Sesabar para Kawula

0
260

Mari membicarakan kesabaran. Ini tema yang sulit. Tapi kalau kita sedang berdiri di gerbang masuk Pasar Beringharjo pada hari libur, mungkin urusan ini lebih mudah.

Ahad, 21 Januari 2017. Masih hujan seperti ramalan cuaca. Tapi los-los di Pasar Beringharjo sudah meriah. Melihat samudera batik, orang-orang Sumatera kalap.

Kerajinan Yogya dihasilkan dari kesabaran dan ketelitian. Isi dompet orang Sumatera berasal dari keringat yang diperas kebun sawit dan karet. Di pasar rakyat ini, kesabaran dan keringat itu dipertukarkan.

Begitulah pergulatan berlangsung sampai masing-masing letih dan lapar, sebelum mereka mencari gudeg dan pecal. Matahari kian meninggi, tapi gagal menampakkan diri. Mendung terlalu putih hingga menyembunyikan puncak Merapi. Gerbang pasar tersumbat orang-orang yang gentar pada air. Mereka menunggu, berbalik, dan berbelanja lagi. Para penjual tas batik tenteng panen kali ini.

Hujan memberikan pekerjaan pada pemberi jasa payung. Segera saja seorang lelaki mencabut kaki payung lapaknya yang lebar, lalu menawarkannya pada orang-orang yang terjebak di pintu pasar.

Seorang tukang becak sejak sejam lalu berdiri di tempiasan, hanya berlindung di bawah naungan selembar caping dari anyaman bambu. Berkali-kali ia menawarkan becak, tapi belum seorang pun yang tertarik. Semakin lama suaranya makin ke dalam. Hingga sejam kemudian, ia masih dalam posisi yang serupa: tanpa penumpang. Kita mungkin bertanya, apakah ia akan mendapatkan seorang penumpang hari ini di bawah curahan hujan?

Seorang Nenek bungkuk membuka bakulnya di emperan. Di atas bakul itu terlihat beberapa potong kue basah. Kalaupun seseorang memborong semua, harganya mungkin tak sampai Rp 30.000 saja. Berapakah pendapatan yang diharapkannya seharian ini? Dari 2 jam lalu, hanya seorang pengamen kumal yang duduk memakan rotinya. 

Di kawasan ini hiduplah lapisan-lapisan yang rumit. Para pengrajin menciptakan pasar. Para pemilik uang memborongnya. Para pengamen, penarik becak, penjaja jasa payung, dan penjaja tas belanjaan mendapat cipratan. Lapisan ini membeli beberapa potong kue jualan mbok bakul.

Semua bertahan dalam kesabaran. Mereka membuat dirinya makin tidak penting dan terlihat. Suara mereka masuk kembali ke dalam kerongkongan, ditelan, supaya tidak terlalu kedengaran. Karena hidup makin sempit, mereka membuat dirinya mengecil agar tetap bisa bernapas di lorong-lorong.

Mereka sabar ketika becak dayungnya digulung oleh transportasi online yang dikemudikan para pendatang yang bahkan tidak tahu di mana letak alun-alun. Mereka sabar ketika kampus untuk anak-anak mereka dikuasai anak-anak kost dari pulau lain. Mereka sabar ketika Merapi merobohkan tiang gubuk mereka.

Orang-orang sabar ini seperti air. Semakin tertekan, jumlah mereka membanjir di jalanan dan lapangan-lapangan terbuka, menawarkan ceker ayam, jeroan, gudeg, getuk, tiwul, gatot, dan jarik murah.

Bila tidak ada kerjaan, mereka jadi artis. Seniman batu, seniman kain perca, seniman ranting kayu, atau seniman besi butut. Kesabaran mereka melahirkan detail. Semakin ditekan semakin rumit. Detail dan kerumitan itu menjelma di atas batik, ukiran kayu, dan pahatan batu.

Inilah kawula. Orang-orang Yogya yang membikin rindu.

LEAVE A REPLY