Romantika Sagu di Desa Bokor

0
1053
Berlari di atas tual sagu.

Teks & foto: Akhmad Junaedi Siregar

Pagi  yang berkabut, 20 Juni 2012. Ibarat kambing hutan menahan lapar, tim Famtrip Disbudpar 2012 mesti terburu-buru mengejar waktu. Dari Pelabuhan Duku, Pekanbaru, speedboat berkapasitas 50 orang meliuk-liuk di permukaan Sungai Siak yang jinak. Ada jejak-jejak riak yang memanjang mirip ular di belakang.

Takut kehilangan momen fotografi di tempat tujuan, perjalanan ini terasa panjang. Bokor Folklore 2012 yang digelar selama tiga hari (20-22 Juni 2012) di Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, adalah tujuan kami. Pesta rakyat itu telah berlangsung sejak pagi tadi, padahal perjalanan ini paling tidak memakan waktu lima jam!

Setiba di Pelabuhan Tanjung Harapan, Selat Panjang, penumpang terbangun dari kantuk yang dalam. Mereka mengemas bawaannya dan bergegas menuju tujuan masing-masing. Ada pengunjung dari Kota Pekanbaru yang sengaja datang menyaksikan pesta rakyat yang menurut lidah Melayu disebut dengan bunyi “bokow” ini.

Di balik gemerlap pesta rakyat yang syarat dengan pagelaran seni dan budaya, sejatinya bokow ini digali dari ruang kehidupan masyarakat zaman dahulu yang mulai pudar. Kecekatan Tengku Rio dari Melayu Deli Medan memainkan biola, mendayunya tembang Ayu Trisna, dan drama berjudul “Prahara dari Kota Bagansiapiapi” boleh dikatakan hanya pelengkap di acara ini.

Sejumlah jenis lomba yang sangat asing di telinga merupakan atraksi utama. Ada lomba lari di atas tual sagu, lomba golek tual sagu, lomba menganyam atap dan tarian mengayak sagu meranti. Melengkapi itu, semua pesta ini dibalut dalam konteks panen raya buah-buahan lokal (pesta buah). Pesta di masa panen adalah tradisi umum masyakat Nusantara untuk mengekspresikan rasa syukur pada Yang Maha Kuasa.

Alam yang terkembang di pesisir, layaknya Desa Bokor, hidup menurut bisikan alam. Mereka membangun kebudayaannya sendiri sesuai pengalaman adaptasi yang mereka lewati. Sekali setahun— mengikuti irama alam— musim tumbuhan berbuah dirayakan secara tradisional. Perayaan inilah yang dinamakan bokow. Istilah itu sendiri mengacu pada nama Desa Bokor di mana pelafalan Melayu yang biasanya tidak memakai konsonan “r” menjadi bokow. Kata bokor pun tidak datang begitu saja. Adalah kerabat Kearajaan Siak yang harus bersembunyi di aliran salah satu sungai di Selat Panjang dari sergapan perompak Selat Malaka yang melahirkan muasal nama ini.

Alkisah, navigasi yang kacau telah membuat rombongan kerajaan menghabiskan waktu yang lama di antara bakau-bakau yang hijau waktu itu. Mereka berada di pinggir sungai antah berantah yang dihuni buaya muara. Di waktu senggang, salah satu anak kerabat kerajaan yang dibawa dimandikan pakai mangkuk (bokor).  Saat memandikan anak kerabat kerajaan, mangkuk jatuh ke dasar sungai dan tidak menemukannya lagi. Setelah usaha berulang kali menyelam mencari mangkuk, pencarian dihentikan daripada mengundang bahaya. Oleh kerajaan, sungai dan daerah itu kemudian dikenal dengan nama Bokor hingga sekarang.

Sayang sekali, pesta buah bokow yang tidak digelar secara tradisional lagi semenjak 17 tahun yang lalu sedikit kurang meriah. Puncak musim berbuah tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga bokow lebih cepat daripada musim buah yang seharusnya dilakukan. Meskipun begitu, durian, rambutan, manggis dan cempedak yang matang sebagai pembuka musim masih lebih dari cukup untuk menjamu 10.000 pengunjung Bokor Folklore 2012 dari Kabupaten Meranti, Pekanbaru, Medan, Jawa, negara tetangga dan daerah lainnya.

Desa Bokor mirip sorga buah tropis. Mereka tidak menanam kelapa sawit seperti tren masa kini. Tanaman komoditas utama adalah karet. Selebihnya buah-buahan dan sagu. Hampir setiap kepala keluarga memiliki kebun buah, paling tidak satu jalur (seperempat hektar). Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, buah tersebut dijual ke pasar. Kebun buah ibarat deposito di bank yang hanya bisa diambil pada saat tertentu. Nah, bila musim buah tiba, maka desa akan terlihat menggeliat. Hasrat terpendam penduduk selama setahun akan dikabulkan di musim buah karena musim ini mirip dengan musim kebebasan finansial sesaat.

