Presiden Obama dan Pak Jokowi

0
477

Siapapun yang telah menonton film dokumenter, Capitalism: A Love Story, karya Michael Moore, pasti akan melek dengan isu-isu utama di jaringan-jaringan televisi AS dan Eropa saat ini. Talkshow-talkshow dan wawancara yang mencuri banyak perhatian karena dianggap paling relevan dengan situasi ekonomi terakhir Amerika Serikat adalah topik yang dimulai dengan pertanyaan, “masih relevankah kapitalisme hari ini?”

Kebijakan ekonomi AS digambarkan sebagai ekonomi yang terjebak oleh sistem dan idiologinya sendiri. Presiden  Barrack Obama menelan buah simalakama. Dengan angka pengangguran yang mencapai lebih dari 10 juta orang, ia dihadapkan pada pilihan, yaitu membiarkan masalah sosial itu membesar atau membeli surat-surat utang untuk membiayai birokrasi dan roda pemerintahannya, serta menyebarkan dollar di pasar untuk merangsang investasi baru yang dapat menyedot tenaga kerja. Pilihan pertama–membiarkan situasi sosial yang genting–dapat mengancam legitimasi politik Obama karena ia menduduki tampuk kepresidenan justru karena dukungan kelompok pekerja yang saat ini menderita. Memberikan jaminan-jaminan sosial kepada kelompok menengah itu adalah salah satu janji kampanyenya. Berpaling dari mereka, sama saja dengan menebang pilar kekuatan politiknya  sendiri.

Ketika Obama mencoba mempertahankan agendanya untuk membela para proletariat, ia membutuhkan anggaran nasional yang besar. Tapi ia tak punya uang. Jalan satu-satunya adalah menghadap kepada para bankir yang menguasai The Fed, bank sentral negara itu. Mereka selalu punya uang. Dan para bankir itu sudah menunggu seperti buaya yang menganga mulutnya, dan tentu saja mereka memberikan syarat-syarat. Melalui syarat-syarat itu, agenda Obama diobrak-abrik. Obama mencoba melawan. Tapi di AS, bagi seorang bankir, Presiden tak lebih dari seekor lalat yang mencoba menantang cicak. Tahun 2013 lalu, terjadilah peristiwa yang sangat tidak masuk akal bagi sebagian besar orang yang masih memuja kehebatan AS. Pemerintahan Obama di-shut down (ditutup). Lho, kok begitu saja? Ya, begitu saja. Seperti lapak dagangan yang ditutup. Lapak itu baru dibuka kembali setelah Obama menyetujui semua syarat-syarat. Agenda Obama sebagai Presiden AS harus dihapus semua.

Kini semua orang tahu, Obama yang dielu-elukan di awal pemerintahannya tak lebih dari sekadar penerus presiden-presiden AS lainnya. Pelaksana kehendak bankir. Dan tak lebih dari kepala serikat pekerja belaka dari suatu negara yang konon paling canggih senjata militernya. Drama Obama sudah berakhir.

Di Indonesia, kita memiliki bintang-bintang baru, yaitu Presiden Joko Widodo. Kehadirannya tidak kalah fenomenal dibanding Barrack Obama. Orangnya merakyat, dan ia disimbolkan sebagai “kita” atau mewakili rakyat jelata. Penampilannya kerempeng seperti kurang makan. Ya, persis kebanyakan rakyat kita yang kurang gizi. Konon, Presiden Jokowi—demikian beliau disapa—juga membentuk kabinet yang bertabur bintang. Orang-orangnya tidak biasa, profesional, dan pekerja keras. Di awal pemerintahan kabinetnya, mereka telah menyiapkan kartu-kartu. Ada Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Sakti, dan kartu-kartu lain, yang tidak lain adalah uang. Semua itu tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Sebagai gantinya, maka subsidi BBM yang memboroskan anggaran ratusan triliun rupiah per tahun akan dihapuskan.

Pertanyaannya adalah, apakah kartu-kartu itu juga telah mengantisipasi gelombang kemiskinan baru akibat naiknya harga-harga barang setelah kenaikan BBM? Untuk menjawab ini, biasanya para ekonom akan menjawab bahwa negara perlu untuk menaikkan produktivitas nasional dan meningkatkan efisiensi dalam penggunaan anggaran. Dengan demikian, pendapatan per kapita akan naik. Daya beli masyarakat akan naik. Di sisi lain, efisiensi anggaran akan dapat meningkatkan energi pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, para mafia laut yang menjadi broker perdagangan harus dipotong rantainya untuk menurunkan nilai belanja barang impor, dan sebaliknya menaikkan nilai ekspor. Para koruptor harus diseret ke pengadilan. Energi harus dikonversi ke yang lebih murah.Para birokrat harus bekerja lebih keras, mengurangi tidur dan kombur.

