Si Jim yang Hilang

0
229

Kisah berikutnya adalah tentang Jim Thompson. Sebuah cerita yang mirip dengan Jacobus Nienhuys di Tanah Deli (baca: http://sumatrabeyond.com/tentang-keboen-dan-lahirnya-sebuah-kota-dari-daun-tembakau/). Kalau Nienhuys datang sebagai petualang Belanda yang memicu industri perkebunan tembakau deli ke level dunia, maka Jim Thompson adalah petualang Amerika yang menemukan tradisi pembuatan kain sutra di Thailand dan membawa tradisi rumahan ini ke skala produksi yang lebih massif dan mengangkatnya ke level perdagangan antar benua.

Nama lengkapnya, James H.W. Thompson. Perusahaannya yang cukup terkenal di perdagangan dunia adalah Jim Thompson Thai Silk Company. Pencapaiannya selama 25 tahun bermukim di wilayah Thailand dan kontribusinya terhadap perkembangan industri kain sutra telah membuatnya menerima penghargaan “Order of the White Elephant” dari Kerajaan Thailand, sebuah penghargaan terbaik yang diberikan kepada orang asing karena jasa mereka yang luar biasa terhadap kerajaan. Kisah Jim Thompson ini telah dikenal sebagai salah satu kisah sukses petualang kulit putih di Asia setelah berakhirnya era Perang Dunia.

jim-tembokDi tengah kesuksesannya, pada tahun 1967, Jim Thompson pergi berlibur bersama teman-temannya ke dataran tinggi Cameron di Malaysia, sebuah lokasi sejuk dimana orang-orang kulit putih membangun rumah peristirahatan seumpama kawasan Puncak di Jawa Barat. Di sana ia berjalan-jalan keliling hutan, dan tidak pernah kembali sesudahnya. Ia menghilang begitu saja!

Tidak ada yang mengetahui persis apa yang telah terjadi. Ia hilang bagai ditelan kabut. Kalau ia mati, mengapa tidak ditemukan jasadnya. Kalau ia dirampok, tidak ada harta yang hilang darinya. Kalau ia terkena serangan jantung, siapa tabib yang merawatnya? Apakah ia dimakan hewan buas? Tidak ada yang berani memastikan.

Sejak menghilangnya Jim, koleksi berbagai macam benda budaya yang ia kumpulkan dari seluruh bagian negeri Thailand sejak kurun 1950-an hingga 1960-an menjadi objek kunjungan turis-turis mancanegara. Ia sudah dikenal sebagai kolektor fanatik benda-benda seni dan relijius di Asia Tenggara. Ia mengumpulkan arca-arca Buddha dan benda-benda budaya masyarakat dari Thailand, Burma, Kamboja dan Laos.

jim-kehijauanPada tahun 1958 ia membangun rumah baru untuk tempat tinggal dan tempat memajang koleksinya. Pembangunan itu selesai dalam satu tahun. Saat ini, rumah itu teridentifikasi beralamat di Bangkok, 6 Soi Kasemsan 2, Jalan Rama 1, Distrik Pathumwan. Dikelola oleh Yayasan The James H. W. Thompson, rumah Jim kini berada di bawah perlindungan Puteri Maha Chakri Sirindhorn.

Sayang sekali! Tidak diperkenankan mengambil foto-foto “harta karunnya” di dalam ruang-ruang koleksi utama…

Tapi begitupun, mari kita teruskan kisah Jim yang malang.

Sepak terjang bisnis sutra si petualang ini terang saja telah menarik perhatian Raja. Ia dianggap berhasil memicu peningkatan pendapatan domestik, sehingga kerajaan bisa menarik bea yang lebih besar dari industri ini. Pergaulannya yang baik dengan Istana dan perkembangan usaha sutranya yang pesat membuat Jim semakin banyak hilir mudik di Indochina dan kawasan Tanah Melayu. Ia berhubungan dengan banyak orang penting, membuat perjanjian dagang, menggairahkan perindustrian, dan mengapresiasi ragam kebudayaan dan tradisi di Asia Tenggara dan China. Dia adalah pedagang sekaligus petualang yang bergairah.

Pemandu dan pengunjung.
Pemandu dan pengunjung.
Ruang tamu.
Ruang tamu.

jim-koleksi tulisan bergambarjim-gambarjim-gambar2jim-gambar3jim-gambar4jim-gambar5jim-gambar6Sejak itu rumahnya di Bangkok diwarisi oleh seorang keponakannya. Ia sendiri tidak memiliki keturunan. Namun kemudian, sang keponakan pun menyerahkan legasi itu ke Kerajaan Thailand agar dibuat sebagai warisan negara, dengan tetap mencantumkan nama pemilik aslinya: Jim Thompson.

Jim Thompson membangun enam unit rumah panggung dengan arsitektur dan dekorasi tradisional. Keenam rumah ini kemudian didisain sebagai suatu komplek pribadi dengan masing-masing fungsi bangunan yang spesifik. Karena seleranya yang unik, komplek itu kini menjadi salah satu oase peninggalan “kampung lama” di tengah perubahan wajah Bangkok yang sangat cepat. Arsitektur rumah tua dengan material yang ekologis, pekarangan luas, botani taman yang umumnya menjadi tanaman wajib warga di masa lalu, serta teknik pasak pada tiang-tiang bangunan membuat Jim Thompson House seolah-olah mampu memperlambat waktu.

jim-atraksi pintal
Atraksi memintal benang sutra.

