Pohon yang Selalu “Salah Nama”

0
147

Pohon ini sangat langka. Buahnya unik sekali. Besar dan panjang. Karena orang belum menemukan manfaat spesifik dari pohon ini, maka muncullah beberapa konsekuensi. Pertama, ia tidak dibudidayakan sehingga menjadi langka. Kedua, setiap kampung memberinya nama yang tak serius, alias sekena hati saja.

Saya pertama sekali melihat pohon ini sekitar 19 tahun lalu di Pangkalan Brandan, dimana para pegawai perusahaan minyak di kota itu pernah menanamnya berbaris sepanjang pinggir jalan di komplek perumahan staf. Mereka menanamnya sebagai peneduh karena Pangkalan Brandan sebagai kota sumur minyak pertama di Indonesia memang sangat panas. Lokasinya berada di muara sungai menjelang lautan, dan masih terhitung sebagai kota pelabuhan sungai yang sangat penting di masa produktivitas sumur-sumur minyaknya.

IMG_20170809_180359-576x1024Kelak, ketika sumur-sumur minyak ini dikelola PT Pertamina, banyak karyawan Jawa yang menghuni perumahan. Nah, dari merekalah saya mendapat penjelasan dan nama pohon ini. Dasar orang Jawa, mereka selalu suka guyon, dan dengan vulgarnya menyebut pohon yang artistik ini dengan nama pohon “kuntul kuda”.

“Kalian serius?” tanyaku.
“Iya,” kata mereka. “Memang itu namanya di sini”.

Nama yang lebih lawak-lawak lagi untuk pohon ini saya temukan dari para karyawan dari Jawa di kawasan perkebunan Simalungun. Mereka menyebutnya dengan pohon “kuntul india”.

“Apa-apaan ini?” tanyaku.
“Memang itu namanya di sini,” kata seorang petinggi perkebunan. “Lihatlah, buahnya kan memang mirip dan besar,” katanya pula.

Mereka ini memang bercanda saja. Orang-orang yang merasa malu mendengar nama pohon ini kemudian membalas dan menyebutnya dengan “pohon salah nama”. Sebab tidak eloklah kalau menyebut nama-nama tersebut di hadapan mertua atau orang yang kita segani atau kurang kita kenal. Istilahnya, tabu. “Pantang,” kata orang Batak.

Karena populasi pohon ini sudah sangat langka, maka sudah jarang pula orang menyebut-nyebutnya. Saya sungguh beruntung bertemu lagi “pohon salah nama” (kita sebut saja demikian biar aman), di Kebun Laras milik PTPN IV. Terdapat setidaknya dua pohon lagi di sana. Satu di pekarangan mesjid, dan satu lagi di depan gudang emplasemen.

IMG_20170809_180050-576x1024Pihak perkebunan melindungi pohon ini dan menyediakan plank informasi yang berisi penjelasan singkat di bawahnya. Nama sesungguhnya adalah pohon benoang. Satu dari beragam pohon hutan tropis yang memiliki ukuran besar dan berusia ratusan tahun. Posisi buahnya aneh. Ia tergantung pada tangkai yang menjulur panjang dari dahan-dahannya. Tangkai buah itu lebih mirip akar-akar gantung seperti yang terdapat pada pohon beringin.

Bila dilihat sepintas, buah-buah berwarna abu-abu itu selalu terancam jatuh. Berbeda dengan pohon “yang liu” yang sangat feminis, pohon benoang memang terlihat maskulin. Mungkin karena buahnya yang mirip kelamin laki-laki. Beratnya bisa mencapai antara 1 sampai 2 kg. Dan di dalamnya terdapat biji-biji kecil sebesar pangkal lidi. Seharusnya, membudidayakan pohon ini tidaklah sulit. Apalagi kalau ada pemerintah daerah yang memiliki minat untuk menjadikannya sebagai peneduh kota atau kawasan-kawasan publik.

Nama ilmiahnya tertulis “Octomeles sumatrana”. Tapi kami yakin itu tidak tepat, sebab ketika nama ini dirujuk di internet, yang muncul adalah gambar yang berbeda. Kami tidak berhasil menemukan nama pasti yang sudah disepakati secara ilmiah tentang benoang.

Mungkin, cukuplah namanya “pohon salah nama” saja. Selain menunjukkan persepsi sosial terhadap pohon ini, juga dapat menunjukkan keunikannya. Lebih utama lagi, kita berharap agar pohon ini jangan sampai punah karena kita belum menemukan manfaatnya. Paling tidak, dengan melihatnya saja kita sudah dibuat takjub karena keindahannya.

LEAVE A REPLY