Ziarah ke Al-Maghribi (III): Kulit Kambing yang Halus

1
763
Kereta menuju Marrakech.
Kereta menuju Marrakech.

Kereta telah tiba. Di gerbong-gerbongnya yang panjang tertulis ONCF. Itu adalah akronim berbahasa Perancis, yang menjelaskan bahwa perusahaan kereta ini adalah milik kerajaan. Saya tak dapat menjelaskannya lebih jauh.

Para penumpang naik dengan tertib dan mereka tidak perlu khawatir kehilangan kursi. Meski tiketnya tanpa nomor bangku, tidak sulit bagi kami menemukan tempat duduk yang kosong. Yang perlu kami ketahui adalah, bahwa kami harus duduk di  kelas ekonomi.

Kereta ONCF terdiri dari kelas ekonomi dan bisnis. Gerbongnya berselang-seling, sehingga para penumpang tidak merasa terlalu terpisah oleh perbedaan kelas sosial. Apalagi, penumpang kelas ekonomi dan sebaliknya dapat saling melalui gerbong kelas yang lain.

Kami telah membayar ongkos sebesar 90 dirham per orang. Mata uang dirham (perak) ini dulunya berbentuk kepingan perak asli, tapi sekarang itu hanya tinggal nama. Kami menukar dolar pas tiba di bandara kemarin. Petugas money changer memberi kami kertas-kertas yang ditulisi dengan kata “dirham” dalam aksara Arab gundul setelah kami menyerahkan data paspor terlebih dahulu. Bila dikonversi, satu dirham Maroko setara dengan Rp 1.500. Berarti rupiah telah mengalami kemerosotan nilai lagi, karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan beberapa tahun sebelumnya, 1 dirham masih setara dengan Rp 1.000. Ini adalah masalah kurs. Masalah uang kertas.

***

Kereta meliuk kencang, membelah gelombang gurun laksana naga yang terburu-buru. Siang hari, ternyata cuaca terik sekali, hingga fatamorgana terlihat di padang-padang gersang di mana para petani membangun lahan-lahan pertanian dengan air yang mengalir lewat selang-selang buatan. Di setiap lanskap, terdapat kompleks bangunan tanah  berwarna kemerahan. Rumah para penggarap lahan tampak mirip sarang ubur-ubur tanah. Konstruksi rumah Berber hampir seluruhnya memanfaatkan bahan-bahan bangunan yang terdapat di sekitarnya. Dindingnya terbuat dari tanah dan atapnya dari susunan batang tanaman yang menyerupai gelagah, lalu ditabur dengan tanah liat pada bagian atasnya. Atap ini biasanya bocor pada curahan hujan pertama, kemudian memadat pada saat berikutnya. Bentuk bangunan tradisional itu sangat seragam, yaitu kubus-kubus.

Rumah Berber.
Rumah Berber.

Dari luar, rumah Berber tampak sangat tidak terurus, tapi bila Anda berkunjung ke bagian dalamnya maka kemewahan gurun yang tersembunyi akan mengejutkan Anda. Karpet-karpet tenunan khas Maroko menyajikan warna-warna mencolok. Mereka jagonya mengolah berbagai serat. Aneka peralatan rumah tangga yang khas menghiasi ruangan-ruangan. Kulit kambing yang disamak dengan halus menjadi alas tempat duduk yang lembut. Keterampilan mereka menyamak kulit kambing telah menjadi sumber etimologis nama sebuah kota tua yang sangat terkenal di dunia, Marrakech. Ke kota itulah kereta api ini menuju, yang juga menjadi tujuan kami selanjutnya.

Kulit kambing sebagai alas tempat duduk dan tenunan tradisional Berber.
Kulit kambing sebagai alas tempat duduk dan tenunan tradisional Berber.

Sekali-sekali saya menyaksikan petani kurus yang menaiki keledai di bawah tikaman matahari. Mereka mengenakan topi lebar agar tidak dehidrasi. Keledai menjadi sarana favorit untuk angkutan barang dan orang. Mereka menaikinya dengan duduk menyamping seperti gadis Melayu yang menumpang sepeda motor. Keledai ini nantinya akan berseliweran di kota-kota (medina) di antara kerumunan manusia di Maroko. Keledai dan orang Berber tak dapat dipisahkan.

