Ridwan Tulus

8
7632
ridwan-tulus
(foto oleh: dodisyahputra.wordpress.com)

Pada tahun 2004, seorang “pejalan kaki” asal Padang, Sumatera Barat, diundang secara resmi oleh Menteri Pariwisata Malaysia, Dt. Michael Toyad. Semua sudah disediakan, mulai dari transpor, penginapan dan segala yang diperlukan untuk hidup mewah di beberapa kota di negeri jiran itu. Ia dirujuk ke hotel first class, Palace of the Golden Horses Kuala Lumpur. Sekadar tahu, inilah hotel termahal di Malaysia.

Kemudian dia plesiran ke tempat-tempat nomor satu di Penang. Dan selama 11 hari di sana, dia hanya bersenang-senang tanpa tahu diundang untuk apa. Hingga suatu hari, Sang Menteri menemuinya langsung dalam acara makan malam di dalam hotel seraya menyapa, ”Halo Encik Tulus, bagaimana rasanya berpesiar di Malaysia?”

Setelah melewati basa-basi, akhirnya lelaki Minang yang bernama lengkap Ridwan Tulus itu menangkap maksud Sang Menteri. Mereka ingin mendaftar sebagai salah satu negara anggota International Marching League, satu asosiasi kegiatan jalan kaki dunia yang beranggotakan 15 juta orang dari 27 negara dan berpusat di Fukuoka, Jepang.

Di negara Jepang sendiri, terdapat Japan Walking Association dengan jumlah anggota sekitar dua juta orang. Tulus tergabung sebagai anggota Japan Walking Association berkat kegiatannya merintis West Sumatera Walking Association, satu-satunya organisasi jalan kaki di Indonesia yang sudah diakui oleh International Marching League.

“Saya terkejut waktu itu. Cepat sekali respon mereka terhadap tren wisata jalan kaki ini. Menurut cerita Pak Michael, dia tahu tentang walker association dari duta besar mereka di Jepang. Sebelumnya memang ada forum wisata jalan kaki dunia di Jepang, dan saya adalah satu-satunya anggota yang diundang dari Asia Tenggara. Ketika itu, pimpinan International Marching League memegang bahu saya di depan peserta dan undangan lainnya seraya mengatakan bahwa saya adalah semacam koordinator untuk Asia Tenggara. Rupanya hal itu menarik perhatian Duta Besar Malaysia untuk Jepang yang kebetulan hadir, dan dia langsung memberi laporan pada Menteri,” tutur Ridwan Tulus yang juga adalah Direktur Sumatra and Beyond, satu perusahaan tour operator paling kreatif di Sumatera.

Itulah ikhwal mengapa ia akhirnya diundang Menteri Michael Toyad. Lebih jauh, Sang Menteri juga mengajak Tulus untuk mengadakan kegiatan jalan kaki dunia di negaranya. Mereka sudah siapkan segala-galanya untuk ribuan peserta dari seluruh dunia dan tentu saja sudah membayangkan keuntungan besar yang masuk dari kegiatan akbar itu. Ridwan Tulus sendiri bisa saja menjadi konsultan yang dibayar sangat mahal waktu itu. Tapi dia kemudian sampai pada satu panggilan lain yang tidak bisa digantikan dengan uang.

“Maaf Pak, saya tentu saja mau bekerjasama dengan Bapak, asal acaranya dimulai dulu dari Sumatera Barat,” katanya pada menteri.

Sepulang dari sana, ia berupaya merealisasikan mimpinya, yakni menjadikan Sumatera Barat, tanah kelahirannya, sebagai host kegiatan jalan kaki pertama di Asia Tenggara. Tapi apa lacur, di negeri ini ia hanya menemukan menteri yang sepertinya lebih sibuk dengan urusan senyum sana senyum sini. Setali tiga uang dengan gubernur yang memerintah di daerahnya ketika itu, semua urusan jadi berbelit-belit.

Meski Ridwan Tulus sendiri sudah bersedia menanggung setengah dana yang dibutuhkan untuk acara itu, tapi Pemerintah Propinsi Sumatera Barat terus plintat-plintut dengan anggarannya. Dua kali rencana itu mundur, hingga akhirnya batal sama sekali. Rencana pertama adalah tahun 2002. Tapi kegiatan ini harus batal karena peristiwa Bom Bali. Para peserta jalan kaki dari negara lain ragu-ragu untuk datang. Kemudian, ia mencoba lagi kegiatan serupa pada bulan Maret 2006.

