Pulau Bintangor, 17 Agustus

0
363

Rencana mengunjungi tempat wisata tiba-tiba muncul dari seorang teman. Kali ini mau mengunjungi salah satu pulau. Aku yang bukan pecinta pantai dan pulau menyerahkan sepenuhnya perencanaan destinasi ini kepada mereka yang telah sering menyisiri pulau-pulau pesisir sepanjang Sumatera Barat.

Bersama komunitas pecinta alam yang telah terbentuk sekitar 5 tahun lalu, Andoeank Adventure, kami memilih Pulau Bintangor sebagai santapan dan lokasi merilekskan diri setelah penatnya urusan kuliah dan pekerjaan sehari-hari.

Sangat asing bagiku mendengar nama Pulau Bintangor. Tidak begitu familiar layaknya pulau lainnya seperti Sikuai, Pasumpahan, atau Pagang. Pulau Bintangor ini begitu mendorongku untuk mulai mengenalnya. Internet adalah jurus satu-satunya untuk berkenalan dengan pulau ‘misterius’ yang satu ini. Tak heran nama ini sedikit memutar otakku, Google sekalipun tidak memiliki data mengenai pulau yang katanya pulau tanpa penghuni ini.

Pencarianku usai karena tidak menemukan identitas pulau ini. Pada 15 Agustus 2015, anggota Andoeank Adventure berangkat dari Bukittinggi menuju Padang. Kota Padang akan menjadi kota yang harus Anda lewati jika ingin menuju ke berbagai pulau di pesisir Sumatera Barat.

Dari Padang, perjalanan ini dimulai. Keeseokan harinya, 16 Agustus 2015 bunyi kendaraan pertanda keberangkatan dimulai dari Padang. Kukemas barangku setelah tidurku yang tidak begitu nyenyak karena rasa penasaranku terhadap pulau yang masih jarang didatangi oleh para wisatawan ini. Sepanjang jalan, kami yang beranggotakan 14 orang mulai merasakan meriahnya kebahagiaan masyarakat Indonesia merayakan 70 tahun kemerdekaannya. Merah putih telah terpancang dengan gagahnya di depan rumah penduduk, lekukan-lekukan merah putih yang dihiasi berbagai ornamen-ornamen menambah semangat kami untuk lebih mengeksplor Indonesia lebih dalam.

Pak Hen, anggota Andoeank Adventure, sempat menceritakan sedikit tentang pulau yang belum banyak dikenal orang ini. “Beko wak lewati taluak bayua (nanti kita lewati Teluk Bayur),” jelas Pak Hen.

“Teluk Bayur yang ada di video lagu Minang itu Pak?” Sontak aku makin bersemangat. Teluk yang bersejarah ini sudah sejak lama kuidam-idamkan. Perjalanan kali ini persis seperti pepatah, “Sekali mendayung sampan, dua tiga pulau terlampaui”.

lapisan pantaiSatu jam perjalanan, tibalah kami di bibir Teluk Bayur. Kubuka mataku lebar-lebar, tak ingin melewatkan kemegahan teluk yang sudah terkenal hingga penjuru Indonesia ini. Sayangnya, keindahannya tak sempat kuabadikan dengan kamera poket kecilku. Kapal-kapal yang sedang parkir menambah semaraknya perairan yang menjolok ini. Kedip-kedipan lampu kapal menyisipkan romantisme suasana. Para penikmat sepertiku akan merasa sejuk melihat nelayan yang meletakkan jaring-jaringnya di sepanjang bibir laut.

Setelah mengelilingi Teluk Bayur selama satu jam, kami sampai di persimpangan menuju pedesaan. Pedesaan ini akan menjadi pelabuhan kapal-kapal kayu kecil berukuran 20-30 orang. Selama perjalanan menuju desa kecil ini, dibutuhkan waktu 1,5 sampai 2 jam. Anda perlu menyiapkan tenaga dan bensin terlebih dahulu karena trek ini sedikit menyerupai jalur seluncuran di kolam renang. Bedanya hanya pada trek ini tubuh Anda akan bergoyang karena jalan yang berbatu dan berlobang tidak semulus seluncuran kolam renang.

Sesampai di sebuah desa pinggiran pantai, salah seorang dari kami menghubungi pemilik kapal kecil yang telah dipesan sejak dari Bukittinggi. Dia mengajak kami menuju rumahnya terlebih dahulu. Sesampai di rumah sederhananya, kami disuguhkan teh hangat.

Kupandangi sambil berpikir, “Isteri pemilik kapal ini, mereka yang jauh dari perkotaan, telah mengetahui dan telah lama mengaplikasikan berbagi teori psikologi konsumen yang kupelajari selama satu semester di perkuliahan. Mereka tidak perlu menghabiskan waktu sepertiku untuk mencari ilmu pengetahuan. Mungkin ini adalah ilmu turun-temurun dari nenek moyang mereka.”

Nahkoda kapal kecil yang sudah kami pesan telah memanggil kami untuk berangkat menyeberangi lautan menuju Pulau Bintangor yang menjadi tujuan utama perjalanan kami. Ini akan menjadi hal menakutkan bagiku, selain menjadi pengalaman pertama bagiku, hujan, angin kencang, dan ombak-ombak setengah meter menggoyang kapal kayu kecil kami hingga keadaannya sedikit menegangkan. Nahkoda mengarahkan kami agar posisi duduk diseimbangkan supaya kapal tidak oleng.

Selama 35 menit penyeberangan, aku tidak ingin berlarut dengan ketegangan. Berbagai pulau seperti Pasumpahan, Pagang, Sikuai, dan lain-lain akan kami lewati dan aku tidak ingin melewati kesempatan langka ini. Pulau demi pulau telah dilewati, di momen kemerdekaan ini hal yang sering dikatakan para tokoh nasional adalah Indonesia itu kaya. Mereka ‘dusta’ belaka. Aku melihat Indonesia lebih kaya daripada apa yang mereka katakan.

merah putihSuara kapal yang kami tumpangi tiba-tiba mengecil. Aku tak sadar telah tiba di pulau tujuan. Hujan yang sejak tadi turun, kini semakin lebat. Tak ada pilihan lain, kami harus turun dari kapal ini karena kapal yang sama harus mengangkut penumpang lainnya selain kami. Masing-masing dari kami berbenah dan menumpukkan barang di satu tempat dan kami bungkus dengan plastik seadanya. Hujan yang begitu lebat, pasir putih di sepanjang bibir pantai, air yang begitu jernih, dan kehijauan pepohonan memanjakanku. Inilah kebebasan yang sesungguhnya dari rantai-rantai duniawi. Nikmat ini akan menjadi penambah rasa syukur bagiku.

***

Dengan peralatan camp yang telah disiapkan, kami bermalam di pulau ini. Sepanjang malam kami menghabiskan waktu untuk tidur karena cuaca yang tidak begitu baik.

17 Agustus 2015. Hari telah berganti.

Barulah cuaca begitu cerah. Harapan kami dikabulkan oleh Tuhan, cuaca cerah adalah doa kecil kami sepanjang malam.
Lautan berubah dari hari sebelumnya. Bibir pantai yang jernih berubah menjadi kehijauan dengan kilauan pantulan matahari. Warna lautan seperti kue lapis, berwarna-warni mulai dari warna putih di dekat bibir pantai, kemudian dilapisi warna hijau, biru muda, serta biru tua.

Andoenk AdventureIndahnya lautan ini masih dikalahkan indahnya terumbu karang. Kini aku merasakan surga lautan seperti yang sering temanku ceritakan. Ikan-ikan kecil berenang di sepanjang gugusan karang yang berwarna-warni.

Ada keuntungan baru yang kudapatkan dari destinasi seperti ini. Rasa syukur semakin menebal karena sadar betapa kuasanya Tuhan, terlihat dari ciptaan-Nya.

(Habibie Siregar)

LEAVE A REPLY