Orang Rohingya-Myanmar di Tanah Melayu

0
883
rohingya
Muslim Rohingya-Myanmar di Malaysia sangat kental dengan kerjasama dan kerelaan sosialnya. Merkipun mereka bekerja di sektor bawah, tapi dalam berqurban, mereka unggul (Foto: Danil Junaidy Daulay).

Bila tersebut orang Myanmar, dalam bayangan saya awalnya adalah seseorang berkulit putih dan bermata sipit. Sebab begitulah tokoh pemimpinnya yang selalu digambarkan media.

Bila sudah sampai di Tanah Melayu, lain lagi yang saya saksikan. Rata-rata mereka berkulit hitam dan berjanggut. Mereka pengamal makan sirih. Selalu terlihat luaran mulut mereka memerah dan kalau senyum menambah putihnya gigi mereka. Tempat berkumpulnya pun selalu di mesjid. Bagi sebagian orang di Tanah Melayu, bangsa Myanmar ini dianggap perusak bahasa.

“Di mana beli sirih ini, Bang?”

“Sana’ ada’, Myanma kedai.”

Tanda koma di atas adalah pengganti huruf ‘k’. Manakala, mereka pun sangat susah menyebut huruf ‘r’.

Lebih baik kita melihat hatinya. Apa saja perhelatan yang dilaksanakan di mesjid, mereka akan berupaya sekuat mungkin berpartisipasi mensukseskannya. Seperti Idul Adha kemarin, di mesjid terdekat perumahan kami mereka menyumbang 5 ekor lembu dari 12 yang tersedia.

Memotong lembu, mereka memakai sarung seperti hal biasa mereka lakukan. Setiap orang cukup menyelipkan pisau lipat atau cutter di pinggangnya. Tidak perlu golok atau parang. Dalam satu jam 5 lembu tumbang dan hampir selesai mereka kerjakan. Mereka bekerja dengan cekatan dan rapi. Tidak banyak bising.

Selesai kurban, dengan ringan tangan mereka memasak makan siang untuk disantap bersama. Lelaki dan perempuan bekerja saling membantu. Olahan sup buatan mereka cukup segar membuat kepenatan hilang seketika. Di Tanah Melayu ini umumnya para lelaki Myanmar bekerja di sektor D3 (dirty, difficult and dangerous). Tapi jangan berharap melihat perempuannya bekerja. Cukup di rumah dan membesarkan anak dengan sebaik-baiknya.

Umumnya mereka berasal dari Rohingya dan sekitarnya. Sekalipun mereka terlihat miskin, tapi untuk urusan bekerjasama dan melayani mereka ahlinya, membuat orang tempatan menghargai keberadaan mereka.

(Danil Junaidy Daulay, Kuala Lumpur)

LEAVE A REPLY