Rumah Jim dapat dicapai setelah memasuki sebuah gang sempit yang buntu. Kami tiba di depan sebuah tembok merah tanah bertuliskan “Jim Thompson House Museum”. Memasuki gerbang, suasana Bangkok yang panas langsung berubah ke dalam iklim mikro yang sejuk. Bayangan pepohonan nyaris menutupi seluruh permukaan tanah. Para pengunjung yang kebanyakan Eropa dan Jepang berkeliaran di halaman. Mereka masuk ke dalam rumah utama secara berkelompok-kelompok untuk mendapatkan penjelasan dari para pemandu dalam Bahasa Inggris.

Untuk memperkuat atraksi rumah ini, pengelola menampilkan pertunjukan tari tradisional serta atraksi pemintalan benang sutra secara langsung di halaman rumah. Sedangkan di salah satu bagian bawah rumah panggung, disediakan restoran bagi yang ingin makan, minum dan bersantai. Pada bagian lain, terdapat art centre dan pusat suvenir. Kolam yang gemericik karena limpahan air dan gerakan ikan menambah kesejukan komplek ini. Semua itu berada di bawah keteduhan tanaman-tanaman tropis yang berdiri kokoh, melilit, merambat, menjalar dan yang mekar.

Tidak ada orang Malaysia atau orang Indonesia yang kami temukan di sini sebagaimana kami selalu menemukan mereka dengan mudah di mall-mall dan pasar malam. Suasananya juga damai dan dipengaruhi oleh orang-orang yang selalu haus pengetahuan sejarah dan budaya. Mereka berusaha memahami apa yang mereka lihat, yang bagi orang Asia pada umumnya barangkali sudah dianggap biasa—kecuali bagi Bangsa Jepang.

jim-botanijim-botani2jim-patungApa sebenarnya “harta karun” yang tersimpan di rumah Jim Thompson? Baiklah, kami akan masuk sebentar lagi ke dalam. Seorang pemandu sudah mengajak kami berkumpul. Ada sekitar 10 orang, kami digabungkan dengan sekelompok Eropa yang sudah senior-senior. Diberikan sedikit briefing dan sejarah kehidupan Jim Thompson, si pemandu wanita kemudian mengajak kami masuk ke rumah utama dimana Jim Thompson pernah tinggal. Rumah panggung besar ini memiliki beberapa bagian ruangan dengan jendela-jendela lebar, menghadap ke berbagai sudut taman. Barang-barang koleksi tua mulai kami temukan di setiap kamar, baik berbentuk keramik, salinan, gambar, ukiran maupun seni patung. Porselen-porselen tua dengan penjelasan asal muasal benda membuat rumah ini tak ubahnya museum kebudayaan. Pada sebuah meja makan, pemandu menjelaskan bagaimana seperangkat poci dimanfaatkan dengan teknik pemanasan air dan penyajian teh secara terbalik. Ketika para pengunjung menyadari betapa masyarakat Asia dulunya telah menggunakan hukum-hukum fisika, teori bejana, dan sifat-sifat air dalam mendukung kehidupan sehari-hari, mereka langsung bergumam-gumam dan sebagian berseru: “Wow, genius, genius!”

Mungkin, selama ini mereka mengira bahwa bangsa merekalah yang memahami sains dan teknologi, padahal orang Asia bukan hanya memahaminya, tapi sudah menggunakan teori-teori itu dalam kehidupan sehari-hari, hingga ke dapur dan meja makannya sejak lebih dari 500 tahun lampau. Kini mereka perlu menyadari bahwa Eropa masih terhitung pendatang baru dalam hal sains dan teknologi.

Secara tak sengaja, saya menemukan peta tua dalam satu ruangan rumah itu. Peta itu menunjukkan Asia Tenggara, dimana Pulau Sumatra adalah salah satunya. Saya tertarik dengan peta ini karena ternyata mereka memiliki sebutan-sebutan yang berbeda dan unik pada wilayah-wilayah Sumatra yang kita kenal di peta moderen sekarang. Ini memberikan informasi yang amat berharga tentang cara pandang mereka dahulu terhadap pulau ini, dan apa pentingnya pulau ini dalam kedudukan ekonomi dan politiknya di Asia. Tak pelak lagi, saya membeli kopiannya seharga 120 baht.

***

Kami tak bisa berlama-lama lagi. Bang Erwin yang memfasilitasi perjalanan ini sudah memberikan kode. Masih ada beberapa hal yang mau ia tunjukkan kepada kami. Salah satunya adalah Bangkok Islamic Centre. “Saya sedang merintis paket baru, namanya Bangkok-Pattaya Moslem Tour,” katanya.

Untuk paket itu, ia sedang mengumpulkan informasi untuk mendapatkan beberapa infrastruktur pendukung, di antaranya mesjid, rute makanan halal, dan hotel yang bertema syariah. Dan ternyata semua itu tersedia di Bangkok, meskipun harus mempelajarinya terlebih dahulu.

“Hampir semua pengunjung Muslim mengeluhkan sulitnya makanan halal di sini. Kesulitan itu akan kita atasi dengan Moslem Tour ini. Paket ini adalah tantangan yang menarik bagi kami karena salah satu standar dari paket kami adalah private tour. Kami tidak menggabung-gabungkan secara sembarangan customer yang memiliki latar belakang berbeda dan kepentingan berbeda. Kelompok yang berasal dari berlainan negara digabung ke dalam satu grup, tidak ada dalam pelayanan kami. Jadi, sifatnya cukup privat, sehingga para customer merasa nyaman. Demikian juga bagi mereka yang memiliki kepentingan khusus karena perbedaan ibadah dan aturan dalam agama, kita menyediakan paket spesifik seperti Moslem Tour ini,” jelas Erwin.

Demikianlah kami meninggalkan Jim Thompson yang legendaris itu. Moslem Tour di Bangkok akan menjadi kisah seterusnya…

LEAVE A REPLY