Wajah Malaysia dari Lantai 86

0
327

twin 2Pagi di hari ke-4 program 1Malaysia Year End Sale 2014, kami mendapat kesempatan untuk post tour ke Sky Bridge dan lantai 86 Menara Petronas atau The Twin Towers. Kami harus bergegas agar tak tertinggal untuk ikut tour yang bermula di jam 09.00 ini. Saat tiba di sana, kami sudah harus bersaing dengan antrian rombongan turis Jepang yang terlihat sangat antusias untuk melihat Malaysia dari lantai 86. Entah mengapa, saya jadi teringat akan satu pengalaman lain di salah satu negeri yang tergila-gila dengan segala bangunan ikonik di kawasan Asia Tengah itu. Dulu, Maret 2014, saat terjebak selama 37 jam di Dubai International Airport, saya—dan suami—mulai mencari-cari kegiatan sebagai pelipur lara. Dari hasil kegiatan yang berawal naluri jurnalis dan “keisengan” tersebut, kami menemukan hal-hal yang menarik. Di antaranya adalah salah satu statement dari Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum, sang penguasa Dubai yang memerintah sejak 6 Oktober 1958 yang menghiasi satu pojok dinding bandara. Katanya “What is good for the merchants, is good for Dubai.” Tidak heran kalau para pengusaha dan kaum investor sangat dimanja di negeri gurun dan penghasil minyak tersebut. No tax—untuk beberapa tahun, izin birokrasi yang amat mudah, hingga fasilitas red carpet buat siapa saja yang mau investasi dan membeli properti di sana. Hasilnya, hampir semua pesohor di muka bumi ini setidaknya punya apartemen atau kondominium di Dubai.twin x

Maka Dubai pun sibuk dan mengejutkan dunia dengan pembangunan puluhan shopping mall dengan skala kolosal, menara tertinggi di dunia, Burj al Khalifa, lantas satu-satunya hotel bintang tujuh, Burj al Arab, dan airport kolosal masa depan Al Maktoum yang diklaim akan menjadi bandara udara terbesar ke-4 di dunia setelah Bandara Internasional King Fahd (Saudi Arabia), Bandara Internasional Montreal-Mirabel (Kanada), dan Bandara Udara Internasional King Khalid di Kota Riyadh. Rasa-rasanya, tak ada yang tak mungkin untuk dibangun di sana. Sky is the limit adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan ambisi para penguasa Dubai untuk merubah gurun pasir yang sunyi menjadi kota moderen dengan belantara aneka gedung dan arsitektur yang futuristik. Visi dari suatu bangsa—atau negara—seringkali diringkas dari satu statement yang kuat dari para pemimpinnya. Suka atau tidak, rakyat Dubai harus mengikut pilihan Sang Sheikh yang memihak kaum kapitalis.

twin 3Nah, kembali ke tour singkat di Menara Petronas, saya menemukan hal yang kurang lebih sama dalam soal determinasi sikap ini. Tentu saja visi Syeikh Al Maktoum tidak sama dengan visi Tun Dr. Mahathir bin Mohamad dalam soal kebangsaan. The Twin Towers—gedung tertinggi di Asia Tenggara dan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia dan dunia—jelas tidak dibangun untuk sekadar menjadi proyek gagah-gagahan saat Malaysia menikmati booming minyak—alias oil bonanza. Melainkan lebih jauh dari itu , Tun Mahathir menegaskan, ”As an internationally recognized national landmark, The Petronas Twin Towers are a national pride to the people of Malaysia. They simbolise the courage, ingenuity, initiative and determination, energy, confidence, optimism, advancement and zest of a nation that will bring worldwide recognition and respect to all Malaysians.” Demikian menurut pemimpin kharismatik kebanggaan Malaysia ini.

twin 7 koverPagi itu saya pikir, saya bukanlah satu-satunya orang yang tertarik dengan view dari balik dinding kaca lantai 86. Saya dengar dari guide kami, Tun Dr. Mahathir punya penthouse pribadi di lantai 88. Pemandangan dari sana tentunya akan lebih spektakuler. Dari riuh rendah celoteh rombongan turis Jepang yang bergosip dengan riang, saya duga mereka pun merasa kagum atas visi pemimpin Malaysia ini. Bukankah orang-orang Jepang ini tergolong kaum yang susah untuk dibuat terkesan? Mereka terlalu terbiasa dengan segala yang berbau hi-tech di negerinya sana. Begitupun, mereka harus ke Malaysia untuk mengunjungi salah satu gedung ikonik dunia. Dengan simbol serupa The Twin Towers ini maka bangsa Malaysia seolah berjanji akan penuh percaya diri menata masa depannya, dan berkepala tegak dalam kancah pergaulan dunia.twin 8

Selesai tour, kami menghibur diri ke I-city di Shah Alam. Kawasan ini tergolong destinasi wisata baru di Malaysia. Saya memilih bersenang-senang di antara patung-patung lilin para pesohor dunia. Dan juga menikmati lukisan-lukisan unik yang bernuansa tiga dimensi di sana. I-city akan sangat magic dinikmati malam hari. Themepark ini dipenuhi belantara lampu hias aneka warna yang merupakan atraksi unik dan satu-satunya di Malaysia. Lepas Maghrib, kami pun kembali menuju hotel. Dari gemerlap cahaya I-city menuju kemilau cahaya Kuala Lumpur. Ini adalah cara yang berkesan dalam menutup perjalan kami di hari terakhir.twin 12

 

 

(WIRASTUTI)

 

 

 

 

 

 

 

SHARE
Previous articleFine Arts for Launching 1 Malaysia Year End Sale 2014
Next articleZiarah ke Al-Maghribi (VI): Dari Kelaat ke Kota Tua Fez
Menamatkan studi dari STIK Pembangunan Medan, Wirastuti kemudian menekuni kegiatan kepenulisan, baik dalam bidang riset dan praktisi kewartawanan. Ia juga melibatkan diri dalam kegiatan industri pariwisata dan tetap menulis di sela-sela kesibukan bisnis dan ibu rumah tangga. Kesukaannya melakukan perjalanan didorong rasa ingin tahu yang kuat pada kebudayaan dan lingkungan yang berbeda. Wiras menaruh minat pada filsafat dan cara hidup tiap bangsa, dan senang belajar dari kebijaksanaan mereka. Laporan-laporan perjalanan yang ia tulis mencerminkan empatinya pada hal-hal baru yang ditemukannya.

LEAVE A REPLY