Pak Berutu

0
683
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.

Kami tersesat hingga ke kaki Deleng Simpon. Tak ada lagi jalan setelah itu, kecuali rute bebatuan yang menurun dan liukannya segera hilang di perut hutan. Puncak-puncak perbukitan di depan kami memerah oleh cahaya sore. Hutan tropis membalutinya seperti selimut hijau yang ditenun orang Pakpak. Sebentar lagi malam, dan kami masih bingung di garis perbatasan Kabupaten Pakpak Bharat dan Humbang Hasundutan. Suara-suara hutan mulai menggema, dan tak menjanjikan apa-apa untuk melewati satu malam saja di sini.

Satu gubuk reot berdiri di dinding cadas yang terlihat seperti longsor. Papannya hitam berlumut, dan daun pintunya sudah hilang entah kemana. Hanya sebuah sepeda motor Honda Astrea 800 yang memberitahu tanda kehidupan di sana. Dan akhirnya kami harus kecewa karena sepeda motor itu sebenarnya hanya ditinggalkan para pelintas hutan yang memilih berjalan kaki menuju desa terdekat di seberang perbatasan. Praktis, kami tak bisa lagi berbicara dengan siapa-siapa, kecuali pada rimba yang makin sepi dan pekat. Dulu, hanya kuda yang bisa menerobos rute ini.

Informasi yang tidak akurat telah membuat kami terseret hingga ke Deleng Simpon. Seseorang mengatakan, di gunung inilah terdapat peninggalan kebudayaan megalitikum dari masyarakat Pakpak. Mereka mengira, kami berminat mendaki puncak Deleng Simpon, sama seperti para remaja pedalaman yang tergila-gila menyaksikan lautan Hindia dan lembah-lembah Pakpak yang indah dari puncak bukit tersebut. Nyatanya, peninggalan megalitikum itu terdapat di desa-desa yang telah kami lewati berkilo-kilometer di belakang.

Kami mundur. Tujuan berikutnya adalah desa terakhir yang kami tinggalkan. Desa terdekat itu sekitar 4 kilometer jauhnya. Itu artinya kami harus melewati lagi jalan sempit yang tadinya kami susuri dengan hati-hati. Beberapa pinggiran jalan ke sisi jurang telah longsor dan hanya menyisakan jalur pas-pasan untuk dilewati kendaraan roda empat. Kalau kelak longsor sedikit lagi, jalur ini akan tertutup untuk mobil.

Kami berbalik dengan putus asa tanpa bayangan yang jelas menyangkut penginapan malam ini. Kota Salak, ibukota Pakpak Bharat, tak mungkin lagi kami kejar. Hari sudah sempurna memasuki malam ketika mobil memasuki areal lalang yang berarti telah sampai ke batas hutan lindung. Lembah Pakpak di depan kini tinggal bayang-bayang kabur. Di sebuah perladangan paling dekat ke hutan, seorang petani sedang mengemasi peralatannya. Kami berhenti untuk bertanya.

“Batu mejan (sebutan mereka untuk batu-batu ukir peninggalan masa lalu-red) sudah dekat dari rumah saya. Setelah jembatan, paling-paling tinggal 200 meter lagi ke atas,” katanya.

Ia memberi tahu bahwa rumahnya adalah kedai kecil, tempat para pelintas hutan dan sopir angkutan desa memesan kopi. Kopi yang mereka jual adalah buatan sendiri, murni, dan tidak dicampur dengan apapun. Para ibu dan gadis desa telah menumbuk biji-biji kopi dalam sebuah lesung kayu pada malam-malam yang dingin. Pada siang hari, mereka tak sempat melakukan itu karena harus bekerja di sawah. Aroma kayu dalam bubuk kopi mereka telah menjadi ciri khas kopi pakpak dibanding kopi yang telah diolah mesin. Sayang, mereka selalu menyajikannya dengan gula yang terlalu banyak.

