Petugas Mesjid Sakit Kepala

0
130

Sehabis shalat Ashar, petugas mesjid—kami memanggilnya Pak Haji—ngomel-ngomel sambil curhat kepada beberapa orang yang duduk melingkar usai berdoa. Ia mengadukan perihal tagihan rekening listrik mesjid yang mencapai hampir Rp 1,5 juta sebulan.

“Coba bayangkan,” katanya sembari mengelus-elus gelang besi putih yang melingkar di pergelangan tangannya sejak ia menunaikan ibadah haji bertahun-tahun dulu. “Tadi pagi saya cek meterannya, angkanya berubah cepat sekali. Apa ada yang salah dengan meteran itu ya?”

Seorang jemaah memberi tahu bahwa tidak ada yang salah dengan meteran itu. Tadi pagi, katanya, grup pengajian subuh memang memakai pendingin dan lampu hingga pagi. Nah, setelah selesai mengaji, mereka rupanya lupa mematikan AC dan lampu kamar mandi.

Pak Haji bertambah ngomel. Menambahi kekeruhan itu, ia bercerita bahwa suatu kali pernah juga ia memergoki grup pengajian Subuh itu keluar mesjid namun tidak mematikan lampu. Tapi ketika ia berusaha mengingatkan, mereka merasa tidak melakukan kesalahan karena mereka bukan petugas mesjid. Ia mengurut dada, karena yang menjawab itu adalah orang yang cukup dihormati.

Mendengar masalah itu, jamaah yang lain ternyata menaruh minat. Mereka memberikan pendapatnya masing-masing. Ada yang menyarankan agar Pak Haji tetap berusaha mengingatkan dengan baik. Ada yang mengusulkan agar penggunaan AC dilarang di luar waktu shalat wajib. Ada pula yang memperruncing masalah dengan membakar emosi Pak Haji agar mengunci saja mesjid setelah habis shalat fardhu. Ramailah pendapat, riuh sebagaimana ghalibnya demokrasi. Serba salah. Orang mengaji tak mungkin pula dilarang atau dibatasi.

Ya, Pak Haji memang sakit kepala sekarang. Masalah ini dimulai sekitar enam bulan lalu seusai shalat Dzuhur. Saat itu sedang musim panas. Beberapa orang mengusulkan agar AC dipasang di mesjid lantaran mereka merasa kepanasan. Menurut mereka, rasa panas bisa mengganggu kekhusukan shalat—meskipun kita tidak tahu berapa derajatkah suhu di Arabia ketika Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan shalat di musim panas. Selama ini sebagian mereka sudah terbiasa shalat di dekat tempat kantornya di Medan. Di sana, mushalla dan mesjid sudah menggunakan AC. Kali ini, karena sedang liburan, mereka shalat di mesjid bersama warga lainnya.

Sebagian di antara mereka kemungkinan sudah menderita sakit gula. Bagi penderita gula, cuaca panas tentulah terasa lebih menyiksa dari orang lain. Di komplek kami, mereka termasuk orang-orang yang relatif lebih mampu dan dikenal dermawan. Ketika beberapa orang mencoba mempertanyakan ide tersebut karena faktor biaya, beberapa di antara mereka langsung naik darah. Mungkin itulah salah satu sifat ikutan dari sakit gula.

“Kita akan menanggungnya. Tinggal ngumpul-ngumpul, cukuplah itu,” kata salah seorang di antara mereka. Yang lain pun terdiam. Pakai AC, enak juga, pikir mereka. “Baik, kita akan pasang delapan AC di sini, biar shalat berjamaah lebih khusuk.”

Seseorang berusaha bertanya dengan hati-hati. “Tapi , Pak. Apakah tagihan listriknya nanti tidak akan bengkak? Bagaimana mesjid akan membiayainya?”

Iya juga, pikir para dermawan ini. Akal sehatnya berjalan. Akhirnya setelah tawar menawar dan hitung-hitungan, disepakatilah bahwa AC yang dipasang cukup empat unit.

Demikianlah, mesjid yang telah kami gunakan selama puluhan tahun itu, akhirnya dipermak ulang. Arsitektur awalnya yang demikian cantik, memperhitungkan sirkulasi udara, ruang jatuh cahaya dan faktor-faktor lain yang memenuhi kaidah ilmu arsitektur itu, akhirnya dirubah dan ditutup rapat agar dapat memerangkap temperatur AC.

Dulu seorang arsitektur muda, anak seorang warga di komplek kami, telah mendisain mesjid ini dengan segala kesukarelawanannya. Ia tidak ingin mengecewakan warga dan tentu saja ia ingin membuat orangtuanya bangga. Ia mempelajari ulang prinsip-prinsip mesjid. Apa sesungguhnya hakikat kubah, menara, ventilasi-ventilasi, dan sebagainya. Ia mengeksplor mesjid-mesjid terbaik di dunia di internet, mempelajari hubungan mesjid itu dengan iklim setempat, faktor ekonomi, faktor alam, dan seterusnya. Dengan referensi itu, ia tetap dapat membangun mesjid berdasarkan simbolismenya, tapi adaptif dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam, khususnya iklim mikro di komplek kami. Ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, mengerahkan kapasitas ilmunya, sehingga warga harus bersabar selama berminggu-minggu untuk mendapatkan hasil rancangannya.

Di tangan pemuda yang berbakat ini, lahirlah di komplek kami mesjid berdisain indah tapi ringan. Bentuknya solid dan penuh dengan ruang udara di sekelilingnya. Kubah yang cukup besar menjadi tabung oksigen dan terdapat ventilasi di kakinya. Pintu dan jendela dibuat lebar-lebar sehingga udara segar dapat keluar masuk dengan bebasnya. Pada saat shalat Subuh, kami sangat menyukai angin sejuk yang menyelusup ke syaf-syaf jemaah, membantu kami hanyut ke dalam ayat-ayat yang dilantunkan imam.

