Uncle Ooi dan Aba Wajedi

1
522
Uncle Ooi.
Uncle Ooi.

“Semakin mewah kendaraan yang membawanya ke penguburan, maka semakin terhormat kedudukannya di tengah masyarakat. Mereka juga percaya, semakin tinggi tanah pekuburan yang dihuninya nanti, berarti semakin dekat ia ke surga”.

—————-

Susah payah orangtua ini mendorong sepedanya. Di beram jalan antara parit dan jalan raya, ia mendorong sekuat tenaga. Beram itu sedikit mendaki. Tak cukup hanya tangannya,  wajahnya pun dirapatkan ke setang sepeda di mana banyak terdapat tumpukan kardus. Otot-ototnya mengeras dan terlatih. Dengan mengerahkan tenaga dari dada dan menjepitkan ketiaknya di batang utama sepeda, ia akhirnya berhasil naik ke jalan raya. Lalu ia mulai tertatih-tatih menyusuri jalan seperti hari-hari sebelumnya. Di belakangnya penuh barang rongsokan.

Tiap Subuh keluar rumah untuk berkeliling kawasan Seri Petaling Kuala Lumpur, memeriksa setiap tong sampah manusia—siapa tahu ada botol bekas, kaleng dan besi-besi tua—dan mengangkutnya ke badan sepeda tuanya, Uncle Ooi memang tidak pernah berniat duduk diam di rumah.

Jangan cepat-cepat tertipu dengan penampilannya. Uncle Ooi tidaklah miskin-miskin amat. Ia tinggal di apartemen anaknya yang cukup nyaman di kawasan pemukiman kami. Siang hari ia tukar sepeda itu dengan motor tuanya, mengantarkan cucu ke sekolah, lalu membawa rantang makanan ke bengkel anaknya. Kebanyakan orang tua dari etnis Tionghoa bukanlah benar-benar sesulit yang tampak dari citra pekerjaannya. Uncle Ooi sudah bertekad, selagi hayat dikandung badan, pantang untuk menengadahkan tangan, sekalipun kepada anaknya sendiri.

Keluarga Tionghoa terkenal keras dalam melatih diri. Kalau uang tak mencukupi, mereka sanggup mengganti makan malamnya hanya dengan remah-remah roti, asalkan berhasil dalam pendidikan. Ajaran begini mengakar kuat sejak dari rumah. Sesekali perhatikanlah isi rumah mereka. Seandainya ada sembilan orang yang hidup dalam satu rumah, maka bisa dipastikan delapan orang akan cari makan. Hanya seorang yang menunggu di rumah dan diberi makan. Biasanya yang tinggal itu adalah balita ataupun orang tua yang sangat renta.

Seandainya ayah mereka punya kedai, maka semua anak-anaknya akan membantu. Tak kira kerja yang ringan atau susah. Mulai dari membungkus, jadi kasir, atau menyusun barang di gudang. Kalau sudah mampu berjalan dan bicara, maka seorang anggota keluarga akan dilatih dan dibiasakan bekerja. Sekurang-kurangnya menyapa pelanggan yang datang. Menebar senyum.

Tali keluarga diikat sangat erat. Untuk membangun sebuah bisnis, mereka tidak akan minta bantuan pada orang lain. Lebih diutamakan dari keluarga. Baik bantuan modal, bahan baku, atau sewa kedai. Semuanya harus diusahakan dari keluarga terdekat. Dalam hitungan dua tiga bulan, mereka rela tidak mengambil seringgit pun keuntungan. Hanya jual modal. Yang penting orang ramai datang. Soal makan untuk anak istri, ada keluarga lain yang menangani. Tidak heran mengapa etnis ini selalu berhasil dalam berniaga.

Malam hari, Uncle Ooi masih menjalankan lagi operasinya. Di usianya yang cukup senja, berjalan tiga kali sehari adalah kewajiban. Sambil berjalan di padang kawasan rumah, ia mengutip kaleng-kaleng bekas minuman. Mengumpulkan duit-duit shilling untuk ditukar menjadi ringgit. Ia akan berkorban untuk memenuhi persiapan hari kematiannya. Mengikut strata sosial kaumnya, semakin mewah kendaraan yang membawanya ke penguburan, maka semakin terhormat kedudukannya di tengah masyarakat. Mereka juga percaya, semakin tinggi tanah pekuburan yang dihuninya nanti, berarti semakin dekat ia ke surga. Untuk mencapai tempat yang tinggi dan diantar dengan kendaraan mewah itu, Uncle Ooi perlu berkorban waktu dan tenaga siang dan malam. Sebab biayanya cukup besar dan ia ingin menyelamatkan martabat keluarga sepeninggalnya nanti.

***

Pak (Aba) Wajedi berdiri di antara orang-orang Melayu kawannya. Di antara rekan-rekan sebangsanya, tampaklah bahwa ia lebih dihormati. Mereka tinggal dengan predikat perantau di Gambang, Pahang. Penampilannya sudah hampir sama dengan orang Melayu setempat. Hanya sarungnya yang membedakan. Ia lebih suka pakai sarung batik motif Donggala yang banyak dijual di kampungnya. Pun orang-orang Melayu kawannya sebenarnya pakai sarung buatan negaranya. Terutama yang bermerek buah, yang dagingnya harum lagi manis dan bermerek binatang berbadan besar yang sedang duduk.

Jauh-jauh Aba Wajedi merantau dari Sapeken, Madura. Meninggalkan anak dan istri. Kerjanya hanya mengangkat batu di tapak konstruksi. Yang membuatnya lebih dihormati di sini adalah kepakarannya dalam perkara menjinakkan lembu kurban.

Mula-mula ia sampai ke Malaysia, hatinya terenyuh melihat cara orang di sini menumbangkan lembu kurban. Ia melihat tindakan itu agak kasar. Seekor lembu yang akan ditumbangkan hampir mengamuk karena salah perlakuan. Lembu-lembu lainnya pun jadi panik.

Tangan Wajedi dingin. Ditenangkannya lembu yang mengamuk itu. Pelan-pelan dililitnya seutas tali panjang melalui leher, kaki depan hingga belakang. Hanya berdua dengan temannya, lembu itu pasrah di hadapannya. Karena “kesaktiannya” itu, Aba Wajedi dihormati. Di kampungnya, lembu adalah mainannya sehari-hari. Mau dibuat balapan juga bisa. Tinggal cucuk saja buntutnya pakai paku.

Wajedi mengorbankan tenaga dan waktunya untuk kehidupan yang lebih baik. Ditinggalkanya keluarga di kampung. Dia alumni pondok Temboro, Jawa Timur. Setiap Hari Raya Haji, ia selalu ingat pesan gurunya. Ke mana pun merantau, ingatlah selalu kisah Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berjalan dari Palestina ke Mekkah. Sampai di sana Nabi meninggalkan Siti Hajar dan Ismail dengan berbekal sebungkus kurma dan sebotol air. Lalu ia kembali lagi ke Palestina. Bertahun-tahun mereka tak jumpa. Ketika kembali ke Mekkah, ditemuinya Ismail yang sudah mulai besar dan soleh. Bahkan siap merelakan dirinya untuk disembelih sebagai kurban. Kesolehan Ismail berkat didikan Siti Hajar. Dan Siti Hajar di-tarbiyah suaminya melalui jarak jauh, tanpa campur tangan sembarang teknologi.

Begitulah harapan Wajedi si tukang batu. Setiap Hari Raya Kurban tiba, ia selalu berdoa agar dirinya “di-Ibrahim-kan”, meminta agar istrinya di-Siti Hajar-kan”, dan memohon agar anaknya “di-Ismail-kan”. Tiga tokoh utama dalam pentas pengorbanan manusia pada Ilah-nya. Pengorbanan satu keluarga. Sejak dahulu hingga akhir zaman.

Selamat Hari Raya Kurban. Semoga Allah menerima segala bentuk pengorbanan kita. Amin.

 

(Danil Junaidy Daulay, Kuala Lumpur, Malaysia)

SHARE
Previous articleHulu Karang Anyar Simalungun yang Misterius
Next article

1 COMMENT

LEAVE A REPLY