Sebastian Hutabarat

6
1719

sebastianSaya terbangun di antara gelap dan terang. Sudut selebar 270 derajat dari tempat tidur saya menyajikan layar kaca tembus pandang, di mana sebuah panggung teater sedang akan disingkapkan selimutnya oleh Sang Sutradara. Lalu, perbukitan itu meremang, bersosok, dan hadir bagaikan Dewa yang siap memberikan sabda. Pinus-pinus dataran tinggi menjadi rangkaian mahkota biru di lereng-lereng hingga puncak Dolok Tolong. Di utara, deretan perbukitan terpotong oleh keremangan ekor Danau Toba yang setengah telanjang sebelum matahari pagi benar-benar duduk di atas horizon dan melucuti semua tabirnya. Ini adalah 24 Februari 2011.

“Cobalah pikir, Lae. Di Bandung, orang-orang telah membangun rumah dengan arsitektur yang sangat maju dan berselera tinggi. Kita di kampung-kampung ini barangkali tidak bisa melampauinya. Tapi sebagus apapun rumah mereka, tak seorang pun di sana yang bisa menandingi spektakulernya halaman rumah saya ini,” ujar Sebastian Hutabarat, Ketua Badan Promosi Pariwisata Toba Samosir yang juga menjadi host saya selama liputan di Balige, seraya merentangkan tangannya sehingga posisi tubuhnya mirip salib kasih di Tarutung.

Tak seorang pun akan membantah pernyataan itu. Rumah Sebastian berdiri di atas lahan seluas kira-kira 500 meter, bekas jurang dan undakan sawah ke mana orang-orang selalu membuang sampah. Ia membelinya dengan murah karena lahan di pinggir tanjakan jalan lintas sumatera selepas satu kilometer dari pusat Kota Balige itu dianggap pemiliknya tak begitu berharga. Hanya alang-alang yang tumbuh di sana, atau gulma-gulma lain yang membikin dongkol petani. Kini di atasnya telah berdiri satu rumah dengan karakter paling kuat di kawasan itu.

Tak sepotong pagar pun memisahkan rumah minimalis-transparan berlantai tiga ini dengan dunia sekitarnya. Kontur tanah yang miring dan melipir dibiarkan apa adanya, dan arsitektur rumahlah yang harus menyesuaikan diri dengan lahan yang tak rata itu. Lantai satu untuk bisnis seni fotografi “Toba Art” dan restoran organik, lantai dua untuk tempat tinggal, dan lantai tiga untuk perpustakaan dan ruang kerja. Dari lantai tertinggi ini, sejauh mata memandang, maka itulah halaman rumah ini. “Bagi saya, rumah tidaklah sesempit garis pagar, tetapi mencakup lingkungan yang lebih luas, tetangga, perbukitan, danau, air, cadas, sawah dan seterusnya. Dengan cara itulah saya merasa sangat kaya, lebih dari siapapun, karena saya memiliki karya Tuhan yang tiada bandingannya,” ungkap ayah dari dua orang putri ini.

Setamat dari Universitas Parahyangan Bandung dengan nilai pas-pasan, Sebastian menjalankan bisnis dekorasi yang sukses di kota kembang itu. Dia mengikuti kompetisi ketat dan keras. No mercy! Kalau kau tidak bisa hidup, maka kau mati. Nyaris tidak ada waktu yang dapat dinikmati untuk menyaksikan karya-karya maha agung dan mengagumi Sang Pencipta dalam hening, karena hening di kota berarti adalah tidur dengan mimpi buruk. Apa yang kau hadapi tiap hari adalah masalah, dan kau harus memecahkannya tanpa pilihan lain. Kau hidup di antara air yang kotor, liar dan ganas. Sampai akhirnya Sebastian sampai ke titik balik hidupnya. Ada sebuah panggilan yang entah darimana datangnya. “Saya lelah, dan memutuskan untuk meninggalkan semua itu. Aku ingin pulang. Pulang ke sebuah pilihan yang sepi dan indah, di mana mata batin saya selama ini tertutupi untuk mempertimbangkannya. Saya tak berusaha lagi melawan panggilan itu, semuanya sudah jelas, karena sepertinya He leads me into the quite water,” papar alumni jurusan teknik sipil ini.

Memulai tinggal di Balige dengan pengalaman kota seperti dirinya tak semudah yang ia bayangkan semula. Rencana bisnisnya hancur. Istrinya yang pianis, Imelda Napitupulu, juga sempat mengalami gegar budaya. Usaha rintisan Sebastian yang ingin memproduksi sopo-sopo khas Batak untuk dijual ke kota tak berjalan lancar seperti perkiraannya. “Hanya satu yang tak pernah pupus, bahwa saya meyakini desa harus menjadi sentra kreatif sebagaimana ciri khasnya di masa lalu,” kata ayah dari dua orang puteri ini.

Sebastian kemudian mundur beberapa langkah dari bisnis seni kreatifnya. Ia setuju menangani sebuah SPBU tua milik orang tuanya di Balige. “Untuk bisa berkarya dalam seni, saya harus membereskan lebih dulu masalah ekonomi keluarga. Oleh sebab itu, saya setuju menangani SPBU yang hidup segan mati tak mau,” katanya.

