Pintu

1
710
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.

Apa yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa yang lebih sadar? Sederhana saja. Mereka membangun pintu rumah yang menghadap ke sungai, sementara kita—entah kenapa—lebih suka membangun rumah dengan membelakanginya. Kebanyakan warga kita berlomba-lomba menciumkan bagian depan bangunan ke arah jalan. Akibatnya, lingkungan pun terasa sempit, menghimpit dan menimbulkan efek kalap dan amarah.

Orang-orang dari bangsa yang beradab membuat sungai sebagai pemandangan yang berharga dan terhormat, sedangkan kita membuatnya sebagai lokasi pembuangan sampah langsung dari dapur. Bahkan, beberapa rumah melepaskan saluran WC-nya ke sungai. Saya tidak mengerti bagaimana kita bisa membentuk satu budaya hunian yang kian kehilangan selera. Sungai-sungai yang dulunya indah dan menjadi sumber kehidupan, kini kita khianati dan kita hinakan sebagai penampung sampah dapur. Kita menikmatinya dari pintu belakang yang suram.

Jadi, apa yang membedakan kita dengan orang pintar? Bedanya adalah pada cara kita menempatkan pintu depan dan pintu belakang rumah. Dari sini, kita akan mengetahui tingkat peradaban suatu masyarakat. Kita akan melihat mana bangsa yang mengencingi sumber minumannya sendiri. Kita juga akan melihat bangsa mana yang berlomba menciptakan pintu depan sebagai lubang penghisap debu jalanan dan pintu belakang sebagai lubang pembuangan sampah ke sungai. Atau barangkali, kita memiliki terlalu banyak sungai yang indah, sehingga lupa untuk menghargainya.

Bagi kita, pemandangan sungai adalah hal yang klise dan semua orang dapat menikmatinya. Persepsi ini harus kita bayar dengan mahal. Sungai-sungai yang kita abaikan itu meluap dan marah. Sungai-sungai menikam kita dari pintu belakang, membunuh ratusan jiwa, dan meluluhlantakkan rumah-rumah. Tiap tahun.

Air bersih makin susah dicari. Kalaupun ada, harganya mahal. Tempatnya pindah ke botol-botol bermerek asing. Kita tertindas. Dengan pendapatan yang sangat rendah, warga masih harus membeli air yang lebih mahal dari pada harga yang ditanggung warga negara maju. Dengan sungai-sungai jernih yang mengalir dari lereng-lereng Bukit Barisan, sungguh lucu bila di pulau ini kita harus membeli air kemasan yang harganya sudah disusupi pajak penjualan, pajak penghasilan dan lain-lain.

Gila!

Pembangunan kita bergerak ke arah yang memilukan. Bandingkan ketika sungai masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat tradisional. Orang-orang tua kita menjala di sana, memancing dan mandi sepuas hati. Gratis. Mereka mengairi sawah dan mendapatkan air bersih sebanyak yang mereka mau. Dulu, tepian sungai juga selalu menjadi tempat menggosip bagi ibu-ibu. Orang Islam membangun surau dekat sungai untuk beribadah. Mereka mengambil wuduk dari air yang bersih. Seperti urat nadi, sungai menjadi segalanya.

Desa-desa selalu dibangun dekat sungai, termasuk hunian yang kemudian berkembang menjadi kota-kota besar seperti sekarang. Hingga kini, sungai-sungai itu masih mengalir seumpama waktu. Orang-orang masih tinggal di dekatnya. Tapi persahabatan antara sungai dengan orang-orang Sumatera telah berakhir. Keduanya saling membunuh. Manusia menggunduli hutan, sungai balas mengamuk. Manusia meracuni, sungai jadi pelit. Ikan-ikannya hilang dan punah. Manusia membuang sampah, sungai memberi penyakit. Dan seterusnya.

Perang ini adalah pertempuran sunyi yang memakan banyak korban. Dan perang ini dapat kita saksikan dengan jelas dari pintu-pintu rumah kita sendiri.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY