuju negara republik. Apalagi Bung Karno sebagai pemimpin juga berasal dari Jawa. Dan ia sering dibuang ke berbagai daerah di Sumatera sebelum merdeka.

1978. Banyak perkawinan antara orang Jawa dan suku-suku lain di Sumatera Utara. Kurun waktu ini bertebaran istilah-istilah baru. Sekilas, istilah-istilah itu mirip sebuah suku. Misalnya Japang, istilah untuk yang berkawin antara Jawa dan Padang. Teman saya bernama Hadeli Sundana, sebagai simbol cinta untuk ayahnya orang Deli dan ibunya orang Sunda. Kemudian seseorang bernama Jakaria—sengaja ayahnya menggunakan huruf J di depan, bukan Z—sebagai singkatan Jawa dan Karo. Jamal, terdengar kearab-araban. Padahal itu bukti tali kasih antara Jawa dan Mandailing.

1985. Suminah sudah bangun seawal pagi. Sehabis subuh, ia keluarkan sepeda onthel-nya dan siap-siap berangkat kerja. Sepeda onthel berpalang ganda biasa disebut juga “sepeda janda” di Medan. Ia kayuh sepedanya mulai dari Bandar Klippa, Deli Serdang hingga ke pusat Kota Medan. Bandar Klippa terkenal sebagai bekas gudang tembakau. Suminah tidak sendiri. Di tengah jalan ia bergabung dengan kawan-kawannya. Beramai-ramai mereka bersepeda ke pusat Kota Medan yang jaraknya 30 km.

Satu kelompok bisa 10 hingga 15 orang bersepeda. Mereka bekerja sebagai tukang cuci, pabrik mie dan kecap, penjaga toko ataupun pembantu rumah. Kaum lelaki pula bekerja sebagai buruh bangunan, tukang perabot atau renovasi rumah. Kerjaan tangan mereka terkenal halus. Di rumah kami dulu ada seorang bibi khusus untuk mencuci dan menggosok baju saja. Cuciannya wangi dan seterikaannya begitu licin. Semut pun tergelincir kalau naik ke kemeja ayah. Lalu ada mamang, lelaki agak tua yang selalu dipanggil kalau perabotan rumah sudah mulai rusak.

Keadaan sudah berubah. Tembakau deli tak lagi semasyhur di zamannya. Gudang-gudang tembakau dijadikan los pasar. Penghuni sekitar bekas kebun tembakau bekerja hingga ke pusat kota. Mereka bersepeda bergerombol setiap pagi dan petang.

2014. Di lantai 10 Kantor Gubernur Sumatera Utara. Hampir satu jam wartawan menunggu. Mas Gatot Pujo Nugroho ingin diwawancarai seputar perkembangan Bandara Kuala Namu. Hampir setahun ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Kantor yang ditempatinya adalah bekas Kantor Deli Tobacco Maskapij di Sumatera Timur. Ia adalah orang Jawa.

Pak Soekirman pula sebagai Bupati Serdang Bedagai. Sebagian ada yang menjadi dosen, dokter dan rektor. Tidak sedikit orang-orang Jawa yang menduduki posisi penting sebagai direktur di PTPN dan manajer perkebunan swasta. Lainnya sebagai kontraktor perkebunan, pemilik sekolah dan KBIH. Budaya dan kesenian yang mereka amalkan menjadi sendi kehidupan penting bagi warga Sumatera Utara.

Menarik untuk diamati nilai-nilai luhur yang dibawa orang Jawa kemana pun mereka pergi. Di manapun mereka berada, gotong royong seperti sudah menjadi tradisi yang mendarah daging.

Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan keluarga yang bersuku Jawa di Medan. Seluruh keluarga berusaha melibatkan diri untuk kesuksesan acara yang dinanti-nanti. Semua ingin berperan menyumbangkan apa yang mereka punya. Tak kira besar atau kecil.

Sepasang pengantin Jawa yang baru-baru ini disandingkan di Jalan Selamat, Medan.
Sepasang pengantin Jawa, Pandu Wiratma dan Zati Syarofina, yang baru-baru ini disandingkan di Jalan Selamat, Medan.

Keluarga yang kehidupannya lumayan akan menyumbang tenda perkawinan beserta aksesorisnya. Keluarga yang punya usaha pelaminan mensponsori pelaminannya. Supaya lebih ringan, bidan pengantin pun disponsori oleh keluarga yang lain.

Begitu juga dengan makanan. Bagi yang berkelapangan rezekinya, siap menaja makanan berat berupa nasi dan lauk pauknya. Bahkan lauk pauk itu sendiri akan dipecah-pecah lagi unitnya menjadi pecahan yang kecil. Ada yang menyumbang daging, ayam atau kelapa saja.

Hidangan pencuci mulut pun tak ketinggalan menjadi perhatian. Beberapa pencuci mulut yang tersedia adalah atas sumbangan beberapa keluarga. Kalau tak mampu memasaknya, maka akan diupahkan pada orang lain. Tentu saja yang bayar adalah yang berniat menyumbang.

Orang-orang Jawa di Sumatera Utara juga mengamalkan tradisi munjung. Ini adalah tradisi menghantar rantang ke rumah-rumah tetangga terdekat. Pemilik hajat pesta perkawinan akan mengisi rantang tersebut dengan nasi dan lauk pauknya. Tetangga yang dikunjungi sudah mengerti maksudnya. Sebagai balasannya ia titipkan sejumlah uang kepada penghantar. Rantang pun langsung dikembalikan.

