Sosiologi Gadget dan Dunia Zombie

2
951
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.
Tikwan Raya Siregar, Chief Editor.

Bila Anda adalah mahasiswa angkatan 1994 dan meninggal sebelum tamat kuliah, maka inilah yang akan terjadi bila Anda dihidupkan kembali pada tahun 2013. Di tangan Anda ada pager yang tidak ada lagi operatornya, dan Anda takjub menyaksikan orang-orang di sekeliling Anda berbicara, menangis dan tertawa tanpa melihat siapa-siapa. Sebagian lainnya sibuk dengan telunjuk yang dengan lincah mengusap-usap layar selebar telapak tangan. Di depan layar itu, mereka juga menunjukkan ekspresi yang gila karena bercanda dengan sebidang monitor yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Ketika Anda berada lebih dekat di tengah-tengah mereka, maka terdengarlah topik-topik yang sangat asing dan tidak dapat Anda mengerti. Mereka membicarakan fesbuk, instagram, google plus, twitter, tumblr, blog, dan sebagainya. Mereka menganggap Anda sudah mengerti, dan kalaupun tidak, maka Anda harus mengerti. Ini sudah menjadi dunia mereka, dan mereka tidak bisa memahami kalau itu bukan dunia Anda. Mereka hidup di dalam fesbuk dan twitter-twitter itu, dan mereka membangun masyarakat di sana. Bila ingin berinteraksi dengan mereka, maka dunia itu harus Anda tembus, atau Anda akan hidup dalam dunia yang lain.

Anda yang masih melakukan perkawanan dari sebuah kunjungan dan percakapan tentang berbagai hal dengan manusia yang sebenarnya, mungkin akan bengong melihat bagaimana seseorang mengirim pesan lewat twit atau status kepada istrinya yang berdiri hanya beberapa meter di dapur, lalu mereka membicarakan sayur apa yang akan mereka masak hari ini sehingga seluruh dunia tahu. Bukan sayurnya yang penting, tetapi bahwa mereka sedang membicarakan sayur dan sejumlah orang lain menanggapi, itulah yang terpenting.

Anda benar-benar merasa tersesat dan ketinggalan matahari. Tapi itu belum cerita seluruhnya. Di suatu pertemuan yang ganjil di mana semua orang saling memegang gadget dan kurang mendengarkan pembicaraan satu sama lain, mereka membicarakan follower dan like. Jadi, kalau dahulu para nabi memiliki pengikut, kini setiap orang juga sedang bekerja keras membangun umat. Semakin banyak pengikut Anda, semakin tinggi kualitas account Anda. Seseorang boleh tak punya seorang teman pun di RT-nya, dan mungkin juga sangat dibenci oleh seluruh tetangganya, tapi yang bersangkutan bisa saja punya ribuan follower di dunia sana. Karena kebutuhan terhadap follower ini, seseorang akhirnya membuat mesin pencari follower. Dengan mesin itu, mereka akan dimudahkan untuk mengundang pengikut dengan satu klik saja.

Anda mungkin belum mengerti hal ini sepenuhnya. Bukan hanya perihal follower, pada kasus lain ada juga orang-orang yang menaikkan “status sosial”-nya dengan akumulasi “disukai” (liked). Untuk disukai, maka Anda akan meminta seseorang menyukai Anda. Tak perlu ada alasan mengapa mereka menyukai Anda. Tapi cukuplah klik tombol “like” dan apalah susahnya. Agar orang yang mengklik “like” pada account Anda itu semakin banyak, ada juga mesin pengundang (invite) yang didisain untuk keperluan itu.

Naaaah, untuk dapat mengakses semua kebutuhan ini, maka mereka memerlukan gadget-gadget yang mendukung (support) aplikasi-aplikasi yang terbaru. Dan Anda akan mendengar nama-nama Android, IOS, BBM, WeChat, dan seterusnya. Sekali kita membeli satu gadget keluaran baru dengan harga mahal,  enam bulan kemudian ia sudah ketinggalan zaman ketika utangnya barangkali belum tertutupi dengan cicilan kartu kredit. Anda harus berjuang kembali mendapatkan gadget model terbaru dengan aplikasi yang baru pula, atau Anda akan ditinggalkan oleh dunia ini. Begitulah, kita akan terseok-seok terus di belakang kemajuan teknologi gadget ini.

Tapi bukan soal gadget-nya saja. Setiap anggota umat socmed masih harus menanggung biaya bulanan berlangganan jasa penggunaan data untuk keperluan upload atau download. Ini adalah urusan tersendiri pula. Mungkin inilah pengganti nasi di dunia socmed. Semua ini secara jelas dan nyata semakin menciptakan ketergantungan pada korporasi-korporasi penyedia layanan tersebut. Mereka semakin menguasai hidup masyarakat.

Meskipun umat socmed ini merasa membangun kekuasaan dan prestise antara satu sama lain di tengah-tengah layar monitor gadget mereka, membangun citra atau saling menjatuhkan, bertengkar, dan bernafsu ingin saling memenangkan argumentasi, namun sesungguhnya mereka semakin dalam tenggelam dalam cengkeraman adi kuasa korporasi yang mendisain dan menciptakan dunia baru ini.

Sebagai angkatan 1994 yang lebih banyak membicarakan reformasi hingga tengah malam bersama teman-teman Anda di kedai kopi atau kost yang lembab dan muram, situasi ini mungkin seperti dunia khayalan yang diciptakan bagi Anda. Mungkin Anda tidak bisa menjadi salah satu di antara khayalan ini dan takut hidup di tengah-tengahnya. Di sini Anda tidak menemukan tirani yang dapat dilawan. Tidak ada rencana aksi dan tujuan. Anda tidak tahu caranya untuk hidup dalam kematian yang aneh ini. Semua telah terbunuh ke dalam byte-byte, dan diseret-seret teknologi yang tidak menjanjikan surga atau apapun juga.

Waktu terus berjalan menepati janji. Tiba-tiba Anda merindukan kuburan Anda lagi. Lalu memilih mati di dalamnya daripada hidup di atas kematian global ini. Anda menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mereka menyebut “Tuhan telah mati” bersama Nietszhe, tetapi mereka semualah yang tak bernyawa lagi. Jadi zombie.

(Tikwan Raya Siregar)

 

 

2 COMMENTS

  1. Ada yang rumit dalam hal ini. Teknologi untuk memudahkan, juga berimbas untuk menyulitkan. Satu diantaranya: menyulitkan individu berinteraksi langsung dengan sesama di sebelahnya. 🙂

LEAVE A REPLY