Menelisik ke masa lalu, sagu masih jadi makanan pokok orang Bokor. Dengan sagu, mereka menikmati era swasembada sagu. Ketika masa keemasan sagu berakhir, berakhir pulalah kedaulatan pangan mereka sampai kini! Masyarakat Bokor berubah menjadi pemakan beras, tapi mereka tidak memproduksi beras. Sagu yang tumbuh subur di wilayah itu menjamin makanan pokok, tapi oleh propaganda Pemerintah Pusat sagu ini seolah-olah menjadi makanan orang miskin, orang pinggiran, nggak moderen. Akhirnya sagu pun ditinggalkan.

Sagu diolah menjadi mie sagu, sagu ketumbar, rendang sagu dan adonan lain yang berbahan dasar sagu. Waktu itu, makan sagu akan lebih komplit bila ditemani sayur seperti gulai pisang, pucuk ubi, rebung hingga kembali ke pucuk batang sagu.

Sagu dulu lebih bernilai ketimbang sagu sekarang. Pemanenan hingga pengolahannya membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih banyak. Pengangkutan tual (batang) sagu dari hutan ke kampung memiliki tantangan berat. Memindahkan tual sagu dari darat ke sungai bukanlah pekerjaan mudah. Biasanya lima tual sagu sepanjang satu meter di-golek (sorong) di dasar hutan seorang diri. Semakin pandai meng-golek, semakin banyak pula dia mendapatkan sagu. Teknologi meng-golek sagu ini kurang berkembang karena pembelian beras kadung menggantikan perannya.

Tenaga dan keterampilan meng-golek menjadi kunci sukses pemanenan sagu. Kayu penggolek yang didorong mengemudikan satu tual saja. Kemudian empat tual atau lebih di depannya akan mengikut irama dan dorongan tual pertama sepanjang jalur yang telah dibuat dari pelepah sagu sebelumnya. Setelah puluhan tual terkumpul di sungai, mereka menghitungnya dengan berlari di atasnya.

Meskipun makan sagu mulai berkurang di tengah-tengah masyarakat, namun budidaya komoditas sagu masih sangat kental hingga saat ini. Untunglah, belakangan sagu terkomersialisasi menjadi komoditas industrial.Budaya sagu di Kepulauan Meranti sekaligus menghapus memori kita bahwa sagu hanya milik orang Papua atau Siemelue. Pada dasarnya sagu tumbuh sendiri dan dipanen secara berkala sesuai usia panennya. Belakangan karena kebutuhan sagu untuk pabrik meningkat, ekspansi kebun sagu pun meluas. Lahan kepemilikan sagu diukur pakai satuan jalur. Satu hektar terdiri atas empat jalur.

Menanam sagu sama halnya dengan pisang. Panennya dilakukan berulang kali karena abot (anak sagu) akan tumbuh lagi. Batang sagu siap panen setelah berumur delapan tahun, ditandai dengan hadirnya bunga pertama. Tual sagu yang dibeli pabrik memiliki jenjang harga berdasarkan kematangan sagu kandungannya. Satu tual sagu dinilai Rp 40.000 – Rp 50.000 setelah sampai di pabrik. Saat ini sekitar 50-an pabrik yang beroperasi di sekitar Kepulauan Meranti dapat menghasilkan lima ton per hari masing-masing pabrik.

Produk setengah jadi yang banyak diperjualbelikan di ibukota kabupaten Selat Panjang adalah mie sagu. Satu bungkus dihargai Rp 3.000 per bungkus. Selebihnya sagu diproduksi untuk kebutuhan di luar Riau. Kota Cirebon menjadi tujuan utama persinggahan sagu.

Bokor Folklore 2012 yang kali kedua dilakukan mencoba mengenang masa lalu mereka yang masih hidup subsisten. Gelaran yang bertemakan “Menuju Muara Kegemilangan Negeri” menarik senyum dan tawa pengunjung. Gurat wajah mereka, terutama generasi tua yang masih mengingat sisa-sisa masa silam yang manis, menunjukkan kenangan bahagia. Mungkin dulu mereka susah, tapi mereka gembira.

Buah dan kejayaan sagu membuat pengunjung ingin berjaya seperti masa lalu. Sesungguhnya, kata Kyai Sujiwo Tedjo, “masa depan kita ada pada masa lalu…”.

LEAVE A REPLY