Di dusun itu, hanya ada belasan rumah yang hampir semua kepala keluarganya bermarga Berutu. Mereka pun masih terikat dalam sebuah keluarga besar. Setiap malam, mereka suka berkumpul menonton acara TVRI, karena channel lain belum bisa ditangkap.

Pak Sardion Berutu, nama pemilik kedai itu, menyajikan kami 3 gelas kopi panas. Dengan sukarela, dia menemani kami sambil bercerita tentang kampung halamannya. Ia tak bisa hanya hidup dari kedai. Nyaris tidak ada pelanggan yang datang apabila tak ada pelintas hutan. Sementara, para pelintas hutan dari Humbang Hasundutan hanya datang sekali seminggu, yakni hari Rabu, ketika pekanan buka di desa mereka. Para pelintas itu membawa hasil-hasil kerajinan besi berupa parang, cangkul, martil, dan sebagainya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Berutu harus berladang. Ia menanam macam-macam. “Tapi tanah di sini gersang. Kopi harus dipupuk terus menerus. Tanaman lain tak cocok. Saya sudah coba, tapi gagal terus,” katanya.

Istrinya bagi tugas mengurus sawah. Cuma sepetak dan hanya cukup untuk makan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka nyaris tak punya penghasilan sehari-hari. Bila sesuatu terjadi ketika belum masanya panen, maka persediaan makanan bisa terputus. Umumnya, warga desa ini tak punya simpanan yang cukup.

Di tengah kesusahan itulah, kami menjadi tamu tak diundang yang kemalaman karena tak disengaja. Tapi tak sedikit pun ada kesan penolakan di wajah Pak Berutu yang masih kelelahan membersihkan gulma di ladang. Sebaliknya, dia malah dengan senang hati menawari kami sebuah gudang kecil di samping rumahnya untuk istirahat malam. Padahal, di rumah papannya yang hanya berukuran sekitar 8 x 9 meter itu, terdapat 3 keluarga anak beranak.

Tak hanya merelakan gudang yang berisi minyak lampu dan tabung penyemprot racun serangga, ia juga terburu-buru mengambil tikar terbaik di rumahnya berikut tiga helai selimut tebal yang barangkali telah ia beli dari pasar kain bekas yang murah. “Kalian tak akan bisa menahankan hawa dingin di sini. Harus pakai selimut,” katanya sambil minta maaf karena hanya bisa menyediakan tempat tersebut.

Kami merasa diselamatkan malam ini. Setelah menikmati ribuan bintang yang gemerlap di langit Pakpak yang bersih, kami menikmati mie instan hangat buatan Nenek Berutu. Itulah makan malam kami dicampur sedikit nasi putih.

Sebenarnya, kami baru mengerti makna peringatan Pak Berutu tentang cuaca yang bakal drop di sana menjelang tengah malam setelah tubuh kami menggeletar karena dingin yang menekan. Cuaca desa di sekitar kaki Deleng Simpon dua kali lebih dingin dari Berastagi. Di sini, hawa dingin dari dua perbukitan yang mengepit lembah telah bersatu padu membekukan pemukiman di bawahnya. Pagi-pagi, mulut kami mengeluarkan asap. Orang-orang berjongkok di atas aspal, menunggu matahari menurunkan kehangatannya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi bila tidak mendapatkan kelapangan hati Pak Berutu.

Begitulah. Di desa-desa yang masih jauh di pedalaman dan bebas dari kebudayaan uang, kita masih selalu menemukan jenis keramahan yang kehangatannya dapat mengalahkan cuaca dingin. Masih banyak sosok seperti Pak Berutu di Sumatera. Tapi mereka tak lagi menjadi pelaku utama kebudayaan. Namun, apabila mereka dipercaya dan ditempatkan sebagai kekuatan pertama pariwisata kita, maka pulau ini akan luar biasa.

 

LEAVE A REPLY