Pendakian Singgalang yang Gagal

1
1070

 Singgalang1

Teks & foto oleh Habibie Siregar

Kabar-kabar pendakian Singgalang di Bukittinggi seperti tiupan balon yang akan meletus. Seminggu sebelum 16 Februari 2013 yang lalu tim kami yang tergabung dalam Pecinta Alam Universitas Negeri Padang (UNP) menyusun segudang rencana. Aku sendiri tak ingin ketinggalan untuk pendakian perdanaku ini. Hari Sabtu, kami pun menghilang dari kota wisata Bukit Tinggi yang mulai ramai dikunjungi pelancong.

Gunung Singgalang tidaklah sulit dicapai dari Bukit Tinggi. Pendaki hanya menempuh waktu 45 menit dengan kendaraan umum—lebih nyaman memakai sepeda motor. Setiba di Balingka, salah satu desa di Kecamatan IV Koto yang sudah akrab dengan para pendaki, suhu yang lebih dingin dari Bukit Tinggi mulai terasa. Daerah ini mirip dengan Berastagi-nya Sumatera Utara, di mana penduduknya gemar bertani sayur-mayur. Bedanya, di sini banyak yang berkebun kayu manis. Anak-anak tampak beriringan memikul kulit kayu manis (cinnamon) menuju rumahnya. Pendaki dan masyarakat seolah sudah kenal dekat. Mereka tidak bertanya banyak ketika melihat rombongan mengangkat tas keril dan sebo yang cukup kelihatan “menyiksa”.

Seperti pengunjung umumnya, kami mendatangi Kantor Madya di Balingka. Di sini pendaki membayar retribusi Rp 3.000 per kepala.

Menuju puncak, ada tiga alternatif yang dapat dilalui. Ketiganya memiliki rute yang amat curam. Beberapa pendaki mengatakan, di antara jalur itu ada yang tak resmi untuk pendakian. Yang jelas, rute ini tidak dianjurkan untuk pendaki pemula.

Ini adalah pendakian pertamaku, tapi tim ini bukanlah pemula. Kami memilih jalur sulit karena tertantang darah muda. Sekitar 45 menit berjalan kaki, kami tiba di pintu rimba di mana pendakian akan dimulai.

Singgalang batu

Ke pintu rimba yang dikebuni dengan tanaman tebu itu, pendaki di-warming up gonggongan anjing-anjing petani. Sepanjang itu pula satwa paling setia itu berteriak sesukanya. Tapi mereka tak berani menggigit. Kuanggap saja ini sebuah penyambutan yang baik, yang membuat memoriku mulai aktif merekam lingkungan baru yang memiliki daya tarik untuk didatangi ini.

Singgah dan berbincang dengan penduduk adalah salah satu metode memahami apa yang mereka pikirkan–mungkin bagiku yang mahasiswa jurusan Psikologi di UNP. Terus mengenal penduduk lokal merupakan paket pendakian yang dianjurkan. Nah, kami mulai paham bahwa mereka punya rasa hormat dan segudang mitos terhadap Gunung Singgalang. Sama seperti di tempat lain, penduduk di sini memberi saran-saran selama kegiatan kami berlangsung. Wejangan itu sebagian dapat saya terima, dan sebagian lagi saya “kantongi” lalu dibuang di tengah jalan.

Menuju Puncak

Mencapai Puncak Singgalang adalah tujuan kami. Matahari telah menghilang, langkah pertama dimulai pada pukul 19.30 WIB. Bismillahirrohmanirrohim, langkah kanan pun diayunkan.

Aroma bangkai tebu yang digunakan orang untuk menutup jalan berlubang mulai dilupakan, kami menghilang dalam jamrud pegunungan kerdil. Perdu terbelah oleh aliran air dari puncak. Ujungnya saling menyentuh, membentuk lorong-lorong yang asyik dilalui. Kami harus awas memperhatikan parit-parit yang sedikit dalam, yang terbentuk karena dampak arus air run off.

Setiba di kontur tanah yang relatif datar, kami ingin menghirup napas lebih dalam. Oksigen di sini sudah menipis. Salah satu teman kami terjatuh ke pangkuan teman yang lain. Dia pingsan, kehilangan kesadaran, seperti terhipnotis oleh kegelapan tubuh Singgalang.

Adakah saran dari penduduk lokal yang tidak kami taati? Kami tidak ingin berpikir panjang. Rombongan pun turun meskipun masih memungkinkan bagi sebagian tim untuk melanjutkan misinya. Tapi kami masih berpegang pada prinsip sama-sama naik dan sama-sama turun, seperti yang dikatakan Pak Naon, salah satu anggota pendakian yang kami hormati dari Andoeank Adventure.

Mato Aia, Obat Kami

Cooling down di kaki bukit semalaman suntuk, rencana yang memungkinkan adalah mengunjungi Mato Aia (mata air), sebuah mata air dari lubang-lubang bebatuan. Mata air itu berada di Desa Pehambatan sejauh dua kilometer dari pintu rimba. Lokasinya masih bisa didatangi dengan berjalan kaki, tapi kami memilih naik sepeda motor. Jalannya yang rusak dan kemiringannya mencapai 65derajat, membuatku harus melompat-lompat di atas jok dan sesekali mengumpati sepeda motor itu. Ayuklah kura-kura!

Wah, aku lupa, hehehe, menuju Mato Aia mesti berjalan kaki lagi sekitar satu kilometer. Tanaman penduduk di sekitar itu tumbuh manja, Mato Aia-lah kuncinya. Mereka tak perlu memikirkan kemarau panjang selama Mato Aia terus terjaga.

Kami yang kepanasan disengat terik matahari yang mulai lurus di atas kepala bernafsu akan menceburkan diri ke kolam pemandian Mato Aia. Buuurrr! Kami bukanlah kodok rebus yang tak menyadari perubahan lingkungan. Baru 20 detik berlalu, kami keluar dari kolam. Dinginnya tak tertahankan. Aku tak ingin mengalah begitu saja, kunaiki rakit bambu milik masyarakat dan mengayuh rakit di permukaan Mato Aia. Paling tidak ini menjadi obat kegagalan menuju puncak Singgalang yang misterius itu. Lain kali, aku akan sampai.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY