Ziarah ke Al-Maghribi (VI): Dari Kelaat ke Kota Tua Fez

0
513
Mengelilingi jawiyya bersama Muhammad dan keponakan Syaikh.
Mengelilingi jawiyya bersama Muhammad dan keponakan Syaikh.

Muhammad Elboumoushouli adalah adik Syaikh Mourtada. Sebagai seorang pemuda dewasa, ia bercerita pada kami tentang pekerjaan, pendidikan dan percintaan di negerinya.

Para pemuda di Maroko pada umumnya sedang mengejar sekolah yang dianggap dapat memberikan mereka pekerjaan bagus. Karena itu, cabang-cabang ilmu ekonomi menjadi favorit karena diharapkan akan dapat menyediakan mereka satu meja di perkantoran negara atau swasta. Mereka tidak suka bertani karena dianggap dapat mengotori tubuh dan hasilnya tak seberapa dibanding jadi pegawai.

“Gadis-gadis di sini tidak suka petani. Mereka mencari pemuda yang bersih, kantoran, dan kalau dapat memiliki mobil,” kata Muhammad serius. Ia meminta persetujuan dari keponakan Syaikh yang duduk di sampingnya, dan pemuda yang satu lagi itu mengangguk dengan senyum pahit.

“Ya,” timpal pemuda itu. “Gadis-gadis kami banyak yang memilih kawin dengan laki-laki Eropa. Mereka lebih menyukai orang-orang Eropa karena berharap bisa dibawa ke Eropa, lalu tinggal enak di sana. Di sini kami jadi kesulitan dapat jodoh. Kalau mau cepat dapat jodoh harus punya mobil,” katanya.

Saya dan istri saya tersenyum-senyum mendengar pembicaraan mereka. Kedua pemuda itu sebenarnya tampan dan atletis. Mereka bekerja di ibukota Quarzazate dengan cara pulang hari ke Kelaat m’Gouna. Kalau mereka saja mengeluhkan jodoh di negeri ini, bagaimana pula dengan pemuda-pemuda umumnya? Memang, gadis-gadis Maroko terkenal dengan kecantikannya. Kulitnya cerah dan tidak pucat pasi seperti kulit perempuan Eropa barat dan utara yang mirip drakula. Orang-orang Eropa sangat menyukai gadis Maroko, karena selain cantik dan gesit, mereka juga jauh lebih setia. Darah pun campur aduk di antara keturunan mereka. Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Nusantara.

Hidup di pedalaman memang lamban. Anak-anak muda yang masih bersemangat tidak punya cukup kesabaran untuk berdiam diri di sini. Kedai-kedai kecil di Kelaat m’Gouna lebih banyak diisi oleh orang-orang tua dan para petani. Di sana para pengemis juga mengambil tempat sambil menenteng karung tempat seseorang nantinya akan memberikan roti. Kedai paling sibuk adalah yang berada di dekat pemberhentian bus antar kota. Aroma teh mint selalu mengudara di sana. Para pemuda tidak banyak terlihat. Sebagian bekerja sebagai penjaga toko, sebagian lagi membuka bengkel. Pekerjaan di sektor jasa lebih mereka sukai. Pertanian dianggap sebagai domain orang tua saja. Mungkin kelak, setelah mereka sedikit menua, atau setelah mereka tidak kompetitif lagi di sektor jasa, barulah pemuda-pemuda itu mau memegang tanah.

Salah satu sudut kota di Kelaat m'Gouna.
Salah satu sudut kota di Kelaat m’Gouna.

Bukan hanya orang-orangnya, bahkan kebun mawar di sini pun lebih banyak “mengungsi” ke luar. Ekspor mawar untuk pasar Eropa adalah salah satu sumber devisa penting bagi warga Kelaat m’Gouna. Orang Maroko menanam mawar, Perancis yang dapat harumnya. Sejak mau berangkat ke kota ini, saya sudah mengagendakan perjalanan ke kebun-kebun mawar mereka. Tapi sayang sekali, mawar belum mekar. Kuncup-kuncupnya memang sudah ramai muncul, tapi tak satupun yang mau terbuka. Padahal, mawar adalah ikon yang membuat Kelaat m’Gouna dikenang dunia. Akhirnya kami menghibur diri dengan mengunjungi sederetan toko yang menjual berbagai produk kecantikan dan kesehatan dari mawar. Ada yang dalam bentuk sabun, lulur, parfum, dan berbagai varian produk mawar lainnya. Istri saya mendapatkan tujuannya. Ia selalu melupakan capek dan cuaca dingin bila sedang shopping.

Saya lebih tertarik dengan produk tenunan tradisional mereka yang indah dan bermutu tinggi. Sebagian berbentuk baju, yang lainnya berbentuk karpet, syal dan selimut. Setelah meneliti dan memegang semua kain-kain itu, lalu saya meninggalkannya tanpa satu helai pun membawanya pulang. Harganya bukanlah kelas saya! Orang-orang Eropalah yang menikmatinya. Ini murni persoalan kezaliman dolar dan rupiah.

Dua hari di Kelaat m’Gouna, saya belajar banyak hal tentang orang Berber dan perubahan yang sedang terjadi pada mereka. Tapi tentu lebih banyak lagi hal yang belum saya pahami mengenai masyarakat pedalaman gurun ini. Suatu hari, kami akan belajar lebih banyak lagi dengan kembali berkunjung ke negeri yang penuh hikmah ini, bagaimanapun caranya.

Dengan perasaan itu, tibalah saatnya saya pamit pada Syaikh dengan berat hati, lalu menuju pemberhentian bus pada pagi keesokan harinya. Kami akan menempuh perjalanan melingkar menuju Fez demi menghindari backtrack untuk lebih memaksimalkan petualangan kami di negeri gurun ini.

kelaat-2Pemilik hotel (kasbah) yang kenal baik dengan Syaikh Mourtada telah berbaik hati mengantarkan kami ke terminal kota dengan mobil pribadinya. Ternyata tidak ada bus yang langsung ke Fez. Pada pagi yang berembun itu, kami harus menaiki bus pertama tujuan Meknes, yaitu kota yang dibangun oleh peradaban Eropa, di mana situs reruntuhan bekas imperium Romawi masih tersisa di sana. Dan lebih dari itu, perjalanan melingkar ini ternyata cukup melelahkan. Selama 15 jam di perjalanan, kami sering singgah di kota-kota kecil untuk menunggu penumpang atau mencari cemilan. Saya menghibur diri saya dengan membeli daging kambing bakar lagi. Istri saya mengeluh tentang musik yang itu ke itu lagi.

Kami tiba di Meknes sekitar pukul delapan malam. Kota ini memang sangat rapi, banyak boulevard, penuh dengan pohon-pohon, serta rumahnya yang bergaya Eropa. Sepertinya ini adalah pemukiman orang-orang kaya, saya tidak meragukannya. Jalanan begitu licin dan lanskap-lanskap kota ditata seperti permadani yang dikerjakan seorang pengrajin Persia. Saking rapi dan teraturnya, saya segera menjadi bosan di sini.

Untunglah kami tidak membuat rencana tertentu di Meknes. Di terminal umum kota ini, kami langsung menemukan bus selanjutnya menuju Fez. Lagi-lagi harus bersabar. Kali ini masalahnya adalah, kami harus menunggu para awak bus yang keranjingan menonton Liga Eropa di kafe terminal. Mereka berteriak-teriak seperti gempa, dan para penumpang dianggap tidak ada. Kafe itu tumpah dengan lelaki-lelaki yang merasa bola itu sedang lengket di kakinya. Untunglah sisa pertandingan itu tidak begitu lama lagi. Setelah menghabiskan beberapa bungkus kacang untuk menghangatkan badan, bus akhirnya berangkat. Tapi percakapan para awak bus tentang sepakbola sialan itu masih berlanjut di dalam bus.

Jarak dari Meknes ke Fez hanya satu jam. Jalanan lurus, lebar dan mulus. Berdasarkan hasil pembicaraan saya dengan salah seorang anak bus, kami diturunkan di sebuah pemberhentian, yang karena malam saya lupa namanya. Taksi-taksi sudah menunggu di sana. Berdasarkan pengalaman di Marrakesh, kami mengira bahwa kami masih membutuhkan taksi untuk sampai ke alamat penginapan yang telah kami pesan di internet. Seorang sopir taksi tua yang kami tunjukkan alamatnya kelihatan bingung dan mengalihkan kami kepada seorang pemuda yang berdiri di sampingnya. Bukan karena ia tak tahu alamat itu, tapi karena ia tak tahu harus menggunakan bahasa apa pada kami.

Pemuda itu lalu berucap, “Oh. Follow me!”

Kami mengikutinya berjalan kaki seperti kambing dicucuk hidung. Mau melawan, tapi tak punya pilihan lain. Ia minta izin untuk membantu mengangkat tas kami. Agak ragu saya membiarkannya, dan ketika tas itu sudah di tangannya, saya sudah bersiap-siap apabila ia bermaksud melarikan diri.

How did you get this address?” katanya.

From the internet,” sahutku.

I see. Well I’ll help you, don’t worry”. Ia seperti memahami kegelisahanku. Ternyata kami tak memerlukan taksi lagi.

Lelaki itu bernama Abdel anu, saya lupa persisnya. Perawakannya tinggi dan khas Maroko asli. Rambut ikal, alis tebal, hidung mancung sedikit bengkok, dan telinga lebar. Kakinya panjang, dan ia berjalan satu langkah untuk dua langkah kami. Hari semakin malam, dan ia membawa kami menelusuri jalan menurun. Kami tiba pada sebuah pusat keramaian yang penuh dengan cahaya-cahaya lampu. Di depan kami ada gerbang besar, dan aroma makanan mulai menusuk-nusuk hidung. Malam semakin matang jua.

That’s the Blue Gate!” serunya pada kami sambil menunjuk gerbang di depan.

“Oh!” itu saja yang keluar dari mulutku. Saya tahu gerbang itu sangat terkenal dan menjadi semacam titik awal bagi setiap orang yang mau masuk ke Fez sekaligus menjadi salah satu landmark di medina ini.

The Blue Gate, Fez.
The Blue Gate, Fez.

Kami melewati gerbang itu dan mulai memasuki jejeran toko yang rapat dan sempit. Masuk gang, keluar gang, ke kiri, ke kanan, lurus, ke bawah, dan akhirnya: itulah penginapan yang kami tuju. Sebuah pintu yang tertutup dengan nomor yang besar di depannya. Ada plang kecil di bagian atas pintu bertuliskan nama penginapan itu: DAR KAWTAR. Lelaki itu mempersilakan kami masuk. Aneh sekali, dia tak meminta apa-apa sebagai jasa pengantaran ini. Tapi saya mengulurkan ke tangannya 12 dirham dan ia berterima kasih sekali. “Have a nice stay in Fez!” katanya, lalu pergi setelah mengucapkan salam.

Kami tidak lagi banyak tahu hal lain pada malam itu. Kelelahan yang tinggi membuat kami segera jatuh tidur di sebuah kamar yang suram dan dingin. Di sebelah kamar kami, pasangan-pasangan backpacker muda dari Eropa gaduhnya bukan main. Mereka merokok sembarangan, tidur serampangan dan tak ubahnya seperti gerombolan babi yang makan, berciuman dan bercinta sesuka hati mereka.

Pagi harinya, Fez berubah sekali. Kesegaran yang dibawa sayuran dan buah-buahan di lapak-lapak pedagang medina seolah membawa kabar gembira dan memberikan semangat untuk hari baru. Inilah saat yang tepat menelusuri lorong-lorong kota untuk menikmati produk-produk gilda yang sangat padat dan penuh eksotika. Dibanding Marrakesh, Kota Fez memang terasa lebih senior. Di mana-mana adalah hasil kerajinan tangan. Mulai dari kulit, kain, ukiran kayu, logam, lukisan, dan dekorasi-dekorasi yang dikerjakan dengan jiwa tradisi mereka. Menyaksikan benda-benda indah itu digelar begitu saja di jalan-jalan, kita serasa mabuk untuk memilikinya.

Para pedagang menyapa para pembeli dengan begitu antusiasnya. Mereka mendemokan barang-barangnya, menyebut harga, berakrobat, dan mengatakan bahwa tidak ada yang lebih menguntungkan daripada membeli barangnya. Para turis terbius ke alam mimpi, masuk ke dalam legenda dan menjadi salah satu tokoh dalam cerita. Tiba-tiba jiwa mereka hidup. Mereka mendapat peran, dan siapa tahu bisa memenangkan sesuatu dalam gelanggang cerita yang sangat luas di kota yang sempit ini. Bau keringat orang dan keledai adalah udara Fez. Dibanding orang, keledai lebih berhak melalui lorong-lorong. Mereka membawa barang yang diperlukan, sedangkan Anda hanya pelintas. Tinggal ucapan salam saja yang tidak diberikan pada keledai.fez-suvenir-1

fez-suvenir-2Sebagaimana konsep medina, selalu ada satu mesjid yang menjadi titik pusat kehidupan di masyarakat Arab-Maroko. Di Fez, titik pusat itu adalah Mesjid Al-Qarrawiyyin (Kairouyine).

Sebagaimana diketahui, Fez adalah kota spiritual dan budaya yang dibangun oleh Raja Idris I pada tahun 789 Masehi dan dikembangkan oleh Raja Idris II hingga tahun 810 Masehi. Ikon pertama yang berdiri di kota ini adalah Masjid dan Universitas Kairouyine (Qarrawiyyin) yang sekaligus menjadi jantung kota tersebut.

fez-suvenir-3

Keberadaan Masjid dan Universitas Kairouyine telah membuat Kota Fez menjadi populer sebagai kota spiritual. Tradisi tariqah masih sangat kental di masjid ini. Ajaran mereka mempengaruhi sikap dan perilaku warga. Di kota ini, misalnya, terdapat mausoleum pendiri Tariqah Tijaniyah, yakni Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al Mukhtar at Tijani (1737-1815), dan sejumlah makam aulia yang masih diziarahi para pengikutnya.

Universitas Al-Qarrawiyyin (Jami’ah Al-Qarawiyyin) tercatat sebagai universitas (jami’ah) pertama di dunia. Perguruan tinggi ini didirikan pada tahun 859 M. Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarrawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang memberikan gelar kesarjanaan.

fez-dar-1 fez-dar fez-smileMajalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dengan judul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih berupa sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ”Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suci-Mu, Al-Quran akan dipelajari dan dikaji.”

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Adalah seorang perempuan bernama Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri, yang akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam, dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari Sang Ayah, menggunakan harta warisan mereka untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarrawiyyin sebagai universitas pertama di muka bumi ini bermula dari aktivitas diskusi yang digelar di emperan masjid itu. Umat Islam di Kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang di samping kajian pokoknya, Al-Quran dan hadist.

Wacana yang dibahas mencakup tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Kualitas kajian para ilmuwan terkemuka di sana akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia. Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarrawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu membanjir sehingga pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Al-Quran serta menguasai Bahasa Arab.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarrawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Mereka tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu sehingga subsidi serta dana kas kerajaan secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas.

Universitas ini berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting tersimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa di antaranya adalah Mutta of Malik, ditulis tahun 795 M, Sirat ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, dan salinan kitab suci Al-Quran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul Al-‘Ibar. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya tersebut kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarrawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam dan telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi–yang memimpin generasinya dalam mempelajari Mahzab Maliki.

Peradaban Barat turut berhutang budi kepada Universitas Al-Qarrawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan, perguruan tinggi ini telah memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarrawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di Kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain, filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M-1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarrawiyyin, geografer dan kartografer (pembuat peta) al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini, serta sejumlah ilmuwan Muslim yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain, Ibn Al-‘Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Bahkan, pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II (930 M – 1003 M), turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarrawiyyin. Sebelum menjadi Paus, beliau sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Ia mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain, pun tercatat sempat belajar Bahasa Arab di Universitas Al-Qarrawiyyin. Satu nama lagi, sejarahwan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarrawiyyin.

Tokoh penggerak Renaissans di Barat yang terpengaruh oleh para ilmuwan Muslim di Universitas Al-Qarawiyyan kelak turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Dua abad kemudian masyarakat pun mulai turut mengenal sistem pendidikan tinggi. Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di Eropa. Ketika Islam menguasai Sisilia—wilayah selatan Italia—di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka, yakni Universitas Balerm atau Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol, peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III (929 M-961 M) juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa. Universitas lainnya baru mulai muncul di negara lain di Eropa seperti Inggris dan Prancis pada abad ke-12 M.

Hubungan Barat dengan Islam masih berkelindan sangat kuat sampai hari ini di Fez. Bagi saya sendiri, Mesjid Qarrawiyyin adalah sesuatu yang khusus karena di sinilah Ian Dallas yang kini menyandang nama Syaikh Abdalkadir as-Sufi, seorang Skotlandia berkebangsaan Inggris, mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Imam Masjid Al-Qarrawiyyin, Syaikh Ibnu al-Habib, pada tahun 1967. Beliau adalah mantan wartawan BBC dan penulis skenario yang terpikat hatinya dengan Islam dan akhirnya berguru pada Syaikh Ibnu al-Habib, pemimpin tariqah Darqawiyyah-Sadhiliyyah-Qadiriyyah. Kesungguhannya telah membuat beliau diangkat sebagai syaikh penerus kepemimpinan tariqah tersebut, yang selanjutnya menurunkannya pula ke Syaikh Mourtada di Kelaat m’Gouna pada tahun 2012 lalu.

Setamat belajar, atas saran gurunya, Syaikh Abdalkadir as-Sufi pada awalnya pulang ke Eropa dan menyebarkan Islam di sana. Ia telah membawa cahaya ajaran gurunya di Eropa dan menerima banyak murid dari kalangan bangsanya. Kebanyakan mereka adalah kelompok terdidik dan berasal dari beragam profesi yang menduduki kelas menengah Eropa.

Setelah itu beliau bersikeras hijrah memasuki kawasan Afrika Selatan yang saat itu masih dicengkeram oleh Apharteid. Ia bermukim di Cape Town dan membuka tariqah-nya di sana. Sejak saat itu, para muridnya tersebar di seluruh dunia. Hingga kini, setiap tahun, murid-muridnya berkumpul di sana untuk menghadiri mousseum Sang Syaikh.

***

Kota Fez terdiri dari dua bagian, yaitu kota baru (madinah jadidah) dan kota lama (madinah qodimah). Dari atas bukit, Kota Fez lama tampak seperti hamparan kawasan eksklusif dengan rumah-rumah atau bangunan yang berimpit-impitan. Seperti halnya kota-kota Arab lama, Kota Fez lama juga dikelilingi tembok setinggi kira-kira 5 meter dengan memiliki beberapa pintu masuk. Kota Fez lama yang juga dikenal dengan nama Fez al-Bali hanya bisa dimasuki dengan jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan beroda empat tidak bisa masuk, kecuali hewan berkaki empat: keledai.

fez-lorong-1 fez-lorong-2 fez-lorong-3 fez-lorong-4 fez-lorong-5 fez-lorong-6Sejak 1.000 tahun lalu, wujud Kota Fez nyaris tidak berubah sama sekali. Penduduk Kota Fez (old medina) tidak perlu keluar kota karena semua kebutuhan hidup dasar telah terpenuhi di dalam kota. Lorong-lorongnya yang gelap dan sempit, selain berfungsi untuk menyimpan kehangatan dari cuaca yang dingin, juga menjadi urat nadi perdagangan yang menghidupi sekitar satu juta warganya.

Fez adalah kota ketiga terbesar di Maroko setelah Cassablanca dan Rabat. Kota ini juga disebut sebagai satu dari empat ibukota monarki di Maroko, selain Marrakesh, Meknes dan Rabat. Hampir semua monarki yang berkuasa di Maroko selalu menjadikan Fez sebagai ibukotanya. Pada masa Dinasti Almohad (1130-1269), Kota Fez merupakan kota terbesar di dunia, yakni persisnya dari tahun 1170 hingga 1180. Pada masa Dinasti Marinid (1269-1420) dan masa Kerajaan Fez (1420-1554) imigran Muslim dari Spanyol berduyun-duyun memasuki Kota Fez, menyusul jatuhnya Spanyol pada tahun 1492.

Warga Arab dari Tunisia juga pernah membanjiri kota tersebut dan semakin membuatnya berkarakteristik Arab, terutama dengan munculnya Distrik Adwat al-Andalus dan Adwat al-Qarawiyyin. Fez berada di bawah Dinasti Saadi sejak 1554 hingga 1649. Sejak tahun 1649, Fez menjadi pusat negeri Maroko dan sebagai pusat perdagangan kaum Berber di Afrika Utara. Hingga abad ke-19 Masehi, hanya Kota Fez yang dikenal sebagai pusat produksi tarboosh (topi khas Arab) sebelum kemudian juga dibuat di Perancis dan Turki.

fez-keledai-1 fez-keledai-2fez-keledai-5Kota Fez menjadi wilayah independen yang dipimpin oleh Raja Yazid pada periode 1790-1792 dan diteruskan Abu’r Rabi Sulayman pada tahun 1792-1795. Raja tersebut kemudian ditaklukkan oleh Maroko. Pada tahun 1819-1821, Kota Fez menjadi bagian dari wilayah kaum pemberontak yang dipimpin oleh Ibrahim ibn Yazid. Tahun 1830, Fez kembali jatuh ke tangan kaum pemberontak yang dipimpin Muhammad ibn Tayyib. Lalu, pada tahun 1912-1956, Kota Fez menjadi bagian wilayah Maroko-Spanyol.

Fez dikenal sebagai ibukota Maroko hingga tahun 1912. Setelah itu, Perancis yang menduduki Maroko kemudian memilih Rabat sebagai ibu kota baru, yang berlaku hingga saat ini.

***

fez-bolaTidak ada cara lain untuk menikmati Fez selain daripada menyusuri lorong-lorongnya. Pada malam hari, berbagai kedai makanan membuka lapak di sana, berhimpitan di toko-toko yang kecil. Tapi makanan mereka sangat berstandar tinggi, meskipun tidak terlalu mahal. Peradaban tua telah membawa mereka memiliki tradisi yang kuat dalam hal makanan. Saya sangat menikmati berbagai menu khasnya, termasuk buah-buahannya yang selalu segar dan unggul dari segi ukuran.

Meskipun penginapan kami di sini tidaklah terlalu menyenangkan karena sempit dan tidak memenuhi harapan, namun saya sendiri tidak terlalu menghiraukan fasilitas semacam itu. Sudah cukup bagi saya bahwa penduduk di sini lebih genuine sikapnya ketimbang warga Marrakesh yang sudah kelewat komersial. Mereka lebih halus dan sopan.

Kami menganggap Fez sebagai puncak dari perjalanan kami ke Maroko. Dengan sampainya di Fez, maka berakhirlah kisah di Maroko. Dari kota ini, kami akan menumpang kereta ONCF kembali ke Cassablanca dengan jalur yang berbeda dari saat kami pertama meninggalkan kota warisan Perancis itu. Kali ini perjalanan selama 4 jam akan menelusuri pesisir barat Maroko menuju selatan. Besok, kami akan pulang ke Asia Tenggara, dimana kehangatan matahari selalu setia menemani.

Pulang.
Pulang.

 

(Tikwan Raya Siregar)

LEAVE A REPLY