Menguji Napas ke Air Terjun Sebatang Kapas

2
889

DSC_0306Kami baru saja terjaga. Pagi sekitar jam empat, tubuhku mulai menggigil menahan dingin. Hamparan hutan diselimuti awan di bawah sana menampakkan wajahnya. Di depan cerukan tempat kami rebah, air terjun Sebatang Kapas setia menyanyi semalaman. Dia adalah air terjun tertinggi di Provinsi Riau. Airnya jatuh dari ketinggian ± 130 meter. Tim kami yang terdiri dari enam orang bermalam di antara tebing dengan air terjun. Sejatinya tebing ini adalah peristirahatan kambing hutan. Kami meminjamnya untuk sementara, lalu membersihkan sebagian kotoran mamalia itu dari sekitar kami.

Menikmati air terjun Sebatang Kapas tergolong kegiatan mahal. Selain akan mengorbankan materi, pengunjung juga mesti menyiapkan ketahanan fisik dan waktu. Kali ini kunjungan ke sana difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau dalam program Famtrip Riau Adventure bersama travel agent dan penulis yang setiap tahun dilaksanakan. Pada 10 Nopember 2014 lalu, rombongan berjumlah 16 orang bergerak dari Kota Lipat Kain, ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, menuju bebukitan tropis yang masih asri, khas tropis dataran tinggi. Suasana di sini kelihatan kontras dengan potret Riau yang panas, berasap dan lahan sawit di atas gambut yang luas.

DSC_0659
Cuaca hari ini cerah. Langit tampak biru dan awan putih bersih. Beberapa menit berjalan, kami menyinggahi garis khatulistiwa. Sebuah tugu penanda khatulistiwa berdiri kokoh tidak jauh dari keramaian Kota Lipat Kain. Kota ini merupakan satu dari empat kota yang disinggahi khatulistiwa di Pulau Sumatera. Propinsi Riau sendiri memiliki dua tugu khatulistiwa, satu lagi berada di Pangkalan Lesung. Di Sumatera Barat juga terdapat dua tugu khatulistiwa, tepatnya di Koto Alam dan Bonjol. Usai berfoto-foto sejenak di koordinat 0º 00’ 00” LU dan 101º 12’13” BT, kami pun pergi ke belahan bumi selatan untuk melanjutkan adventure ini.

Tidak lama meninggalkan kota khatulistiwa itu, empat mobil double cabin yang sudah disiapkan untuk rute ini mulai menemukan jalan yang sesuai dengan tipenya. Destinasi yang kami tuju sebenarnya bisa diakses dari dua arah yang berbeda, yakni dari Lipat Kain dan Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Via Pasaman relatif lebih mudah dan dekat. Juga jalan ekstrimnya lebih pendek, tapi memiliki potongan medan yang lebih sulit.

DSC_0671
Jalur ke Desa Lubuk Bigau.

Perjalanan dari Lipat Kain tidak semudah yang diperkirakan. Hujan semalam telah melembutkan jalan tanah liat itu. Sungai-sungai yang melintasi badan jalan sedikit meninggi. Bubur lumpur beberapa kali menjebak sehingga ban hanya berputar kencang seperti gasing tapi badannya tak bergerak. Meskipun mobil ini masih kondisi baru dengan four wheel, tapi bannya yang standar membuatnya mati kutu. Mobilnya mirip harimau tanpa kuku.

Lima jam berlalu, akhirnya kami sampai ke Desa Lubuk Bigau, desa terdekat ke jalur pendakian. Pak Wali yang sudah berkoordinasi sebelumnya dengan tim sedang tidak di rumah. Beliau sedang keluar ke Pasaman untuk menjalankan tugasnya sebagai lurah. Kami menunggu tanpa kejelasan. Sinyal telepon di desa ini sangat minim dan hanya bisa didapatkan di beberapa titik di ketinggian tertentu. Smartphone atau hape seri yang lebih canggih dipastikan tidak bisa digunakan. HP seri rendah justru lebih mudah menangkap sinyal. Tetangga Pak Wali menyampaikan pesan bahwa lurah akan balik ke desa pukul 11. Itu artinya kami hanya akan menunggu setengah jam karena kami sampai jam 10.30 WIB. Dan ternyata lurah tiba tepat waktu tanpa ada kontak terlebih dahulu.

DSC_0001
Desa Lubuk Bigau.

Pendakian dimulai besoknya. Fisik sudah terlalu capai diaduk-aduk di dalam mobil. Lagipula pendatang mestinya bertegur sapa terlebih dahulu dengan masyarakat lokal. Penduduk di sini sebenarnya lebih dekat dengan budaya, adat-istiadat dan etnis Minangkabau. Mereka memiliki tradisi kesukuan layaknya di Sumatera Barat seperti kesukuan Malayu, Piliong, Mandailiong, Putopang, Caniago, Kampai, Bendang, dan lainnya. Satu kesukuan dianggap satu darah. Oleh karena itu dari kesukuan yang sama tidak dibenarkan untuk menikah.

Hal ini dapat dimaklumi karena sebelum pendudukan Jepang tahun 1942, wilayah Kampar masuk dalam wilayahnya Minangkabau. Pemisahan wilayah ini adalah kepentingan Jepang untuk menguatkan rancangan politis dan pertahanannya. Hingga saat ini pun, kebutuhan penduduk di sini lebih terikat dengan Pasaman ketimbang Lipat Kain. Namun untuk urusan administrasi pemerintahan, tentunya mereka lebih berkiblat ke Kota Lipat Kain.

DSC_0015
Sungai-sungai yang dilewati.

Tanggal 11 Nopember 2014 selepas sarapan, rombongan bertolak menuju puncak di mana air terjun Sebatang Kapas bersembunyi di atas sana. Hiking diperkirakan akan berlangsung selama lima jam dan diinformasikan akan melewati tujuh aliran sungai. Perjalanan pun dimulai. Kami terlebih dahulu diantar dengan sepeda motor sejauh lebih kurang dua kilometer. Desa sedang membangun jalan semen setapak menuju sentral perkebunan karet ke arah air terjun berada.

Sepeda motor di desa ini diperuntukkan mengangkut hasil karet sebagai penghasilan utama. Rata-rata mereka menggunakan Yamaha Vega sebagai transportasi pribadi karena dianggap kuat dan bandel. Meskipun akses menuju kebun sudah mudah, tapi harga getah yang sedang terjun bebas Rp 5.000 per kilogram membuat mereka enggan menjualnya saat ini. Getah direndam sampai berbulan-bulan di sungai sambil menunggu harga membaik.

DSC_0199
Sarang lebah.

Kami melanjutkan jalan kaki selama 2,5 jam untuk sampai ke gua pertama. Di sini rombongan istirahat sejenak dan menenggak minuman penambah stamina. Gua ini adalah tempat peristirahatan wajib bagi pendaki. Di sana terdapat tungku dan sekat daun untuk bermalam. Lokasi ini memenuhi syarat peristirahatan yang baik dalam standar pecinta alam. Kita bisa terlindung dari siraman hujan dan mudah mendapatkan air bersih. Ada shower alami jika mau membersihkan dan menyegarkan tubuh yang lelah.

Perjalanan ke puncak akan memakan waktu yang sama, yakni 2,5 jam lagi. Sebenarnya jaraknya sudah dekat, tapi medannya semakin ketat. Pendakian rata-rata melebihi kemiringan 45 derajat. Biasanya tenaga otot paha pendaki akan terhabiskan di jalur ini. Sebelum menuju puncak, pendaki bisa turun ke sisi kanan untuk merasakan air terjun kembar kira-kira setinggi 30 meter. Lokasi ini cocok dijadikan ajang berenang karena memiliki kolam yang cukup luas. Tapi mesti hati-hati, kedalamannya diperkirakan mencapai empat meter.

DSC_0213
Lebah turun ke tebing mencari makanan sisa dari kemping.

Tak lama, akhirnya rombongan bisa merasakan deburan air terjun Sebatang Kapas. Hujan yang baru saja turun menambah debit air sehingga tumpahannya semakin besar. Kami tidak dapat terlalu lama di jatuhan air. Tubuh yang kehabisan tenaga mesti dipulihkan. Kami naik lagi ke atas, tepat di antara bagian tengah tebing dan ketinggian air terjun, dimana terdapat tempat peristirahatan paling nyaman di daerah ini.

Pakaian yang basah kuyup kami jemur di ranting pohon beringin yang sedang berbuah. Di sini suasananya justru kering dan tidak terjilat tempias. Tepat di depan, air terjun menghujam ke bawah. Beberapa potong kayu dibakar untuk memasak nasi. Kemudian kami menyapu sedikit daun-daun dan kotoran kambing hutan yang berserakan di tanah.