Petani dan keledai.
Petani dan keledai.

Kami kebetulan mendapat bangku yang berhadapan dengan seorang tentara karir bersama istri dan seorang bayi perempuannya. Mereka akan pulang ke daerah Quarzazatc. Ia mengatakan, kampungnya berlokasi di sebuah lembah perbukitan di gurun, dan hanya terdiri dari beberapa rumah.  Bertugas sebagai tentara kerajaan di sebuah kompleks barak di Casablanca membuat acara mudik sangat menggembirakan baginya. Darinya kami banyak memperoleh informasi tentang daerah-daerah yang kami lalui, meskipun Bahasa Inggrisnya tidak lebih bagus dari kami.

dombaPerjalanan dari Casablanca menuju Marrakech adalah perjalanan menuju pedalaman Maroko. Semakin ke dalam, lingkungan semakin gersang. Rumput liar tumbuh bertumpuk-tumpuk, diselingi perdu kurus yang tumbuh satu-satu. Sekali-sekali ada bunga yang mekar di sela-sela lembah. Bunga-bunga itu telah mencukupkan diri dengan embun di malam hari. Begitupun, mereka tetap menyebut daerah ini sebagai dataran yang subur.

Lanskap pertanian menuju pedalaman.
Lanskap pertanian menuju pedalaman.

Satu per satu stasiun kereta telah kami lewati. Di setiap stasiun, saya sengaja turun, menyaksikan pohon-pohon jeruk dengan buah besar berwarna kuning cerah. Rupanya menggoda sekali dan ukurannya dua kali lebih besar dari sunkist yang ada di Lau Kawar, Tanah Karo. Di pinggir jalan, jeruk maroko ini—demikian mereka menyebutnya—tumbuh menjadi penghias dan peneduh. Tapi untuk soal rasa, ia hanya enak bila dijus. Itulah saya kira yang menyebabkan buah jeruk jalanan itu tidak terlalu mengundang minat untuk dipetik orang-orang yang iseng.

Dataran subur.
Dataran subur.

***

Akhirnya kami tiba di stasiun terakhir, di mana rel  kereta api ini berujung. Gerbang Stasiun Kereta di Marrakech terlihat menonjol, memiliki hall yang seolah-olah dinaungi dome. Bagian dalamnya bernuansa Arab-Maroko dan terdapat gambar-gambar besar King Hasan VI bersama permaisuri.

Jeruk maroko yang selalu ditemukan tumbuh di stasiun-stasiun kereta.
Jeruk maroko yang selalu ditemukan tumbuh di stasiun-stasiun kereta.

Kami telah memesan sebuah riad di dalam old medina lewat situs www.hostelbookers.com. Riad adalah rumah biasa yang dialihfungsikan menjadi penginapan. Mereka biasanya memiliki 10 sampai 20 kamar. Para backpacker sangat menyukai pilihan ini. Selain murah dan bisa ramai-ramai, riad juga memberikan kita pengalaman orisinal untuk tinggal di kota tua, di tengah-tengah “labirin” medina. Namanya Riad Itry. Alamatnya ditulis begini:

Riad Itry

Bab Doukkala,

Boutouil,

Derb si 195,

Marrakech, Morocco 40000

Cara membacanya, adalah “Gerbang Doukkala, Jalan Boutouil, Pasar, No. 195, Marrakech, Maroko”.  Kami kemudian menyadari, alamat itu sama sekali tidak terlalu membantu untuk menemukan Riad Itry atau riad-riad lainnya di dalam labirin kota tua. Sebagaimana labirin, ia akan selalu menyesatkan orang-orang yang masuk ke dalamnya.

Benteng kota lama (old medina).
Benteng kota lama (old medina).

Diawali dengan keluar dari stasiun kereta, kami berhasil menurunkan harga taksi yang mangkal di pelataran stasiun menjadi 55 dirham. Stasiun ini berada di luar kota tua (medina) sehingga diperlukan angkutan kecil sekelas taksi untuk memasuki benteng.  Marrakech dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu kota dalam benteng dan kota luar benteng. Kota tua selalu berada di dalam benteng. Untuk masuk ke dalamnya, terdapat beberapa bab (gerbang). Gerbang ini sekaligus menjadi identifikasi pertama bagi suatu alamat di dalam benteng. Kita bisa masuk benteng dari pintu mana saja, tapi kalau pintunya tidak tepat, maka jarak pintu dengan alamat yang dituju bisa seumpama antara timur dan barat.

Taman kota.
Taman kota.

Dengan menggunakan taksi, kami kira persoalan akan selesai dengan masalah alamat yang aneh ini. Tapi kami meleset. Si sopir taksi telah menaruh kami ke sebuah jalan yang tidak dapat diketahui ujung pangkalnya. Tidak ada nama jalannya, kecuali pertanda bahwa di sana ada pasar tradisional yang deretan pedagangnya menyelusup hingga ke gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor dan keledai. Orang-orang berjualan sayur, ikan, daging kambing, dan berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Aroma bumbu menusuk hidung dan sangat terasa asing bagi pendatang seperti kami.

Sepasang suami istri.
Sepasang suami istri di luar kota benteng.

Si sopir taksi menunjuk gang itu. Kami memasuki gang tersebut dan mencari pintu nomor 195. Tapi semakin ke dalam, semakin banyak gang. Satu gang akan berbuah banyak gang lagi. Gang dan gang lagi. Ini seperti lorong tak berujung. Setelah bolak-balik tak menentu, kami secara resmi tak mengetahui lagi di mana posisi kami. Masuk tidak, keluar tidak. Bahkan warga setempat pun tidak dapat menunjukkan alamat yang kami maksud dengan jelas. Semakin mereka memberikan penjelasan, maka bertambahlah kebingungan kami. Akhirnya kami menyerah pada anak-anak muda yang sedari tadi terus menerus menawarkan jasanya untuk menunjukkan jalan. Mereka tidak menunjukkan suatu alamat, tapi mengantarkan kami langsung ke alamat itu. Di sebuah ujung gang yang sulit saya percayai kebenarannya, kami digiring menuju pintu kecil yang tak ada plang atau tanda-tandanya sama sekali. Pintu bernomor 195 itu digedor pemandu jalan, dan ada kepala melongok keluar. Ia mengatakan bahwa kami tidak salah alamat. Dan saya harus mengeluarkan 20 dirham lagi untuk anak-anak penunjuk jalan itu, yang memanggil saya dengan sebutan “brother”. Itulah pekerjaan mereka.

Seorang lelaki melewati pintu sebuah riad (rumah) dengan pintu yang khas Maroko di sebuah jalan utama di kota tua (old medina).
Seorang lelaki melewati pintu sebuah riad (rumah) dengan pintu yang khas Maroko di sebuah jalan utama di kota tua (old medina).

Di dalam benteng Marrakech ini, setiap kesulitan akan menjadi uang. Hanya dengan menunjukkan tempat makan, kita kadang-kadang harus membayar seseorang yang telah mengangkat jari telunjuknya. Seorang tamu wanita Inggris di dalam riad yang sudah tinggal di benteng selama dua minggu, menasihati saya, “Usahakan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Dan kalau memesan sesuatu, harus berbicara jelas-jelas pada mereka. Bila terpaksa memakai jasa seseorang, jangan pernah membayar mereka lebih dari 5 dirham”.

Saya dan Abdel Hakim, manajer Riad Itry.
Saya dan Abdel Hakim, manajer Riad Itry.

Manajer riad ini, namanya Abdel Hakim. Ia lega karena telah menemukan bukti registrasi kami di database komputernya. “Welcome to Itry!” katanya. Setelah memandu kami ke sebuah kamar, ia memberikan peta kota benteng secara rinci. Saya bertanya padanya mengapa tidak ada petunjuk apapun dipasang untuk riad ini. Ia menjawab, hal itu hanya akan mengundang petugas pajak.

Kami membayar 377 dirham untuk dua malam di penginapan ini, termasuk sarapan pagi. Di lantai tiga, ada teras terbuka dimana saya dapat memandang menara-menara mesjid, perbukitan jauh, dan beberapa rumah yang memiliki taman kecil. Taman adalah kemewahan di dalam benteng. Dari riad ini, kami akan menjelajah kota benteng Marrakech yang rumit dan kompleks. Tapi itu besok saja. Malam ini tubuh rasanya sudah terlalu penat dan cuaca sangat dingin.

 

BERSAMBUNG…

(Tikwan Raya Siregar)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY