Sigale-gale dan Jiwa-jiwa yang Ditumbalkan

0
1231
Foto: tobatabo.com
Foto: tobatabo.com

Tersebutlah seorang raja yang sangat kaya di Tanah Batak. Namanya Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Manggale. Malang nian nasib Manggale, ia kesulitan mendapat jodoh. Setiap perempuan yang disukainya selalu menolaknya menjadi suami.

Suatu ketika, sang raja mengirim anaknya berperang dalam rangka meluaskan wilayah kekuasaan (versi lain menyebutkan dalam rangka mempertahankan wilayahnya dari serangan musuh). Anak itu ternyata mangkat pula di medan perang. Untuk mengenang anaknya, sang raja memesan sebuah patung dibuatkan mirip anaknya. Patung itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga hidup seperti manusia.

Setelah selesai, sang raja memesan agar patung tersebut ditempatkan agak jauh dari rumah, yakni di sopo balian. Pada saat upacara kematian anaknya, patung itu dijemput untuk menari di samping jenazah untuk menghibur kerinduannya pada anaknya. Patung tersebut kemudian dinamainya Sigale-gale.

Pertunjukan Sigale-gale awalnya hanya diadakan untuk menghibur seorang raja yang kehilangan keturunan. Tapi kemudian, kebiasaan raja itu diperluas kepada setiap orang yang tidak punya keturunan. Orang yang memesan patung Sigale-gale untuk alasan itu disebut dengan papurpur sapata (menaburkan janji). Ketika kematian sudah tak terelakkan, Sigale-gale dengan tariannya menjadi semacam pengobat impian yang pernah kandas bagi orang-orang yang tidak lagi mempunyai keturunan sampai pada upacara kematiannya.

Tapi ada versi lain tentang cerita Sigale-gale. Konon, seorang dukun bernama Datu Partaoar, ingin sekali mempunyai anak. Suatu ketika dia menemukan sebuah patung cantik di tengah hutan, persis seperti seorang gadis yang tubuhnya terlilit kain dan beranting-anting. Dia kemudian membawa gadis itu setelah mengubahnya dari patung menjadi manusia.

Istrinya yang juga berharap-harap selama ini untuk mempunyai keturunan memberi nama gadis itu dengan nama Nai Manggale. Dia menjadi gadis yang disenangi penduduk karena kelembutannya. Dia menikah dengan Datu Partiktik. Namun seperti ibunya, ia tidak dapat melahirkan keturunan secara biologis. Dia pun berkata kepada suaminya agar memesan pematung untuk membuatkan sebuah patung yang akan menari di samping jenazahnya kelak. Patung tersebut dinamai Sigale-gale.

Berdasarkan versi itulah kiranya tarian Sigale-gale pernah ditemukan dengan pasangan laki-laki dan perempuan. Sigale-gale secara etimologis dapat berarti “yang lemah gemulai”. Demikianlah sebenarnya kesan melihat tarian boneka Sigale-gale. Kadang ia ditampilkan sepasang. Entah mereka kembar. Yang laki-laki namanya si Manggale dan yang perempuan bernama Nai Manggale.

***

Membuat Sigale-gale yang “hidup” tidaklah gampang. Ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat boneka Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada boneka kayu buatannya itu agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Tak heran bila kini boneka Sigale-gale sudah jarang ditemukan.

Untunglah sampai hari ini Sigale-gale belum punah sama sekali. Masih ada beberapa sisa patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang. Di Samosir, sekelompok orang masih menampilkan Si Gale-gale untuk pertunjukan wisata. Kabarnya ada empat lokasi yang dapat mempertontonkannya di sana, meski orientasinya sudah komersil. Dua di antaranya adalah tempat wisata Tomok dan Museum Hutabolon Simanindo. Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan Sigale-gale dengan tarif tertentu. Pengunjung yang ingin menontonnya pun tidak dibatasi dari jumlah dan usia. Terkadang dua tiga orang yang tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan musikal gondang Batak dan delapan sampai sepuluh penari pengiringnya.

Rombongan anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika melebihi satu jam. Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering menggunakan rekaman kaset audio (playback).

Suasana pertunjukan tarian boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. Bayangkan, sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisonal Batak. Semua gerak motorik yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia. Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari.

Padahal semua gerakan itu hanya terjadi di atas peti mati, tempat disimpannya boneka Sigale-gale seperti drakula yang bersembunyi dari matahari.

Gerakan-gerakan itu dikendalikan oleh dua atau tiga orang dalang di belakang boneka. Mereka terhubung dengan boneka melalui jalur-jalur tali secara anatomis. Dulu, Sigale-gale sempat dimainkan hanya oleh satu orang dalang. Dan dalang itu, selain terampil, mestilah sakti.

Dalang terakhir yang terkenal adalah Raja Gayus Rumahorbo dari Kampung Garoga, Tomok. Beliau pernah tampil pada festival Sigale-gale di Pematang Siantar (Simalungun) pada tahun 1930-an. Malahan, kabarnya Sigale-gale yang dimainkannya waktu itu adalah hasil buatannya sendiri. Bahkan, Raja Gayus dikenal mampu membuat Sigale-gale mengeluarkan airmata dan punya kemampuan mengusapkan ulos (kain tenunan Batak) yang disandangkan sebelumnya di bahu sang boneka kayu ke air mata itu.

