Warung Misop Paling Hi-Tech di Siantar

0
1019

Inilah saatnya saya ingin bicara tentang makanan, tapi bukan dari segi rasanya. Ketika puluhan remaja selalu memenuhi suatu warung dan setia berkumpul di sana untuk mencicipi menu utama berupa misop, apa sih yang ada dalam pikiran mereka?

Ayo kita ke Pematang Siantar. Kota ini sedang mengalami pubertasi yang hebat dalam industri kuliner. Setelah menu-menu klasik mereka seperti roti ganda, kopitiam, nasi galung, mie keriting dan minuman soda cap Badak yang merangsek hingga ke Kota Medan dan sekitarnya, kini Kota Pematang Siantar gantian diserbu oleh menu-menu makanan luar yang telah dibubuhi merek dagang dan nama yang sudah dikenal.

Tapi nun di Jalan Sudirman, ada satu warung yang tampil percaya diri dengan nama yang cukup aneh, “Warung Misop Pematang” atau WMP. Namanya terdengar sangat lokal. Dengan menu andalan berupa misop, warung ini juga menyediakan aneka menu lain di luar bahan dasar mie. Sepintas, ya biasa saja. Banyak warung misop di mana-mana, bukan?

Tapi tunggu dulu. Warung misop lain tidak seramai ini.

Sebuah rumah panggung besar yang sudah tua, jadul, malah dicat warna-warni cerah. Halamannya luas, sepeda motor terparkir panjang di sana. Ada pagar tanaman hidup yang membatasi rumah ini dengan jalan. Seseorang menunjuk arah masuk, anehnya justru dari pintu dapur belakang. Saya malah merasa sedang berkunjung ke rumah seorang tetangga di masa lalu.

Seorang pelayan, masih belia, memberikan salam hormat pada kami seperti sikap anak pada orang tuanya. Alahmakjang, saya langsung merasa terlalu tua. Naik tangga, tiba-tiba terdengar suara riuh. Di ruang tengah rumah panggung ini, anak-anak remaja berkerumun, bersila, mengelilingi meja rendah. Tahulah anak muda. Mereka selalu heboh, berkawat gigi, memegang gadget, dan menyukai topik-topik yang tak bisa lagi saya pahami. Saya merasa semakin tua ketika harus mencari satu meja yang kiranya tidak akan mengganggu keasyikan mereka. Dari sebuah meja yang saya temukan di ruang tengah ini—ada sekitar 7 meja lebar di sana—saya melirik gerombolan remaja yang lain di kamar-kamar yang lebih kecil. Dulu kamar-kamar itu tentulah dipakai sebagai kamar tidur oleh si pemilik rumah pertama. Di sana para pengunjung merasa lebih privat. Satu di antara kamar itu telah dibuat menjadi mushalla.

web-remajaDi beranda depan, tempat dimana seseorang bisa memandang lepas ke arah jalan, sebuah meja dan bangku panjang telah disediakan. Beberapa orang yang lebih dewasa menyukai tempat ini. Udara berhembus bebas. Tidak ada satu pun pendingin ruangan digunakan di warung ini. Dengan jendelanya yang lebar-lebar, sirkulasi udara lebih dari cukup untuk puluhan tamu yang tumplek di dalam. Rumah lama memang punya selera yang lebih baik dibanding rumah masa kini.

Seluruh ruangan rumah telah berubah. Rumah tua, penampilan muda. Warna catnya tabrak lari. Warna-warninya seperti pelangi. Karena cat tersebut, para pengunjung setia WMP kemudian punya nama rujukan tersendiri untuk warung ini. Mereka bilang, Warung Pelangi.

Sebuah daftar menu telah disodorkan pramusaji. Kami tentu memilih menu andalannya. Misop komplit. Minumannya jus serahe (serai jahe). Si pramusaji tidak membawa buku daftar pesanan. Di tangannya hanya ada sekeping tablet, dan dia mengetik pesanan kami di sana. Setelah semua pesanan tercatat, ia mengetik “send”, dan seluruh pesanan kami telah terkirim. Di dapur, para koki telah membaca surat pesanan itu melalui komputer, dan seketika itu juga mereka mulai menyediakan menu-menu tersebut. Pelayan tak perlu lagi meneriakkan nama menu ke bagian dapur, atau bolak-balik mengantar kertas orderan ke belakang. Semuanya sudah online. Wah, warung canggih!

Pramusaji mencatat pesanan dengan sebuah tablet.
Pramusaji mencatat pesanan dengan sebuah tablet.

Tidak berapa lama, misop pesanan saya telah tiba. Sepiring misop besar, masih mengepul. Selain mie, ada telur, daging ayam, dan jamur. Daging ayamnya, lengkap mulai dari ceker, irisan daging, sampai tulang-tulangnya yang hancur untuk memperkuat kaldu dalam kuah misopnya. Bagi saya misop WMP ini adalah citarasa Jawa, manis dan memilih jalan aman dalam soal cabai. Mereka memang menyediakan sambal andaliman yang khas dari masyarakat Batak, tapi juga tetap mengandung manis. Tiap orang mungkin punya selera pribadi. Bagi saya, misop WMP tampaknya lebih mengedepankan faktor kesehatan ketimbang keberanian. Saya lebih condong pada yang kedua. Mungkin ini adalah kesalahan saya sebagai orang Medan hahaha…

web-menuTapi saya memberi appresiasi secara khusus pada jus serahe yang terasa segar karena dibuat dengan bahan-bahan yang memang segar, bukan kemasan. Minuman ini tidak pernah saya dapatkan dalam daftar-daftar menu makanan sebelumnya. Minuman berasaskan jahe mungkin banyak, tapi kalau dicampur dengan rasa dan aroma serai, ini pengalaman baru bagi saya. Kehangatan dan kesegaran menjadi kekuatan minuman ini. Anda bisa memesannya dalam keadaan dingin, hangat maupun panas.

Supardi, pemilik warung ini, adalah enterpreneur muda yang bersemangat. Ibunya telah mendirikan warung misop sejak tahun 1999. Sebuah warung kaki lima pada awalnya, tidak terlalu istimewa. Supardi sendiri memilih merantau ke Jawa untuk membangun bisnis, tapi di luar sana usahanya kandas begitu saja. Ia lalu pulang ke rumah orang tuanya, dan berhadapan kembali dengan kenyataan sebuah warung misop kaki lima yang begitu-begitu saja. Sejak itulah, ia mulai punya pikiran yang berbeda. Mengapa tidak memulai bisnis dari usaha yang sudah ada saja?

Lalu Supardi membantu ibunya, dan ia diizinkan untuk mengembangkan warung kaki lima mereka. Ketika pindah dari kaki lima ke rumah kontrakan berupa bangunan tua di Jalan Sudirman itu tahun 2013 lalu, ia memutuskan untuk tetap menggunakan nama “warung” karena terasa lebih egaliter dan tidak “berat” di telinga.

Sambal andaliman.
Sambal andaliman.

Kemampuannya mem-branding warungnya sebagai tempat hang out yang asyik bagi para remaja Siantar kemungkinan adalah bakat alam. Atau barangkali, dia adalah pemuda yang bisa menangkap dan mewakili jiwa generasinya. Bukankah tidak banyak anak muda yang mau mengelola warung misop? Warung misop itu identik dengan usaha mbok-mbok. Tapi Supardi telah menciptakan market ini. Ia mempekerjakan para  remaja di warungnya. Mereka dilatih secara profesional agar menjadi  “sahabat” bagi para tamunya. Mereka luwes dan sigap, tetapi tetap sopan, serta memiliki attidute yang menyenangkan.

“Padahal, sejak awal saya tidak pernah membayangkan sebuah warung yang khusus bagi para remaja. Sampai saat ini saya tetap menganggap bahwa keluarga adalah market kami juga. Biasanya, pada malam hari, tamu keluarga masih datang. Memang ada semacam polarisasi waktu bagi remaja dan keluarga. Pada siang hari, hampir seluruh tamu kami adalah remaja, anak-anak sekolah. Malam harinya giliran orang tua,” papar Supardi.

Ada-ada saja kegiatan yang dilakukan para remaja di WMP. Terkadang mereka merayakan ulang tahun temannya, mengerjakan PR bersama, nongkrong, membikin rencana, diskusi dan sebagainya. Warung ini tampaknya telah memandu mereka ke jalan yang benar. Saya tidak melihat ada remaja yang merokok, berlaku tidak sopan dan hal-hal negatif lainnya. Apakah ada peraturan-peraturan khusus yang melarang hal itu, saya tidak tahu.

LEAVE A REPLY