Tuo Nifarö

0
1053

Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, namun Haogöita Laowö yang tinggal di Desa Sifalaete, Kecamatan Gunungsitoli, Nias, sudah tampak bersiap menjalankan aktivitas hariannya, yakni membuat tuo niha (tuak nias). Di subuh buta itu, ia membelah remang-remang dan berhenti di bawah pohon kelapa. Haogöita Laowö sudah melakoni kegiatan ini selama bertahun-tahun. Dari usaha membuat tuak nias, pria kelahiran 1965 ini mampu menafkahi keluarganya. Tidak hanya dia, beberapa penduduk setempat juga melakukan aktivitas yang sama. Memang, sejak dahulu, Desa Sifalaete cukup dikenal sebagai penghasil tuak.

Tuak nias adalah minuman lokal khas yang terkenal di Sumatera karena kadar alkoholnya yang tinggi, bening, dan hanya dibuat di Nias. Proses pembuatannya sebenarnya sangat sederhana. Dari penyulingan hingga siap diminum, semuanya menggunakan bahan-bahan sederhana tanpa alat canggih. Berbeda dengan tuak enau yang berasal dari Tapanuli, tuak nias dihasilkan dari getah bunga kelapa muda yang akan tumbuh. Getah inilah yang nantinya akan menghasilkan tuak setelah melalui beberapa tahap.

Berbekal sebilah golok yang selalu terselip di pinggangnya, Haogöita mulai mencari pohon-pohon kelapa yang tengah berbunga. Batang pohon kelapa tersebut ia lukai sedikit untuk pijakan atau tangga. Ini perlu dilakukannya agar mudah mencapai bunga yang tingginya sesuai dengan ukuran pohon-pohon kelapa yang cukup tinggi di daerah ini. Selanjutnya, getah bunga kelapa tersebut ia masukkan ke dalam jerigen plastik yang memang sudah dipersiapkannya.

Dalam satu hari, Haogöita bisa membawa pulang dua jerigen getah kelapa. Selanjutnya, getah kelapa tersebut ia simpan selama satu malam untuk proses fermentasi. Pukul enam keesokan harinya sebelum berangkat mencari getah bunga kelapa yang baru lagi, getah bunga kelapa yang diendapnya semalam mulai ia masak dengan menggunakan kaleng minyak makan ukuran besar. Sebelumnya kaleng ini ia beri lubang untuk memasukkan bambu sebagai alat penyulingan. Bambu kemudian disambung hingga memiliki panjang sekitar 3 atau 4 meter. Getah buah kelapa dimasak hingga mengeluarkan asap. Setelah itu, air dalam kaleng disuling melalui bambu untuk dimasukkan ke dalam botol kaca.

Agar tuak lebih jernih, maka Haogoita memperkecil lubang bambu, sehingga tuaknya keluar setetes demi setetes. Meski begitu, api kompor harus tetap dinyalakan dengan ukuran kecil. Konon, tuak yang pertama kali disuling ini memiliki kadar alkohol hingga 35%. Sedangkan tuak yang sudah dicampur dengan air biasanya memiliki kadar alkohol 20%. Bahkan ada sumber yang mengatakan, tuak nias memiliki kadar alkohol hingga 90%. Perbedaan kadar alkohol ini tentu saja berpengaruh pada harganya. Untuk sebotol tuak asli yang belum dicampur, harganya sekitar Rp 20.000 per botol. Sedangkan yang sudah dicampur hanya Rp 7.000 per botol. Meski begitu, masing-masing tuak sudah ada penggemarnya. Mereka yang tidak tahan kadar alkohol tinggi, biasanya memilih tuak campuran. Namun banyak juga yang merasa lebih puas jika minum tuak nias asli. Kabarnya tuak ini mampu mengobati penyakit gula jika diminum sedikit demi sedikit.

Tuak nias biasanya disajikan dengan minuman yang bersoda atau minuman berenergi. Selain disajikan kepada tamu yang datang, tuak juga biasanya dihidangkan pada acara-acara adat seperti pernikahan atau kemalangan. Namun tuak juga bisa ditemukan di warung-warung minuman. Bahkan, bagi sebagian orang yang berkunjung ke Nias, tuak nias biasanya dijadikan buah tangan.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kini Haogoita harus lebih hati-hati menjual tuaknya karena razia terhadap minuman keras makin gencar dilakukan aparat. Mau tak mau, ia hanya bisa menunggu pembeli yang datang ke rumahnya. Meski begitu, setiap hari, tuak bikinannya selalu habis terjual, bahkan terkadang ia harus mempersiapkan pesanan orang yang akan dibawa keluar kota. Jadi, kalau Anda menjejakkan kaki ke Tano Niha, jangan lupa membawa tuo niha sebagai buah tangan. Tentu dengan catatan, harus pandai-pandai membawanya kalau tak ingin berurusan dengan pihak berwajib.

LEAVE A REPLY