Ziarah ke Al-Maghribi (IV): Al-Qutubiyya dan Jemaa el Fena

0
769
Labirin medina.
Labirin medina.

Saya terbangun oleh azan pagi dari sebuah menara mesjid yang tidak jauh dari Riad Itry dimana kami telah menghabiskan satu malam di Marrakech. Suara azan itu tidak mengingatkan saya pada ajakan shalat sebagaimana yang kita dengar dari menara-menara mesjid  di tanah air. Cengkoknya sangat aneh, sehingga sedemikian rupa terdengar lebih mirip sebagai panggilan perang. Ritmenya tegas, maskulin, tanpa alunan sedikit pun, dan hanya ingin menyatakan apa yang dimaksudkannya.

Azan itu mengingatkan saya pada kisah tentang kedatangan infanteri pertama Muslim Arabia ke benua ini lebih dari seribu tahun yang lalu. Kekhalifahan telah mengirim suatu pasukan elit dari batalyon-batalyon yang sangat ditakuti karena keberanian dan kemampuan tempurnya. Mereka adalah kelompok khusus yang tidak tertarik pada harta rampasan perang karena mereka pergi berperang hanya semata-mata untuk mendapat ridha Allah SWT. Impian terbesar mereka adalah menjadi suhada. Karena tujuannya adalah Allah, maka mereka tidak terlalu memikirkan pulang. Hidup dan mati tidak begitu berbeda lagi bagi prajurit-prajurit ini selama kedua pilihan itu berada dalam rahmat Yang Maha Kuasa. Bisa dibayangkan, betapa serba salahnya musuh menghadapi lawan seperti ini.

Mereka terlatih fisiknya, gesit di atas kuda, sangat tinggi budi pekertinya, menjunjung etika perang, dan selalu menjaga daulah Islam di perbatasan-perbatasan terluar. Setiap kali pertempuran penting akan dilakukan, pasukan ini melakukan zikir pada malam harinya, yaitu sebuah cara untuk membuka makrifat Allah, di mana mereka memiliki kesempatan untuk menyerahkan jiwanya lebih dahulu kepada Allah sebelum kematian menjemput. Tujuan paling tinggi bagi setiap prajurit Muslim sejati adalah sahid, sehingga tidak ada ketakutan dalam hati mereka.

Orang tua dalam jelabah.
Orang tua dalam balutan jelabah.

Pasukan elit inilah yang kemudian dikenal sebagai benteng Islam atau Murabithun. Setelah penaklukan Andalusia di Spanyol dan penyebaran Islam di Afrika Utara (sekarang Maroko), pasukan ini sempat mendirikan dinasti yang dikenal tegas dan keras dalam penegakan syariah Islam. Sebagaimana asal-usul mereka, karakter Murabithun sangat kental dengan militerisme, tegas dan militan. Dan itulah kiranya yang telah saya tangkap dari cara mereka melantunkan azan yang lebih mirip komando tempur!

Jejak peradaban mereka hingga saat ini masih terlihat di Granada dan sejumlah kota tua di Spanyol, baik dalam bentuk arsitektural, seni musik maupun bahasa.  Pengaruh dan kekuasaannya mencapai wilayah sekitarnya, yaitu Eropa di bagian barat, Afrika Utara (termasuk Maroko) di bagian selatan, dan sejumlah kerajaan Eropa Timur di bagian utara.

Dalam dunia perdagangan, keturunan Murabithun ini pun dikenal sangat keras dan gigih, sebagaimana yang akan saya uraikan berikut ini.

***

Orang-orang di kota tua Marrakech hidup dari perdagangan dan gilda. Sebagai orang kota, mereka tentu tidak mau mati gaya. Karena itu, mereka membedakan dirinya dengan para petani dalam hal berpenampilan. Orang medina ditandai dengan pakaian yang bersih dan mengikuti mode, terutama kaum mudanya. Sedangkan kaum tua umumnya memakai jelabah, yaitu pakaian terusan panjang, lengkap dengan tudungnya di kepala.  Sementara para petani yang tinggal di luar benteng biasanya berpenampilan kumuh, berdebu dan tidak terlalu mementingkan mode. Pakaian mereka adalah paduan jelabah tua dengan sepatu boots yang berlumpur. Biasanya ujung bawah celana panjang mereka dimasukkan ke dalam kaus kaki, sehingga mirip dengan dinas militer.

Petani.
Petani dan keledai.

Para petani itu datang ke medina untuk menjual berbagai hasil pertaniannya. Lalu mereka pulang dengan membeli perlengkapan hidup yang tersedia di souk (pasar). Saya menyaksikan keramaian pasar mereka ketika akan keluar pagi hari dari riad. Kebetulan di Jalan Boutouil ini, hanya beberapa puluh meter dari Gerbang Doukkala, terdapat pasar harian.

Pasar ini dapat saya gambarkan sebagai berikut. Pada sebuah gang yang lebarnya sekitar dua meter, terhamparlah hasil-hasil pertanian dengan aneka warna segar yang menggoda. Tanaman-tanaman musim semi digelar begitu saja di atas tanah dengan beberapa alas rumput atau keranjang. Di sini kita menemukan berbal-bal daun mint yang sangat mereka sukai,  sayur-sayuran, dan buah-buahan yang bagiku sangat asing dan tidak akan saya sebutkan satu persatu di sini. Aneka bumbu lokal menyebarkan aroma menyengat.

web-pasar-1web-pasarDi belakang barang-barang dagangan itu, tampak para petani terkantuk-kantuk apabila sedang menunggu pembeli.  Sejak selepas Subuh tadi, mereka telah di sini. Penjual daging kambing dengan lincah menyayat-nyayat jualannya yang digantung di depan kedai. web-pasar-2Daging-daging kambing itu gemuk-gemuk dan segar sekali. Rata-rata kaum ibu di sini gemuk-gemuk juga seperti kambing-kambing itu. Tapi jangan lihat sekarang, dulunya mereka adalah gadis-gadis cantik yang pinggangnya mirip wanita-wanita Latin dengan tubuh yang tinggi langsing. Mata mereka tajam dan dalam, warisan genetika dari Arab bercampur Eropa dan Berber. Sebagian bermata biru karena tercampur oleh keturunan Eropa.

Keluar dari mulut gang, kami sampai di ring road yang sisinya berbatasan langsung dengan benteng. Ujung gang itu ditandai dengan para penjual roti yang menyusun dagangannya secara terbuka di atas kotak kayu. Roti-roti besar itu hanya berkisar satu dirham per potong, dan bagi saya, satu potong saja sudah cukup untuk dua kali makan. Umumnya yang berjualan roti adalah kaum ibu, dan mereka memasang payung untuk melindungi diri dan rotinya dari sengatan matahari.

Penjual roti.
Penjual roti.

Selepas gang, kita menemukan kedai-kedai makan berderet di sepanjang jalan lingkar. Kedai-kedai itu sedemikian kecil dan terhimpit sehingga dagangannya justru lebih banyak terletak di luar dibanding dalam kedai. Mereka menyusun dua tiga meja panjang dan steling makanan di dekat trotoar, dan kita tinggal menunjuk menu apa yang kita pilih sambil berdiri di bahu jalan. Untunglah sebagian warga lebih suka memesan makanan untuk dibawa pulang, sehingga saya dan istri saya tidak terlalu sulit mendapatkan bangku untuk sarapan.

Kedai sarapan.
Kedai sarapan.

web-menu sarapanweb-menu sarapan-1

Tajin.
Tajin.
Seporsi tanjin.
Seporsi tanjin.

Kami betul-betul ingin menikmati sarapan yang benar pagi ini. Istri saya menunjuk aneka ikan laut dari perairan dangkal, lalu terong panjang yang digoreng dengan minyak zaitun. Saya memesan daging kambing yang juga digulai dengan menggunakan campuran minyak zaitun sehingga kuahnya berkilat. Kita tidak perlu memesan roti karena yang satu ini pasti akan mereka sajikan dengan sendirinya berikut semangkuk sop panas kental yang nantinya akan menjadi  kuah roti itu.

Orang-orang makan dengan berisik di sekitar kami. Tulang-tulang ikan dan sisa makanan berserak di atas meja. Mereka makan dengan rakus dan berdecap-decap. Sangat tidak sopan untuk ukuran orang Indonesia, terutama bagi Suku Jawa. Mereka makan dengan jari tangan, yang nantinya juga berguna untuk mencongkeli sisa makanan di giginya. Tapi memang harus kami akui, makanan di kedai ini enak sekali. Saya sungguh menikmatinya, demikian juga istri saya.

Di kedai makan, kami menjadi pusat perhatian. Bahasa yang sulit membuat beberapa orang merasa harus terlibat untuk memahami keinginan kami. Kadang-kadang situasi ini kami tertawai bersama, dan mereka sangat senang karena telah berpartisipasi dalam masalah komunikasi ini.

Sepanjang pengamatan saya, satu kedai saja dapat melibatkan banyak orang. Ada koki, ada pemilik, ada pengantar menu, pembagi porsi, dan pembersih meja. Di satu kedai yang kecil ini, dengan hanya tiga meja panjang, tergantunglah nasib sekitar 8 orang.

Saling ketergantungan sangat tinggi dalam kehidupan old medina. Mereka saling topang, saling membuka, dan saling bersandar dalam unit-unit kerja yang sepele. Kadang, tugas seseorang hanyalah menunjuk meja, dan itu sudah cukup baginya. Selebihnya akan menjadi tugas yang lain. Sepintas, kehidupan di sini sangatlah ruwet, tapi bila dipahami secara keseluruhan, mereka sangat teratur. Saya tidak bisa membayangkan apabila salah satu pilar struktur sosial ini rusak dan tak berfungsi lagi. Kemungkinan akan terjadi kerubuhan bangunan sosial yang besar itu.

Dari kedai makan, kami meneruskan perjalanan menyusuri ring road. Keledai-keledai yang kelelahan tampak tertambat di dekat tembok benteng.  Di jalan ini, berbagai macam kendaraan melintas, mulai dari yang digerakkan motor, kuda hingga keledai. Sesekali, turis asing terlihat lewat menaiki kereta hias wisata yang ditarik dua hingga empat kuda. Aroma keringat hewan itu melengkapi kerumitan jalan ini.

web-keledai

Kereta turis.
Kereta turis.

Jalan lingkar ini dapat memandu pendatang baru agar tidak tersesat. Belum berani rasanya memasuki labirin kota tua di bagian dalam sebelum memahami pola besarnya. Padahal, bila kita tahu jalurnya, jarak menuju tempat-tempat publik dan peziarahan sebetulnya sangat dekat. Tapi bila tidak tahu, maka kita hanya akan berputar-putar saja di dalamnya.

Tujuan kami yang pertama adalah Mesjid Qutubiyya dan pasar Jemaa el Fena. Keduanya berdekatan dan saling berhadapan.  Menara Mesjid Qutubiyya menjulang tinggi, sehingga dapat terlihat dengan mudah. Ketinggiannya tidak boleh dilampaui oleh gedung mana saja. Jadi, mesjid ini sudah menjadi semacam landmark bagi Marrakech.

al-Qutubiyya.
al-Qutubiyya.

Ketika kami tiba di mesjid, shalat berjamaah untuk Zuhur telah selesai. Dan anehnya, kami tak bisa lagi melakukan shalat sendirian di sana karena gerbang mesjid telah ditutup. “Kenapa mesjid ditutup?” tanya saya pada seorang pengemis yang berkeliaran di pekarangan mesjid. Tapi dia hanya menggerak-gerakkan tangannya ke sana kemari hingga kami tak tahu apa-apa sama sekali.

Akhirnya dari berbagai keterangan, dapatlah kami ketahui bahwa mesjid akan dibuka kembali tepat pukul dua siang nanti. Pada pukul dua, akan ada shalat berjamaah kedua bagi warga yang belum sempat melaksanakan shalat Zuhur pertama. Dengan demikian, di kota ini shalat Zuhur dilakukan dalam dua termin.  Ini juga sangat terasa asing bagiku. Tapi mengingat kepadatan kota dan sempitnya lahan untuk mendirikan mesjid baru di dalam benteng, saya mencoba memakluminya.

web-old man talkweb-kerajinan web-kerajinan-1 web-kerajinan-2 web-kerajinan-3 web-kerajinan-4 web-kerajinan-5web-kerajinan-6 web-kerajinan-7 web-kerajinan-9Daripada bengong menunggu jam dua, kami berjalan menuju lapangan Jemaa el Fena yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari mesjid. Menyeberang jalan besar, alun-alun itu langsung tampak. Pada siang hari, lapangan masih terbuka, namun barisan toko sudah ramai. Di sinilah berbagai karya gilda dijual, meskipun sejumlah barang asing sudah masuk juga, terutama dari Cina dan India. Barang-barang handmade orisinal dari penduduk medina terdiri dari konveksi, karpet, lampu-lampu hias, perengkapan rumah, aksesori, parfum, makanan dan sebagainya.

Begitu melihat orang asing seperti kami, naluri pada pedagang itu langsung bekerja. “Halo, dari Malaysia ya?”

“Saya dari Indonesia!” kataku ketus karena tersinggung. Padahal aku tak tahu apa alasanku tersinggung. Ternyata ilusi nasionalisme sudah menyusup pula diam-diam dalam diriku. Yaitu nasionalisme hasil ciptaan Inggris dan Belanda.

“Oh, Indonesia. Assalamualaikum…marhaban…marhaban. Muslim country. Come in brother…Do you speak French? No? It’s ok?”

Kami masuk toko dan penjaga toko itu tak pernah membiarkan kami dalam keadaan tenang. Ia mengeluarkan seluruh barang yang kami tunjuk dan dengan atraktif melemparkannya ke sana kemari, menghamparkannya, dan menggantinya dengan model yang lain, mana tahu kami tertarik. Saya benar-benar merasa terjebak di sini.

Untuk urusan yang begini, maka istrikulah lawan dia yang tepat. Tawar menawar pun seumpama roller coaster. Semua harus jelas, tegas, atau Anda akan masuk ke dalam jurang kekalahan. Tapi bila semua sudah disepakati, maka kesepakatan dijalankan.

web-jemaa el fena crowdedKuperhatikan, lelaki itu mengatakan bahwa harga jelabah merah yang kusukai seharga 750 dirham. Istriku menawar 150 dirham. Aku berkeringat dingin mendengar jurang penawaran yang menganga di antara kedua harga tersebut. Mula-mula, si penjaga toko mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas, seolah-olah ia menderita dengan penawaran istriku. Ya, aku pun merasa hal yang demikian. Menurutku, tawar menawar ini tak mungkin lagi dilanjutkan. Tapi mereka memang sama-sama berdarah dingin.

“Ini kain yang bagus, lihat ini, jahitannya bagus. Kalau mau, ada kain yang lain, nah yang ini bisa 500 dirham saja,” katanya menunjukkan jelabah yang lain.

“Tapi aku mau yang itu, bukan yang lain. 150 dirham ya?” kata istriku. Aku tak tahan mendengar peperangan itu lagi, dan memilih menjauh seraya mengambil foto-foto yang kukira cukup menarik di sekitar kami. Tapi saya tetap bisa mendengar urusan tawar menawar itu dari jarak yang cukup.

Di satu pihak, lelaki itu adalah keturunan pasukan infanteri utama Muslimin Arab yang dahulu memiliki tugas-tugas khusus dari khalifah untuk menaklukkan dan menertibkan Andalusia. Nenek moyang mereka memacu kuda-kuda cepat, dan pedang tajam mereka berkelebat dihiasi kilauan matahari gurun. Di atas kudanya, mereka seperti terbang dengan jelabah-nya yang berkibar. Di pihak lain, istriku adalah seorang musafir yang melakukan perjalanan dengan cara backpacker untuk menghemat segala sisi dari pengeluarannya. Ia pun sedang berjuang keras untuk mempertahankan setiap sen dari  uang yang dimilikinya. Nah, kita tinggal menunggu siapa sesungguhnya yang memiliki militansi paling tinggi di antara kedua orang ini.

Kudengar sekilas, harga mulai turun dari sisi penjual. Tapi beringsut cuma sedikit. Dari 750 dirham ke 725 dirham. Istriku tetap bertahan. Ia terus menerus memegang jelabah itu seolah tak mau melepasnya lagi. Tentu saja si penjual makin bersemangat. Ia menurunkan lagi harganya setelah kami mengancam akan pergi. Sekarang jadi 700 dirham. “This is a good price, Brother. Just for Indonesian, I promise!” katanya beralih padaku seperti memelas. Ia tahu bahwa hatikulah yang paling lemah di antara kami bertiga.

Aku pandang istriku dan dia mendelik. “250 dirham. Final price!” katanya pada penjaga itu seperti mengacungkan ujung pedang ke leher lawannya.

Lelaki itu mendekati kami berdua. Lalu dengan nada rendah dia berbicara seolah-olah tidak untuk didengar orang lain. “500 dirham. It’s a very good price,” katanya.

Dengan itu, istriku sudah menguasai keadaan. Meskipun ini sebuah pertempuran yang panjang untuk sehelai jelabah, pada akhirnya, dengan berbagai akal bulus apapun yang dilakukan si penjaga toko itu, harga yang terjadi adalah 250 dirham. Jelabah merah itu kini milikkku. Beberapa menit lamanya kami merasakan kemenangan dan kegembiraan yang meluap. Aku langsung memakai jelabah baru itu untuk mengusir hawa dingin, dan langsung patentengan, merasa berbaur seperti orang-orang Maroko lainnya.

Tapi baru melangkah beberapa puluh meter di lorong-lorong pertokoan yang sempit dan panjang itu, seorang pemilik toko lain melambaikan tangannya pada saya. “Good jelabah, Brother. Berapa harganya kamu beli?”

“Ah, ini cuma 250 dirham…” kataku dengan maksud mengintimidasinya.

“Kalau mau, kamu bisa mengambil jelabah yang sama di sini dengan 100 dirham,” katanya sambil menunjukkan jelabah merah yang tidak ada bedanya sama sekali dengan yang saya kenakan.

Aku berpandangan dengan istriku. Langit serasa mendung. Suasana hati kami seketika membiru. Dunia di bawah kaki kami serasa runtuh berkeping-keping. “Biadaaaaab!”

“Itulah! Kamu tidak bisa sabar!” sergah istriku kesal. Aku sudah tahu, di akhir semua tragedi ini, memang harus ada seseorang yang disalahkan. Rupanya akulah yang harus memerankan itu. Jelabah yang kupakai ini tiba-tiba serasa berat sekali.

***

web-rempah kering-1 web-rempah kering-2 web-rempah kering-3 web-rempah kering

 

 

 

 

 

 

 

Kami mendengar azan di sebuah mesjid di tengah-tengah souk. Zuhur kedua telah dimulai di pasar ini. Saya memutuskan untuk shalat Zuhur di sini saja, dan Ashar nantinya di Qutubiyya. Ketika mau masuk pintu mesjid, seorang muhtasib (pengawas) mencegat kami. Dengan isyarat tangan dia mengatakan bahwa kami tak boleh masuk.

Saya merasa ini sudah keterlaluan. Kubilang, saya mau shalat. Dia tetap tak memperbolehkan. Kami ditahannya di pintu masuk dimana orang lain sudah bergegas masuk. Saya benar-benar mulai tak bisa memahami situasi ini. Saya marah dan mengatakan dengan Bahasa Batak bahwa saya mau shalat dan tidak boleh ada orang yang melarang orang lain untuk shalat. Karena kemarahan saya sangat buruk, secara tidak sadar badan saya telah berguncang sambil membuat gerakan shalat untuk menyatakan maksud saya.

Melihat saya demikian, barulah ia menepuk jidatnya. “Moslem?” katanya sambil menunjuk dadaku.

“Ya, iyalah!” aku tak peduli lagi dengan bahasa yang kupakai.

Muhtasib ini tiba-tiba meletakkan tangannya di pundakku dan mengajak masuk. Rupanya dia mengira kami orang Cina atau turis yang sedang ingin melihat-lihat. Memang di medina-medina, orang non-Muslim tidak diperkenankan memasuki mesjid karena dikhawatirkan mengotori dan merusak konsentrasi orang-orang yang sedang shalat atau zikir.  Ketentuan ini berlaku pada al-Qutubiyya di Marrakech dan al-Qarrawiyyin di Fez, dua mesjid paling bersejarah di negeri itu.

Selepas shalat Zuhur, kami melanjutkan ekspedisi shopping di Jemaa el Fena. Kali ini dengan kewaspadaan yang semakin tinggi.  Saya sendiri kehilangan selera untuk belanja. Ada sebuah kedai penjual jus jeruk yang baru buka di tengah lapangan terbuka. Ke sanalah kami melepaskan penat yang mulai menyiksa.

Jus jeruk di Jemaa el Fena.
Jus jeruk di Jemaa el Fena.
Penjual escargot.
Penjual escargot.
Seporsi escargot.
Seporsi escargot.

Setelah itu, kami melakukan shalat Ashar di al-Qutubiyya. Mengambil wudhuk dengan air hangat yang dituangkan dari sebuah ceret. Saya sungguh tidak terbiasa berwudhuk dengan cara ini. Kulihat beberapa orang juga mandi di sana.

Sehabis shalat, ada orang tua yang mendekati saya. Ia memperkenalkan diri sebagai penjaga al-Qutubiyya. Ia memegang banyak kunci di tangannya. Menggunakan Bahasa Arab, ia mengenal “Indonesi” dengan baik, dan ia berbicara tentang Imam Syafi’i. Saya bilang, saya juga mengetahui Imam Malik. Karena merasa senang, dia berbaik hati mengajak kami berjalan-jalan menaiki menara mesjid. Menara itu ternyata cukup lebar dan tidak ada anak tangga. Orang berjalan melalui jalan tanah liat yang menanjak, yang dibuat sedemikian rupa sehingga mirip alur mur yang berputar hingga sampai puncak. Keringat mengucur dari tubuh saya. Berkali-kali kami berhenti untuk mengatur napas. Semakin ke atas, panoramanya semakin asyik. Penjaga mesjid sesekali menunjukkan kami beberapa ruang dimana terdapat ukiran tua dan bekas-bekas goresan yang tidak kami mengerti maknanya. Tapi kami merasa beruntung sekali memiliki kesempatan yang bagus ini, menyaksikan Marrakech secara keseluruhan dari atas menara. Kota benteng ini ternyata indah sekali dan terpola menurut zonasi yang terencana.

Penjaga Mesjid al-Qutubiyya.
Penjaga Mesjid al-Qutubiyya.
Interior al-Qutubiyya.
Interior al-Qutubiyya.
web-qutubiyya view
Jemaa el Fena dari menara al-Qutubiyya.

Masjid al-Qutubiyya sendiri adalah sebuah mesjid yang mirip benteng sebagaimana mesjid-mesjid di Madinah, Arab Saudi. Di salah satu bagian kompleksnya terdapat taman terbuka dan reruntuhan dari bangunan-bangunan fungsional yang dibiarkan sebagaimana adanya, sehingga usianya yang tua semakin terlihat kentara. Di sekeliling mesjid terdapat taman-taman publik, dan lapangan Jemaa el Fena sendiri adalah duplikasi  dari sunnah Rasulullah yang selalu menyediakan pasar terbuka di dekat mesjid dimana para pedagang berjualan tanpa dipungut bayaran.

Semakin sore, suasana di Jemaa el Fena semakin riuh dan semarak. Musik tradisional yang didominasi gendang terdengar bertalu-talu dan menghidupkan semangat. Bus-bus pariwisata bertingkat memuntahkan para pengunjung setiap kali berhenti di jalur masuk pasar itu. Arus masuk ke lapangan semakin mengular.  Kami melarutkan diri di antara tumpahan itu. Lapangan yang tadinya kosong, kini sudah dipadati para penjual makanan dan minuman, aksesori, kain, buah, dan sebagainya. Tenda-tenda makanan telah berdiri. Makanan terlihat diserak, digantung, ditumpuk, ditata, dan dipamerkan dengan berbagai cara sehingga terlihat begitu semarak. Aroma tanjin menyebar ke mana-mana. Teh mint dituang ke gelas-gelas yang berukir. Orang-orang berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Inilah kehidupan. Orang-orang sangat bergairah, berjuang keras hanya untuk dua-tiga dirham. Allah telah membagi rezeki pada setiap orang ini. Orang-orang tua yang kurus, pemuda yang tegap, pengemis yang papa, penjual tali sepatu, penjaja roti…Dan, konon, di antara mereka, tidak sulit menemukan seorang syaikh, bila kita lebih teliti. Bahkan keledai pun ada di antara kesibukan ini.

web-kedai jemaa el fena web-kedai jemaa el fena-1 web-kedai kambing web-kedai tawar menawarSaya menarik napas. Makanan enak ada di mana-mana. Murah, asalkan jelas akadnya. Dan cemilan yang tak akan pernah saya lupakan adalah escargot. Biasanya makanan ini disajikan sebagai appetizer di Perancis. Escargot adalah sejenis keong yang hidup di darat, dan bisa jadi melata di halaman belakang rumah. Keong ini direbus dengan berbagai rempah khas Maroko. Disajikan dalam keadaan panas mengepul, dan kita akan menyeruput kuahnya sambil berdiri. Rasanya segar dan menghangatkan tubuh. Kita bisa membelinya 5 dirham semangkuk atau 10 dirham untuk mangkuk yang lebih besar.

Riad Itry, penginapan kami.
Riad Itry, penginapan kami.

Setelah makan malam dan puas mengelilingi Jemaa el Fena, kami meninggalkan suasana yang semakin menggila. Selepas Maghrib, kami mencari jalur untuk kembali ke penginapan. Tapi malam ternyata mengubah segalanya, dan kami harus tersesat lebih dulu sebelum menemukan lorong kecil menuju Riad Itry. Manajer riad, Abdel Hakim, menyambut kami di lobby. Dia bilang, tidak terlau sulit untuk memahami peta Marrakech.

 

BERSAMBUNG….

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY