Susi Pudjiastuti

4
5177
Susi Pudjiastuti (foto: submit-id.com)
Susi Pudjiastuti (foto: submit-id.com)

Kalau saja tahun 1983 Susi tidak memilih drop out dari SMA Negeri 1 Yogyakarta, maka hari ini belum tentu kita bertemu sosok perempuan tangguh yang dipercaya menjadi dosen tamu bagi beberapa universtas terkemuka untuk S2, pemilik salah satu pabrik ekspor lobster ter-efisien di Indonesia, pemilik tunggal maskapai penerbangan Susi Air, dan yang paling di luar dugaan adalah, terpilih menjadi salah satu anggota Kabinet Kerja pimpinan Joko Widodo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Jika ia melanjutkan studinya tempo itu, bisa jadi Susi akan berakhir sebagai salah satu dari jutaan PNS di Indonesia, atau seorang istri biasa dari suami yang biasa-biasa pula. Maka sekarang patutlah kita mencatat, seorang tamatan SMP pun bisa menjadi seorang menteri bila ia punya kemauan yang tinggi seperti Susi.

Ini adalah cerita tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang tidak biasa. Susi adalah simbol dari perempuan yang punya mobilitas dan semangat hidup di luar tradisi. Hijrah dari profesi yang satu ke profesi yang lain, tempat yang satu ke tempat yang lain, dan fase hidup yang satu ke fase yang lain dengan kekerasan hati dan tekad yang tinggi. Dia tangguh. Tapi dia juga punya kecantikan yang berbeda. Karena ia cantik dan keras, kami menyebutnya sebagai kupu-kupu baja.

Susi harus melewati berbagai fase terjal dalam hidupnya sebelum mendapat pencerahan. Poin pentingnya, wanita—yang seringkali berkepala batu—ini selalu yakin dengan keputusan yang dibuatnya. Katakanlah saat ia memutuskan menjadi bakul ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) Pangandaran segera setelah ia drop out dari SMA kelas 2 , atau saat ia menceraikan dua suaminya yang warga lokal dan warga Swiss. Tidak ada keragu-raguan dalam intonasi suaranya. “Saya adalah tipikal orang yang lebih mengedepankan rasio dibanding emosi. Semua ada analisisnya,” ujar ibu dari tiga anak ini.

Barangkali pesona macam inilah yang telah membuat Christian von Strombeck—suami dan salah satu pilotnya sekarang—bertekuk lutut, mengabdikan hidupnya untuk Susi. Dengan menjadi bakul ikan di usia 18 tahun, rupa-rupanya Tuhan sedang mempersiapkan satu skenario besar buat Susi. Sebagaimana diakuinya, TPI adalah tempat bisnis paling fair. “Di TPI, siapa yang menawar paling baik, maka ia yang menang. Saya menyukai kompetisi bisnis yang fair,” tegas perempaun yang menyukai cerutu kuba dan telah mentato betis kanannya ini dengan gambar yang ia sukai.

Sebagai pebisnis yang tangguh, visioner dan suka bicara blak-blakan, Susi kerap tak disukai pengusaha pria. Saat Susi Air miliknya merambah rute-rute pendek di Sumatera dan Papua, beberapa pimpinan operator penerbangan lain merasa gerah. Konon mereka sempat kasak-kusuk ke menteri perhubungan, minta Susi Air dicekal. “Saya tidak ambil pusing dengan mereka. Toh saya tidak minta subsidi. Kami berkompetisi secara fair,” kata Susi seolah siap diajak perang.

Alih-alih menarik 3 Cessna Grand Caravan-nya ke hangar, perempuan yang pernah mengemudi truk besar ini malah siap-siap menambah 7 Cessna lain untuk memperkuat armada yang sudah ada. Obsesinya adalah, mendaratkan caravan-nya di semua pulau Indonesia. Apakah Susi “melewati” batas?

Sayangnya, Susi tidak membatasi dirinya. Bagi Susi, tidak ada tabu dalam bercita-cita, meskipun itu membuat gusar orang lain. “Saya terbiasa dihujat orang. Dulu saat saya memutuskan DO dari SMA, memulai bisnis dari nol, dan dua kali cerai, keluarga dan tetangga ramai-ramai mencerca saya. Kini, pandangan mereka berubah. Mereka malah menjadikan saya sebagai panutan,” ucap Susi sambil tertawa berderai. “Hukum hidup ini jelas. Kalau kita sukses, banyak orang akan mendekati kita,” sambung perempuan kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965, ini.

Meskipun sangat menikmati ambisinya, tapi Susi ternyata memiliki cita-cita untuk pensiun dini di umur 45 tahun. “Kalau sudah pensiun, saya akan menetap di New York, minum wine di pub-pub paling enak di sana, mendengarkan jazz, nonton opera sesering mungkin, dan menghisap cerutu bersama teman-teman,” urainya di lain kesempatan.

Tampaknya kehidupan ini bagi Susi adalah pencarian abadi. Jalan ke surga tidak harus ditempuh dengan mengikuti pengajian atau naik haji. “Saya tidak shalat. Tapi saya menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk membangun mesjid-mesjid. Saya belum tertarik naik haji. Suatu hari, jika saya merasa tua, saya mungkin memilih menjadi penjaga mesjid. Saya bahkan sudah membangun kamar khusus di mesjid Pangandaran kampung saya,” ujarnya.

Ada yang paradoks dalam karakter Susi. Dalam kompetisi bisnis, ia adalah perempuan yang siap bertarung dengan siapa saja. Di sisi lain, terhadap para karyawannya, ia terkesan tidak berjarak. Dia memang mematok standar kerja yang keras. Mereka harus kerja dengan aturannya, atau keluar sama sekali. Tapi saat hari gajian tiba, Susi biasa mentraktir semua stafnya bersenang-senang di kafe atau pub. “Biasanya saya membawa mereka ke Hard Rock Café jika transaksi bagus. Di sana mereka boleh bergila-gilaan semaunya,” terang Susi.

Jiwa yang menghargai kebersamaan dan kesetaraan ini mungkin adalah imbas dari kegemaran Susi melahap karya-karya Kahlil Gibran dan Jean Paul Sartre di waktu luangnya. Namun Susi punya kebiasaan buruk juga. Percaya bahwa merokok tak akan membuatnya mati muda, hingga kini ia masih meneruskan hobi menghisap rokok dan cerutu. Untuk hobi yang satu ini ia memang keukeh, meski ditentang habis-habisan oleh anak-anaknya.

“Anak-anak protes kalau melihat saya merokok. They said, Mommy, you will die soon if you don’t stop smoking, that’s bad habit. Tapi itulah gunanya saya sekolahkan mereka di British International School Jakarta, agar mereka terbiasa kritis dan berpikir merdeka,” komentar Susi bangga.

Pengalaman sekolah anak-anaknya agaknya terasa kontras jika dibandingkan dengan pengalamannya sendiri. Menurut Susi, konsep pendidikan Indonesia lemah dan tidak jelas sasarannya. Terlalu banyak item pelajaran yang tidak perlu dibahas. Hal ini juga yang mendorongnya memilih DO dari sekolah. “Saya bosan dijejali berbagai pelajaran yang tidak masuk akal. Pelajaran P4 dan sejarah contohnya. Betul-betul nonsense!” katanya sebal.

Banyak hal yang masih nonsense di Indonesia. Setidaknya demikianlah anggapan Susi. Kondisi ini sering membuatnya jengkel. Berkali-kali ia terpancing bicara tentang realitas politik di Indonesia. Diskusi tentang politik membuatnya tampak bergairah. Apalagi pergaulan Susi juga cukup dekat dengan para politisi di Jakarta. Ia memang mencoba mengambil jarak dengan urusan politik, walau nyata sekali—menurut kami—perempuan yang tidak suka dandan ini sebenarnya sedang berusaha keras menekan rasa ketertarikannya. “Saya tidak ingin jadi politisi. Saya merasa lebih merdeka dengan menjadi pengusaha,” katanya diplomatis.

Pagi 28 November 2006, Cessna Grand Caravan terbang setinggi 1.500 kaki melalui langit Danau Toba. Sepanjang perjalanan, pesawat mungil itu bermanuver ringan di antara awan strato commulus dan celah punggung Bukit Barisan yang ranau. Satu jam kemudian, Susi memulai “ritual” kaum perempuan. Staf lelakinya menyodorkan satu kotak perhiasan. Susi menerimanya dengan enggan. “Apa saya harus dandan?” katanya.

“Perempuan ya mesti dandan, biar cantik,” jawab stafnya dalam dialek Jawa yang mengkal. Sepertinya Susi selalu mengulangi pertanyaan yang sama setiap kali dipaksa dandan, oleh stafnya sendiri.

Susi lantas memakai seperangkat kalung dan anting mas putih. Ia juga mengoleskan lipstick warna maroon ke bibirnya. “Saya paling benci kalau harus tampil formal kayak gini. Terlalu banyak buang waktu,” katanya mengomel sambil membuang sisa puntung rokoknya. Dia memang akan menjadi tamu pada sebuah acara resmi begitu pesawat landing nanti.

Dan penderitaannya tentu akan semakin bertambah setiap hari sejak hari ini hingga seterusnya. Sebab, dengan bersedia menjadi seorang menteri, ia akan wajib berurusan dengan hal-hal formal yang dibencinya selama ini. Kita tinggal menunggu, apakah jabatan penting itu akan mengubah Susi, ataukah Susi yang akan mengubah citra jabatan itu. Apakah ia akan menjadi menteri pertama yang bertato ataukah ia akan menyembunyikan tato di betisnya selamanya?

 

(Wirastuti)

SHARE
Previous articleTentang Keboen dan Lahirnya sebuah Kota dari Daun Tembakau
Next articleWesly Hutagalung
Menamatkan studi dari STIK Pembangunan Medan, Wirastuti kemudian menekuni kegiatan kepenulisan, baik dalam bidang riset dan praktisi kewartawanan. Ia juga melibatkan diri dalam kegiatan industri pariwisata dan tetap menulis di sela-sela kesibukan bisnis dan ibu rumah tangga. Kesukaannya melakukan perjalanan didorong rasa ingin tahu yang kuat pada kebudayaan dan lingkungan yang berbeda. Wiras menaruh minat pada filsafat dan cara hidup tiap bangsa, dan senang belajar dari kebijaksanaan mereka. Laporan-laporan perjalanan yang ia tulis mencerminkan empatinya pada hal-hal baru yang ditemukannya.

4 COMMENTS

  1. beliau sekarang adalah menteri perikanan dan kelautan dan saya yakin beliau profesional. urusan bad habit-nya itu ya semoga tidak menganggu kinerjanya sebagai menteri. dan saya harap kita sebagai warga negara dapat mendukung dan membantu serta ada rasa bertanggung jawab terhadap kinerja pemerintah yang dirasa baik yang menguntungkan bangsa dan negara.

  2. Jika ia melanjutkan studinya tempo itu, bisa jadi Susi akan berakhir sebagai salah satu dari jutaan PNS di Indonesia, atau seorang istri biasa dari suami yang biasa-biasa pula. Maka sekarang patutlah kita mencatat, seorang tamatan SMP pun bisa menjadi seorang menteri bila ia punya kemauan yang tinggi seperti Susi.

LEAVE A REPLY