Tentang Keboen dan Lahirnya sebuah Kota dari Daun Tembakau

2
1382
Tembakau Deli, Afdeling Glugur.
Tembakau Deli, Afdeling Glugur.

Ketika feodalisme berseteru berat dengan kapitalisme dan liberalisme di Eropa, hubungan yang aneh bin ajaib justru terjadi nun di Sumatra Timur. Kapitalis dan kaum feodalis malahan membentuk satu kultur baru yang kelak kita kenal dengan “budaya kebon”. Di sinilah muncul kelompok-kelompok yang sangat simbolik dalam kedudukan sosialnya di Sumatra Timur, seperti ambtenaar, tuan besar, tuan kecil, koeli, sultan dan datuk-datuk.

Alkisah, pada zaman dahulu, seorang India Tamil yang pendiam dan sopan menyusuri Selat Malaka dari Aceh menuju timur. Wajahnya muram dan sangat putus asa. Di atas kapal itu, ia memimpin sepasukan tentara laut yang tangguh. Merekalah selama ini yang mengamankan kepentingan Kerajaan Aceh di sekitar mulut Selat Malaka hingga ke Malaya.

“Sudahlah, Tuan. Jangan bersedih. Kami akan selalu setia pada Tuan…Apapun yang Tuan perlukan…” seorang prajurit kepercayaannya mencoba menghibur, meski tak dapat meneruskan kata-katanya. Apa yang menimpa Sang Laksamana barusan memang di luar kemampuan seorang prajurit.

Melihat pandangan Sang Laksamana, prajurit itu memilih mengundurkan diri ke geladak. Sepeninggal si prajurit, Laksamana Cut Bintan mengelus-elus rencongnya sembari memandang lautan lepas. Ombak Selat Malaka mengguncang kapal pelan. Kali ini tak ada lagi patroli, tak ada pengejaran, dan tak ada tugas. Cut Bintan sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Aceh. Biarlah isterinya yang khianat dan laknat itu menempuh hidupnya yang baru dengan Sultan Aceh.

“Berbulan-bulan hamba menjaga perairan demi Sultan dan Kerajaan, mengapa beliau justru tega menggauli isteri hamba di daratan. Oh, Tuhan, cobaan ini terlalu berat,” katanya menepuk dadanya untuk meringankan rasa sakit yang sangat sesak.

Kapal Cut Bintan berlabuh di muara Sungai Deli, lalu mereka menyusur sedikit ke hulu dan menetap di sebuah lahan yang datar di tepi Sungai Lalang. Di sanalah Sang Laksamana menikmati sisa kepedihannya. Untuk mengenang isteri yang sangat dicintainya, ia menamai sungai itu dengan Sungai Poucut Kamariah, sedang tempat tinggalnya dinamai Kampung Poucut. Kita mengenalnya sekarang dengan Percut.

Sampai saat itu, Medan belum ada. Perkebunan juga belum dibangun, kecuali ladang-ladang kecil berisi pala, lada, pisang, dan beberapa pohon kelapa. Pemukiman manusia pun baru berupa kampung-kampung kecil di pinggiran sungai seperti Klarus, Sempali, Kota Bangun dan Pulo Brayan. Raja-raja lokal yang tak lebih dari klan-klan kecil masih menghormati Cut Bintan sebagai bekas pejabat militer Kerajaan Aceh yang selama ini mereka pertuan setelah Kerajaan Haru di Delitua berhasil dihancurkan pasukan Aceh pada abad-abad sebelumnya.

Penduduk Sumatra Timur lebih mengenal Cut Bintan dengan sebutan Sri Paduka Gocah Pahlawan. Tapi siapakah sebenarnya Sang Laksamana legendaris ini hingga sangat terkenal ke seantero Sumatera? Dia bukanlah keturunan bangsawan. Bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang India Tamil pemeluk Islam yang kapalnya terseret arus hingga terdampar di Aceh. Selama di Aceh, ia memperlihatkan tindak-tanduk yang sopan, berbudi dan berpengetahuan luas tentang keislaman. Pembawaannya yang tenang dan dalam telah memikat Raja Aceh yang saat itu direpotkan dengan petualang-petualang Eropa dan perompak yang mengganas di Selat Malaka. Oleh Sultan Aceh, ia kemudian dipercaya untuk menghadapi berbagai ancaman laut dan mengendalikan perairan. Untuk tugas itu, ia mendapat kedudukan sebagai laksamana bergelar Cut Bintan.

Bersama sepasukan prajuritnya, Cut Bintan dikagumi karena sangat setia menjaga perairan dengan gagah berani. Tidak jarang, mereka berpatroli di laut selama berbulan-bulan meninggalkan keluarga. Pada saat itulah terjadi tragedi yang membuat sang laksamana pilu. Isteri yang ditinggalkannya demi kerajaan telah ketahuan digauli oleh Sang Sultan sendiri.

Untuk melanjutkan hidupnya, Gocah Pahlawan menikah dengan puteri Raja Sunggal bernama Puteri Nangbaluan beru Surbakti. Hasil pernikahannya ini melahirkan putera bernama Panglima Perunggit yang kelak memproklamirkan berdirinya Kerajaan Deli. Gocah Pahlawan sendiri meninggal tahun 1653 dan sepertinya tidak sempat melihat perkembangan kerajaan yang dibangun anaknya.

Seripaduka Sultan Ma'moen Alrasyid Perkasa Alamsyah, pendiri Istana maimoon dan Masjid Raya Al Mashoon.
Seripaduka Sultan Ma’moen Alrasyid Perkasa Alamsyah, pendiri Istana Maimoon dan Masjid Raya Al Mashoon.

Karena kisah leluhurnya yang menyedihkan, keturunan Raja-raja Deli selalu berniat lepas dari kekuasaan Kerajaan Aceh. Meski tak memiliki tentara yang kuat untuk menahan pengaruh Kerajaan Siak di selatan dan Aceh di utara, tapi Raja-raja Deli berupaya berpolitik untuk menjaga kedaulatannya. Caranya, mereka mengakomodir berbagai kepentingan asing di daerahnya, termasuk pedagang-pedagang internasional dari Arab, Eropa, dan Asia.

Politik luar negeri Kerajaan Deli mencapai puncaknya ketika diperintah oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam. Pusat kerajaan saat itu berada di Labuhan, dekat laut. Di sinilah raja memungut cukai terhadap pedagang-pedagang asing. Namun karena perekonomian lokal yang masih tradisional, jumlah cukai itu tidaklah besar dan Kerajaan Deli berkembang lambat. Apa yang disebut dengan istana raja tak lebih dari sebuah rumah kayu beratap rumbia, meski ukurannya lebih besar dari rumah-rumah lain.

Kondisi sederhana itu baru berubah manakala seorang petualang bisnis pada tanggal 6 Juli 1863 tiba di Tanah Deli. Kedatangannya menandai dimulainya periode kebon yang kelak memicu kapitalisme terbesar di Asia Tenggara. Nama lelaki itu adalah Jacobus Nienhuys. Ia membongkar sauh di muara Sungai Deli bersama beberapa wakil perusahaan dagang JF van Leeuwen en Mainz & Co. Perusahaan pemilik kapal Josephine ini bersedia mengirimkan utusannya dari Jawa ke Tanah Deli atas bujukan seorang pedagang Arab bernama Said Abdullah Bilsagih. Abdullah adalah kenalan baik Sultan Mahmud Perkasa Alam dan sudah berdagang hasil bumi di Tanah Deli sejak lama.

Jacobus Nienhuys.
Jacobus Nienhuys.

Pada waktu itu, persaingan monopoli dagang antara negara-negara industri baru di Eropa sedang ketat-ketatnya di Asia Tenggara. Setiap negara membentuk persekutuan-persekutuan dagang untuk mencari bahan baku dan pemasaran. Penemuan mesin-mesin yang memicu Revolusi Industri di Eropa telah menciptakan mekanisasi kerja, sehingga jumlah produksi meningkat dan ketersediaan bahan baku menipis.

Salah satu industri yang sedang booming di pertengahan abad 19 adalah pembuatan cerutu. Nienhuys tiba bersama Van der Valk dan Elliot. Ketiganya dipercaya oleh perusahaan yang sama. Tapi begitu melihat kondisi Sumatra Timur yang masih mirip “tempat jin buang anak”, dua nama terakhir merasa kecut dan memilih pulang ke Jawa. Maklum, di Jawa, mereka biasanya menyewa lahan rakyat yang sudah digarap dan siap tanam. Tapi di Tanah Deli, pemandangan masih berupa hutan belantara, rawa-rawa yang buas, kayu-kayu tropis raksasa, di mana harimau dan gajah masih berkeliaran seperti suaka margasatwa.

Nienhuys, seorang pemuda Belanda yang masih penuh semangat, mencoba bertahan dan berkenalan dengan Sultan Mahmud Perkasa Alam. Bahkan ia menyewa satu rumah sederhana milik Sang Sultan di Labuhan. Karena hubungan yang baik dan demi kepentingan Sultan yang menjalankan politik lepas dari Aceh dan Siak, Nienhuys diberikan hak pakai lahan selama 20 tahun tanpa perjanjian sewa. Lokasinya berada di Tanjung Sepassai seluas 4.000 bahu. Satu bahu sama dengan 8.000 meter bujur sangkar. Dari sinilah sejarah perkebunan dimulai di Sumatra Timur atau yang kita kenal sekarang dengan Sumatera Utara.

Pada Maret 1864, Nienhuys mengirimkan contoh panen tembakau pertama ke Rotterdam. Hasil panen itu tidak banyak karena Nienhuys belum dipercaya sepenuhnya untuk mengelola modal besar oleh perusahaan dagang yang mengirimnya. Tapi pengiriman panen pertama itu ternyata memberikan pengaruh yang besar. Para pedagang di Eropa mengakui daun tembakau deli sebagai pembalut cerutu terbaik yang pernah ada pada waktu itu.

Adalah Van den Arend, seorang pemilik kongsi perusahaan yang paling terkesan dengan daun tembakau tersebut. Ia lantas memberikan kredit baru sebesar 5.000 pound kepada Nienhuys untuk mengembangkan proyek percontohan di Tanah Deli. Mendengar reputasi tembakau deli yang segera bocor ke mana-mana, termasuk di Amerika, kapital pun mulai mengalir ke Sumatra Timur. Para kapitalis mengirimkan perwakilan dan modalnya secara besar-besaran ke daerah ini. Gerak kapitalisme sangat leluasa di Tanah Deli karena sifat feodalisme lokalnya yang sangat terbuka. Sultan memberikan izin pengelolaan lahan yang luas dengan sewa yang murah. Feodalisme telah kawin dengan kapitalisme. Dan terjadilah ledakan industri besar di Tanah Deli. Laju pertumbuhan ekonomi di daerah ini barangkali tidak akan pernah ditandingi daerah lain di Indonesia hingga sekarang ini.

Singkat cerita, kebun-kebun tembakau besar pun dibuka. Hutan belantara dibabat. Tapi semua ini tidak selalu mulus. Ketika orang-orang Amerika dan Eropa mabuk kepayang dengan popularitas tembakau deli, mereka mencoba menanam lahan hingga ke Siak, Asahan, Simalungun dan Langkat. Ternyata penanaman tersebut gagal dan memberikan kerugian yang sangat besar. Pada kenyataannya, lahan yang cocok untuk tembakau deli hanyalah antara Sungai Ular di Deliserdang dan Sungai Wampu di Langkat. Di luar itu, struktur dan mineral tanah sudah berbeda. Tanah di dataran rendah antara Sei Ular dan Wampu dipengaruhi aktivitas vulkano Bukit Barisan yang dulu mereka sebut sebagai Wilhelmina Gebergte. Sungai-sungai yang mengalir dari puncak gunung sepanjang masa telah membawa kekayaan nitrogen, asam fosfat dan kapur pada lahan tersebut.

Kegagalan penanaman tembakau di luar areal emas Sei Ular-Sei Wampu ternyata membawa hikmah sendiri. Para penanam modal yang tidak ingin rugi begitu saja, mengalihkan tanamannya ke karet, sawit dan teh. Sejak itu, perkebunan karet dan sawit berkembang di Asahan dan Labuhanbatu. Sedangkan kebun teh dibangun di lahan yang lebih tinggi, yakni Simalungun, lewat konsesi yang diberikan Raja Siantar.

Nienhuys sendiri pada tahun 1867 pulang ke Amsterdam untuk mencari tambahan modal. Pedagang tembakau bernama GC Clemen dan PW Janssen menaruh kepercayaan padanya dan mereka sepakat membentuk perusahaan bernama Nederlandsche Handel Maatschappij di Belanda dengan modal $ 10.000. Dengan suntikan dana itu, Nienhuys membuka lahan-lahan baru antara Sungai Deli hingga kawasan tempat tinggal almarhum Laksamana Cut Bintan di Percut, Sunggal, dan Sungai Beras.

Perusahaan makin berkembang dan beruntung di tangan Nienhuys. Sampailah akhirnya trio pengusaha tersebut mendirikan perusahaan pertama yang berlokasi di Tanah Deli pada tahun 1868. Namanya De Deli Maatschappij atau Maskapai Deli. Inilah perusahaan pertama yang berdiri secara kelembagaan di Sumatra Timur. Di bawah bendera perusahaan ini, jenis-jenis perkebunan kian bervariasi. Mereka tidak hanya menanam tembakau, tapi juga coklat, pala, kopi dan rami. Tanaman rami sempat sangat populer di Sumatra Timur. Seratnya dipakai sebagai bahan baku karung. Tapi ketika karung plastik sudah diproduksi, perkebunan ini lenyap begitu saja dan dikonversi menjadi tanaman lain seperti karet dan sawit.

Kehadiran Maskapai Deli telah memberikan karakter baru pada kehidupan sosial di Tanah Deli. Masyarakat kapitalis telah terbentuk dan kelak akan menjadi ciri khas daerah ini. Perburuhan menjadi masalah yang paling pelik dan sempat menjadi ajang tarik menarik kepentingan antara kaum kapitalis dan sosialis. Tragedi kuli kontrak dari Jawa dan sejarah pekerja asal Cina sudah banyak ditorehkan dalam berbagai catatan. Tapi bagaimanapun, dari kacamata sejarah, interaksi ekstrim antara modal dan pekerja telah menciptakan pertumbuhan industri perkebunan paling kencang di Indonesia. Raja senang. Pengusaha senang. Para pedagang Cina berdatangan hingga ribuan jumlahnya.

Kuli-kuli pun beranak pinak melahirkan kuli-kuli baru. Hingga tahun 1891, tercatat 170 perkebunan telah beroperasi antara Asahan hingga Langkat. Untuk kelancaran usaha, mereka mulai membangun infrastruktur permanen. Jalan-jalan utama dibuka, sejumlah pelabuhan dibangun di pesisir pantai timur, dan terakhir jalur kereta api “moderen” ditarik dari Medan ke Labuhan.

Lalu, kapan sih sebenarnya Medan menjadi sebuah kota? Pada tahun 1867, orang tidak mengenal Kota Medan. Yang adalah Kota Labuhan. Di sini, hiduplah rumah tangga dan kerabat Sultan, 1.000 orang pedagang Cina, 474 orang perantau Rawa dan Minangkabau, serta beberapa gelintir petualang kulit putih. Mereka hidup dari perdagangan hasil-hasil bumi dari daerah Karo, Tapanuli, dan pedalaman-pedalaman Batak. Pada tahun yang sama, ketika perkebunan mulai dibuka Nienhuys, penduduk itu bertambah 150 orang, yaitu kuli asal Bagelen.

Istana Maimoon.
Istana Maimoon.
Masjid Raya Al Mashoon.
Masjid Raya Al Mashoon.
Kesawan.
Kesawan.
Restoran Tip Top.
Restoran Tip Top.

Medan sendiri pada awalnya bukan nama sebuah desa atau pemukiman. Ia hanyalah sebutan pada sebuah kawasan di sekitar Lapangan Merdeka sekarang, di mana pada saat itu terdapat kampung-kampung kecil bernama Kesawan, Merbau dan Tebingtinggi. Kampung-kampung itu berdiri di tepi sungai dan menjadi lokasi ladang berpindah (shifting agriculture) penduduk lokal. Ketika De Deli Maatschappij berkembang dan kebun-kebunnya meluas ke arah kawasan Medan, Nienhuys memutuskan memindahkan kantornya ke sini. Alasannya, lokasi Medan lebih tinggi dan bebas dari banjir seperti yang sering terjadi di Labuhan. Untuk memasok kebutuhan perkebunan, para pedagang Cina pun mengekor dan membangun pertokoan di sekitar Kampung Kesawan. Para konsultan perkebunan juga ikut. Kesultanan Deli yang waktu itu berada di bawah kepemimpinan Seripaduka Tuanku Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah (1879-1924) menunjukkan pengaruh dan kekuatannya dengan membangun Istana Maimoon yang indah dan Masjid Raya Al-Mashoon yang kini menjadi salah satu mesjid termegah di Asia Tenggara. Beliau adalah keturunan Penguasa Kesultanan Deli ke-9 dari putera Seripaduka Tuanku Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alam Shah. Istana Kota Batu yang dibangun ayahnya di Labuhan Deli, ia tinggalkan. Lama-lama, kawasan antara kantor Maskapai Deli (Medan Putri) dan Kesawan menjadi ramai, dan terbentuklah kemudian Kota Medan yang terkenal sebagai “Parij van Sumatra” hingga tahun 1960-an. Tan Malaka, seorang intelektual dunia yang telah menyinggahi berbagai kota di Asia-Pasifik, menyebut Kota Medan sebagai kota terindah dan paling rapi di Asia.

Jadi, Medan adalah kota yang dilahirkan dari daun tembakau. Sejarah perkebunan di Sumatra Timur dipengaruhi oleh persoalan-persoalan politik nasional dan internasional. Pada masa pendudukan Jepang, perkebunan-perkebunan milik Eropa dan Amerika diambil alih Jepang. Sebagian terlantar dan rusak karena kekurangan tenaga ahli, apalagi Perang Dunia juga telah merusak permintaan pasokan dari Eropa. Sebagian lahan diambil alih buruh dan rakyat. Sebagian lagi dikonversi menjadi tanaman pangan jagung dan padi menyusul krisis pangan waktu itu.

Setelah Indonesia merdeka, para pemilik kebun dari Eropa mencoba kembali mengelola haknya. Tapi konfrontasi di Irian Jaya telah memberi legitimasi bagi Pemerintah RI untuk menasionalisasi perkebunan-perkebunan milik Belanda. Demikian juga ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia, Sukarno sempat mengambil alih semua perkebunan milik Inggeris, meski kemudian dikembalikan lagi setelah konfrontasi usai.

Hingga saat ini, sejumlah perkebunan di Sumatera Utara masih dimiliki para pengusaha Eropa seperti Inggris, Belgia, Swiss, Jerman, atau kongsi pengusaha Eropa dengan pengusaha lokal. Tapi sejak pemerintah pusat mengambil alih sebagian besar perkebunan eks pemilik lama, perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara mengalami kesulitan-kesulitan non-ekonomi dan lebih bersifat struktural prosedural. Pengelolaannya dipengaruhi oleh kebijakan politik pemerintah dan sering menjadi sapi perah penguasa hingga terpuruk setelah tahun 1998. Perkebunan-perkebunan juga tidak lagi memberi pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan di Sumatera Utara karena hasilnya lebih banyak disetor ke Jawa. Kalau dulu industri perkebunan menjadi pemicu pembangunan infrastruktur di wilayah ini, sekarang industri perkebunan justru menjadi salah satu perusak jalan, pemicu konflik tanah, dan menjadi persoalan antara hubungan pusat dan daerah. Hasilnya tidak memberi dampak langsung pada kehidupan masyarakat setempat, kecuali mentransformasi masyarakat Sumut yang dulunya “marhaen” menjadi “proletar”, dengan ibukota yang mulai mirip kawasan kumuh.

 

(Tikwan Raya Siregar/dari berbagai sumber)

2 COMMENTS

  1. Tulisan sejarah yg telah membuka mata & pikiran utk melihat bahwa Sumatra Timur (Sumatra Utara) bukanlah bekas jajahan kolonialis, melainkan melalui diplomasi politik & ekonomi. Bukti bahwa rakyat Sumatra Utara bukanlah rakyat yg terjajah.

  2. Kapal Cut Bintan berlabuh di muara Sungai Deli, lalu mereka menyusur sedikit ke hulu dan menetap di sebuah lahan yang datar di tepi Sungai Lalang. Di sanalah Sang Laksamana menikmati sisa kepedihannya. Untuk mengenang isteri yang sangat dicintainya, ia menamai sungai itu dengan Sungai Poucut Kamariah, sedang tempat tinggalnya dinamai Kampung Poucut. Kita mengenalnya sekarang dengan Percut.

LEAVE A REPLY