Itulah kalkulasinya. Tapi kalkulasi hanya akan bisa benar bila ia diukur berdasarkan konstanta-konstanta. Demikian pula, seluruh agenda kerakyatan itu telah dihitung berdasarkan uang. Masalahnya, uang yang menjadi dasar perhitungan itu tidaklah konstan. Ia bergerak setiap kali ia dioperasionalisasikan. Sekali produktivitas naik, maka uang justru menurun nilainya. Sebab uang kertas yang kita pakai sebagai alat ukur itu tidak mewakili pertumbuhan barang. Ia telah tumbuh sendiri secara liar. Ibarat rumput, ia adalah gulma. Maka muncullah suatu hukum yang sangat paradoks dalam perekonomian, yaitu: produktivitas (penawaran) meningkat di pasar, tapi daya beli (permintaan) menurun. Yang terjadi dalam situasi seperti ini adalah, barang menumpuk, pembeli tak ada. Ekonomi berakhir (the end of economy)! Bila Adam Smith masih hidup, mungkin ia akan segera merevisi teori invisible hand-nya.

Presiden Jokowi telah mencanangkan sebuah kabinet kerja dengan motto: kerja, kerja, kerja! Tentu saja ini sangat penting. Perlu diketahui, orang Amerika Serikat itu adalah bangsa pekerja keras, bahkan mereka mengenal istilah workaholic (maniak kerja). Mereka memandang status dan eksistensi mereka berdasarkan pekerjaan. Itu tercermin dari nama mereka, seperti Will Smith, David Carpenter, Johnny Fisherman, Liz Tailor, dan seterusnya. Bagi sebagian mereka, pekerjaan adalah “tuhan” itu sendiri. Tidak sedikit dari orang AS yang bekerja tiga kali shift satu hari. Satu pekerjaan tak cukup lagi menutupi tagihan-tagihan. Dengan semangat kerja keras yang tinggi itu, AS bangkrut juga.

Lalu apa masalahnya? Masalahnya tentu bukan pada Presiden Obama atau Presiden Jokowi. Keduanya orang baik dan dicintai rakyatnya. Harapan mulia dari rakyat telah membawa mereka ke kursi presiden. Masalah mereka adalah, mereka mengendarai mobil yang sudah ditentukan tujuannya, yaitu ke jurang! Sebagus apapun keahlian sopir yang mengendarai mobil seperti ini, maka jurang jugalah yang akan menghancurkan seluruh isinya. Sopir dan seisinya hanya tahu bahwa mobil harus terus berjalan, dan untuk itu mereka memerlukan bensin. Dan bensin itu dimiliki sedikit orang yang menentukan jurang mana yang harus dituju. Bila sopir dan seluruh penumpang tidak mau menuju jurang, maka mereka tidak diberi bensin. Mobil tak jalan.

Dalam konteks yang sama, jurang nasional kita adalah kebangkrutan ekonomi yang digerakkan hutang, dan rute menuju tujuannya telah dipandu oleh UU Perbankan, UU PMA, UU Pertambangan, UU Kehutanan, UU Pajak, dan berbagai undang-undang lain yang dikeluarkan berdasarkan tekanan hutang dan uang. Kepada seluruh rangkaian undang-undang inilah kita dan presiden kita akan bekerja keras sampai mati dalam jurang. Undang-undang itu telah memastikan berlakunya sistem penindasan (pajak), perbudakan (hutang), dan eksploitasi (pengerukan kekayaan) ke dalam diri dan lingkungan kita. Dan semua itu dilakukan melalui instrumen uang kertas.

Yang perlu segera kita lakukan sekarang sebelum ikut masuk jurang adalah, keluar dari mobil kapitalisme ini, lalu merelakan diri kita kembali berjalan kaki sembari menentukan tujuan hakiki yang membawa kita pada keselamatan. Jalan kaki itu sehat. Lagipula, kelak kita masih bisa membuat mobil yang lain lagi, yang dapat kita kemudikan sendiri berdasarkan tujuan yang benar. Semoga Allah SWT memberkati kita.

 

LEAVE A REPLY