Airmata yang keluar tentu saja air yang mengalir dari bagian kepala Sigale-gale yang dilubangi. Namun bagaimana teknis mengeluarkannya masih sulit dibayangkan, karena biasanya diisi dengan kain lap basah atau wadah kecil yang muat di bagian yang berlubang itu. Pewaris Raja Gayus Rumahorbo mengatakan, Sigale-gale yang dimainkan pada festival itu kini berada di Belanda. Satu boneka lagi, masih menurut pewarisnya, terdapat di Jakarta. Memang Museum Nasional di bagian khusus kebudayaan Batak pernah diinformasikan menyimpan patung Sigale-gale.

Rayani Sriwidodo Lubis yang melahirkan sebuah buku berjudul Sigale-gale (PT Dunia Pustaka Jaya, 1982) diperkirakan mendapat inspirasi setelah melihat patung yang ada di museum itu.

***

Kisah pembuatan patung Sigale-gale masih lestari di Kampung Garoga. Kampung ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Tomok, dan naik ke arah kiri yang dibentengi pegunungan Samosir. Gunung di sekitar kawasan itu dikenal dengan nama Naboratan, yang dapat berarti “sangat berat”. Ada satu air terjun, yang dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sampuran Simangande. Air terjun yang konon menyimpan batu-batuan aneh dan posisi gunung seperti tembok yang sangat tinggi itu sempat menambahi kesan lebih jauh tentang kampung yang dikenal masih menyimpan patung Sigale-gale itu.

Ternyata suasana alam yang melatarbelakangi Kampung Garoga sama sekali tidak ada kaitannya dengan munculnya patung Sigale-gale. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan patung Sigale-gale, seperti kayu dan upacara tertentu, tidak ditemukan di sana. Kampung Garoga juga tak bisa dipastikan sebagai setting cerita Sigale-gale. Kampung ini hanyalah salah satu kampung di antara kampung-kampung lainnya seperti Siallagan atau Ambarita. Jadi, agak sulit memahami mengapa kisah Sigale-gale justru bermula dari kampung ini.

Informasi tentang sebuah patung Sigale-gale pernah muncul dari sekitar Silimbat Porsea. Hari itu, di teras sebuah rumah yang berarsitek moderen, kami diperlihatkan pada dua unit Sigale-gale yang sudah berumur 30 dan 70 tahun. Salah seorang keturunan Raja Gayus menyambut kedatangan kami dengan tuak dan natinombur (ikan panggang dengan racikan sambal khas Batak). Beberapa orang pemusik sudah siap-siap di posisi belakang Sigale-gale dengan instrumen lengkap. Sekitar setengah jam mereka memainkan sejumlah repertoar musik yang konteksnya tidak jauh dari kategori musik ritual Batak.

Biasanya ada tujuh macam cara musikal yang dilakukan dalam ritual Batak. Namun selesai pertunjukan, kami lebih terfokus membicarakan seputar Sigale-gale sendiri. Terkait dengan pembuatannya, patung Sigale-gale diliputi oleh cerita yang mistis dan seram. Bila seseorang sudah bersedia membuat patung Sigale-gale, berarti ia sudah pasti menjadi tumbal. Setelah menyelesaikan sebuah patung, si pembuat akan segera meninggal. Mungkin kepercayaan ini pulalah yang membuat patung Sigale-gale menjadi eksklusif dan tidak pernah dibuat banyak-banyak.

Berdasarkan kejadian-kejadian itu, proses pembuat Sigale-gale kemudian dirubah menjadi lebih dari satu orang. Ada yang khusus mengerjakan pembuatan tangan, tungkai kaki, bagian badan, dan kepala. Mungkin secara bersamaan, tali-tali dan kerandanya yang berukiran Batak juga diselesaikan. Dengan demikian, seorang pembuat si Gale-gale mungkin dapat menghindari kutukan kematian yang mengerikan itu.

Memperhatikan dua Sigale-gale di Silimbat Porsea, secara teknis, jumlah tali-tali pada setiap patung mempunyai tali penarik 17 ruas. Dulu tali-tali tersebut katanya sama sekali tidak ada. Gerakan patung berlangsung hanya dengan kekuatan gaib yang dimiliki dalangnya. Patung yang dihidupkan demi kekuatan gaib dalam tradisi Batak disebut dengan gana-ganaan dan dia dapat menyerupai totem. Seorang pembuat patung Sigale-gale dulunya dikenal dengan sebutan Datu Panggana, karena proses pembuatan patungnya didorong oleh suatu kekuatan gaib juga.

Bahan yang digunakan untuk patung Sigale-gale adalah sejenis pohon bernama ingul dan pohon nangka. Pohon nangka khusus digunakan untuk bagian tangan dan kepala. Sedangkan pohon ingul untuk bagian badan dan kaki. Kayu ini termasuk jenis kayu yang bermutu dan sering digunakan untuk membuat perahu. Tidak ada makna simbolis dengan pilihan atas kedua kayu itu. Tapi kedua bahan itu telah memungkinkan patung Sigale-gale bisa awet hingga ratusan tahun.

Demikianlah Sigale-gale pernah ada di tengah masyarakat Batak.

 

(Thompson HS)

LEAVE A REPLY