SPBU itu ia renovasi dengan sentuhan seni dan bisnis. Kalau SPBU lain dibangun dengan dekorasi standar yang seragam, ia membangun minimarket dan restoran dengan gedung yang berbeda. “SPBU pada umumnya menjual minyak, itu biasa. Saya menjual WC yang bersih sebagai prioritas pertama, kemudian minimarket, dan restoran. Menjual minyak adalah konsep terakhir,” ungkapnya.

Demikianlah, seniman itu selalu hidup dalam egonya sendiri. Sebastian, sama saja dengan istrinya, selalu memikirkan hal yang di luar kotak. Ketika mereka memikirkan konsep tanaman organik, maka mereka menanam sayur di sepetak tanah pekarangannya, lalu istrinya—yang dipandang sebagai istri orang kaya di lingkungannya—pergi jualan beberapa ikat sayur organik ke pasar. Istri orang kaya itu pun jadi parengge-rengge. Mula-mula dicakapi orang, mereka dicibir, tapi anjing menggonggong kafilah berlalu.

Sebastian membangun rumahnya dengan memakai energi minimal, tetapi dengan selera arsitekur tinggi. Tidak ada yang tidak fungsional di rumah itu, termasuk limbah rumah tangga mereka sendiri. Limbah itu ditampung pada kolam-kolam pengolahan air sederhana, memakai pasir, ijuk, dan arang, dan limbah cairnya berakhir pada sebuah kolam berisi ikan lele dan mujair yang produktif. Limbah padatnya menjadi pupuk kompos tanaman organik. Sedangkan limbah plastik yang minimal, dikumpulkan secara tersendiri.

Suatu hari, sebatang beringin tua dan besar ditebang orang di pinggir Danau Toba. Sebelum dibakar pemiliknya karena dianggap sampah, ia membeli pohon itu dengan harga murah. Beberapa minggu kemudian, kayu tak berharga itu telah berubah menjadi meja-meja makan yang sangat eksklusif dan bernilai seni tinggi. Gara-gara kayu itu, rampunglah sebuah ruang restoran yang beroperasi mulai tanggal 1 April ini, di mana mereka akan menyajikan makanan-makanan organik dengan menu andalan ikan mujair dan ikan mas segar dari Danau Toba.  Istrinya sendiri akan menjadi chef-nya, meski mereka belum pernah sekalipun belajar tentang memasak. “Di desa kita ini, banyak sekali bahan-bahan yang terbuang sia-sia. Saya ingin memberikan contoh bahwa bahan-bahan itu dapat diubah menjadi barang-barang berharga, asalkan kita kreatif,” katanya.

Menurut Sebastian, tak ada gunanya mengajak orang Batak dengan kata-kata, karena mereka jauh lebih jago berbicara.  Lebih baik diam saja, bikin sesuatu, dan mereka akan senang menirunya. Itulah sebabnya Sebastian melakukan banyak kegilaan untuk ukuran orang Toba. Ia mendirikan “Toba Art” untuk seni fotografi di lantai satu rumahnya sendiri, mengendarai Land Rover tua untuk menikmati  tempat-tempat terpencil Danau Toba, memilih sekolah untuk dua anaknya di sebuah SD swasta kecil yang dijalankan seorang ibu, dan terus menerus memperlihatkan betapa berharganya setiap bahan di sekitar warga, mulai dari tanah yang berjurang, batuan-batuan, kayu-kayu, kerikil, dan seterusnya. Untuk tujuan itu, ia telah mengundang beberapa teman arsitekturnya seperti Krisman Pardede dari Medan dan Hakam dari Yogyakarta.  Ia juga pernah menyelenggarakan kompetisi memasak ikan pora-pora–yang tidak disukai warga Danau Toba–dengan mengundang para chef dan ibu-ibu.

Tapi obsesi terbesar yang sedang dilakoninya sekarang adalah  “menjual” kembali Danau Toba sebagai produk yang bernilai tinggi. “Kalau kerikil saja bisa kita buat jadi benda berharga, coba bayangkan apa yang dapat kita lakukan untuk Danau Toba yang dahsyat ini. Ada pekerjaan besar yang harus dilakukan secara bersama di sini. Sebuah pekerjaan seni berbisnis dan seni kreatif seperti nenek moyang kita dulu merancang ruma, patung-patung, ulos, dan ukiran-ukiran yang rumit serta bernilai tinggi,” ungkap pria kelahiran Balige, 2 Juni 1970.

Saya jadi teringat istilah entrepreneur organik  Faiz Rahman atau intelektual organik Gramsci dalam usaha-usaha mengubah suatu masyarakat. Sebastian adalah tipe yang dimaksudkan kedua penulis itu, yakni seseorang yang menjadi agen perubahan dengan cara membaur di antara masyarakat itu sendiri, sebagai pelaku langsung yang berhadapan dengan risiko pilihan-pilihan yang dibuatnya bersama-sama dengan lingkungan sosialnya.

(Tikwan Raya Siregar)

6 COMMENTS

  1. Thanks Ito Nurlia Sibarani, Mauliate godang tong di Lae Martahan Sitanggang. Godang tabe tu dongan naposo di Bandung. Beberapa bulan Lalu, Key Mangunsong, Imelda, n Dewi Lestari juga mampir ke rumah. Ajak teman teman Naposo nabur ikan di TOBA Lae…

  2. He he he…penulisnya aja yg.hebat mengemasnya…Hal biasa biasa ditangan seorang penulis hebat akan jadi luar biasa…Salam hormat buat Sumatra & beyond n team…

LEAVE A REPLY