Sumpah Darah Ayam Samsu dari Tio Chew

1
1260
Salah seorang kuli warga China dibunuh dengan bayonet (foto sejarah/ilustrasi).
Salah seorang kuli warga China dibunuh dengan bayonet (foto sejarah/ilustrasi).

Mereka telah mengucapkan sumpah setia. Lima pemuda itu memotong seekor ayam, mencampurkan darahnya ke dalam gelas arak, lalu meminumnya bersama-sama. Kini mereka sehidup semati sebagai saudara dalam “Sumpah Darah Ayam Samsu”. Dan kelak, kelimanya memang mati bersama di tiang gantungan Belanda. Inilah kisah heroik nan harum di tengah etnis China di Tanah Deli, khususnya yang berasal dari Desa Tio Chew.

***

Kendaraan yang berseliweran di atas aspal ruas jalan raya Medan-Lubukpakam menyumbangkan debu dan asap yang menyesakkan dada. Di sekitar KM 21, bangunan vihara kecil yang baru dipugar berdiri cerah di sebelah kanan jalan dari arah Medan. Pada bagian atas rumah ibadah yang dikelilingi kuburan etnis China itu, terangkai huruf-huruf berbunyi “Vihara Pekong Lima”. Dulunya, bangunan ini masih milik Kong Hu Cu, tapi sekarang sudah bertransformasi ke Buddha, meskipun penyebutan “pekong”-nya masih dipertahankan.

Sepintas, orang mengira bangunan ini tak lebih dari rumah ibadah biasa bagi umat Buddha. Namun di balik dinding depannya yang sederhana, vihara ini menyimpan sebuah kisah tentang keberanian dan kesetiakawanan lima pemuda China yang berasal dari Desa Tio Chew, Provinsi  Guang Dong, China. Mereka gugur demi membela kehormatan dan kesetiakawanan yang dicederai oleh perlakuan semena-mena Belanda di Tanah Deli.

Kisah klasik tentang kelima pemuda itu mengantarkan kami kepada seorang tokoh Tionghoa Medan, Ardjan Leo. Ia masih menyimpan rapi seluruh kisah sejarah Tionghoa Medan, bukan dalam sebuah buku atau dokumen, melainkan di dalam memori otaknya sendiri. Melalui penuturan Ardjan, kisah yang telah melegenda turun temurun di tengah masyarakat China Medan ini pun mengalir seperti air.

***

Alkisah, sekitar tahun 1903 hingga 1905, Belanda melalui VOC melakukan pembukaan lahan besar-besaran untuk kepentingan perkebunan tembakau, sawit, dan tanaman industri lain di Indonesia, termasuk kawasan Tanah Deli dan sekitarnya. Untuk mewujudkan proyek tersebut, diperlukan banyak tenaga kerja. Pihak Belanda pun mulai memutar otak untuk mencari pekerja-pekerja dari luar, karena Tanah Deli saat itu masih berupa pemukiman yang sunyi dan penuh belantara liar.

Salah satu pilihan Belanda adalah mendatangkan pekerja-pekerja dari daratan Tiongkok, Jawa, dan sedikit pekerja dari Tanah Hindustan. Pekerja-pekerja ini akhirnya dikenal dengan istilah koeli kontrak.

Ratusan ribu orang asal Jawa dan China direkrut dengan cara-cara keji alias penuh tipuan oleh agen-agen pencari kerja. Setelah termakan bujukan, mereka dijadikan kuli di perkebunan tembakau yang dikuasai kapitalis Belanda dan Eropa. Para koeli kontrak umumnya dijanjikan tentang sebuah “tanah emas” di mana mereka akan menemukan pohon yang berdaun uang.

Tapi sesampai di Tanah Deli, mereka tidak menemukan pohon berdaun uang. Para kuli malah menemui orang-orang berduit yang memberikan mereka penderitaan yang pedih. Di tengah kerja keras yang penuh pelanggaran kemanusiaan, ada tuan-tuan kebun dan raja-raja pribumi yang hidup bermewah-mewah tanpa peduli darah, keringat dan air mata pekerja.