Untuk urusan itu, Tulus pergi ke Jerman pada awal November 2005 mengikuti sidang International Marching League (IML). Di sana ia meyakinkan semua peserta agar Sumbar disepakati sebagai tuan rumah kegiatan wisata jalan kaki dunia tahun 2006. Lobinya sukses. Tapi kemudian justru mentah di negeri sendiri karena komitmen pemerintah yang sulit dipegang.

“Saya sangat malu dengan rekan-rekan asosiasi pejalan kaki, khususnya di Jepang yang sudah mengkonfirmasikan kedatangannya sebanyak dua kali. Entah mau ditaruh di mana lagi mukaku sekarang. Rasanya saya tak punya nyali lagi berkunjung ke Jepang,” keluh Tulus.

Menjadi nasionalis di negeri ini memang sulit. Para pejabat yang memimpin upacara bendera di halaman kantor-kantor pemerintahan adalah orang-orang yang paling tidak bisa dipercaya tentang kesetiaan dan kebangsaan. Intelektualitasnya tumpul. Mereka hanya setia pada kekuasaannya. Tetapi tidak untuk urusan rakyat. “Berurusan dengan para pejabat kita selalu melelahkan. Kontras sekali dengan pejabat tinggi Malaysia yang justru datang meminta kesediaan saya untuk bekerjasama, karena mereka tahu kedatangan ribuan turis asing adalah berkah untuk rakyatnya,” papar Tulus dengan nada masgul.

Ia lahir di Padang, 10 Juni 1969. Lalu menamatkan pendidikan di Akademi Bahasa Asing Padang tanpa menyandang gelar apa-apa. Pada tahun 2001, Tulus diundang UNESCO ke Jepang dalam acara Nine Youth Leader Organizations in Southeast of Asia karena memenangkan kompetisi kegiatan wisata dengan tema “Pulang Kampung Tour”.

Tahun-tahun berikutnya, pemuda yang meledak-ledak ini selalu pergi ke Jepang untuk memberi materi ceramah di hadapan mahasiswa pascasarjana Kyoto University, di samping acara-acara lain yang berkaitan dengan kepemudaan dan turisme. Totalitasnya di bidang tourism dimulai sejak ia merintis Sumatra and Beyond pada tahun 2000 yang salah satu gebrakannya adalah paket wisata jalan kaki, sebuah program yang masih asing di Indonesia.

Ia menjual paket jalan kaki selama lima hari kepada orang-orang Jepang berusia antara 12 sampai 29 tahun. Jalan kaki itu ia rangkai dengan kegiatan membersihkan sampah, aksi sosial, dan program-program charity lainnya. “Mereka bersedia membayar mahal untuk dibuat letih selama di sini. Kadang-kadang saya menyebut program seperti ini sebagai acara balas dendam terhadap orang Jepang…ha…ha…ha…” katanya dengan nada bercanda.

Itulah kegilaan Tulus. Ia tidak menjual hal-hal yang selamanya “indah”, tetapi menjual sebuah experience yang unik. Karena itu, paketnya selalu orisinal dan sulit di-copy paste. Bahkan pernah suatu ketika ia membuat paket wisata “tinggal di panti asuhan” kepada seorang wanita muda Jepang. “Saya selalu jalan-jalan ke Payakumbuh kalau sedang suntuk. Suatu kali pada tahun 2000, tanpa sadar, saya lewat di sebuah rumah panti asuhan. Secara kebetulan, beberapa minggu kemudian, kontak saya di Jepang meminta saya untuk memberikan satu pengalaman yang tidak terlupakan di Sumatera kepada seorang rekan mereka dari UNESCO. Pikiran saya bekerja, dan saya teringat kembali pesantren itu,” sebutnya.

Kegiatan selanjutnya di pesantren tersebut adalah puncak kegilaan Tulus. Pertama sekali, ia menghubungi pimpinan pesantren dan memberi tahu bahwa akan ada tamu dari Jepang yang akan menginap di panti asuhan itu. Pimpinan pesantren tentu saja jadi repot setengah mati mendengar kabar itu. Ia merasa kondisi panti asuhan sangat tidak layak menerima tamu, apalagi dari Jepang. Ia makin bingung ketika Tulus menitipkan pesan agar si tamu tidak boleh diistimewakan dari anak-anak panti asuhan lain.

“Biarkan dia tidur di tempat anak-anak tidur. Jadwal kegiatannya juga harus sama dengan anak-anak. Kalau mereka mencuci piring, dia juga harus mencuci piring. Semua aturan di sini berlaku padanya,” kata Tulus.

Pada hari yang ditentukan, Tulus membawa Miki Azuma (25 tahun) ke panti asuhan, lalu meninggalkannya begitu saja di sana dalam keadaan bingung. Ia sendiri dengan setengah kurang ajar, kembali ke Padang. Seminggu kemudian, Tulus balik ke Payakumbuh untuk menjemput Miki.

Apa yang terjadi?

Sesampai di sana, ia mendapati Miki menangis di depan pintu asrama. “Saya terkejut karena mengira telah terjadi sesuatu yang buruk. Beberapa saat kemudian dia berlari memeluk saya sambil berkata, ‘kamu telah membawa saya ke sini, dan sekarang saya tidak tahu bagaimana caranya meninggalkan mereka di sini’. Alah mak jang, acara perpisahan itu jadi panjang. Anak-anak panti asuhan dan pimpinan asrama menangis. Mereka berangkulan dengan Miki Azuma. Lama sekali. Saya pun harus sabar menunggu lebih lama,” paparnya tentang momen yang sudah memasuki relung-relung spritualitas itu.

Miki meninggalkan rumah panti asuhan setelah bertanya kepada mereka, apa yang bisa dia bantu. “Orang Jepang adalah orang-orang yang mencari keindahan alam, kehangatan pergaulan dan spritualitas. Sepanjang pengetahuan saya, beberapa di antara turis Jepang di Minangkabau akhirnya memeluk agama Islam sebagai hasil interaksi mereka dengan warga dan kebudayaannya. Saya akhirnya berkesimpulan, sebagai tour operator, saya harus pandai menciptakan satu cerita yang diinginkan. Jadi, pekerjaan tour operator itu terkadang sangat mirip dengan sutradara,” ungkap Tulus.

Sepanjang sepak terjangnya, suami dari Lisa Primasari dan bapak dari tiga anak ini memang sering identik dengan ide-ide yang cenderung sinting untuk ukuran paket wisata umum. Ia menciptakan sentuhan personal dan emosional. Suatu paket harus memiliki message agar ia memiliki sesuatu untuk dibawa pulang oleh peserta, dan kalau bisa, tidak bisa mereka lupakan sepanjang hidupnya.

Ridwan Tulus juga menunjukkan bahwa bobot kreativitas dan semangat jauh lebih berharga ketimbang modal besar. Pada tahun 2002, ketika diundang kembali ke Jepang, ia mempromosikan negerinya dengan berjalan kaki sendirian sejauh 400 kilometer dari Fukuoka, Saga, hingga Nagoya. Ia mengusung Merah Putih, dan selalu berbicara tentang keistimewaan Indonesia di tempat-tempat ramai. Di sana ia mendapat sambutan hangat dan dipublikasikan di media massa setempat, seperti NHK dan koran Nagasaki.

Dari interaksinya dengan orang-orang Jepang dan pemuda-pemuda dari Korea Selatan, India, Brasil, dan Thailand, Ridwan Tulus sadar bahwa informasi yang mereka dapat tentang Indonesia minim sekali. Berita yang disiarkan media asing tentang Indonesia umumnya tidak akurat dan selalu negatif.

“Pengetahuan mereka tentang Indonesia dangkal. Sayangnya, pemerintah kita juga tidak melakukan counter issue dan promosi untuk menandingi image negatif di luar sana,” katanya.

Analisis Tulus ini persis seperti hasil penelitian konsultan WTO tentang kondisi pariwisata Sumatera pasca tsunami. Dalam hasil laporannya, lembaga dunia itu menyebutkan bahwa faktor utama turunnya kunjungan ke Sumatera adalah karena informasi yang selalu negatif dan tidak akurat. Bom di Bali, misalnya, bisa memberi dampak yang luas untuk seluruh Indonesia. Atau, konflik di Aceh menyebabkan kunjungan ke Sumatera Barat sepi. Padahal daerah-daerah itu sangat berjauhan. Bahkan lebih jauh ketimbang jarak antara Inggris dengan Jerman.

“Dengan kondisi yang demikian tidak menguntungkan, pemerintah kita pun tidak bisa melakukan stimulasi-stimulasi kunjungan seperti memenuhi jaminan asuransi yang tinggi bagi para turis. Padahal orang Eropa itu adalah masyarakat yang insurance minded. Mereka mengukur tingkat keselamatan mereka dengan asuransi yang bagus. Kalau mereka terbang dengan pesawat domestik kita, asuransi mereka tidak ter-cover. Padahal Malaysia sudah melindungi tamunya dengan asuransi,” ungkapnya.

Ridwan Tulus adalah satu di antara sedikit—mungkin satu-satunya—pengelola paket tur yang tidak mengandalkan kenyamanan akomodasi dan transportasi. Anak-anak SMA dari London ia ajak naik Willys tua melewati kebun-kebun karet dan lumpur, di mana anak-anak itu ia izinkan bergelantungan seperti prajurit nenek moyang mereka di zaman dulu. Anak-anak itu bahagia, berteriak, dan merasa bebas dari segala macam aturan lalu lintas yang ribet di negaranya.

“Kita tak bisa lagi bekerja secara konvensional kalau ingin mengejar ketertinggalan. Dibutuhkan upaya ekstra untuk mengatasi kacau balaunya persoalan kita di bidang akses dan standar pelayanan umum. Saya sendiri lebih percaya untuk menggodok paket-paket yang lebih bersifat khusus dan interaktif ke masyarakat ketimbang bicara tentang standar kenyamanan hotel, transportasi, dan nilai keindahan yang flat. Saya lebih suka menjual experience, karena itulah prinsip dasar industri ini,” kata pengusaha muda yang bekerja tanpa kantor ini.

Dengan pandangan seperti itu, Tulus lebih banyak membawa tamu-tamunya ke tengah-tengah penduduk. Dia menawarkan pengalaman luar biasa menginap di rumah warga, membersihkan kerbau, memandikan gajah, atau melakukan program-program wisata charity yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.

“Dengan cara ini, saya berharap hambatan-hambatan komunikasi antar-warga yang disekat oleh hubungan antar-negara akan berkurang. Masyarakat Eropa dapat melihat sendiri bagaimana sesungguhnya karakter orang Sumatera dan kebudayaannya. Mereka bisa mencintainya, dan cinta itu lebih kuat dari pengaruh travel warning. Bila kita bisa menyajikan pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan di sini, lambat laun mereka akan kehilangan kepercayaan pada pemerintahnya sendiri yang suka bikin travel warning, sebagaimana kita juga kehilangan kepercayaan pada pemerintah kita di sini. Kita tidak bisa mengharapkan pemerintah sekarang melakukan itu karena pemerintahan kita lemah dan tak punya visi,” katanya.

Selain mempromosikan masyarakat dan tradisinya, Ridwan Tulus juga menyukai paket-paket yang berhubungan dengan konservasi lingkungan. “Terus terang, saya juga hidup dari atraksi orang utan. Soalnya, berdasarkan hasil pemeringkatan di Inggris, orang utan masih menduduki peringkat pertama dari atraksi paling digemari di Sumatera. Propinsi Sumatera Utara sebenarnya sangat beruntung memiliki Bukit Lawang. Saya tidak bisa mengerti mengapa pemerintah daerahnya justru membiarkan jalan ke sana dalam kondisi buruk. Rasanya sayang sekali,” ujarnya.  

Ridwan Tulus sudah menyerahkan hampir seluruh hidupnya untuk dunia pariwisata. Jatuh bangun. Suka duka. “Dan yang paling saya sukai dari pekerjaan saya, bahwa kita harus selalu melakukannya dengan tulus,” katanya sambil tersenyum.

(Tikwan Raya Siregar)

 

SHARE
Previous articleEmirsyah Satar
Next article

8 COMMENTS

  1. semoga ke depan akan banyak lagi “Tulus-Tulus berikutnya yang akan memajukan wisata Sumatera Barat yang kaya dengan pesona alamnya”

  2. luar biasa…sangat inspiratif..kapan bang kita bisa shareng di padang bang,berbagi sama2 adik2 kampus atau komunitas pemuda-pemudi sumatera barat bang…tomi firdaus (085274404744)

  3. Luar biasa. Medan cocok untuk wisata kota yang kurang teratur. apalagi untuk pejalan kaki. fasilitas umum seperti jalan khusus untuk pejalan kaki saja masih amburadul. ntar disambar angkot pula

  4. Cerita panjang yang sangat banyak menginspirasi. Ditangan orang orang seperti Bang Tulus, semua keluhan bisa djual menjadi paket wisata yang menarik. Negri kaya kita yang terjerat kemiskinan ditangan para birokratnya membutuhkan lebih banyak kreatifitas model begini. Snagat tertarik ingin belajar dan ikut kampanye dengan jalan kaki mempromosikan Tao TOBA….

  5. Hanya satu kata untuk Bung Tulus… “Amazing” …. di tengah birokrasi Indonesia yang selalu “Lately” tetaplah berkarya Bung Tulus.

LEAVE A REPLY