Taxus sumatrana, Ikon Botani di Taman Simalem Resort

0
497

Pengalaman kali ini sungguh istimewa. Menginap di bagian yang paling privat di antara kompleks pariwisata terpadu Taman Simalem Resort, Tanah Karo, Sumatera Utara, yang berbasis lingkungan alam dan pertanian. Namanya Taxus Villa. Ssst…tarif normalnya Rp 4 juta lebih per malam (satu villa dua kamar).

Lokasi villa ini terletak di pinggir sungai yang mengalir dari hutan lindung. Di sana sepasang air terjun alami menjadi bagian yang menyatu dengan pekarangan villa. Aliran air yang dipecah oleh bebatuan menimbulkan percikan berkabut dan gelembung-gelembung yang memperkaya oksigen di sekelilingnya. Seseorang dengan gembira akan menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembangkan paru-parunya sembari berkata, “Akh, persetan dengan semua masalah, inilah nikmat Tuhan yang sesungguhnya!”

Suara aliran sungai yang dipertegas oleh gemerisik air terjun menciptakan mosaik yang membuat pikiran menjadi jinak dan mengantuk. Pohon-pohon liar yang sengaja dibiarkan sebagai peneduh di lokasi ini—sebagian tampaknya sudah berusia ratusan tahun—menjadi pilar-pilar yang hidup. Buahnya dijadikan santapan bagi sepasang siamang yang dengan lincah bergelayut dari satu dahan ke dahan lain. Bila sore telah tiba, mereka menghilang kembali ke pelukan hutan.

Taman terbuka di bagian depan Taxus Villa.
Taman terbuka di bagian depan Taxus Villa.

Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung harus terlebih dahulu reservasi di bagian resepsionis. Setelah itu, mereka boleh memilih berjalan kaki ke dalam lokasi atau menggunakan buggy car yang disediakan untuk mempermudah tamu. Tapi sebaiknya titipkanlah barang-barang Anda kepada petugas, dan jangan sia-siakan nikmatnya berjalan kaki melewati hutan kecil yang segar, meniti dua jembatan indah yang telah dibangun untuk memotong badan sungai yang berkelok-kelok itu.

Kompleks villa ini agak terpisah dari kawasan lainnya di Taman Simalem Resort. Bila tamu biasanya menginap di hotel yang berhadapan langsung dengan panorama Danau Toba, maka villa ini tersembunyi pada lekukan lembah kecil di perut hutan. Seseorang tidak akan bisa melihatnya dari kawasan umum, kecuali mengunjunginya secara khusus.

Udara yang bersih dan melegakan, lingkungan yang hijau dan iklim yang sejuk, tubuh yang rasanya kembali segar dan bugar, serta “sungai yang mengalir di bawahnya”, membuat saya teringat pada petikan ayat dan hadist, yaitu janji Allah tentang balasan surga kepada manusia yang beriman dan beramal saleh, yang tidak berbuat kerusakan di atas bumi. Tentu saja lokasi villa ini tak bisa dibandingkan dengan surga, tapi keindahan dan kedamaian yang dipancarkannya membuat kita diingatkan kembali pada kebesaran Sang Pencipta.

***

Pak Tamin, pemilik dan pengelola resort, mengundang kami ke tempat ini berkaitan dengan penemuannya mengenai spesies pohon cemara sumatera (Taxus sumatrana) yang sangat langka. Seorang kawannya, dokter asal Jepang,pernah berkunjung ke lokasi ini, dan ia sangat terpesona begitu melihat sebatang pohon cemara sumatera tumbuh di pinggir sungai. Menurut perkiraannya, pohon itu telah berusia 100 tahun lebih. Dalam penjelajahan mereka selanjutnya di sekitar lokasi, ditemukan lagi beberapa batang pohon yang sama, meskipun jumlahnya tidak sampai 20 individu.

Cemara sumatera (Taxus sumatrana) dalam silsilah sains diidentifikasi pertama sekali secara ilmiah di Pulau Sumatera. Nilai endemisitasnya sangat tinggi karena hanya ditemukan di beberapa daerah tertentu. Hingga sekarang, jenis cemara ini baru ditemukan di Sumatera Utara, Jambi, Sulawesi dan Filipina.

Pohon ini menjadi penting karena dipercayai sebagai satu-satunya jenis pohon yang memproduksi O2 selama 24 jam. Konon oksigen yang diproduksi oleh Taxus sumatrana ini bersifat ionic sehingga mudah diserap tubuh. Orang yang bernapas di sekitarnya bisa beruntung karena akan lebih terjaga kemudaannya. Kemampuannya memproduksi oksigen dalam jumlah yang banyak membuat iklim mikro di sekitar pohon ini selalu lebih sejuk. Di samping itu, Taxus sumatrana merupakan pohon penghasil taxane, yaitu zat aktif yang berkhasiat menyembuhkan penyakit kanker.

Taxus sumatrana yang tumbuh di pinggir sungai.
Taxus sumatrana yang tumbuh di pinggir sungai.

Namun fungsi dan khasiatnya setara dengan tingginya kesulitan untuk mengembangbiakkan pohon ini. Taxus sumatrana menuntut perlakuan khusus. Perbanyakan bibitnya cukup bermasalah karena sulitnya mendapatkan benih. Salah satu teknik yang memungkinkan adalah dengan cara stek. Itu pun tidak mudah. Berdasarkan usaha pembibitan stek yang dilakukan oleh divisi nursery Taman Simalem Resort, tingkat kegagalannya sangat tinggi. Bahkan, beberapa hasil stek yang hidup pun terlihat sulit sekali bertumbuh. “Kami belum dapat memastikan apakah hasil stek ini nantinya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Mudah-mudahan sih bisa,” kata petugas nursery memberikan penjelasan pada kami.

Pak Tamin Sukardi sangat bangga dengan penemuan pohon ini di Taman Simalem Resort. “Kami akan berusaha keras membudidayakannya. Kalau kelak berhasil, saya tidak bermaksud mengkomersialkannya, tapi menyumbangkannya ke taman-taman umum agar dapat dinikmati semua orang,” ungkap Pak Tamin.

Salah satu pohon Taxus sumatrana tumbuh di tepi sungai, hampir persis di depan villa kami. Batangnya miring ke sungai dengan posisi yang nyaris horizontal, sehingga bagian bawahnya menjadi sangat teduh, hampir tak tertembus matahari. Melihat pohon ini, saya terkenang kembali kisah tentang Sidharta Gautama yang bersemedi di bawah pohon bodhi dalam salah satu upayanya mencapai Buddha. Tentu saja bodhi dan taxus tidak sama. Tapi keteduhan dan ketenangannya mengilhami kemurnian dan kebadian.

Selain nama ilmiah, masyarakat lokal juga mengenal jenis pohon ini dengan sebutan khusus. Di antaranya adalah tampinur batu, kayu taji, chinese yew, dan lain-lain.Sedangkan hirarki taksonominya menurut sains adalah sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Division: Pinophyta, Class: Pinopsida, Order: Pinales, Family: Taxaceae, Genus: Taxus, dan Species: T. sumatrana.

LEAVE A REPLY