Kami telah sampai di tebing raksasa yang berbentuk segitiga. Enam dari 18 orang yang sampai ke puncak memutuskan menghabiskan malamnya di sini. Yang lainnya kembali ke desa setelah mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan dengan matang.

Tebing itu condong dan mengalirkan air Sebatang Kapas dari puncak. Sepintas tebing ini berpotensi runtuh atau menggelinding ke bawah. Bekas jatuhan reruntuhan batuan telah ada di bawah sana. Semoga tidak ada yang terjadi malam ini.

DSC_0123
Jumlah air terjun di kawasan ini di perkirakan sampai tujuh buah pada musim hujan. Ketika musim kemarau, yang ada hanya 2-4 buah saja, bergantung debit air.

Kami tidak boleh memasak sesuatu beraroma kuat. Tepat di atas tebing-tebing, lebah sedang bersarang. Satwa penghasil madu itu biasanya akan mendatangi sumber aroma dan menyerbunya. Mungkin saja lebah itu menganggapnya makanan yang enak. “Preman” (panggilan untuk anak muda di sana) yang sekaligus pemandu lokal, pernah mengalaminya. Ketika mereka memanaskan ikan kaleng, mereka tunggang langgang dikejar segerombolan lebah. Penduduk sendiri tidak memanen lebah di tebing ini karena pertimbangan risiko terjatuh. Mereka lebih memilih mengambil madu dari pohon-pohon sialang (tualang), yakni jenis pohon simbiosis utama sarang lebah. Kabupaten Kampar sendiri mendapat julukan bumi sarimadu. Lebah-lebah di sini memberikan jawaban bagi kami kenapa julukan itu diberikan.

DSC_0275
Bermalam di celah tebing sebenarnya adalah strategi kami. Hanya dengan cara inilah kita bisa merasakan nuansa alam lebih lama. Lagi pula para “preman” sebelumnya sudah menunjukkan gambar suasana sunrise dari ponselnya. Seandainya mereka menggunakan kamera yang memadai dan sedikit memiliki pengetahuan teknik menjepret, fotonya pasti akan spektakuler. Kami akhirnya tidur lebih cepat. Sepiring nasi dengan lauk ikan kaleng disiram kuah mie instan cukup menidurkan kami. Tidak perlu menggunakan obat tidur yang biasa dipakai pecinta alam yang kesulitan tidur, yakni sirup komix dan antimo.

Pukul empat dini hari kami pun terjaga dan menghadapkan lensa ke arah timur. Hamparan hutan di depan diselimuti embun yang kedinginan. Embun menghalangi matahari muda yang sedang terbit. Kami tidak mendapati momen yang sudah membayang di pikiran sebelumnya. Tapi itu tidak masalah besar karena pastinya adalah rencana Tuhan. Matahari naik sepenggalah, kami juga sedang siap-siap turun. Di air terjun kembar, kami singgah dan mandi. Di sinilah otot-otot yang mengeras itu direlaksasi kembali.

DSC_0131
Kotoran kambing hutan di tebing air terjun.

Usai pamit sama saudara baru dari kampung, kami bergegas pulang ke Pekanbaru via Pasaman. Rutenya lebih ekstrim ketimbang Lipat Kain. Ada satu tanjakan yang membuat kami harus memanggil tim off road dari Pasaman. Jalur Pasaman sampai ke Lipat Kain ternyata adalah jalur favorit off road dari Kota Pasaman. Kami terjebak selama 15 jam sampai harus menghidupkan trangia di tengah jalan. Akhirnya kami sampai ke Pekanbaru dengan waktu tempuh 18 jam yang semestinya hanya lima jam perjalanan.

Adventure ke air terjun Sebatang Kapas menguras banyak materi, tenaga dan waktu. Apakah Anda merasa tertantang sebagai pengunjung minat khusus? Air terjun di Kabupaten Kampar ini adalah tantangan yang layak bagi Anda.

DSC_0323
Pemandangan ke bawah saat pagi.

(Teks dan foto oleh Akhmad Junaedi Siregar)

 

 

 

 

SHARE
Previous articleMadu, Kepercayaan dan Kebesaran Tuhan
Next article

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY