Ziarah ke Lautan Tengkorak Tana Toraja

0
425

toraja 1
Sebelum sampai di Toraja, kita akan disambut sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Tana Toraja”. Selain tulisan itu, tampaklah rumah adat masyarakat Toraja di bagian atasnya dan di samping kiri kanannya terdapat patung-patung yang menggambarkan kehidupan masyarakat Toraja.

Salah satu situs yang paling wajib dikunjungi para wisatawan di Toraja, selain pemukiman dan arsitektur tradisionalnya, adalah pemakaman mereka yang sangat unik. Ada dua lokasi pemakaman yang dapat disaksikan di Toraja, yaitu di Desa Ketekesu dan Londa. Di lokasi pertama, yaitu di Ketekesu, selain situs makam, kita juga disuguhkan panorama kemegahan bangunan asli masyarakat Toraja yang belum ada sentuhan moderennya. Di sini kita akan melihat formasi rumah “Delapan Enam” yang saling berhadapan.

10416647_910892382269296_6349298272237506630_nDi antara formasi khas itu, berdiri sebuah bangunan yang berbeda, dimana bangunan ini terbuat dari besi dan berbentuk tabung besar. Fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan peti-peti mayat. Tapi jangan puas dahulu, karena bila ingin melihat makam masyarakat Toraja yang lebih luas lagi, Anda harus menaiki anak tangga menuju perbukitan. Di sepanjang perjalanan ini, Anda akan menjumpai tengkorak manusia. Ada yang tergeletak begitu saja di tanah, dan ada juga di dalam peti. Penyebabnya adalah, karena peti-peti yang di atas tebing telah jatuh dimakan usia. Anda juga dapat jelas melihat bagaimana konstruksi pemakaman masyarakat Toraja di atas tebing, dimana peti-peti tersebut hanya ditopang oleh kayu.

Bila sedikit lebih cermat, Anda akan menjumpai sebuah peti yang berbeda dari yang lainnya. Peti ini berbentuk kerbau tedong (kerbau albino). Sepertinya peti tersebut menunjukkan strata tertentu dalam kehidupan sosial Toraja. Bersama peti khusus itu, kita dapat menjumpai patung-patung yang terbuat dari kayu yang dipahat sedemikian rupa menyerupai manusia.

Setelah sampai di atas, tampaklah sebuah gua. Di sana seorang anak sudah menunggu para pengunjung yang ingin masuk ke dalam gua. Tugasnya adalah menyewakan senter bagi pengunjung yang ingin masuk dengan biaya sukarela. Di mulut gua itu, terdapat peti yang ditumpuk rapi. Sama seperti panorama di tebing-tebing curam sebelumnya, bagian dalam gua juga penuh dengan tengkorak manusia yang berserakan. Sebagian peti sudah rusak dimakan usia. Pakaian juga dijumpai di sana-sini, menguatkan suasana alam barzah yang menyeramkan. Bagi mereka yang penakut, tentu pemandangan ini akan mirip dengan atraksi rumah hantu yang disediakan operator-operator pasar malam keliling. Tapi bila nda adalah seorang pecinta alam, dinding-dinding gua ini juga terukir indah oleh stalaktit dan stalakmit.

10421488_910888785602989_2070485529328298303_nDi lokasi ke dua, Londa, kita tidak menemukan rumah adat masyarakat Toraja. Sebaliknya, di sini pengunjung justru menuruni anak tangga untuk sampai ke lokasi. Masyarakat sekitar menyambut Anda dan menawarkan lampu semprong untuk pengunjung yang ingin masuk ke dalam gua. Di bagian luar gua saja, sudah terlihat banyak peti mati dan karangan bunga—baik yang berada di atas tebing ataupun di atas tanah yang tersusun rapi—apalagi di bagian dalam. Bergidik rasanya membayangkan apa yang akan terlihat di bagian dalam gua nantinya.

10359516_910888285603039_4072728481360535010_nNun di beberapa peti mati, terdapat sesajen yang diletakkan di dekat tengkorak. Di bagian atas tebing ada pahatan patung-patung yang mirip manusia, lengkap dengan pakaian dan aksesorisnya. Patung-patung tersebut dipahat dengan sedemikian detil sehingga menyerupai orang yang dimakamkan di lokasi tersebut. Masyarakat sekitar menyebutnya tau-tau. Di lokasi kedua ini, ukuran gua lebih panjang dibanding dengan gua pertama. Di dalamnya kita pun akan menjumpai tengkorak berserakan di lantai, dan terdapat juga peti-peti yang tersusun rapi sesuai dengan garis keturunan atau keluarga.

10614366_910888832269651_1610059864314535321_n

(Eddy Syafri Husein Ritonga)

LEAVE A REPLY