Biasanya, tuan yang punya hajat sudah pasang target berapa rantang yang mau dihantar. Masing-masing tetangga sudah tahu harga pasaran untuk sebuah rantang walau tak tertulis dan dipatokkan. Dari uang munjung ini saja tuan yang punya hajat akan punya sejumlah modal untuk pesta.

Merewang atau masak bersama menjadi hal yang menggembirakan. Merewang biasanya memakan waktu 3 hari sebelum pesta. Ibu-ibu akan ngalor ngidul di dapur. Ada saja yang menjadi topiknya. Mulai soal tudung, anak kejepit pintu, hingga ayamnya yang mati masuk kolam.

Sambil merewang, Juminten cerita pada kawannya. Dia baru dihadiahkan tudung dari Arab, oleh-oleh umroh. Baru sekali cuci sudah luntur. Padahal di mereknya tertulis “Dijamin Tidak Luntur”. Kawannya terbahak-bahak. “Owalah Jum… Jum. Kamu lupa toh. Membaca tulisan Arab itu dari kanan ke kiri.”

Orang Jawa di Sumatera punya selera humor yang tinggi. Terkadang sambil merewang, ada yang nangis curhat masalah pribadi dan keluarga.

Aktor pesta pun tak ketinggalan. Aktor ini biasanya dilakoni anak-anak muda usia sekolah yang sedang libur di hujung minggu. Mereka berseragam khas batik jawa. Sudah menjadi istilah umum di Medan, aktor ini diterjemahkan sebagai singkatan Angkat Piring Kotor. Pun ada keluarga yang men-sponsorinya.

jawa-pecah telurDengan mengamalkan budaya begini, orang-orang Jawa di Sumatera Utara akan merasa ringan menyelenggarakan sebuah pesta perkawinan. Kegembiraan akan lebih terasa di saat buka kado. Pengantin dan seluruh keluarga yang terlibat akan membukanya bersama-sama. Kalau ada yang kebetulan memberi pakaian dalam, semua akan cekikikan. Remaja lelaki biasanya akan tersipu malu melihatnya. Remaja wanita yang agak berani akan nyeletuk, “Kalau nggak muat biar untukku saja ya.” Dan semuanya ikut terbahak-bahak.

Begitu juga uang amplop yang diterima, akan dihitung bersama-sama. Seluruh keluarga tahu berapa jumlah yang didapat. Uang yang diterima langsung oleh pengantin akan jadi modal mereka mengaharungi bahtera rumah tangga baru. Uang yang diterima tuan punya hajat akan menjadi pengganti biaya pesta yang ia keluarkan. Keluarga yang telah menjadi sponsor pesta tidak menuntut balas. Apabila diganti oleh tuan pemilik pesta juga tidak boleh menolak. Semuanya pulang dengan hati legawa.

Bagi orang barat, budaya begini sangat aneh, tapi mereka mengakuinya sebagai jalan untuk kelanjutan hidup manusia tanpa stres. Mereka menyebutnya sebagai local wisdom. Pemerintah Australia saat ini sedang bekerjasama dengan pakar-pakar psikologi untuk terus menggali local wisdom yang ada di Indonesia. Tujuannya sebagai tindakan preventif pencegahan orang-orang stres yang akhirnya akan mengurangi beban rumah sakit jiwa.

(Danil Junaidy Daulay)

4 COMMENTS

  1. samalah dengan orang jawa ditempatku yang jg sumatra,,
    sama sama jawa kontrak,, jawa yang didatangkan jaman kolinial belanda,,
    soal trasdisi mungkin ditempatku lbh komplit karena memang geografisnya dekant pulau jawa,,

  2. ada yang menarik mas di tahun 1950an di seputar kota kisaran, saat indonesia baru merdeka, lahan-lahan pertanian bekas perkebunan HAPM (hollands america plant matscahpij) di buka menjadi pertanian pangan. orang jawa dan orang simalungun bahu membahu menyelenggarakan pertanian pangan. yang simalungun tak mengharamkan babi ikut menjadi penjaga sawah orang jawa agar tak terserang babi, jik ababi menyerang orang simalungunlah yang membuunya untuk di jadikan dendeng dan bahan makanan. sementrara jika panen tiba, orang jawa yang tak memiliki lahan akan membantu orang batak memanen padi beramai-ramai, local wisdom seperti ini sudah luntur oleh materialisme dan pemahaman beragam yang sempit…maka semua sekarang di ukur dengan uang, skirpsi saya tentang desa-desa di seputar kisaran..orang jawa membangun desa, ada cerita lucu, nama kelurahan di kisaran SIDEROJO (baca dengan logat jawa) tapi saat ini nama itu jadi agak lucu karena menjadi SIDEROJO (dengan logat batak), kampung ini kampung jawa tapi saat ini di isi orang batak, sebuah seleksi alam, atau sikpa kurang toleran aku gak bisa simpulkan, tapi cerita dari nenek moyangku aku yakini, stereotip orang batak yang memang kultur agro menjadi ganjalan bertahannya orang jawa di kampiung-kampung tersebut…

LEAVE A REPLY