Prof. Dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP

0
4254

DokterPaling tidak, ada dua jenis darah yang mengalir dari dalam jantung dokter yang satu ini. Pertama, darah seorang pendidik, karena ia memang menyandang predikat profesor. Kedua, darah seorang dokter, karena ia adalah spesialis jantung (cardiolog). Dengan paduan keduanya, maka ia menjadi satu di antara sedikit dokter cardiologi yang dapat menjelaskan hal ihwal jantung yang rumit itu menjadi narasi yang sederhana.

Demikianlah kami menghadapi Prof. Dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP, di ruang praktiknya, lantai 7 RS Columbia Asia-Medan beberapa waktu lalu. Seperti flash back ke belasan tahun silam, dia membawa kami ke sebuah kelas awal kedokteran, dan kami bahagia menjadi mahasiswa yang tekun mendengarkan.

“Kerja jantung itu seumpama PLN,” katanya begitu saja. Kami pun menunggu penuh was-was. “Bedanya, PLN bisa mati  tiga kali dalam sehari, jantung hanya boleh mati sekali, yaitu ketika seseorang menghadap Ilahi,” ia melanjutkan.

Lalu Prof Sutomo mulai membuat bagan kerja jantung di atas secarik kertas, lengkap dengan jaringan-jaringannya. Tetapi karena ia selalu bicara PLN, maka jaringan itu tetap terlihat sederhana dan mudah dimengerti. Siapa yang tak kenal PLN karena berbagai kesulitan yang ditimbulkannya?

“Ini generatornya,”  katanya menunjuk sebuah bagian kecil di organ jantung. “Ini jaringannya. Generator ini memang kecil, tapi sangat sempurna. Manusia tidak bisa menciptakan mesin sehebat ini. Bila umur Anda mencapai 80 tahun, berarti jantung ini bekerja tanpa henti selama lebih dari 80 tahun kalau kerja jantung selama di kandungan ikut dihitung. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi seorang kardiolog kecuali lebih dulu memuji dan menyebut nama Tuhan sebelum melakukan tindakan yang berkaitan dengan kardiologi,” urai Guru Besar USU yang juga tercatat sebagai fellow dalam asosiasi American College of Cardiology ini.

Kami memperhatikan skema jantung yang dia buat dengan seksama. Prof Sutomo membuat kami merenung-renung. Otot jantung sekecil itu ada dalam tubuh kami masing-masing. Hanya sebesar kepalan tangan. Menjadi induk suatu jaringan yang kompleks. Menjadi pembeda (indikator) antara tubuh yang hidup dan yang mati. Ia terus menerus berdenyut untuk memompa dan menyalurkan darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh-pembuluh. Ada atrium, bilik kiri, bilik kanan, atena, arteri, dan seterusnya, di mana darah yang sudah minim oksigen dibuat segar kembali dan disalurkan melalui jaringan utama ke seluruh jaringan pembuluh di dalam tubuh. Jaringan ini tak boleh sumbat karena kinerja jantung bersifat sirkuler dan terdiri dari satu unit mekanisme, sekaligus satu unit organisme. Bila satu bermasalah, semua sistem kerja bisa bermasalah. “Kalau ada yang sumbat, terutama di wilayah jantung, nah, inilah masalah pokok yang didalami seorang kardiolog,” simpul Prof. Sutomo.

Inilah yang kami sukai dari Prof Sutomo. Ia terlebih dahulu membawa kami melanglang buana untuk menyaksikan kebesaran Tuhan, lalu menukik dengan rendah hati ketika memaparkan pencapaian teknologi manusia dalam hal penanganan masalah jantung. Sebuah bangunan pengetahuan yang diletakkan pada tempatnya yang hakiki.

Prof. Sutomo kemudian mulai menjelaskan lebih jauh dan mendetail tentang bagian-bagian jantung dan jaringan-jaringan yang berpotensi mengalami masalah. Ia menyebut beberapa kasus, dan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk kasus tersebut. “Saat ini sudah ditemukan cara-cara yang semakin efektif untuk mengatasi kasus-kasus penyumbatan cardiovascular. Salah satunya adalah dengan pemasangan kateter. Ini merupakan langkah maju dibanding teknologi by pass yang dikenal sebelumnya. Dengan teknik kateter, pembuluh darah yang sumbat tetap difungsikan seperti sediakala dan kateter dipasang untuk membuka kembali saluran yang tersumbat. Saat ini kita masih tergantung pada teknologi AS untuk aplikasinya, sehingga cost-nya relatif mahal,” jelas ayah dari tiga orang anak, dan kakek dari dua orang cucu ini.

Prof. Sutomo mengidentifikasi beberapa risiko utama (risk major) yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah dan kegagalan kinerja jantung. Di antaranya adalah kebiasaan merokok, darah tinggi, kolesterol tinggi, gula darah, kegemukan (obesitas), dan katup jantung yang rusak atau terganggu karena demam rematik.

“Gejala awal yang sering kita temukan pada gangguan pembuluh darah adalah nyeri di bagian dada. Seperti masuk angin. Tak heran bila orang sering menyalah-artikan gejala ini sebagai masuk angin biasa saja, lalu mereka pergi mencari balsam. Memang indikasi penyumbatan pembuluh darah tidak serta merta membuat gangguan yang fatal pada tubuh manusia. Bisa saja ia melalui proses menahun dan tidak disadari, sehingga pemeriksaan sangat diperlukan apabila gejalanya sudah terasa, terutama bagi kelompok penyandang risiko seperti yang disebutkan tadi,” jelas lelaki kelahiran Medan, 30 April 1946 ini.

Ia juga mengingatkan bahwa kasus-kasus cardiovascular semakin meningkat belakangan ini karena pola hidup manusia mulai menjauhi fitrah kerja jantung yang diciptakan Tuhan. WHO bahkan telah memasukkan masalah cardiovascular sebagai salah satu di antara kelompok non-communicable deseases yang paling berbahaya prevalensinya di dunia. “Ya, bicara tentang kesehatan jantung, ini ada kaitannya dengan budaya. Pola hidup masyarakat kita mulai berubah, dari masyarakat agraris yang banyak bergerak menuju masyarakat industri yang minim gerak, ditambah dengan cara konsumsi makanan yang tidak sehat serta kebiasaan merokok yang buruk untuk jantung,” kata tokoh kedokteran yang suka membaca buku-buku agama ini.

Dalam dunia kedokteran sendiri, masalah jantung memiliki problematikanya yang khas. Sejumlah regulasi, kultur dan agama telah ditafsirkan untuk membatasi tindakan medis yang dapat dilakukan untuk usaha menyelamatkan nyawa seseorang. “Tindakan transplantasi jantung, misalnya, belum dibenarkan di Indonesia meskipun hal ini terbukti berhasil pada beberapa kasus di luar negeri.  Selain itu, regulasi masih sangat membatasi tindakan kedokteran, bahkan lebih jauh, dapat dikriminalisasi,” ungkap Prof. Sutomo.

Masalah klasik lain adalah minimnya tenaga spesialis jantung yang dapat dihasilkan pendidikan kedokteran kita. Prof. Sutomo sendiri mengakui, sejak tahun 2000, FK USU hanya menghasilkan 5 orang spesialis jantung. Dibutuhkan kerja keras, disiplin tinggi, dan biaya cukup besar untuk menjadi seorang spesialis jantung. Kesempatannya sangat kompetitif.

Prof. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP, adalah sedikit di antara mahasiswa yang bisa lolos dari “lubang jarum” kedokteran itu. Padahal ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana. Orang tuanya tidak berasal dari kalangan yang berpendidikan tinggi.  Tapi justru karena itulah, Prof. Sutomo  selalu menempatkan kedua orang tuanya sebagai sumber inspirasi dalam hidupnya. “Apa yang saya capai sekarang adalah cermin dari visi dan keteguhan orang tua saya. Mereka memang tidak punya pendidikan yang tinggi, tapi mereka memberikan kami sekolah. Saya semakin mengagumi orang tua saya terutama setelah saya menjadi orang tua bagi anak-anak saya. Tidak mudah membesarkan anak-anak, apalagi memberikan jalan bagi mereka untuk berhasil dalam hidupnya. Oleh karena itu, orang tua saya adalah sumber inspirasi saya,” katanya dengan serius.

Dan dengan itu, kami pun mohon pamit untuk memberikan waktu yang telah kami ambil cukup banyak kepada pasien-pasien Profesor yang telah menunggu giliran diperiksa.

(Tikwan Raya Siregar)

SHARE
Previous article
Next articleBulan Penuh Cinta di JW Marriott Medan

LEAVE A REPLY