Status sebagai kuli (pekerja kasar) ternyata hanya nama semata. Sehari-hari, para pekerja itu diperlakukan layaknya seperti budak. Mereka dipukul, ditendang, dicambuk, dihantam rotan dan balok, hingga kemudian dijebloskan ke penjara kalau dianggap melawan. Semua kuli kontrak bekerja keras di bawah pengawasan mandor yang diangkat pihak Belanda atau kapitalis perkebunan. Hal ini benar-benar membuat sebagian besar pekerja merasa tertindas. Saat itu, tak satu pun yang mempunyai daya atau keberanian untuk bertindak karena hukum telah didisain untuk selalu berpihak pada kaum kapitalis.

Di tengah suasana yang sulit dan penuh ketakutan itu, tersebutlah 5 orang pemuda Tionghoa yang berasal dari Kampung  Tio Chew, Provinsi Guang Dong, China. Mereka adalah Tan Pe Yak, Gouw Thow Seng, Hi Sam Ti, Yeo Kwi Lim, dan Gouw Ge Kang.

Karena merasa menemukan banyak kecocokan dalam diri mereka, serta menyadari asal desa yang sama, kelima pemuda ini pun membentuk ikatan solidaritas di tanah rantau. Mereka sepakat membuat sumpah sehidup semati dengan tata cara yang terkenal di China, yaitu memotong seekor ayam, lalu mencampurkan darahnya ke dalam gelas arak dan meminumnya bersama-sama. Upacara atau sumpah ini biasa disebut “Sumpah Darah Ayam Samsu”. Sejak saat itu, rasa persaudaraan mereka semakin mengental.

Suatu hari, salah seorang dari mereka dipukuli oleh mandor di maskapai tempat ia bekerja, tanpa alasan yang jelas. Karena kejadian itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di kalangan kuli kontrak, ia pun berusaha melupakan kejadian itu dan tidak memberitahukannya pada kawannya yang lain. Namun keesokan harinya, kejadian yang sama terulang kembali. Begitu juga hari-hari selanjutnya. Entah sentimen pribadi atau hal lain, ritual penganiayaan itu terus berulang, sehingga si pemuda tak tahan lagi dan menceritakannya pada keempat sahabatnya.

Ternyata, teman-temannya yang berjumlah empat orang tersebut juga pernah mengalami hal yang sama, dan dilakukan oleh mandor yang sama pula. Mereka akhirnya sepakat untuk bertindak, meskipun tahu akibat yang akan diterima. Maklum, saat itu tak ada satu orang pun yang berani berurusan dengan tuan tanah ataupun mandor-mandor Belanda. Tetapi mereka berlima telah berjanji untuk melawan dan menanggung risikonya bersama-sama.

Pada suatu hari, mereka menunggu si mandor Belanda. Saat mandor pengawas itu muncul, salah seorang pemuda yang paling sering disiksa, segera memukulnya. Tidak hanya memukul sekali, ia terus menghajarnya seperti orang kesetanan. Dari ayunan pukulannya yang kalap, terbayang penderitaannya selama ini di tangan si mandor Belanda itu. Keempat temannya yang memegangi si mandor, hanya bisa menyaksikan kejadian itu tanpa mampu berbuat apa-apa, meski hal itu sudah di luar rencana semula. Pada dasarnya, mereka pun merasakan sakit dan kekecewaan yang sama. Si mandor akhirnya tewas. Tak lama kemudian, kelima orang pemuda dari Tio Chew ini ditangkap.

Ikatan sumpah dan rasa kesetiakawanan yang telah mendarah daging membuat mereka tetap satu suara dalam pemeriksaan polisi. Kelima pemuda ini bersikukuh mengaku bahwa mereka berlimalah yang melakukan pembunuhan. Padahal, pihak Belanda hanya menginginkan satu pelaku saja. Akhirnya kelimanya dihukum mati dengan cara digantung. Mereka tewas bersama di bawah sumpah persaudaraannya. Mereka menepati janjinya.

Setelah dihukum, jenazah kelima pemuda itu diambil oleh kawan-kawannya dan dikuburkan/dikremasi di sekitar Petisah (sekarang Plaza Medan Fair). Saat itu, Kota Medan masih bernama Kesawan.

Peristiwa perlawanan kelima sahabat ini kontan saja beredar cepat dan luas di kalangan kuli kontrak. Dikisahkan turun temurun. Lama-lama menjadi legenda. Sebagian orang mengatakan, peristiwanya terjadi pada masa kekejaman Jepang, tetapi sebagian lagi mengatakan pada masa kekuasaan Belanda. Bagi kalangan sosial yang hidup dalam kehidupan ekonomi rendah, kisah ini memberikan mereka figur pahlawan dari kalangan mereka sendiri, tidak penting kapan terjadinya.

Karena dinilai memiliki keberanian dan kesetiakawanan melawan penindasan kaum penjajah sebagai “musuh bersama”, masyarakat China Medan pun berbondong-bondong datang mengunjungi tempat disemayamkannya kelima sahabat ini. Mereka melakukan sembahyang bersama di sana.

Kehidupan buruh di perkebunan-perkebunan Deli memang tidak secerah reputasi tembakau deli di pasaran Eropa. Kemelaratan kuli yang bekerja dalam perkebunan merupakan bagian yang seringkali diangkat guna memberikan pandangan mengenai kekejaman sistem Poenale Sanctie yang diterapkan kepada kuli kontrak. Kehidupan yang serba melarat itu diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu tingkat upah yang rendah, fasilitas perumahan dan kesehatan yang minim, dan kekerasan terhadap para pekerja.

Dalam konteks itu, tindakan pemuda Tio Chew bersaudara telah dianggap sangat patriotis, dan sedikit banyak turut memicu tindakan perlawanan kuli terhadap perlakuan semena-mena Belanda. Anthony Reid (1987: 84) menuliskan adanya penyerangan-penyerangan fisik terhadap asisten kebun Belanda oleh buruh di Sumatra Timur.

Dipindahkan

Pada tahun 1972, untuk kepentingan pembangunan Kota Medan, seluruh kuburan di areal Petisah dipindahkan atas perintah walikota.

“Waktu itu, kawasan Petisah dan sekitarnya baru akan dikembangkan, sehingga seluruh kuburan di situ harus dipindahkan, termasuk Vihara Pekong Lima yang masih bernama Klenteng Pekong Lima. Saat itu, seorang tokoh Tionghoa di Medan yang berjiwa sosial bernama Kwek Kui Hong (Pengusaha PT Asahan Rubber), dengan dana pribadinya berinisiatif mencarikan lahan dan memindahkan Vihara Pekong Lima ke daerah Tanjungmorawa. Itulah sebabnya kenapa pekong itu kini berada di sana,” tutur Ardjan Leo.

Ardjan Leo, tokoh intelektual masyarakat Tionghoa Medan.
Ardjan Leo, tokoh intelektual masyarakat Tionghoa Medan.

Di masa lalu, hampir 90% dari seluruh orang Tionghoa yang ada di Indonesia berasal dari Provinsi Guang Dong dan Fu Jian. Hingga saat ini, di Kota Medan, terdapat banyak perkumpulan dari orang-orang yang berasal dari berbagai daerah atau desa dari kedua provinsi tersebut. Salah satu yayasan yang dibentuk oleh masyarakat Desa Tio Chew di Medan menjadi badan yang mengurus perawatan dan pelestarian Vihara Pekong Lima di Gang Pendidikan, Jalan Raya Lubuk Pakam-Medan itu.

Waktu berlalu, Vihara Pekong Lima masih terus dikunjungi oleh warga China Tionghoa Medan dan sekitarnya. Khusus pada perayaan Cheng Beng, tempat ini dipenuhi oleh khalayak yang memanjatkan doa dan memohon lindungan dari Tuhan untuk keselamatan keluarga serta keberhasilan usaha mereka, sesuai tata cara dalam Buddha.

Pada saat-saat tertentu, aroma hio yang terbakar memenuhi vihara itu. Melayang ke atas, diiringi doa kepada arwah kelima pemberani dari Tio Chew. Kisah mereka akan senantiasa menjadi tauladan dan panduan bagi kaum etnis Tionghoa Medan dan sekitarnya. Kisah pedih tentang bagaimana mempertahankan martabat, kesetiakawanan, dan harga diri. Meskipun prinsip itu kadang-kadang harus dibayar dengan cara yang mahal, termasuk jiwa.

(Insum/Ekky Siwabessy/Tikwan Raya Siregar)

 

SHARE
Previous articleAyo Makan!
Next articleCicak dan Orang Batak

1 COMMENT

LEAVE A REPLY