Wesly Hutagalung

0
605

Tidak semua impian yang kita gantungkan saat masih kecil dapat terwujud saat kita dewasa.  Terlebih bila impian itu “ditaruh sangat tinggi”, misalnya ingin mengelilingi seluruh negeri di dunia. Akan lebih rumit pula bila harapan itu diembel-embeli dengan cara menumpang kapal pesiar nan mewah.

Namun Wesly Hutagalung sudah bersumpah untuk dirinya sendiri. Ia akan melakukan itu. Bukan dengan mengumpulkan banyak uang sebagai biaya perjalanan, tetapi dengan memanfaatkan kecintaannya yang besar terhadap dunia pariwisata. Maka, awal tahun 2000 lalu, selepas menamatkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, ia meninggalkan impian orang tuanya agar menjadi seorang pengacara terkenal sebagaimana pengacara-pengacara Batak lainnya. Di kampus yang sama, ia memulai studi baru di jurusan pariwisata.

“Saat itu saya berpikir, kok anak pariwisata itu keren. Mereka saya lihat seperti manusia yang bebas. Bisa keliling dunia. Sejak itu, saya tinggalkan dunia hukum dan masuk studi kepariwisataan,” ujarnya.

Wesly Hutagalung saat berada di Vietnam
Wesly Hutagalung saat berada di Vietnam.

Begitu lulus dari diploma pariwisata, Wesly mengikuti satu job expo di UGM. Ia melihat ada lowongan yang menawarkan pekerjaan di kapal pesiar.

Kapal pesiar? Wow! Ini adalah kesempatan manis untuk cita-citanya yang sudah tak tertahankan lagi. Dia pun terpilih menjadi salah satu kru Holland America Lines yang terkenal dengan kemewahannya. Dengan kapal pesiar ini, Wesly bisa menyinggahi beberapa negara dan kota besar dunia seperti Barcelona, Venesia, sampai Vatikan.  “Mengikuti kapal ini, saya tidak hanya merasa bekerja, tetapi juga pelesiran ke berbagai penjuru dunia,” katanya.

Pengalaman-pengalaman unik pun silih berganti ia nikmati. Di Barcelona, Wesly pernah berjumpa dengan Lionel Messi. Tentu saja tidak gampang untuk menemui pemain terbaik dunia empat kali tersebut. Para penggemarnya harus menunggu selama satu harian penuh jika ingin sekadar berfoto dan menyapa Messi.

Wesly Hutagalung dab rekannya saat berfoto bersama Lionel Messi di Camp Nou stadion kebanggaan Club Barcelona
Wesly Hutagalung dan rekannya saat berfoto bersama Lionel Messi di Camp Nou, stadion kebanggaan FC Barcelona.

Namun dengan mengikuti program touring di markas tim Catalan di Camp Nou, mimpi itu bisa diwujudkan. Ia cukup mengeluarkan 20 euro untuk mengikuti touring di stadion legendaris yang besar dan luas itu.

“Mereka memiliki museum, deretan tropi, dan kita diberikan kesempatan sesi foto bersama bintang sekelas Lionel Messi atau Xavi Hernandes,” katanya. “Di samping itu, mereka juga mereka menjual berbagai suvenir yang berhubungan dengan klub, termasuk jersey Barcelona”.

Tidak hanya mengunjungi Kota Barcelona, Wesly juga terkesan saat berkunjung ke ujung belahan dunia yang lain, yaitu Kota Ushuaia di  Argentina. Awalnya ia tidak percaya kalau dunia ini memiliki ujung, namun setelah melihat dan mengunjunginya langsung, barulah ia percaya.

Ushuaia adalah kota yang terletak di bagian paling luar Benua Amerika yang berbatasan langsung dengan benua paling jauh dan terdingin, yakni Antartika, kutub selatan. Inilah satu-satunya benua yang tidak bisa ditinggali manusia karena suhunya jauh di bawah nol derajat celcius.

Di Ushuaia saja, ia sudah mulai merasakan suhu yang menusuk tulang belulang. Siapa saja yang datang ke kota ini, maka ia harus siap sedia dengan jaket super-tebal bila tak ingin menggeletar di bawah minus 15 derajat.

Sebagai orang tropis, Wesley hampir tak kuat dengan cuaca itu. Tapi ia harus tetap keluar untuk mendapatkan piagamnya. Ya, warga setempat  menyediakan piagam bagi siapa saja yang mengunjungi kota mereka tersebut. Piagam itu menyatakan bahwa seseorang yang menerimanya sudah pernah mendatangi “kota ujung dunia” itu.

Bersama warga Argentina, mendapatkan sertifikat Ushuaia
Bersama warga Argentina, mendapatkan piagam penghargaan berkunjung di kota terdingin Ushuaia, Argentina.

“Orang kota setempat memberikan piagam itu pada kami untuk kami tandatangani langsung. Mereka juga memberikan kesempatan untuk berfoto bersama mereka,” katanya.

Namun pengalaman yang  tidak bisa begitu saja ia lupakan saat bekerja di  Holland America Lines adalah ketika pada tahun 2005 badai hurricane Katerina meluluhlantakkan negara bagian New Orleans, Amerika Serikat. Peristiwa itu hampir saja membuat kapal yang mereka tumpangi karam dan tersapu badai. Saat itu kapal mereka sedang berlayar di Teluk Mexico yang dekat dengan negara bagian Florida.

“Di dalam kabin, semua awak kapal sudah mempersiapkan alat keselamatan untuk  menghadapi badai yang menaikkan air laut setinggi 7 meter. Kapten pun sudah memberikan peringatan bahwa badai itu akan menghantam kapal dengan sangat keras, dan seluruh kru bersiap-siap untuk menghadapi situasi yang terburuk sekalipun. Saat itu situasi sudah kritis sekali. Saya sendiri dan penumpang lainnya sudah siap sedia mengenakan baju pelampung untuk mengantisipasi hal yang terburuk. Kami berdoa bersama untuk keselamatan nyawa kami. Saya berpikir hanya Tuhan-lah yang bisa menyelamatkan kami saat itu,” ujarnya.

Tiba-tiba saja badai itu mengenai bagian ekor kapal dan nyaris membuat kapal mewah itu menjadi puing-puing. Laut mengamuk dan membuyarkan mental. “Untunglah situasi itu tidak menimbulkan kerusakan yang berarti karena kesiapan dan kesigapan seluruh awak kapal dalam menghadapi bahaya. Tidak satu pun ada korban jiwa dalam peristiwa itu di dalam kapal,” ungkap Wesly.

Seluruh kru dan awak kapal mendapat apresiasi dari Pemerintah AS saat itu karena dianggap bisa menyelamatkan ribuan penumpang yang saat itu sedang berlayar bersama Holland America Lines.

“Atas jasa yang besar itu, Pemerintah AS kemudian menyewa kapal kami untuk kepentingan evakuasi dan menjadi tempat menginap para relawan dan polisi yang membantu korban badai Katerina di sana selama enam bulan. Ini membuat saya bebas sebebas-bebasnya tinggal di AS tanpa harus melakukan rutinitas pekerjaan yang biasa dilakukan di dalam kapal,” katanya.

Semua pengalaman itu tetap lekat dalam ingatan Wesley. Kini ia fokus untuk berbagi pengalaman kepada anak muda lain yang ingin merasakan pengalaman hidup seperti dirinya. Saat ini ia tengah mengelola sekolah bagi mereka yang ingin mendapatkan pelatihan bekerja sebagai kru kapal pesiar maupun bekerja di hotel-hotel ternama internasional dengan nama Wesly’s College.

Bertempat di Jalan Sei Sisirah No.12 Medan, Wesly akan mengajarkan para siswanya keterampilan memberikan service layaknya di hotel, menjadi waiters, bartender sampai melatih sikap dan berbahasa yang baik untuk menghadapi tamu-tamu internasional di sebuah kapal pesiar.

(FRD)

LEAVE A REPLY