Pada saat Dzuhur dan Ashar, petugas mesjid memasang kipas angin untuk mempercepat sirkulasi udara. Suaranya berdesing lembut, kadang membuat terlena. Ini adalah mesjid yang ramah. Kami sudah kenal aromanya, sudah akrab dengan hawanya, dan sangat bersyukur dengan bangunannya yang gagah. Setiap kali ada orang luar yang berkunjung ke komplek kami dan shalat di mesjid, mereka selalu memberikan pujian, “Komplek ini cukup terpencil, tapi nggak nyangka ada mesjid semewah ini di sini”. Kami tentu saja senang mendengarnya.

Semenjak musim panas yang bersejarah itu, mesjid kami yang ramah lingkungan itu mulai berubah karakter. Pintu daun yang sudah ada, kini ditambah dengan pintu geser yang terbuat dari kaca gelap. Lubang-lubang udara juga ditutup rapat sehingga tak boleh ada angin luar yang lolos ke dalam sekecil apapun. Warga diminta partisipasi sumbangan untuk membantu pembangunan ini, karena bapak-bapak yang dermawan itu hanya bersedia menanggung pembelian empat unit AC. Singkat cerita, selesailah kesibukan itu. Mesjid jadi sejuk dan setiap waktu shalat akan tiba, suara pintu kaca geser yang selalu dibuka tutup terdengar berkresek-kresek. Setiap orang yang masuk ke mesjid harus membuka pintu itu, lalu menutupnya kembali. Meskipun agak merepotkan, tapi tidak apalah. Beberapa orang yang badannya langsung masuk angin karena tak terbiasa dengan AC juga pelan-pelan berusaha menyesuaikan diri. Sementara para donatur itu sudah jarang terlihat lagi, karena mereka mungkin sudah kembali masuk kerja seperti biasa.

Masalah mulai muncul ketika Pak Haji—petugas mesjid yang legendaris itu—mulai menemukan arus kas mesjid mendekati defisit. Beberapa kali ia menunda pembayaran ke PLN menunggu infaq cukup. Sering kali ia menemukan tambahan denda pada rekening listrik mesjid. Infaq hari Jumat terkadang hanya terkumpul sekitar Rp 2.000.000 sebulan, sementara untuk membayar tagihan listrik saja bisa mendekati Rp 1.500.000. Padahal masih ada pengeluaran-pengeluaran lain seperti honor petugas kebersihan, honor khatib Jumat (sekarang khatib sudah menerima honor), perawatan alat-alat, dan sebagainya.

Sejak pemasangan AC, meteran bergerak sangat cepat, dan Pak Haji selalu memantau dan mencatat meteran itu setiap pagi. Ia yang jantungnya mulai melemah, tidak bisa menanggung sendiri perasaan was-wasnya. Warga kemudian mengusulkan agar meteran mesjid diganti saja dengan sistem token. Ada yang mengatakan bahwa itu lebih murah. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa sistem token bisa membuat pemakaian listrik lebih terkontrol. Artinya, bila ada kegiatan tambahan di luar shalat fardhu, maka mereka diminta membeli token. Akhirnya kenaziran mesjid merestui penukaran rekening pasca bayar menjadi rekening token.

Tapi rupanya cara itu tidak cukup aplikatif. Setiap 15 hari, Pak Haji harus belanja token. Selain menambah kerepotannya, ternyata grup-grup pengajian tidak membeli token. Mereka sudah bersusah payah mengumpulkan infaq untuk membayar honor ustadz (ustadz pun sudah menerima honor) yang diundang untuk ceramah, konon lagi harus mengumpulkan uang tambahan untuk token. Bisa-bisa peserta yang sedikit itu akan malas datang dan lama-lama pengajian akan bubar.

Petugas mesjid sudah berusaha meningkatkan pemasukan infaq jamaah shalat Jumat dengan mengumumkan masalah yang mereka hadapi. Tapi para warga tampaknya sedang hidup prihatin. Harga-harga naik. Ibu-ibu sudah kesulitan menyiasati belanja sehari-hari.

Masalah AC dan rekening listrik ini menjadi simalakama dan berlarut. Gara-gara beberapa warga yang kepanasan karena kemungkinan mengidap penyakit gula, seluruh jamaah terpaksa ikut-ikutan seperti berpenyakit gula. Saya pun menyukai sejuknya AC ini, meski tidak betah berlama-lama, sehingga saya mulai mencurigai diri saya terjangkit penyakit gula. Pendek kata, mesjid yang indah itu kehilangan fungsi arsitekturalnya, dan disainnya tinggal simbolika belaka.

Kedermawanan, niat baik, dan selera pribadi, ternyata belum tentu selaras dengan fitrah lingkungan alam dan sosial, sehingga keinginan individual ini selaiknyalah perlu diwaspadai dan disikapi secara hati-hati. Agar keinginan individu-individu tidak lepas dan liar, masyarakat memerlukan kepemimpinan yang kuat. Hanya pada diri pemimpin yang amanah dan masyarakat yang terpimpinlah kepentingan ummat dapat diselami lebih dalam dan berjangka panjang.

Segala keputusan tidak bisa kita harapkan lahir dari proses demokrasi dan kekuatan uang. Demokrasi adalah ruang bagi keliaran/kebebasan individu. Dan uang adalah kendaraannya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY