Pangeran Bersepeda dari Negeri Utara

0
239

Sore hari, ketika matahari mulai melembut di Negeri Perlis, seorang pangeran menaiki sepedanya. Ia mengenakan kaos hitam dari sponsorship Petronas, sama dengan puluhan peserta lain yang sudah siap dengan sepeda masing-masing di halaman depan sebuah kantor cabang Petronas di Kota Kangar, 18 Mei 2017.

Meskipun sudah memasuki sore, tapi sengatan matahari di Perlis tetaplah seperti gigitan semut engrang. Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, Raja Muda Perlis, memerah wajahnya diterpa hawa panas. Tubuhnya yang putih langsung berkeringat, tapi senyumnya tak pernah lepas ke orang-orang yang berusaha mendekat di sekelilingnya seraya mengangkat kedua tangan di atas kening. “Tabik, Tuanku!” kata mereka setiap kali ingin melakukan sesuatu.

Raja Muda tak mengeluh sedikit pun dengan cuaca ini. Tapi kami yang ikut dalam rombongan pesepeda dari Kota Medan mulai merasa gerah. Apalagi, lapangan tempat start itu semuanya dilapis dengan semen yang memantulkan kembali hawa panas ke atas.

Negeri ini memang masuk dalam kawasan North Corridor Economic Region (NCER) di Malaysia yang salah satu potensi sumber energinya adalah panas matahari (teknologi panel surya). Para ahli yang ditugaskan NCER untuk menyusun strategi pengembangan ekonomi di utara Malaysia, telah merekomendasikan sumber energi terbarukan itu sebagai infrastruktur dasar untuk mendukung pertumbuhan selanjutnya.

Seorang pengurus NCER mempresentasikan strategi pengembangan ekonomi dan lingkungan di koridor utara Malaysia.
Seorang pengurus NCER mempresentasikan strategi pengembangan ekonomi dan lingkungan di koridor utara Malaysia.

Untuk bidang pertanian, para ahli telah menyeleksi berbagai jenis tanaman yang cocok untuk iklim panas dan kering. Salah satu proyek mereka yang sangat berhasil adalah pengembangan mangga arum manis. Saat ini mereka sedang berusaha menambah koleksi tanaman unggulan dengan menanam buah tin, durian unggul, dan buah gek yang memiliki nilai tambah tinggi serta adaptif dengan lingkungan setempat.

Pada seremoni acara makan siang kehormatan, 17 Mei 2017, dalam rangka perayaan ulang tahun ke-74 Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail, Raja Perlis, pihak jawatan pertanian memperkenalkan sebuah bibit durian unggul secara resmi ke khalayak dengan cara yang khidmat. Bibit itu diletakkan pada sebuah tandu yang indah, lalu diarak oleh empat orang, kemudian dibawa ke hadapan Sang Raja. Dengan demikian, rakyat diharapkan akan menanam dan memelihara bibit-bibit durian tersebut sebagai kepatuhan dan kesetiaan mereka pada Duli Yang Maha Mulia Raja Perlis, serta untuk tujuan menambah kekuatan ekonomi rakyat sendiri.

Bibit durian ini adalah hasil persilangan dan rekayasa biologi yang secara ilmiah telah dibuktikan cocok untuk iklim Perlis.

Putra Raja Perlis, yaitu Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, Raja Muda Perlis, sendiri turut aktif mendukung berbagai program agensi dan kegiatan pengurus jawatan pemerintahan, untuk mengisi peran dan tugas Ayahandanya yang mulai berusia lanjut.

Meski terikat dengan statusnya sebagai Raja Muda yang dijunjung dan dihormati, tapi Tuanku Syed Faizuddin tidak begitu kaku dan terikat dengan berbagai tata cara kerajaan yang sangat ketat dan hati-hati. Kepada kami, para punggawa istana mengajari adab dan tradisi menghadap Raja Muda. Tapi mereka juga menambahkan, bahwa bila melakukan kesalahan di hadapan Raja Muda, tidak perlu langsung gugup karena beliau dapat memahaminya dan tidak terlalu mempersoalkannya.

Tuanku Syed Faizuddin memang adalah lulusan universitas di Eropa, dan ia sudah terbiasa dengan pergaulan sosial ala Eropa. Tapi karena kerendah-hatiannya untuk berlaku tidak kaku, orang banyak justru menjadi lebih ingin memberikan cara penghormatan yang tinggi padanya, termasuk dari orang-orang Eropa yang diundang pada Hari Keputeraan Raja Perlis ke-74 tahun ini.

Web-hormat
Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail, Raja Muda Perlis, membagikan perlengkapan sekolah kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

web-bersama anak-anakSetelah membagikan perlengkapan sekolah terhadap puluhan siswa yang kurang mampu, dan mengajak mereka bernyanyi bersama, Raja Muda menaiki sepedanya dan memimpin rombongan pesepeda.

Hari ini, rombongan akan melalui rute perkampungan dan persawahan sejauh 10 km. Di sepanjang rute tersebut, Raja Muda dan rombongan membawa aneka sembako untuk dibagikan ke rumah-rumah “asnaf” (keluarga tidak mampu), bekerjasama dengan MAIPs (semacam otoritas keagamaan kerajaan di Perlis). Selain itu, para peserta diajak menikmati keindahan Bumi Perlis, melewati jalan-jalan kecil dan sempit yang memberikan akses menuju persawahan, pengairan, dan kawasan pedalaman.

Raja Muda mempersilakan rombongan jurnalis dari Medan untuk turut menyerahkan bantuan.
Raja Muda mempersilakan rombongan jurnalis dari Medan untuk turut menyerahkan bantuan.

Raja Muda mengayuh sepedanya di depan, dan ternyata ia cukup kencang sehingga sebagian rombongan tertinggal agak jauh di belakang. Kadang-kadang ia berhenti untuk memperkecil jarak, dan kesempatan itu dimanfaatkan beberapa peserta untuk foto bersama.

Acara bersepeda dan bersedekah ini dilakukan untuk memenuhi dua nilai, yaitu bahwa pemimpinlah yang mendatangi orang miskin, dan bahwa amal ini harus dilakukan dengan kerja keras sambil bergembira.

Raja Muda Perlis adalah satu-satunya pangeran di persekutuan negeri-negeri Malaysia yang memiliki hobi bersepeda. Ia telah melakoni kegiatan ini sambil melakukan misi sosial. Menariknya, Raja Muda tidak hanya melakukan hobi ini di negerinya, tapi juga di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Thailand.

Di Thailand Selatan, Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail bersepeda sambil membawa bantuan untuk orang-orang miskin dan menyantuni para penyiar dakwah agama Islam, membantu pembangunan masjid, dan sebagainya. Hal yang sama juga pernah ia lakukan di Aceh, bekerjasama dengan salah satu universitas Islam setempat.

Hari ini, rombongn juga melakukan hal yang sama dengan mengayuh sepeda-sepeda wisata yang telah disediakan Petronas, perusahaan minyak milik negara itu.

Bersepeda bersama Sang Pangeran adalah pengalaman yang unik, karena bisa menyaksikan beliau dalam balutan kostum yang sangat biasa, mengenakan topi sepeda dan celana pendek yang leluasa. Selain itu, ini merupakan kesempatan menikmati kawasan perkampungan di Perlis yang umumnya hidup dengan pertanian.

 

LEAVE A REPLY