Ziarah ke Al-Maghribi (V): Menembus Atlas ke Kelaat m’Gouna

3
603

kelaat-6Setelah dua malam di Marrakech, kami kembali memanggul ransel. Di Gerbang Doukkala ada terminal bus umum yang melayani hampir semua jurusan ke kota-kota di Maroko, termasuk ke Kelaat m’Gouna, sebuah kota mungil di mana mawar liar mekar pada bulan Juni setiap tahun di lembah-lembahnya yang landai dan gersang. Buku-buku panduan telah merekomendasikan kami untuk menaiki bus eksekutif dengan tingkat keamanan maksimum dan jadwal yang tepat, yaitu Supratours dan CTM. Tapi jadwal keberangkatan kedua bus itu memang sangat tepat, sehingga kami terlambat.

Tidak ada pilihan lain, kami menuju bus kelas ekonomi. Ongkosnya jauh lebih murah. Cuma 180 dirham untuk dua orang. Seorang calo telah menunjukkan bus itu kepada kami. Ternyata tidak jelek-jelek amat untuk ukuran orang Indonesia, terutama bagi kami yang sudah terbiasa dengan standar Bus Sinabung dari Medan ke Berastagi atau bus Pembangunan Semesta dari Medan ke Bukit Lawang.

Calo itu mengatakan, tinggal bus inilah satu-satunya yang menuju Provinsi Quarzazate. “Akan segera berangkat,” katanya ketika kami menanyakan jadwalnya.

Perputaran jarum jam tidak berlaku untuk bus kelas ekonomi.  Patokan mereka adalah jumlah kursi yang sudah terisi. Kami sudah memaklumi hal ini setelah melalui pengalaman yang buruk dengan bus ekonomi dari Madinah ke Mekkah. Tapi kami tak menyangka kalau waktu tunggunya bisa juga mencapai dua jam lebih. Rekor ini memang belum mengalahkan 4 jam di Madinah, tapi karena kami punya janji penjemputan dari seorang syaikh yang kami hormati di Kelaat mGouna, penundaan keberangkatan ini membuat tak enak hati juga. Beliau sudah menelepon kami berkali-kali dan menanyakan jam berapa akan sampai.  Saya memberitahu bahwa kami sudah berada di dalam bus, dan akan tiba di Kelaat dalam waktu lima jam lagi. Tapi siapa yang menyangka bahwa kalimat “sudah berada dalam bus” itu adalah dua jam lebih?

Akhirnya bus brengsek ini berangkat juga. Udara dingin menelusup dari jendela kaca sopir yang terbuka. Hal yang saya syukuri, tidak ada orang yang merokok di dalam bus. Kernet berteriak-terika dari sisi kanan bus. Saya duduk di belakang supir, dan saya cukup was-was karena di sini letak setir bus adalah di sebelah kiri, atau berlawanan dengan yang berlaku di Indonesia.  Posisi terbalik ini membuat saya selalu merasa bahwa bus akan tabrakan dengan kendaraan dari depan.

Kami melewati padang-padang gersang dan dingin. Semakin menanjak ke Pegunungan Atlas yang puncaknya berselimut salju abadi, udara makin terasa ke tulang. Tepat ketika bus akan melewati jurang-jurang paling curam di bagian punggung  gunung, bus berhenti di sebuah kedai untuk istirahat dan shalat.

kelaat-kambing bakar kelaat-kambing bakar1 kelaat-kambing bakar2Dari sebuah tungku pembakaran di kedai terbuka ini, aroma kambing bakar seketika mengisi cuaca yang dingin itu. Bisa Anda bayangkan keadaan kami pada waktu itu. Cuaca dingin. Perut lapar. Asap kambing bakar yang gemuk dan berminyak. Dan tajin yang menggelegak di dalam periuk tanah. Tuhan!

Daging kambing segar dan gempal tergantung di depan kedai. Setiap kali seseorang memesan kambing bakar, barulah pemilik daging itu menyayat-nyayatnya berdasarkan porsi yang kita minta. Kita juga bisa meminta bagian daging tertentu sesuai kesukaan kita. Kemudian daging itu dibakar di atas bara yang bahan bakarnya terbuat dari kayu-kayu keras yang tumbuh di gurun. Bumbunya sangat miskin, hanya garam bersama minyak zaitun. Saking miskinnya bumbu itu, kita pun dapat menikmati rasa daging kambing yang sebenarnya. Mashaa Allah. Saya belum pernah makan daging kambing bakar selezat ini. Dan kami membayar 50 dirham untuk dua porsi menurut ukuran orang Maroko. Bahkan saya masih harus membungkus sisa daging bakar pesanan kami, yang kemudian saya nikmati sebagai cemilan di dalam bus bersama roti yang lebarnya seperti tampa.

kelaat-atlas
Membelakangi puncak Pegunungan Atlas yang bersalju.

Dari kedai ini, sosok Atlas sudah terlihat jelas. Bentuknya seperti es krim karena salju yang menempel dan meleleh di puncaknya. Dari salju abadi ini, mengalirlah sungai-sungai ke lembah-lembah  di timur dan barat Maroko. Siapa bilang kalau sungai harus berasal dari perut hutan?  Di sini tak ada hutan sama sekali. Tapi Allah telah mengatur segalanya dengan cara yang sempurna. Salju inilah yang mengisi sungai-sungai untuk penduduk sebagai sumber kehidupan dan pengairan bagi pertanian mereka. Tidak heran bila Atlas dianggap sebagai  isu yang sangat penting di Afrika Utara. Sekali saljunya mandek, ribuan desa bisa terancam kekeringan dibuatnya.

Perjalanan dari Marrakech ke Kelaat mGouna adalah perjalanan ke arah utara dan timur laut, melalui ratusan desa dan kota-kota lembah kecil di Provinsi Quarzazate. Jalan raya sangat mulus dan sepi. Hanya padang gurun gersang yang terhampar di kiri dan kanan. Terkadang serombongan domba berjumlah ratusan hingga ribuan ekor, berbulu tebal, terlihat tekun merumput di padang-padang. Saya baru tahu bahwa rumput di sini lebih berminyak dan tebal, sehingga domba-domba menjadi gemuk-gemuk. Mengkonsumsi dagingnya telah membuat tubuh orang Maroko dapat bertahan terhadap cuaca dingin. Kulitnya menjadi bahan pembuatan konveksi dan fashion. Sedangkan bulunya digunakan sebagai serat wol bermutu tinggi, yang tentu telah Anda  maklumi harganya ketika dijual di mall kelas atas dalam bentuk jas.

Meskipun tanah di pedalaman Maroko sangat kurus dan jarang sekali disiram hujan—di sini peristiwa hujan bagaikan sebuah keajaiban—namun mereka dapat menciptakan ketahanan pangan dari tanaman khas empat musim, serta energi yang cukup untuk  menerangi seluruh pemukiman, dus pabrik-pabrik di pusat-pusat industri. Sepanjang pengalaman kami di negeri ini, tidak pernah ada peristiwa mati lampu atau kasus pemadaman bergilir. Mereka tidak dimiskinkan oleh alamnya. Tapi perubahan cara hidup merekalah yang mulai mengancam masa depan mereka sendiri. Kapitalisme dan praktik riba. Konsumsi yang tak perlu. Barang-barang Eropa. Kredit. Dan seterusnya.

Pohon-pohon kurma tumbuh rapi di beberapa desa. Sebagian menjadi taman hias atau pertanda batas.  Tapi kualitas buah kurma di sini tak sebaik di Madinah. Warnanya cenderung kuning, kecil dan lebih asam. Saya hanya mencicipinya, dan tidak berselera untuk membelinya. Produk kebudayaan mereka yang utama adalah berkaitan dengan kambing. Baik dari segi kuliner, fashion, organisasi penggembalaan dan kekerabatan. Bahkan istriku dengan tidak berperasaan telah mengatakan bahwa cara mereka bernyayi juga terdengar seperti suara kambing. Ia tidak mengada-ada. Tapi dia terlalu jujur untuk mengatakannya. Mungkin ia telah bosan mendengar lagu-lagu daerah yang diputar berulang-ulang selama lima jam di dalam bus sehingga terdengar sama saja, yaitu seperti kambing mengembek.

Saya tidak bisa tidur di dalam bus. Rasanya tak ingin melewatkan setiap detik perubahan pemandangan di luar jendela kaca mobil. Ketika kami melewati lekukan-lekukan tipis di Pegunungan Atlas, darah saya berdesir melihat ke bawah. Bus melipir mengikuti kontur punggung pegunungan yang lancip. Di kiri kanan adalah jurang yang dalam dan tajam. Jalur meliuk ini lebih mengerikan dari jalan Sibolangit-Berastagi yang jurangnya hanya pada satu sisi. Saya merasa melayang di tengah-tengah penumpang lain yang tertidur dengan tenang setelah kenyang makan daging kambing.

kelaat-jalur atlas
Jalur menembus Atlas.

Perjalanan menembus Pegunungan Atlas merupakan pengalaman yang saya impikan sejak lama. Ini adalah salah satu simbol Afrika Utara. Pegunungan ini sekaligus menjadi batas alam Quarzazate di bagian barat dengan wilayah pesisir. Selanjutnya kami mulai memasuki provinsi yang dihuni oleh kaum Berber ini. Bus mulai sering berhenti untuk menurunkan penumpang di beberapa desa dan kota kecil. Papan penunjuk arah di jalan raya menginformasikan bahwa “El Kelaa” tinggal 40 km lagi. El Kelaa adalah sebutan Bahasa Perancis untuk Kelaat mGouna. Secara lebih lengkap, mereka menyebutnya El Kelaa Des mGouna.

Akhirnya, senja telah tiba. Dan tiba jualah kami di sebuah lembah yang landai dimana satu sungai bening telah mengalir melalui lekukan lembah terbawah. Sungai itu sangat dangkal dan nyaris tak beriak. Di sekitarnya tumbuh pohon-pohon zaitun dan mawar liar. Bunganya belum kembang karena musim semi masih terlalu dini. Perbukitan memerah bata, seolah perpisahan sedang berlangsung. Matahari meninggalkan gurun seperti kisah tua yang dilupakan. Para penduduk merapatkan jubahnya dan duduk bergerombol di kedai-kedai. Mulut mereka berasap. Mulut kami juga berasap.

Bus menurunkan kami di sebuah lapangan umum. Kota ini demikian kecil sehingga tidak akan  menyulitkan pertemuan. Seorang pendatang selalu cepat diketahui hampir separuh warga kota, sehingga ketika kami berdiri tak jauh dari bundaran, maka tidak sulit bagi Syaikh untuk menangkap sosok tubuh kami yang asing dengan sepasang matanya yang tajam seperti elang.

Welcome to Kelaat. Everything ok? Good”. Itu sajalah yang beliau ketahui tentang Bahasa Inggris. Selebihnya ia menggunakan Bahasa Arab. Dan kami pun bercakap-cakap dalam dua bahasa yang berbeda, namun sungguh ajaib karena kami tetap dapat saling memahami. Ternyata ada bahasa lain yang lebih sensitif dari bahasa percakapan. Seluruh gerak-geriknya menunjukkan penerimaan yang tulus. Dari balik alis matanya yang tebal, ia selalu menunggu apa yang kami katakan dengan serius dan sungguh-sungguh. Kami merasa sangat diterima sebagai keluarga di sini. Ia menyambar tas kami dan tidak mengizinkannya saya bawa sendiri.

Beliau adalah Syaikh Mourtada Elboumousholi.  Usianya hanya terpaut sekitar dua atau tiga tahun dari saya, berarti ia baru sekitar 41 tahun. Di usianya yang demikian belia, banyak orang bertanya-tanya  mengapa beliau yang diangkat oleh Syaikh Abdalkadir as-Sufi sebagai pimpinan tariqah yang baru. Sedangkan syaikh senior yang tinggal di Cape Town, Afrika Selatan, itu sendiri sudah hampir mencapai 80 tahun. Bagi saya, pertanyaan itu langsung pupus begitu bertemu dengannya. Syaikh Mourtada menyimpan sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Beliau selalu memiliki ruangan luas di hatinya bagi semua orang yang bertemu dengannya sesibuk apapun situasinya. Ia bisa membagi kasih sayang yang begitu banyak untuk semua orang tanpa kenal lelah. Tidak ada yang merasa diabaikan.

Ketika kami baru sampai di Cassablanca, beliau sudah menelepon dan mengatakan dengan antuasias: “Kedatangan kalian ini membawa berkah Allah, karena bersamaan dengan kelahiran putri pertama saya”.

Beliau sudah menikah selama sembilan tahun, namun baru hari ini dikaruniai seorang anak. Untuk menyambut kelahiran bayi yang cantik itu, seluruh keluarga besar telah berkumpul di rumah Syaikh, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan. Mereka berdatangan dari tempat-tempat yang cukup jauh, dan rumah Syaikh seketika penuh. Kami disambut di ruang utama dan memiliki kesempatan untuk menimang bayi itu dengan selendang batik yang sengaja kami bawa. Mereka senang sekali dan merepotkan diri untuk bertemu dan bersalaman dengan kami. Keluarga ini benar-benar memiliki kualitas keluarga seorang syaikh.  Meskipun masih terbaring lemah, istri Syaikh, Ibu Khoulud, memaksakan diri berbincang dengan kami.

Sehabis shalat Maghrib berjamaah mengikut Syaikh, kami diantar ke hotel yang telah disediakan beliau. “Rumah sedang penuh, saya kuatir kalian sulit istirahat. Kalian pasti capek sekali di perjalanan,” katanya lewat dua ponakannya yang menerjemahkan kata-kata Syaikh ke dalam Bahasa Inggris.

Rumah Syaikh adalah sebuah jawiyya. Konsep jawiyya ini merujuk pada sebuah komplek pemukiman keluarga besar, dimana terdapat beberapa rumah yang dibangun oleh satu keturunan pada suatu tempat yang cukup luas karena mencakup kebun, bangunan fungsional, bahkan kadang-kadang ada sebuah mesjid. Di dalam sebuah jawiyya, terdapat bangunan-bangunan tua yang tak dihuni lagi karena sudah habis usianya. Bangunan tua itu dibiarkan rubuh hingga lama-lama akan rata dengan tanah, seperti tanaman yang lapuk lalu membusuk secara organik. Jawiyya ini memiliki perpustakaan keluarga, rumah-rumah tinggal, mesjid, ladang anggur, dan umbi-umbian.

kelaat-4
Lingkungan jawiyya keluarga Syaikh Mourtada.
kelaat-1
Keluarga Syaikh di belakang rumah yang dirambati pohon anggur yang sedang gugur.
kelaat-2
Reruntuhan rumah lama.

kelaat-3 kelaat-5Hotel penginapan kami berdiri di sebuah perbukitan berbatu. Namanya Kasbah Dar Diafa. Dari sini, tampaklah panorama lembah yang berkabut pada pagi hari. Para petani sesekali terlihat melintas di jalan setapak, sehabis mengurus ladang-ladangnya di lembah yang subur. Kota kecil ini sangat damai dan penduduknya hidup bersahaja. Sebagian besar dari mereka jarang keluar kota, bahkan hanya untuk sekadar ke Cassablanca, kecuali untuk urusan keluarga yang bersifat memaksa. Bagi mereka, pergi ke luar negeri adalah suatu mimpi.

Tapi Syaikh tentu berbeda. Beliau sudah biasa melakukan kunjungan ke Eropa dan Afrika Selatan  dalam kerangka pengajaran tariqah. Beliau juga menerima banyak kunjungan murid dari berbagai belahan dunia. Kami hanyalah salah satunya.

Keesokan harinya, Syaikh meminjam mobil kerabatnya untuk membawa kami keliling menikmati Kelaat mGouna. Mobilnya sendiri sedang di bengkel karena rusak berat. Beliau menyetir di depan dan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan orang Berber. Di sebuah kasbah tua yang menempel di tebing lembah, beliau bahkan telah menyanyikan kami sebuah lagu qasidah sembari menikmati teh mint hangat yang dipesan. Saya sendiri tidak bisa memahami bagaimana persahabatan ini dapat tercipta dari suatu jarak yang sangat jauh, hanya dalam beberapa detik setelah pertemuan kami. Kami mengisahkan kehidupan di Indonesia, dan beliau menghadirkan kehidupan Berber di depan mata kami.

Ketika matahari meninggi, kami kembali ke jawiyya untuk makan siang. Tidak kurang dari 10 jenis makanan Berber dihidangkan. Seorang tua yang tidak saya kenal telah bergabung dengan kami dalam acara makan siang itu. Dia menggunakan tongkatnya untuk berdiri, dan Syaikh telah membantunya untuk duduk di kursi. Saya berbisik pada Syaikh, siapa orang tua yang tampaknya kelelahan ini. Beliau menjelaskan bahwa ia telah menemukan orang tua itu berdiri di pinggir jalan, dan ia menariknya masuk ke rumah. Syaikh kemudian menghentikan makannya untuk memberikan bagiannya pada orang tua itu. Dan orang tua itu menyantap makanan dengan lahap dan berdecap-decap. Setelah itu ia menghadiahi kami dengan bacaan Al-Qur’an lewat nyanyian. Akhirnya ia kelelahan dan tertidur di ruangan tamu. Sorenya ia terbangun, lalu permisi melanjutkan perjalanan.

Malam hari selepas Maghrib, Syaikh kembali mengantar kami ke kasbah. Di tengah perjalanan, belum begitu jauh dari rumahnya, tiba-tiba ia menghentikan mobil, lalu keluar dari belakang setir. Saya lihat ia melangkah ke depan dan tekun memperhatikan sesuatu yang berwarna hitam memanjang.

“Apa yang dilakukan, Syaikh?” saya bertanya pada keponakannya yang duduk di bangku depan.

“Paman sedang memeriksa semut-semut.”

“Untuk apa?”

“Ia menunggu mereka lewat duluan”.

“Maksudnya, Syaikh mendahulukan semut-semut itu?”

“Ya. Syaikh tak mau mereka tergilas ban mobil”.

Saya terdiam. Selama dua hari ini, Syaikh tidak banyak memberikan kami  wejangan. Ia hanya bercerita tentang kehidupan orang Berber. Tapi saya merasa, ini adalah waktu yang memberikan kami banyak pelajaran. Bersama Syaikh, pelajaran itu adalah dirinya sendiri. Kesibukannya yang demikian banyak adalah materi pendidikan yang hidup. Tentang hati yang lapang, kasih sayang tak berbatas, dan keikhlasan. Kami tidak pernah mendengar kata-kata yang tak berguna darinya. Setiap ia mendengarkan sesuatu dari kami, maka tiga kata yang bergantian kami dengar sebagai jawabnya adalah: subahanallah, alhamdulillah, mashaa Allah.

Syaikh dan putri pertama yang baru lahir.
Syaikh dan putri pertama yang baru lahir.

Beliau tidak pernah memutuskan sesuatu pada kami tanpa menanyakan apa kemauan kami terlebih dahulu. Ketika kami mengatakan “terserah Syaikh”, maka beliau akan bertanya apa kami menyukainya. Ia sangat kuatir bila kami kecewa. Baginya, kami adalah fuqara, yaitu orang yang mengemis ilmu pengetahuan. Dan kedudukan seorang yang merasa dirinya miskin pengetahuan dan rela mencarinya jauh-jauh adalah sama dengan kedudukan seorang syaikh di mata muridnya.

Kisah ini, pada waktunya, akan dilanjutkan.

 

BERSAMBUNG…

(Tikwan Raya Siregar)

 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY