Tunggal Panaluan, Roman Incest dan Kesaktian yang Kian Terbenam

0
2162
Tunggal Panaluan
Tunggal Panaluan

 

Bangso (bangsa) Batak menyebutnya dengan sebutan tungkot ni raja, yang artinya tongkat para raja. Menurut adat dan tradisi Batak, tongkat yang memiliki artistik ukiran yang indah dan mistis ini merupakan simbol kesaktian pemiliknya. Sayangnya tongkat-tongkat magis ini, kini lebih banyak menghiasi pajangan para kolektor barang-barang pusaka yang sebenarnya kurang begitu tertarik dengan kisah sejarah dan awal kesaktiannya.
Dahulu, yang memiliki tunggal panaluan hanyalah pribadi yang terpandang dalam ilmu pengetahuan, pengobatan, peperangan maupun penguasaan ilmu hadatuon lainnya. Orang-orang tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi pada masa kini. Namun, kesaktian yang tersimpan dalam tongkat tersebut, mungkin dapat membuat Anda merasakan bagaimana ia mengalir kepada pemiliknya.

Seorang antropolog Amerika, Winkler J,  dalam bukunya Die Toba-Batak Auf Sumatra Und Gesunden Kranken Tagen, New Series, volume 32, nomor 4 (Oktober – Desember, 1930), halaman 682-687, memaparkan bahwa tunggal panaluan merupakan staf sihir yang digunakan oleh dukun dari orang Batak, yang tinggal di dataran tinggi Sumatera Utara, Indonesia. Tongkat tradisional tunggal panaluan ini dibuat dari kayu yang diukir dengan beberapa tokoh manusia dan dihiasi dengan bulu kuda serta berisikan otak manusia yang telah dimasak. Cukup mendirikan bulu kuduk memang!

Dalam sebuah laporan penelitian yang berjudul “Pengumpulan dan Dokumentasi Ornamen Tradisional di Sumatera Utara”, dijelaskan bahwa terciptanya tunggal panaluan ini juga diartikan sebagai sebuah peringatan. Pengartian tersebut didasari oleh kisah sejarah yang menceritakan asal mula tongkat sakti ini pertama kali dibuat. Sebenarnya, ada beberapa versi mengenai kisah terjadinya tunggal panaluan yang memiliki persamaan dan perbedaan, sehingga motif yang terdapat pada tongkat ini juga bervariasi. Ini adalah salah satu kisahnya.

Sebuah Peringatan

Konon di kampung (huta) Sidogor-dogor, daerah Pangururan, Samosir, hiduplah suami istri, yaitu Guru Hatimbulan atau Datu Baragas Tunggal Pambarbar Na Sumurung, yang merupakan seorang ahli ukir, dan istrinya Nan Sindak Panaluan. Sudah lama mereka menikah, tapi belum dikaruniai anak. Pasangan suami istri ini kemudian menanyakan hal tersebut kepada ahli ramal, bagaimana kiranya agar rumah tangga mereka dapat dikaruniai seorang anak. Ahli ramal kemudian menganjurkan agar terlebih dahulu mengganti patung-patung yang ada di rumahnya dengan yang lebih cantik.

Maka pergilah Datu Baragas ke hutan untuk mencari kayu yang cocok dijadikan patung. Berhari-hari lamanya, tidak juga dia temukan apa yang dicarinya. Suatu saat, pengukir handal ini melihat pohon aneh yang tergantung di udara seolah melayang-layang, tanpa cabang, dan kira-kira setinggi manusia.

Karena keunikan itu, Datu Baragas memohon kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan) agar pohon tersebut diturunkan ke bumi. Dan ternyata dikabulkan. Pohon tersebut turun tepat di tempat peristirahatan yang disebut Adian Naga Tolping. Baragas mengambilnya, serta mulai mengukir hingga berbentuk seorang gadis yang dinamai dengan sebutan Jonjong Anian. Setelah selesai, ia bermaksud membawa pulang karyanya itu, tetapi tidak dapat diangkatnya. Lalu ia pulang dengan hati yang kesal.

Beberapa hari kemudian, saudagar kain dan perhiasan lewat, lalu beristirahat di tempat patung kayu tersebut berdiri. Saudagar itu melihat, betapa cantiknya patung tersebut bila dikenakan pakaian dan perhiasan lengkap. Ia kemudian mengenakan pakaian, selendang, kerabu, kalung, gelang dan kancing emas. Sungguh cantik. Ketika hendak pulang, barang-barang tersebut tidak dapat dilepaskan lagi dari tubuh patung itu, walau dengan cara apapun. Lalu pedagang ini juga pulang dengan hati yang sangat kesal.

Oleh beberapa warga yang juga melintasi patung tersebut, tersiarlah kabar sampai ke seluruh negeri perihal keindahan patung Jonjong Anian. Berita tersebut juga sampai ke telinga dukun Nasumurung Datu Pangabang-abang Pangubung-ubung, yakni seorang dukun terkenal yang dapat menghidupkan kembali makhluk yang mati. Sang dukun pun tertantang dengan mendatangi lokasi patung tersebut dengan membawa obat berkhasiat.

Sesampai di sana, sang dukun meneteskan obat berupa cairan ke mata patung. Matanya langsung berkedip. Diteteskan ke hidung, tiba-tiba patung itu bersin. Diteteskan ke bibir, patung itu komat-kamit. Diteteskan ke mulut, lantas dapat berbicara. Ke telinga, lalu bisa mendengar. Ke persendian tangan maupun kaki, patung itupun dapat bergerak, berjalan, serta menjelma menjadi seorang gadis cantik jelita. Ia diberi nama Siboru Jonjong Anian Siboru Tibal Tudosan.

Hari terus berputar, gadis cantik jelita yang sebelumnya adalah patung itu pun menjadi idola para lelaki di desa itu. Banyak pemuda yang simpati padanya, namun hanya seorang pemuda yang berhasil memikat hatinya. Dialah Guru Tatea Bulan. Mereka pun sepakat untuk melaksanakan perkawinan.

Berita itu cukup menggemparkan, hingga tersebar luas di seluruh negeri, dan sampai ke telinga Baragas, orang yang dulu mengukir tubuh gadis jelmaan patung ini. Begitu halnya dengan saudagar kain, yang pernah mengenakan pakaian di tubuh gadis tersebut. Terjadilah perselisihan antara si pengukir patung, saudagar, dan dukun, yang masing-masing mengatakan bahwa Siboru Jonjong Anian adalah putrinya.

Perselisihan itu akhirnya dapat ditengahi oleh orang tua kampung bernama Si Raja Bahir-bahir. Lelaki ini menyatakan, Datu Baragas (pengukir) pantas menjadi ayahnya, saudagar menjadi pamannya, dan Datu Pangabang-abang menjadi amang boru (panggilan untuk orang yang mengawini saudara perempuan ayah). Pendapat itu akhirnya disetujui bersama dan perkawinan pun dilaksanakan. Beberapa lama usai pernikahan itu, Siboru Jonjong Anian mulai mengandung anak di perutnya.

Selama hamil, Guru Tatea Bulan senantiasa memenuhi permintaannya agar kelak tidak menjadi suatu gangguan pada si bayi, walaupun permintaan tersebut terasa aneh. Misalnya ia meminta hati elang, nangka, pisang, ikan lumba-lumba, ayam jantan, dan lain-lain. Ternyata kehamilannya di luar kebiasaan, yaitu selama 12 bulan. Dan saat melahirkan, anaknya kembar dua, laki-laki dan perempuan. Guru Tatea Bulan melaksanakan pesta pemberian nama yang dalam tradisi Batak dikenal dengan istilah martutu aek.

Pesta martutu aek untuk kedua anak tersebut saat itu sesuai dengan ajaran Agama Parbaringin. Setelah dilaksanakan ritual martutu aek, diberilah nama Aji Donda Hatautan untuk anak laki-laki, dan Siboru Tapi Nauasan untuk perempuan.

Hari terus berganti. Tak terasa, kedua anak itu semakin tumbuh dewasa. Tanpa disadari oleh kedua orangtuanya, dalam diri kedua anak itu pun timbul rasa saling mencintai. Mereka tampak sangat akrab dan selalu bersama-sama ke manapun keduanya pergi. Penatua huta atau tokoh masyarakat pun menganjurkan kedua anak tersebut agar dipisahkan, sehingga di kemudian hari tidak terjadi hal yang tak diinginkan (incest).

Namun, suatu ketika mereka berdua pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar bersama seekor anjing. Di kesunyian hutan tersebut, rasa cinta yang semakin bergejolak membuat mereka tak sanggup menahan nafsu untuk berhubungan intim.

Selesai melakukan hubungan incest, Siboru Tapi Nauasan melihat buah dari pohon si tua manggule dan berhasrat untuk memakannya. Mereka memanjat pohon itu dan memakan buahnya bersama-sama. Tiba-tiba, saat itu juga mereka melekat pada pohon itu dan tidak bisa bergerak untuk melepaskan diri. Mereka tetap berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Anjing yang ikut bersama mereka pun ketakutan dan pulang ke huta (kampung) untuk memberitahukan kejadian tersebut.

Datanglah orangtua mereka bersama dengan dukun untuk melepaskan keduanya dari pohon tersebut. Enam orang dukun berusaha untuk melepaskan anak kembar itu dari pohon, namun usaha mereka sia-sia saja. Bahkan, mereka pun ikut melekat dan meninggal di pohon itu.

Atas kejadian itu, diukirlah patung tongkat untuk mengenang kejadian tersebut. Pada tunggal panaluan, urutan sosok yang melekat di pohon tersebut adalah Si Aji Donda Hatautan, Siboru Tapi Nauasan, Datu Pulu Panjang Na Uli, Si Parjambulan Namelbus-elbus, Guru Mangantar Porang, Si Sanggar Meol-eol, Si Upar Manggalele, dan Barit Songkar Pangururan.

Mistik dan Artistik

Sebagai sebuah peringatan, peristiwa tersebut dituangkan dalam sebuah ukiran berupa tongkat yang menggambarkan beberapa orang tokoh yang bertingkat-tingkat. Ini merupakan sebuah bukti sekaligus peringatan kepada bangso Batak, agar manusia yang sedarah tidak saling jatuh cinta.

Media peringatan itu dibuat dengan suatu kepercayaan dan kadar spritualitas yang hidup, sehingga hasilnya selalu mistis dan penuh makna. Namun sekarang, aspek spritualitas itu telah hilang berganti aspek kreativitas dan bisnis. Beberapa seniman yang ahli membuat tunggal panaluan di beberapa daerah di Sumatera Utara, juga mengaku bahwa kehebatan seniman Batak saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan seniman dahulu. Alasannya karena mereka tidak mampu menciptakan ukiran yang memiliki kesaktian seperti zaman dulu, apalagi membuat ukiran tersebut menjadi hidup.

Namun, terlepas dari semua itu, tunggal panaluan memang sejak lama sudah dikenal oleh bangso Batak mampu memberi kekuatan dan kuasa untuk melakukan hal-hal yang magis kepada pemiliknya. Tanpa dijelaskan lebih lanjut, kesaktian tunggal panaluan cukup tercermin dalam ukiran artistik di tongkat tersebut, di mana pada tongkat itu terdapat ukiran tokoh para datu atau dukun terhormat yang pernah jaya pada masa hidupnya.

Pemilik tongkat yang terbuat dari kayu tanggule ini, dalam kehidupan suku Batak tempo dulu bukanlah orang sembarangan. Selain para raja, dukun-dukun terhormat juga selalu menggunakan tongkat ini. Dan hasilnya, mereka memiliki kekuatan dan kuasa untuk mendatangkan serta menahan hujan, menolak bala, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, hingga membantu dalam sebuah peperangan.

Pahlawan nasional dari Tanah Batak, Raja Sisingamangaraja XII selalu digambarkan memegang tunggal panaluan. Di beberapa tempat yang tidak memiliki air, Raja Sisingamangaraja XII mampu mendatangkan air hanya dengan menancapkan ujung bawah tunggal panaluan ini. Selain itu, belakangan tunggal panaluan juga dianggap sebagai penghormatan kepada tamu dengan menjadikannya sebagai suvenir. Dulu, mantan Presiden Suharto pernah mendapatkannya saat berkunjung ke Tanah Batak.

Saat ini, kesaktian tunggal panaluan sudah sulit untuk kita saksikan. Namun pada saat pelaksanaan acara besar seperti Pesta Danau Toba, tunggal panaluan sempat dipakai untuk menolak turunnya hujan (manarang udan).

Keberadaan tunggal panaluan yang merupakan peninggalan raja-raja Batak, saat ini semakin sulit dilacak. Meski beberapa kolektor barang pusaka ada yang memilikinya, namun mereka tak ingin tunggal panaluan yang dimilikinya diketahui masyarakat umum. Berita perdagangan pusaka Batak di media online, seharusnya menjadi renungan bagi generasi mudanya untuk memahami bahwa leluhur mereka ternyata mewariskan pusaka yang tidak hanya sekadar sebuah karya seni.

(Taripar M. Nababan)

 

LEAVE A REPLY