Tri Pamudji Rahardjo: Menjaga Nama Besar Bumi Minang

0
342

Bekas tindikan di telinga dan tato di tubuhnya mungkin tidak bisa lagi hilang. Keduanya sekaligus menandakan bahwa general manager hotel yang satu ini “bukanlah orang baik-baik” menurut tata krama perhotelan yang kita kenal sebelumnya.  Dan bisa jadi, agar tidak menjadi gunjingan, dia lebih suka berterus terang soal itu.

“Saya selalu ingin terlihat gaul, meskipun bisa juga bersikap formal apabila diperlukan he…he…he… Menindik telinga dan membuat tato adalah upaya saya dulu agar terlihat funky. Tapi ternyata saya belum cukup fungky. Saya pernah melamar jadi operational manager Hard Rock Café Bali, eh rupanya ditolak gara-gara kurang funky. Mestinya saya juga mengecat rambut dan memangkasnya dengan cara lebih aneh,” kata Tri Pamudji Rahardjo, General Manager Bumi Minang Kyriad Hotel Padang.

DSC_0132 copy
Tri Pamudji Rahardjo, GM Bumi Minang Kyriad Hotel Padang.

Kini Tri Pamudji diutus oleh Louvre Hotels Group untuk mengaplikasikan standar Kyriad Hotel di Hotel Bumi Minang, salah satu hotel bintang perintis di Kota Padang, Sumatera Barat. “Hotel bagonjong” ini telah mengalami pasang surut akibat krisis ekonomi-politik dan bencana alam yang menimpa kota tersebut beberapa tahun lalu. Bumi Minang Kyriad Hotel saat ini masih terus berproses menuju finalisasi bintang empat.  Sejumlah kamar telah selesai direnovasi. Fasilitas parkirnya sejuk dan luas, juga terdapat mushalla besar di sana. Fasilitas banquet-nya bisa menampung dua ribuan orang. Untuk bersantai dan bertemu dengan teman-teman, juga sudah tersedia bar yang bersebelahan dengan restoran, demikian juga kolam renang dan pembaruan di berbagai aspek, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.

“Kami menyadari, masa lalu hotel ini masih sangat kuat tertanam di pasar. Nama Bumi Minang pernah menjadi simbol akomodasi terdepan di Padang. Di sini terdapat fasilitas President Suites seluas 600 m3, dengan lift khusus untuk melayaninya. Presiden Indonesia, termasuk almarhum Presiden Suharto, pernah menginap di sini. Karena itu, tugas pokok kami di awal ini adalah me-maintenance pasar lama dan memastikan bahwa kita sudah membawa standar baru dalam pelayanan Bumi Minang dengan tetap mempertahankan memori kolektif mereka di masa lalu. Apalagi, manajemen Kyriad bisa menghargai dan mengakomodir cita rasa dan budaya lokal dalam sistem pelayanannya,” ungkap Tri.

roomSetamat dari NHI tahun 1987, Tri mendapatkan tugas belajar ke Australia untuk menjadi dosen pegawai negeri di almamaternya. Setamat tugas belajar, menjelang pra jabatan, iseng-iseng dia mengecek dan membandingkan gaji antara dosen dan manajer hotel ketika itu. “Ternyata gaji manajer hotel jauh lebih tinggi. Wah, ini nggak asyik. Akhirnya saya disersi. Konsekwensinya mesti ganti rugi biaya kuliah ke pemerintah. Saya mengganti seluruhnya,” kata pria kelahiran 21 Juni 1960 ini.

Sejak itu, petualangan karirnya di industri pariwisata pun dimulai. Ia pernah ikut kapal pesiar, kemudian keluar masuk di tujuh grup manajemen hotel. Dari karir yang panjang itu, nilai yang konsisten ia jaga adalah tanggung jawab dan kepercayaan. “Banyak manajer yang jatuh karena mencederai tanggung jawab dan kepercayaan. Industri ini sangat rawan pada hal-hal itu. Meskipun secara pribadi saya bukan dari kelompok orang baik-baik, tapi saya ingin dilihat sebagai orang yang jujur dan bertanggung jawab. Itulah yang membawa saya ke tahap sekarang.”

Pada tahun 1998, ketika keadaan politik di tanah air sedang memburuk, Tri memulai perannya sebagai general manager hotel  untuk pertama kalinya. Ia bisa saja memilih karir yang mudah dan aman sebagai PNS, tapi Tri selalu terdorong untuk memilih jalan berduri. Karir penuh tantangan lebih cocok untuknya. Ia tidak punya style duduk di meja dan menunggu semua berjalan semestinya.

“Saya menyukai lapangan,” katanya seraya mencoba menarik sebatang rokok mild. “Saya boleh merokok?” katanya dengan penuh harap, tapi kemudian ia memasukkannya kembali karena kami bilang “tidak boleh!”

Dia merentangkan tangannya sembari tertawa. Biasa saja. Gayanya sangat informal, dan itu terlihat membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja. Rupanya ia juga suka nongkrong di warung kopi kalau lagi free. Karakter ini pula yang membuatnya cepat larut dengan para pelaku industri lokal di manapun ia ditugaskan oleh manajemen. Di Padang, ia segera saja bergabung dengan Forum GM Hotel dan menjadi salah satu pengurusnya, membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, serta para pelaku inti pariwisata yang dapat ia ajak berdiskusi tentang industri ini.

“Tantangan di industri perhotelan ini umumnya intensif. Tapi saya sudah mengalami saat yang paling kritikal di Jayapura, Papua. Di Jayapura, saya menemukan kebiasaan beberapa staf yang tidak saya temukan di tempat lain. Mereka tidak terlalu peduli dengan gaji mereka, tapi kalau saatnya ingin minum dan mabuk, maka kita dianggap punya kewajiban untuk mentraktir mereka saat  itu juga. Saya lihat, gaji mereka habis hanya untuk minum-minum saja, tidak diserahkan pada istri. Istri mereka bisa cari makan sendiri untuk anak-anak. Wah, di sanalah ilmu manajemen kita tidak bisa berlaku sepenuhnya. Saya agak tertekan. Ini tidak sesuai hati nurani saya, tapi di sana tidak banyak pilihan. Kadang-kadang kita seperti berada di bawah ancaman”.

Masih bertugas di Papua, suatu hari Tri menerima kabar duka dari saudaranya bahwa orang tua mereka “sakit keras”. Dari Papua, ia langsung mencoba memesan tiket pesawat yang bisa membawanya paling cepat ke Yogyakarta. Tapi Papua cukup jauh dari kampung halamannya, dan ia tidak sempat menghadiri pemakaman orang tuanya. Tri merasa sedih dan menyesal tidak melihat orang yang dicintainya untuk terakhir kali. Peristiwa ini membuatnya tidak ingin bekerja terlalu jauh lagi dari keluarganya. Ketika manajemen Kyriad memiliki tawaran untuk pindah ke Kota Padang, ia langsung menerimanya tanpa pikir panjang.

loungeSebagai pimpinan manajemen, Tri terbiasa menerapkan dua wajah pada dirinya. Satu sisi ia bisa sangat dingin dan tegas ketika menyangkut tugas di lingkungan hotel. Dia sulit menerima alasan yang dibuat bila menyangkut tanggung jawab. Tapi pada saat yang berbeda, ia bisa menjadi pribadi urakan yang tidak terlalu mempertimbangkan kedudukannya di hadapan para stafnya. “Selangkah saja keluar dari hotel ini, para karyawan langsung saya perlakukan sebagai kerabat sendiri. Karena di sini merekalah kerabat saya, siapa lagi?” katanya.

Hitungan dua bulan di hotel ini, Tri merasa sudah menemukan satu masalah bersama yang harus dihadapi oleh semua pelaku industri pariwisata di Padang. Menurutnya gempa bumi di Padang dan sekitarnya masih memberikan pengaruh yang cukup traumatik bagi turis domestik dan mancanegara. “Saat ini, market kami masih 60% di banquet yang diisi mitra pemerintahan. Kami masih harus kerja lebih keras lagi untuk meyakinkan pasar yang lebih luas bahwa gempa tidak akan terjadi lagi di Padang, dan untuk membuktikan itu sejumlah investasi hotel baru sudah muncul di Kota Padang,” katanya.

Ballroom Puti Bungsubar Bumi Minang Kyriad Hotel Padang yang beralamat di Jalan Bundo Kandung No. 20-28 Padang ini adalah jaringan manajemen ke-10 yang dikelola Kyriad di Indonesia. Untuk wilayah Sumatera, kota lain yang memiliki grup ini adalah Pekanbaru. Kini Hotel Bumi Minang yang kita kenal telah berbenah dan berubah. Melalui tangan GM-nya yang unik, kita bisa berharap melihat “hotel warisan” ini berjalan cepat menuju kejayaannya seperti dulu.

LEAVE A REPLY